NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi


- - -

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.




- - -

Endiya Winter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT I: [Tirai Panggung Dibuka]

...PROLOG...

   [Senin, 24 November]—Tiga tahun lalu.

   “Selamat pagi semuanya. Saya berdiri di sini untuk menyampaikan satu hal yang sejujurnya tidak pernah kami kehendaki terjadi di lingkungan sekolah. Kami meminta seluruh siswi tetap tenang dan menyimak dengan saksama.

   “Delapan hari lalu, kita mendapat kabar duka tentang berita kematian salah seorang teman dari kita. Beritanya begitu mengejutkan, sampai-sampai banyak spekulasi tak berdasar bermunculan. Saat ini kasus tersebut sedang dalam penanganan pihak berwenang, dan demi menghormati proses investigasi, kami belum dapat menyampaikan identitas siswi yang terlibat ataupun detail kejadiannya. Jadi untuk menjaga ketertiban selama proses investigasi, kami memohon kepada seluruh pihak untuk tidak menyebarkan rumor dalam segala bentuk apa pun. Bila ada yang memiliki informasi relevan, harap melapor ke pihak sekolah secara langsung, bukan disebarluaskan melalui media sosial atau grup obrolan. 

   “Kami memahami bahwa situasi ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran di antara kalian, maka itu kami ingin meyakinkan bahwa pihak sekolah bekerja sama sepenuhnya dengan kepolisian untuk mengungkap kebenaran di balik kejadian tragis ini. Jadi sampai saat itu tiba, mohon bantuannya.”

   “Seorang gadis ditemukan tewas di atap gedung sekolah.”

   “Kudengar di tubuhnya terdapat beberapa macam luka.”

   “Benarkah?”

   “Siapa gadis itu?”

   “Siapa dia?”

   “Adakah yang mengenalnya?”

   “Tidak.”

   “Kurasa tidak.”

   “Bagaimana denganmu? Apa kau mengenalnya?”

   “Tidak.”

   “Aku juga tidak.”

   “Tidak banyak yang tahu tentangnya.”

   “Iya, benar.”

   “Dia cukup pendiam dan tertutup.”

   “Mungkin bisa dibilang dia tidak punya teman.”

   “Anak seperti itu selalu jadi sasaran empuk untuk dirundung.”

   “Gadis yang malang.”

...- - - - - - - - - - - - - - - - - - ...

...ACT I: Tirai Panggung Dibuka...

   [Rabu, 16 September]—Tiga tahun kemudian.

   "Melansir dari laporan ramalan cuaca terkini, para ahli memperkirakan bahwa suhu udara akan mengalami penurunan drastis hingga akhir tahun akibat musim penghujan yang sedang berlangsung. Fenomena ini mencirikan perubahan cuaca yang ekstrem, di mana siang hari kita masih bisa merasakan panas terik namun saat malam sampai menjelang pagi, cuaca bisa terasa sangat dingin dan menusuk. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk tetap siap menghadapi perubahan suhu saat ini dan mengantisipasinya dengan bijak. Untuk menjaga kenyamanan dan kesehatan kita, disarankan agar kita selalu mempersiapkan pakaian yang tepat, baik untuk siang maupun malam hari.

   “Dalam hal ini, kita juga harus mempertimbangkan dampak cuaca dingin terhadap kondisi jalan. Jalanan bisa menjadi licin dan kabut malam bisa mengurangi visibilitas kita. Pastikan kondisi kendaraan kita dalam kondisi prima dan selalu berhati-hati saat berkendara.”

   Cahaya televisi jatuh menerpa wajah seorang pria. Telinganya bergoyang pelan saat menerima gelombang suara pewara berita. Tetapi ia tak begitu mempedulikannya, hanya fokus memakan mi instan dengan terburu-buru. Di sofa tempatnya duduk, tersampir jas hitam, dasi, dan ikat pinggang. Itu adalah setelan pakaian yang akan dikenakannya hari ini, disiapkan oleh asistennya yang datang pagi-pagi sekali untuk mengecek keadaanya. Semalam, dia menegak alkohol terlalu banyak, lalu tidur dengan melupakan fakta bahwa ia masih punya jadwal bertemu dengan kliennya besok. 

   Sementara televisi yang masih dibiarkan menyala, beralih menyiarkan berita lain. Seorang reporter meliput di sebuah jembatan perumahan di Jalan Anggrek Putih, tempat di mana tiga tahun lalu pernah menjadi lokasi sepasang lansia ditemukan tewas di sisi jalan.

