NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 28

“Aku nggak akan berhenti, Nik,” kata Ella akhirnya, pelan tapi pasti.

Niko tidak terlihat kaget. Ia sudah tahu. “Ya,” jawabnya singkat. Tidak ada larangan. Tidak ada usaha menahan. Dan justru itu yang terasa paling berat.

Ella mengangkat pandangannya. “Tapi aku juga nggak mau kehilangan kamu.” Kalimat itu keluar begitu saja.

Niko menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu menghela napas pelan. “Kamu nggak akan kehilangan aku,” katanya. “Selama kamu masih tahu kamu lagi di mana.”

Ella mengernyit sedikit. “Maksud kamu?”

Niko sedikit condong ke depan, suaranya lebih rendah sekarang. “Selama kamu masih bisa bedain… mana yang kamu kejar, dan mana yang mulai menarik kamu.”

Ella terdiam. Ia tahu arah kalimat itu. Dan lagi-lagi ia tidak punya jawaban yang benar-benar kuat untuk menolaknya. “Aku masih pegang tujuan itu,” katanya akhirnya.

Niko mengangguk kecil. “Bagus. Karena kalau kamu mulai lupa… orang lain nggak akan ngingetin kamu dengan cara yang halus.”

Beberapa detik yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Lalu Niko merogoh sakunya, mengeluarkan sesuatu, sebuah kertas kecil yang dilipat rapi, lalu mendorongnya ke arah Ella.

“Apa ini?” tanya Ella.

“Tempat,” jawab Niko singkat. “Kemarin aku mau bahas itu sama kamu.”

Ella membuka lipatan kertas itu perlahan. Di dalamnya ada alamat, ditulis tangan, dengan satu simbol kecil di sudutnya. Simbol yang tidak asing. Matanya langsung berubah. “Kamu dapat dari mana?” tanyanya cepat.

“Dari pola yang kita lihat kemarin,” jawab Niko. “Transaksi yang berulang itu… arahnya ke sana.”

Ella menatap kembali alamat itu, pikirannya langsung bekerja. “Tempat apa ini?”

Niko menggeleng. “Belum tahu pasti. Tapi frekuensinya tinggi. Dan waktunya… malam.”

Pesta. Atau sesuatu yang lebih tertutup. Ella mengangkat pandangannya. “Kapan?”

“Malam ini,” jawab Niko. Keputusan lain. Lebih cepat dari yang ia kira.

“Kita ke sana?” tanya Ella.

Niko tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Ella dengan cara yang berbeda sekarang. Lebih serius. “Kalau kamu ikut,” katanya pelan, “kamu ikut sebagai tim.”

Ella mengernyit. “Maksudnya?”

“Bukan sebagai seseorang yang lagi main dua sisi,” lanjut Niko. “Kalau kamu mau tetap dekat sama Leo… itu pilihan kamu. Tapi di sini, kamu harus jelas.”

Kalimat itu tajam. Tidak memaksa. Tapi menetapkan batas. Ella menggenggam kertas itu sedikit lebih erat. Ia tahu ini penting. Ia juga tahu ini tidak bisa dijalani setengah-setengah.

“Aku ikut,” katanya akhirnya. Tanpa ragu.

Niko mengangguk kecil. “Baik,” katanya. “Kita mulai lagi dari situ.”

Tidak ada jabat tangan. Tidak ada perjanjian formal. Tapi cukup. Karena keduanya tahu ini bukan sekadar langkah berikutnya. Ini pintu lain yang akan mereka buka. Dan di saat yang sama, tanpa mereka sadari sepenuhnya di sisi lain kota, seseorang juga sedang bergerak ke arah yang sama. Dengan tujuan yang mungkin berbeda. Tapi menuju tempat yang sama.

***

Malam itu terasa lebih padat dari pesta sebelumnya, lebih tertutup, lebih eksklusif, dan jelas lebih berbahaya. Ella datang bersama Tante Rosa dan Niko, kali ini dengan persiapan yang jauh lebih matang; tidak ada lagi gerakan spontan tanpa perhitungan, semua sudah dipikirkan, bahkan cara mereka masuk pun bukan kebetulan, melainkan hasil dari akses yang berhasil dibuka oleh Niko melalui jalur yang tidak sepenuhnya bersih.

Begitu melewati pintu utama, suasana langsung berubah, lampu temaram, musik yang menekan, dan wajah-wajah yang terlalu tenang untuk sekadar menikmati pesta. Ella tahu, tempat ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah ruang transaksi, ruang pertemuan, ruang di mana hal-hal besar diputuskan tanpa suara keras.

