karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jurus Gabungan Naga Surya
Arya Maju ke depan matanya menatap Marah pada rombongan Pendeta Dalai lama itu, dulu ia pernah mendengar jika Dalai lama berubah semenjak Kerajaan Nepal ikut campur ia tak menyangka ternyata Nirmala di balik semua ini
" hiaaaat" dengan gerakan cepat Arya melesat menyerang dengan Pedang Emasnya
Wush
" he he he, kau masih terlalu muda untuk melawan ku!" Lobsyang Gyatso tertawa kecil, ia melihat dengan usia Arya yang masih berusia 40 tahunan mana mungkin bisa menandingi Tenaga dalam yang telah ia latih 60 tahun lebih
Dengan gerakan meremehkan lobsyang Gyatso menangkis dengan tasbih di tangan nya
Traaaang
Pyaaaar
" eh"
Lobsyang Gyatso kaget dan mundur saat tasbihnya hancur berantakan saat menangkis serangan Arya, dan jika ia tidak mundur tangannya bisa ikut terdapat oleh serangan pedang itu
" aku meremehkanmu!" seru Lobsyang Gyatso,
" ketua biar aku yang menghadapinya " satu pendeta maju menyerang dengan tangan kosong, Arya mendengus dan mengebutkan lengan nya
Wush
Serangkum angin kencang keluar dari tangan Arya
Braaak
Aaargh
Pendeta itu menjerit dan jatuh dengan memegangi dadanya
" kepung serang bersama sama!" seru Lobsyang Gyatso
Hiaaat
Traaang
traaang
Andini yang melihat suaminya akan di kepung bergerak lebih dulu ia menangkis pedang yang menyerang suaminya,
" kita hadapi mereka bersama kakang!" seru Andini, dia berdiri berdampingan dengan Arya.
Arya mengangguk bersama Andini ia bisa menyerang dengan jurus pedang pasangan yang mereka dapat di Goa bawah tanah
" hiaaat" keduanya bergerak menyerang Lobsyang Gyatso dan pendeta lainnya
" traaang"
" plash"
Pendeta di sisi Lobsyang mencoba menangkis serangan Andini namun tongkat yang dipakai menangkis terpapas kutung oleh pedang Andini
" hati hari, pedangnya bukan pedang biasa!" seru Lobsyang Gyatso mengingatkan
Dari dalam Goa, Bintang melihat dengan jelas pertarungan itu, ia sangat mengkhawatirkan keadaan kedua orang tuanya
" hiaaaat "
Dengan langkah Ajaib keduanya bekerja sama menyerang para Pendeta Dalai lama, Kalingga yang melihat itu menjadi khawatir, ia memang sudah di peringatkan oleh Ratu Nirmala, jika ilmu Arya sangat tinggi namun tak terpikir olehnya jika kekuatan Arya dan Andini sangat tinggi melebihi dugaannya
" buk"
" buk"
" A aaargh"
" Aaaaa"
Dua Pendeta terpental saat mereka berusaha menghindari bentrokan senjata dengan Andini, pukulan tangan kosong Arya mendarat di dada mereka dengan cepat
Lobsyang Gyatso memerah mukanya,
" gunakan jurus gabungan!" teriak Lobsyang Gyatso
Hiaaat
Serentak para Pendeta Dalai lama, melompat mundur dan membentuk barisan di belakang Lobsyang gyatso, Lobsyang Gyatso sebagai ujung tombak
" apa yang mereka lakukan Kak Arya?" tanya Andini tak mengerti mengapa tujuh Pendeta itu berbaris
" hati hati, aku pernah mendengar mereka mempunyai ilmu barisan, yang bergerak dalam satu kelompok atau menggabung kan tenaga dalam mereka" sahut Arya pelan, ia memperhatikan dengan seksama gerakan mereka.
Para biksu Dalai lama itu berbaris dan menempelkan tangan mereka pada lobsyang. Rupanya mereka menyatukan tenaga dalam mereka dan lobsyang sebagai ujung tombaknya, saat tenaga dalam mereka menyatu di tubuh lobsyang Hawa udara di Pulau Bangau mendadak berubah menjadi sangat panas.
rupanya melihat tingkat tenaga dalam Arya mereka tanpa Ragu mengeluarkan Jurus gabungan " Jurus Naga Surya"
Whooosh
Udara di atas mereka berputar, membentuk pusaran api berwarna kuning keemasan yang menyerupai naga raksasa. Suhu di sekitar mereka meningkat drastis, hingga pasir pantai mulai mengkristal menjadi kaca.