   Kasus kematian ini awalnya dianggap sebagai serangan jantung karena kedua korban tertangkap kamera pengawas berjalan kaki setelah turun dari bus, dan tidak ada tanda-tanda mereka diserang saat memasuki jalan perumahan warga. Kasus itu pun kemudian ditutup secara resmi. Namun baru-baru ini, seseorang melaporkan melihat bekas laju ban mobil di permukaan jalan. Menurutnya, si pengendara tidak menarik rem tangan saat mobilnya berbelok di tikungan, sehingga menabrak sepasang lansia yang melintas. 

   Hasil autopsi juga menyebutkan tentang adanya beberapa kerusakan dan patah pada tulang pada kaki, tangan, dan tengkorak kepala—diduga berasal dari potensi kecelakaan yang sulit dihindari.

  

...• • • • •...

   Koridor membentang panjang, terasa lenggang oleh bau khas cat dinding dan kesunyiannya. Ratusan larik matahari jatuh lembut ke permukaan lantai, menciptakan semburat halus yang tampak bergerak samar saat beberapa kaki melintas di atasnya.  

   “Setiap untai DNA terdiri dari rangkaian nukleotida, terhubung oleh ikatan fosfodiester antara gugus fosfat dan gula deoksiribosa. Di tengah heliks ganda, basa nitrogen dari kedua untai saling berpasangan melalui ikatan hidrogen.” Pak Bams berbalik badan menghadap papan tulis, mulai menggambar struktur DNA beserta contoh susunan basa nitrogen. Hasil dari coretannya menggunakan kapur menghasilkan serbuk berwarna putih yang kemudian terbang terbawa angin. “Basa nitrogen terbagi menjadi dua, purin dan pirimidin. Purin terdiri dari adenin (A) dan guanin (G), sedangkan pirimidin terdiri dari sitosin (C) dan tiamin (T). Keempat basa nitrogen ini saling terikat oleh ikatan hidrogen membentuk pasangan, yakni adenin yang selalu berpasangan dengan tiamin (AT), dan guanin yang selalu berpasangan dengan sitosin (GC).”

   Gadis yang duduk di bangku kedua dari belakang menopang dagunya, menyeka air di sudut matanya yang terus keluar setiap kali ia menguap. “Itulah mengapa setiap orang harus belajar seni setidaknya sekali seumur hidup.” 

   “Kalau kutunjukkan pada ibuku, dia pasti mengira itu adalah tangga spiral di taman anak-anak.” Gadis di kursi sebelahnya menimpali, berkomentar tentang bagaimana payahnya sang guru Biologi dalam menggambar. 

   Pak Bams membalikkan badannya menghadap para siswi, berniat melanjutkan penjelasan, tetapi belum sempat dua detik terlewat, niat itu tiba-tiba diurungkan. “Wah, lihatlah wajah kalian.” Dia meletakkan kapur ke tempatnya, kemudian melipat kedua tangannya ke dada sembari menelusuri para gadis yang duduk di kursi. Mereka menguap, tertidur, makan diam-diam di balik buku, duduk dengan kaki diangkat ke kursi, bergosip, melamun, bercanda, juga ada yang sedang menghitung uang demi menanti waktu istirahat sebentar lagi. “Baiklah, dengar semuanya!” Pak Bams mengetuk papan tulis sebanyak tiga kali, meminta perhatian. “Bapak akan beri satu pertanyaan, jika satu dari kalian berhasil menjawab, maka kelas akan dinyatakan selesai.”

   Serentak, para gadis pun langsung memusatkan perhatian mereka kepada Pak Bams. Mata mereka yang tadinya tampak lesu dan pandangan terasa buram, mendadak segar tanpa ada lagi kepala menyentuh permukaan meja. Semuanya duduk tegak dengan kedua tangan dilipat rapi, merekahkan senyum yang makin lama terus melebar.

   “Kesempatan kalian hanya satu kali, jadi kalau gagal ... itu nasib kalian. Bagaimana? Siap?”

   “Ya!” Seisi kelas berseru semangat. 

   Pak Bams tersenyum tipis sambil memperbaiki letak kacamata di pangkal hidungnya. Kepercayaan dirinya meningkat begitu ia melihat antusias para gadis demi menantikan waktu istirahat. Jadi ia pun menyiapkan sebuah pertanyaan di luar materi yang belum disampaikan di papan tulis berupa, “Apa alasan basa nitrogen yang menyusun struktur DNA saling berpasangan (purin-pirimidin)?”