Dan di sanalah ia melihatnya. Jason.

Tidak berdiri mencolok, tidak dikelilingi banyak orang, tapi kehadirannya tetap terasa seperti pusat gravitasi yang tidak terlihat. Tatapan Ella langsung tertarik pada satu hal kalung di leher pria itu. Sebuah miniatur sepatu kaca. Sama. Bentuknya, ukurannya, bahkan kilauannya terlalu identik untuk dianggap kebetulan.

Jantung Ella berdetak lebih cepat, tapi ia tidak menunjukkan reaksi. Tidak menatap terlalu lama, tidak bergerak mendekat. Ia hanya menyimpan itu dalam diam, seperti menyimpan bom yang belum siap ia ledakkan.

"Ada dua sepatu kaca?" bisik Ella.

Jason memperhatikannya. Terlalu cepat. Seolah ia sudah tahu sejak awal Ella ada di situ.

Tatapan mereka bertemu sebentar, dan dalam waktu sesingkat itu, Ella tahu pria itu bukan orang yang bisa ia dekati tanpa konsekuensi. Tapi justru itu yang membuatnya ingin lebih dekat.

“Aku lihat dia,” bisik Ella pelan.

Niko langsung mengikuti arah pandangannya, dan ekspresinya berubah sedikit cukup untuk menunjukkan bahwa ia juga menyadari siapa yang mereka hadapi. “Jangan,” katanya cepat, rendah. “Belum.”

Tapi sudah terlambat. Jason mulai berjalan ke arah mereka. Langkahnya santai, senyumnya tipis, seolah semua ini hanya kebetulan yang menyenangkan. Ia berhenti di depan mereka, matanya langsung kembali ke Ella, bukan ke Tante Rosa, bukan ke Niko.

“Kita bertemu lagi,” katanya ringan.

Ella menahan dirinya untuk tidak langsung bereaksi. “Sepertinya begitu.”

Jason menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu sedikit memiringkan kepala, memperhatikan lebih dalam. “Kamu selalu ada di tempat yang menarik.”

“Aku bisa bilang hal yang sama,” balas Ella.

Senyum Jason melebar sedikit. “Kalau begitu… kita cocok.”

Niko langsung maju setengah langkah, tanpa benar-benar menghalangi, tapi cukup untuk memberi batas. “Dia tidak sendirian.”

Jason melirik Niko sekilas, seolah baru menyadari keberadaannya. “Aku tahu,” katanya tenang. “Tapi aku tidak sedang bicara denganmu.”

Ketegangan itu muncul begitu saja, halus, tapi tajam. Ella bisa merasakannya. Dan justru itu yang membuatnya mengambil keputusan.

“Aku mau dansa,” katanya tiba-tiba.

Niko langsung menoleh. “Ella?”

“Tadi kamu bilang kita butuh akses,” potong Ella pelan. “Ini akses.”

Tante Rosa diam, tapi matanya jelas mengawasi.

Niko menghela napas, rahangnya mengeras. Ia tahu ini berbahaya. “Dua menit,” katanya akhirnya, dingin. “Aku lihat dari sini.”

Jason tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan. Ella menerimanya. Lantai dansa terasa lebih sempit saat mereka melangkah ke sana, seolah semua ruang lain menghilang. Musik mengalun pelan, dan Jason menarik Ella mendekat tidak kasar, tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka nyaris hilang.

“Kamu nekat,” bisiknya di dekat telinga Ella.

“Kamu juga,” balas Ella.

Jason tertawa kecil. “Bedanya… aku tahu batasnya.”

Tangan Jason perlahan bergerak lebih jauh dari yang seharusnya. Ella menegang. Instingnya langsung memberi sinyal ini bukan lagi sekadar permainan kata.

“Jangan,” katanya pelan.

Jason tidak langsung berhenti. Tatapannya berubah lebih gelap, lebih menguji. “Kenapa?” tanyanya rendah. “Kamu datang sejauh ini… masa cuma mau lihat-lihat? Kamu sudah bisa belajar memulainya."

Detik itu Ella sadar. Ia terlalu dekat. Terlalu cepat. Dan sebelum situasi itu berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan sebuah tangan menariknya mundur.

Kuat. Tegas. Leo. “Aku pikir cukup,” katanya dingin.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!