"Andini, di belakangku!" teriak Arya melihat bahaya di depannya.
Arya mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk membentuk dinding pelindung. Namun, gabungan tenaga dalam para Dalai Lama sangat kuat
ROAAAAAAR!
Hooooor
Kretaaak
Blaaaaaar
Aaaaargh
aaaaaaa
Naga api itu menyembur dengan suara menggelegar. Semburan panas itu tidak hanya menghancurkan dinding pelindung Arya, tapi juga menerjang tubuh Arya dan Andini secara langsung.
Jeritan kesakitan pecah. Arya dan Andini terpental puluhan meter. Hawa panas yang luar biasa itu membakar pakaian dan kulit mereka. Luka bakar yang parah merayap di tubuh mereka, dan yang paling tragis, semburan api itu mengenai wajah mereka. Wajah tampan Arya dan kecantikan Andini yang termasyhur kini hangus, meninggalkan luka bekas bakar yang mengerikan.
Keduanya terkapar tak berdaya di atas pasir yang kini hitam legam. Napas mereka tersengal, hingga akhirnya kesadaran mereka hilang sepenuhnya.
Dari celah gua, Bintang yang melihat orang tuanya tumbang. Amarah meledak di dadanya, menghancurkan ketakutan yang sejak tadi menahannya.
"Ayah! Ibu!" teriaknya marah, tanpa mempedulikan kekuatan musuh, Bintang melesat keluar dengan kecepatan yang mengejutkan para musuh. Meski baru berusia dua belas tahun, ia telah menyerap dasar-dasar ilmu Langkah Ajaib dan Tapak Sakti.
" wuuut"
" Plaaak"
Ia menyerang Senapati Kalinga dengan pukulan beruntun yang didorong oleh amarah murni.
Tap
Kalinga sempat terkejut, namun dengan mudah ia menangkap pergelangan tangan kecil Bintang
"Anak yang berani, tapi kau masih terlalu lemah!"
dugh
Kalinga menghantamkan punggung tangan ke dada Bintang, membuatnya terlempar. Sebelum Bintang sempat bangkit, Gyatso sudah berada di depannya dan menekan titik saraf di lehernya. Bintang jatuh pingsan, tertangkap oleh musuh.
Lobsang dan Gyatso mendekati tubuh Arya yang tidak sadarkan diri. Mereka mencari-cari Pedang Pelangi di sekitar tubuhnya dan di dalam rumah kayu yang sudah setengah hancur. Namun, pedang itu seolah lenyap ditelan bumi.
Mereka tidak tahu jika arya mempunyai cincin sihir dan semua benda pusaka berada di sana di dalam Cincin Sihir
"Tidak ada! Pedang itu tidak ada di sini!" lapor Kalinga setelah menggeledah seluruh isi rumah.
" Cari lagi mungkin ia menyimpannya di tempat tersembunyi" gerutu Gyatso.
Kembali kalingga memeriksa rumah Arya, namun ia tak juga menemukan Pedang Pelangi yang mereka cari, karena kesal mereka membakar rumah Arya,
" ayo kita kembali dan bawa anak ini!" seru lobsyang Gyatso, sebelum pergi, Lobsang menatap tubuh Arya dan Andini yang penuh luka bakar. "Biarkan saja. Dengan luka seperti itu, dan tanpa bantuan tabib, mereka akan mati dalam hitungan jam. Kita sudah mendapatkan anaknya. Nirmala akan senang memiliki keturunan Arya sebagai budak atau sandera."
Kalingga membawa Bintang Arya yang pingsan ke atas kapal. Kapal besar itu pun segera berlayar meninggalkan Pulau Bangau yang kini porak-poranda. Mereka meninggalkan dua jasad yang mereka kira sudah tewas di pinggir pantai yang sunyi, ditemani kepulan asap dari sisa-sisa pembakaran