   Dalam satu detik, keadaan jadi hening. Semilir angin yang berembus dari celah jendela bahkan terdengar jelas saat masuk ke dalam ruangan, menambah ketegangan dan adrenalin yang terasa makin memuncak. Satu menit pun berlalu, tak terasa lima menit juga berlalu dengan cepat bagai sekali kedip. Alih-alih berpikir atau mencoba mencari jawabannya di buku, mereka malah saling sikut dan saling tendang kursi guna memberi kode pada yang lain untuk maju mewakili. 

   Dari barisan meja belakang, seorang gadis mengacungkan tangan. Kursi yang didudukinya berderit cukup keras saat ia bangkit, membuat teman-temannya yang sedang bersitegang menoleh secara serempak. 

   “Ya, Karinn. Apa jawabanmu?” Pak Bams mempersilakan.

   Sambil memegangi perutnya, sang gadis berkata, “Aku mau ke toilet.” Belum sampai sedetik setelah ia menurunkan kembali tangannya ke samping tubuhnya, ia langsung memacu kakinya pergi keluar kelas. Embusan angin tertinggal di belakangnya, jejak bahwa ia sama sekali tak memberikan kesempatan kepada teman-temannya untuk bereaksi selain mematung tanpa berkedip. 

   “Oi, si kunyuk itu! Dia pasti kabur ke kafetaria!” Seseorang menyalak, menyadari bahwa arah perginya Karinn berlawanan dengan keberadaan toilet. Lantas, komentar demi komentar pun bermunculan.

   “Wah, dia memang gila.” 

   “Dia menyelamatkan dirinya sendiri lagi.”

   “Kali ini idenya yang keberapa?”

   “Otaknya memang cuma berguna untuk hal yang tidak-tidak.” 

   “Wahh...” Seisi kelas langsung riuh melebihi saat Pak Bams mengumumkan kesepakatan. Sebagian berkomentar, sebagian yang lain mengutuk dalam hati.

   “Oi, ayo jawab pertanyaannya! Setelah itu kita bisa pergi dan menangkap bocah itu.” Salah satu gadis angkat suara, memprovokasi teman-temannya untuk kembali fokus pada pertanyaan.

   Gadis yang duduk di kursi terdepan memutar balik tubuhnya, menghadap seseorang yang biasa jadi tumbal dalam hal semacam ini. “Ketua kelas, apa kau tidak mau menjawab?” 

   “Benar! Kita punya Adele!” Seorang lain asal menyeletuk, membuat seisi kelas tanpa pikir langsung menyetujui dan ramai-ramai bersorak untuknya. 

   “Adele, bantulah kami kali ini..”

   “Bantu kami, Adele..”

   “Kau yang terbaik..”

   “Kita harus menangkap kunyuk itu secepatnya. Adele, tolonglah...”

   “Adele..! Adele..! Adele…!”

   Si pemilik nama menepuk meja, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan sambutan berupa tepukan tangan yang makin meriah. Kembali pada pertanyaan Pak Bams, dia berdehem dahulu sebelum kemudian memantapkan suara untuk memberi jawaban. “Basa nitrogen yang saling berpasangan itu membawa kode genetik. Jika terjadi kesalahan dalam pasangan, maka bisa menyebabkan mutasi gen yang dapat mempengaruhi sifat-sifat organisme.”

   Sukses! Sepuluh menit lebih awal untuk mengenyangkan perut akhirnya tiba! Bahkan Pak Bams belum dipersilakan keluar pun gadis-gadis kelas 11-5 sudah meluncur lebih dulu, melesat cepat dengan berbondong-bondong, menimbulkan suara derap kaki yang terdengar bak pasukan berkuda. 

   Kafetaria yang menggabungkan kelas 10 sampai dengan kelas 12 ini terletak di lantai satu, tepatnya berada di bagian pojok sisi gedung sekolah. Ruangannya sangat besar, dapat diperkirakan menampung lima kelas yang masing-masingnya berukuran lebar tujuh meter. Puluhan meja tertata rapi, lengkap dengan deretan kursi yang tidak pernah mengalami kekurangan menjadi tempat duduk para gadis. Jam yang menempel di salah satu pilar menunjukkan pukul 12 siang kurang sedikit. Gadis-gadis kelas 11-5 menjadi yang pertama datang, jadi mereka tidak perlu repot-repot mengantre dan bisa langsung mengambil kotak stainless, memilih menu, lalu pergi ke meja favorit dengan perasaan berbunga-bunga. 

   “Dasar kunyuk kecil ini. Kau mau kujadikan bantal samsak, hu?” Dia mengalungkan lengan kanannya di leher korban, mencegah mulutnya yang masih mengunyah walau sedang diomeli beramai-ramai.

