Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Aneh
Rasa sakit itu, ketika disentuh oleh Mata Jati, terasa seperti Sari sedang dicabik-cabik oleh dua kekuatan yang bertentangan. Satu sisi adalah energi spiritual Titi Kusumo yang kuno dan murni, sisi lainnya adalah sihir kotor Mbah Jari yang berusaha menahannya. Sari menjerit, suara yang teredam dan menyakitkan, dan ia jatuh ke lantai, menggeliat.
Raden Titi Kusumo menarik tangannya dari dahi Sari. Ia menatap Sari, yang kini hanya terbaring di lantai dengan mata basah, bukan lagi sebagai wanita yang dicintainya, tetapi sebagai sepotong daging yang dicemari oleh tipuan.
“Sihir yang kuat,” desis Titi Kusumo, suaranya kini kembali tenang, tetapi jauh lebih mematikan daripada amarah yang meledak-ledak. “Mbah Jari memang ahli dalam penyamaran sukma, tetapi ia lupa satu hal. Kebohongan yang paling rumit pun akan terlihat jelas di mata Pangeran yang dikutuk karena kebohongan.”
Sari terengah-engah. Ia mencoba bangkit, tetapi seluruh tubuhnya terasa lumpuh.
“Raden… ampun,” bisik Sari. Ia tidak tahu harus memanggil Titi Kusumo apa, atau bagaimana harus memohon. Nama ‘Endang’ sudah tidak relevan lagi.
Titi Kusumo melangkah maju, zirah peraknya berdecit pelan, memenuhi ruangan yang mewah tetapi kini terasa seperti peti mati.
“Siapa namamu, Gadis?” tanya Titi Kusumo.
“Sari,” jawab Sari, air mata mengalir deras. “Nama saya Sari, Raden.”
“Sari,” Titi Kusumo mengulang nama itu, mencicipinya. “Nama yang polos. Kau dijual oleh suamimu, Endang, dan kau dibeli oleh Agus. Menarik sekali. Tiga kebohongan yang terjalin hanya demi kekayaan fana.”
“Saya terpaksa, Raden,” Sari memohon, mencoba meraih ujung beskap Titi Kusumo. “Keluarga saya miskin. Saya punya adik yang harus sekolah. Saya hanya ingin membantu mereka. Saya tidak bermaksud menipu Anda!”
Titi Kusumo mengangkat kakinya sedikit, membiarkan Sari menyentuh ujung beskapnya, lalu menjauh lagi.
“Terpaksa,” Titi Kusumo menghela napas panjang. “Itu adalah alasan universal manusia untuk melakukan dosa. Tetapi kau tahu, Sari? Di antara semua kebohongan ini, hanya ada satu hal yang menarik perhatianku.”
Sari mendongak, matanya penuh harap. “Apa, Raden?”
“Pengorbananmu,” kata Titi Kusumo, suaranya merendah. “Kau menukar tubuhmu, kehormatanmu, dan bahkan sukmamu yang malang demi keluargamu. Ini adalah pengorbanan yang tulus, meskipun caranya najis. Kau melakukan ini dengan sepenuh hati, bukan?”
Sari mengangguk putus asa. “Iya, Raden. Itu yang paling berharga bagi saya.”
Titi Kusumo tiba-tiba tersenyum. Senyum itu tidak menenangkan, melainkan membuat Sari menggigil.
“BAgus, Sari. Aku sudah lelah dengan sandiwara Endang yang palsu. Aku lelah dengan kata-kata cinta yang dicuri, dengan sentuhan yang dipaksakan. Aku ingin kejujuranmu yang paling telanjang.”
“Saya akan jujur, Raden. Saya akan ceritakan semuanya!”
“Tidak, bukan kejujuran verbal,” Titi Kusumo menggeleng. “Aku butuh kejujuran spiritual, Sari. Kau menipuku dengan tubuh yang diklaim sebagai milik orang lain. Kau menipu hatiku dengan emosi yang dipinjam. Sekarang, aku menuntut yang sebaliknya.”
Titi Kusumo melangkah ke lemari kayu ukir yang berisi pakaian Sari (pakaian yang dibelikan Agus agar ia terlihat seperti Endang). Ia membuka lemari itu dan mengambil gaun malam sutra mahal, lalu melemparkannya ke lantai.
“Gaun itu, perhiasan itu, kalung perak yang kuberi… itu semua Endang,” kata Titi Kusumo. “Aku tidak mau melihat Endang lagi. Aku sudah mencicipi kepalsuannya, dan itu membuatku jijik.”
Ia kembali menatap Sari. “Aku ingin melihat Sari. Bukan Sari yang dibeli Agus, tetapi Sari yang asli, yang rela menjual tubuhnya di lokalisasi kotor hanya demi uang.”
Sari menahan napas. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
“Maksud Anda…” Sari tergagap.
“Aku ingin kau menanggalkan semua yang kau kenakan saat ini. Tanggalkan gaun mahal ini. Tanggalkan tatapan takut itu. Aku ingin kau berdiri di depanku sebagai seorang ‘hamba’ yang dibeli, sebagai seorang wanita yang tidak memiliki apa-apa selain kemiskinan dan kebutuhan.”
Sari gemetar. Ini lebih buruk daripada ritual pertama. Ritual pertama adalah sandiwara spiritual; ini adalah penghinaan total terhadap eksistensinya.
“Raden… saya mohon. Saya akan melakukan apa pun yang Anda minta, tetapi jangan minta saya melakukan ini,” pinta Sari, air matanya membanjiri pipinya.
“Kau menolak?” Titi Kusumo mengangkat alisnya. “Aku pikir kau adalah wanita pengorbanan yang tulus. Bukankah kau bilang kau akan melakukan apa pun demi keluargamu? Pengorbanan yang tulus tidak memilih batas, Sari. Pengorbanan adalah totalitas.”
