Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Selamat Datang di Kulkas Raksasa!
Gisel turun dari taksi sambil menenteng koper kecilnya di depan gedung hunian mewah milik Dewa. Ia menyemprotkan parfum white tea-nya sekali lagi. "Target terkunci. Dewa Atala dan tiga pasukannya. Ayo kita buat mereka mabuk kepayang, Gisel!"
Begitu pintu jati setinggi tiga meter itu terbuka, Gisel langsung disambut oleh aura dingin yang menusuk. Di lobi utama, Dewa (35 tahun) sudah berdiri tegak. Tinggi badannya yang 191 cm dengan bahu bidang membuat Gisel yang hanya 163 cm harus mendongak jauh. Kacamata baca yang bertengger di hidungnya memberikan kesan intelektual yang sangat seksi.
Ya Tuhan... kalau tiap malam disuguhi pemandangan begini, aku rela nggak tidur setahun, batin Gisel nakal sambil melirik kemeja Dewa yang ketat di bagian dada.
"Kamu terlambat," suara Dewa berat dan tanpa ekspresi.
"Maaf Mas Dewa sayang, tadi mampir beli stok kesabaran dulu buat ngadepin kamu," jawab Gisel ceplas-ceplos. "Ia mendekat, membiarkan aroma segarnya menyapa indra penciuman Dewa. "Gimana? Wangi aku bikin kamu pengen buru-buru tutup pintu nggak?"
Dewa berdehem keras, berusaha menetralkan rasa rileks yang tiba-tiba muncul karena wangi itu. "Jaga bicaramu. Anak-anak saya sudah menunggu."
Di ruang tengah, Gisel bertemu dengan "pasukan" Dewa:
Raka (17 tahun): Cowok SMA kelas 3 yang tingginya hampir menyalip ayahnya. Ia memakai jaket motor, tas tersampir di satu bahu, dan menatap Gisel dengan tatapan meremehkan. "Ini? Papa serius nikahi bocah umur dua puluhan yang dandanannya mirip influencer gagal begini?"
Alya (16 tahun): Gadis SMP kelas 3 yang duduk di sofa sambil asyik dengan ponselnya. Ia hanya melirik Gisel sekilas, lalu kembali memutar bola matanya malas. "Setidaknya wangi parfumnya nggak norak kayak tante-tante simpanan Papa yang dulu."
Digo (4 tahun): Satu-satunya yang terlihat menggemaskan. Ia sedang berlarian membawa robot-robotan dan langsung menabrak kaki Gisel. "Tante siapa? Cantik banget kayak bidadari di kartun!"
Gisel tertawa renyah, lalu menatap Raka dengan berani. "Hai, Raka. Usia kita cuma beda enam tahun, jadi jangan panggil aku 'Mama' ya, ntar aku berasa tua. Panggil 'Kak Gisel' aja, atau 'Mbak Cantik' juga boleh."
Lalu ia melirik Alya. "Dan kamu Alya, selera parfum kamu bagus. Nanti aku kasih tahu rahasianya biar cowok-cowok di sekolah kamu pada nempel kayak perangko."
Dewa memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Gisel, masuk ke kamarmu sekarang. Jangan meracuni otak anak-anak saya."
Gisel berbalik, memberikan kedipan nakal pada Dewa. "Kamar kita maksudnya, Mas? Oke, aku tunggu di kasur ya! Jangan lama-lama, nanti aku dingin lho!"
Raka mendengus kesal, Alya ternganga, dan Dewa hanya bisa mematung melihat pinggul seksi Gisel yang berlalu pergi dengan santainya.
Gisel sedang asyik mengagumi kamar luas yang didominasi warna abu-abu dan hitam itu—sangat "laki-laki" dan sangat membosankan—ketika pintu terbuka. Dewa melangkah masuk, masih dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya, menambah kesan intelek yang sangat menggoda.
Tinggi badan Dewa yang 191 cm membuat langit-langit kamar terasa rendah. Ia menatap Gisel datar, lalu menunjuk ranjang king size di tengah ruangan.
"Mulai malam ini, kamu tidur di sini. Semua kebutuhanmu sudah disiapkan di lemari sebelah kanan," ucap Dewa dengan suara beratnya yang khas.
Gisel yang sedang duduk di tepi kasur langsung mendongak. Mata bulatnya berkedip jenaka, poninya sedikit berantakan. "Wah, kasurnya empuk banget, Mas. Pas buat... kegiatan yang bikin keringetan. Terus, Mas Dewa tidur di mana? Di sebelah aku? Sini, aku kasih jatah bantal satu."
Dewa menghela napas panjang, berusaha menahan diri agar tidak terpancing. "Saya tidur di ruang kerja. Ada sofa bed di sana. Jangan berpikiran yang tidak-tidak."
Gisel langsung berdiri, menghampiri Dewa dengan langkah santai yang menonjolkan lekuk pinggulnya. Ia berhenti tepat di depan dada bidang Dewa, membuat hidung Dewa kembali diserbu aroma white tea yang segar dan menenangkan.
"Yah... kok di ruang kerja sih, Mas? Emang nggak takut sendirian? Atau... Mas takut kalau tidur bareng aku, nanti malah nggak bisa tidur karena bolak-balik liatin aku?" Gisel mendongak, menatap Dewa dengan tatapan nakal yang berani.
Dewa mundur selangkah, namun Gisel justru maju selangkah lagi.
"Mas tahu nggak? Tidur di sofa itu nggak bagus buat punggung lebar Mas yang seksi ini. Nanti kalau pegal-pegal, siapa yang mau pijitin? Aku lho, pinter pijit. pijit hati juga bisa," goda Gisel sambil menarik sedikit ujung kerah kemeja Dewa.
Rahang Dewa mengeras. "Gisel, cukup. Ini bukan waktunya bercanda."
"Siapa yang bercanda? Aku serius, Mas CEO," bisik Gisel, suaranya sengaja dibuat serak-serak manja. "Padahal aku udah bayangin lho, gimana rasanya meluk Mas pas tidur. Pasti rasanya kayak meluk guling raksasa yang wangi maskulin. Masa Mas tega biarin istri cantiknya ini kedinginan sendirian di kamar seluas ini?"
Dewa melepaskan tangan Gisel dari kemejanya dengan gerakan cepat, meski telinganya mulai memerah. "Selamat malam, Gisel. Kunci pintunya."
Dewa berbalik dan keluar dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Gisel yang tertawa renyah hingga bahunya bergoyang.
"Ciee... Mas Dewa panik! Hati-hati Mas, nanti sofa kerjanya jadi keras gara-gara bayangin aku!" teriak Gisel ceplas-ceplos sebelum pintu benar-benar tertutup.
Gisel menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk milik Dewa sambil menghirup sisa wangi pria itu di bantal. "Misi malam pertama: bikin si gunung es hampir meleleh. Check