   “Aakkk..!!” Karinn menjerit, bukan karena tersedak akibat ulah si pelaku, tetapi karena ia tidak sengaja menggigit lengkuas yang dikiranya adalah potongan daging. “Ah, sial.”

   “Wah, beraninya kau mengabaikan kami.” Yang lainnya duduk di kursi sebelahnya, menonton tampang tak bersalah si korban yang tetap lanjut mengunyah makan siangnya. 

   “Kau benar-benar pemakan segalanya.” Dia yang tadi mengalungkan lengannya di leher Karinn mengubah gerakan tangannya menjadi membelai rambut si korban sembari berkata, “Mau makan tinjuku juga?”

   Karinn melotot sinis. Masih dalam keadaan mulutnya mengunyah, dia mengeluarkan selembar uang dari sakunya, meletakkannya di atas meja sembari berkata, “Pergi. Biarkan aku makan dengan tenang.”

   “Baiklah, kuterima,” katanya sembari menyambar uang tersebut. “Kuanggap hutangmu lunas.”

   “Hu? Hutang? Aku tidak pernah pinjam uang darimu.”

   Dia berkacak pinggang, menelisik wajah bingung Karinn yang tampak sungguhan bereaksi. “Aih, dasar pikun. Kau meminjamnya dariku saat kita karyawisata setahun lalu. Aku tidak tahu kau gunakan untuk apa uang itu, tapi yang pasti kau bilang membutuhkannya segera. Jadi aku—”

   “Dasar kunyuk tak tahu diri! Kemari kau, pembohong!” Tanpa ancang-ancang, Karinn langsung lari mengejar begitu bangkit dari kursi. Si pelaku yang membawa kabur uangnya pun tak kalah melesat lebih cepat, sehingga tepat saat bel istirahat berdentang, mereka benar-benar berkejaran di antara meja-meja kafetaria. 

   “Sial, dia benar-benar gila!” Dia tidak menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat bagaimana wajah si gadis yang telah ditipunya itu, namun mendengarnya berteriak begitu sudah cukup menjelaskan bahwa sekarang ia benar-benar dalam bahaya. Ia harus melarikan diri! Setidaknya sampai uang di tangannya berhasil diamankan! Dengan gerakan lihai, ia membaurkan diri di keramaian para gadis yang sedang mengantre. Pikirnya dengan begitu si korban akan kesulitan menangkapnya dan akhirnya menyerah dengan mudah tanpa mengharapkan uangnya kembali. Membayangkan kemenangan di depan mata memang menyenangkan, sampai-sampai ia luput akan satu hal; si korban alias Karinn mendadak sudah berada tepat satu meter di belakangnya. “Sial!” 

   “Dianna! Kau akan mati saat kutangkap!” 

   Dalam satu detik, aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan menjadi tontonan para pengunjung. Sebagian bersorak menambah keriuhan, sebagian yang lain merekam untuk diunggah ke forum anonim sekolah, sementara yang lainnya hanya membisu tanpa berkomentar. 

   Dalam peristiwa semacam ini, guru yang kadang-kadang ada di lokasi kejadian atau secara tidak sengaja menyaksikannya, memilih untuk berpura-pura tidak melihat alih-alih melerai. Mereka menilai bahwa candaan di antara para gadis seperti ini merupakan tanda bahwa lingkungan sekolah telah sepenuhnya sehat. Korban yang dijahili melakukan perlawanan, itu dianggap sebagai bentuk pembelaan diri demi upaya menjaga keseimbangan agar tak ada pihak yang menekan pihak lain.

   Jauh beberapa tahun ke belakang, sekolah ini pernah gagal menjadi tempat teraman bagi para siswi. Maka itu, kini mereka berusaha bangkit—menumbuhkan kembali harapan akan citra saling berteman tanpa pandang bulu yang sempat terkikis oleh perundungan.

   “Oi!” Karinn menyalak galak. Entah karena faktor usia atau apalah, baru lima menit dia punya tekad tidak mudah menyerah, napasnya sudah terengah-engah dan kakinya bergetar tidak sanggup melangkah lagi. “Uangku...” Dia menodongkan telapak tangannya, meminta barang tersebut. “Kuberi kau kesempatan untuk hidup asalkan kau mengembalikan uangku.”

   “Kau memberikannya padaku.” Dianna menarik kedua tangannya ke belakang, tempat di mana uang si korban disembunyikan. 

   “Tapi kau menipuku.”

   “Tidak.”

   “Kau menipuku!”

   “Tidak.”

   

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!