Titi Kusumo melayang sedikit mendekat. “Aku telah melihat ke dalam sukmamu. Aku tahu kau tidak takut pada sentuhan fisik. Kau takut pada penghakiman. Kau takut pada dirimu yang sebenarnya.”
“Tidak, saya tidak takut!” Sari berbohong, tetapi suaranya bergetar.
“Kalau begitu, buktikan,” Titi Kusumo menantang. “Kau bilang kau akan melakukan apa pun untuk melayani tuanmu, Agus. Sekarang, aku adalah tuanmu. Aku yang membeli waktumu, sukmamu, dan tubuhmu. Aku menuntut layanan yang tulus, Sari yang asli. Lakukan hal yang paling menyakitkan bagimu. Lepaskan topeng Endang dan tunjukkan hamba yang sebenarnya.”
Sari melihat sekilas ke luar jendela. Malam sudah larut. Tidak ada yang bisa mendengarnya. Agus dan Endang kemungkinan besar sedang sibuk menghitung uang di ruangan lain.
“Apa yang harus saya lakukan, Raden?” tanya Sari, nadanya kini penuh keputusasaan dan kepatuhan yang dipaksakan.
“Kau bertanya apa yang harus kau lakukan?” Titi Kusumo tersenyum. “Aku sudah melihat memori tentang malam pertamamu di lokalisasi itu. Kau sangat ketakutan, tetapi kau melakukan tugasmu dengan patuh, bukan? Kau membungkuk, kau membersihkan debu di kaki klienmu, kau memijat mereka, dan kau memohon agar mereka berbaik hati padamu. Kau melakukan itu semua demi uang.”
“Iya…”
“Lakukan itu sekarang,” perintah Titi Kusumo, suaranya seperti guntur yang jauh. “Bungkuk. Aku ingin kau membersihkan zirahku, seolah-olah aku adalah klien pertamamu yang paling menakutkan, dan kau memohon belas kasihan spiritual dariku.”
Sari terpaku. Ini adalah permintaan yang mustahil. Membersihkan zirah kuno Titi Kusumo? Itu adalah penghinaan yang dirancang untuk menghancurkan harga dirinya.
“Dan,” tambah Titi Kusumo, matanya menyipit, “aku tidak ingin kau hanya membersihkan zirahku. Aku ingin kau menceritakan kepadaku, setiap sentuhanmu, mengapa kau melakukan ini. Aku ingin kau menceritakan kepadaku tentang rasa sakitmu, tentang keluargamu, tentang setiap kebohongan yang kau ucapkan malam ini. Aku ingin pengakuan dosa yang tulus, di setiap sentuhanmu.”
Sari menunduk, melihat gaun sutranya. Ia tahu, jika ia melakukannya, ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi Sari yang lama. Ia akan menjadi hamba yang terkutuk selamanya.
“Lakukan, Sari,” desak Titi Kusumo. “Atau aku akan mengambil pengorbananmu yang lain. Aku akan memastikan keluargamu tidak pernah melihat uang yang kau janjikan.”
Ancaman itu menghantam intinya. Keluarga. Itu adalah satu-satunya alasan dia melakukan ini.
Sari perlahan-lahan mulai membuka resleting gaunnya yang mahal. Kain sutra itu meluncur jatuh ke lantai. Ia kini hanya mengenakan pakaian dalam yang dibelikan Agus. Ia merasa dingin, telanjang, dan diekspos secara spiritual.
Ia merangkak di lantai, menuju Titi Kusumo. Ia berhenti di depan kaki Titi Kusumo yang berzirah perak. Zirah itu dingin, memancarkan aura es.
Sari mengangkat tangannya yang gemetar, menyentuh pelindung kaki zirah itu, dan mulai mengusap debu yang tidak terlihat.
“Saya… saya melakukannya, Raden,” bisik Sari, suaranya tercekat. “Saya melakukan ini… karena adik saya sakit. Dia butuh operasi. Saya… saya ingin dia tahu bahwa kakaknya…”
Air matanya menetes, jatuh di zirah perak Titi Kusumo.
“Kakaknya… melakukan pengorbanan terburuk, Raden. Tapi saya ikhlas. Saya ikhlas melakukannya untuk mereka.”
Titi Kusumo terdiam, mengamati setiap gerakannya.
“Angkat kepalamu, Sari,” perintah Titi Kusumo.
Sari mengangkat kepalanya, matanya merah.
“Sentuhanmu… dingin. Ketakutanmu terlalu kuat,” kata Titi Kusumo. “Aku ingin kau melakukan sesuatu yang belum pernah kau lakukan, bahkan untuk klien terkutukmu di lokalisasi. Aku ingin kau membuktikan bahwa pengorbananmu yang tulus itu, ditujukan hanya kepadaku.”
Titi Kusumo menjulurkan tangannya. Di telapak tangannya, muncul sebuah keris kuno yang kecil, berlumuran darah yang mengering.
“Ambil ini,” perintahnya. “Aku ingin kau mengukir namaku di kulitmu. Namaku: Raden Titi Kusumo. Bukan sebagai tanda kepemilikan. Tetapi sebagai pengakuan tulus bahwa kau, Sari, adalah korban pertama dari kebohongan Agus dan Endang. Dan bahwa kau adalah satu-satunya yang berani jujur di hadapanku.”
Sari menatap keris itu, lalu menatap wajah Titi Kusumo yang kini tampak seperti malaikat maut yang menawan. Tangannya terulur, mengambil keris yang dingin dan berdarah—
“Lakukan,” desis Titi Kusumo. “Tunjukkan kepadaku, Sari, harga sebuah kejujuran yang tulus.”