NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Masih di Titik yang Sama (POV Danendra)

Pagi di Kota J terasa jauh lebih sejuk dari biasanya. Aku melangkah keluar dari kamar kost dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Sudah satu bulan aku menetap di sini untuk mengurus proyek cabang baru perusahaan. Kota ini asing, namun entah kenapa, udara pagi ini seolah membawa aroma yang sangat kukenal.

Aku berencana bertemu Bagas dan teman-teman kantor di taman kota untuk berolahraga. Namun, langkahku terhenti tepat di gerbang masuk.

Di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang, mataku menangkap sebuah siluet. Seorang gadis dengan rambut yang tertiup angin pelan, sedang berjalan berdampingan dengan temannya. Jantungku berdegup kencang, sebuah reaksi yang hanya bisa dipicu oleh satu nama.

"Azzalia..." bisikku nyaris tak terdengar.

Duniaku seolah melambat. Gadis itu, Azzalia Casseline, berdiri hanya beberapa meter dariku. Enam tahun aku mencari, enam tahun aku bertanya-tanya pada langit malam tentang kabarnya, dan sekarang dia ada di sini. Nyata.

Aku memberanikan diri melangkah mendekat. Saat mata kami bertemu, aku melihat kilatan keterkejutan di matanya—kilatan yang sama yang kulihat enam tahun lalu sebelum dia mengusirku.

"Hai, Azzalia Casseline. Kamu... apa kabar?" tanyaku dengan suara bergetar. Aku berusaha tersenyum, meski dadaku terasa sesak oleh rindu yang membuncah.

Namun, rekasinya tetap sama. Azzalia membeku, wajahnya yang cantik berubah dingin, dan dia melangkah mundur seolah aku adalah sebuah ancaman. Luka itu kembali terasa perih. Apakah kehadiranku masih membawa ketakutan baginya?

"Aku baik," jawabnya singkat, namun nada bicaranya menunjukkan sebaliknya. Dia ingin lari.

"Aku pikir kita nggak akan pernah ketemu lagi, Zal," ucapku lirih, menahan diri agar tidak meraih tangannya. "Setelah keputusan terakhirmu menyuruhku pergi... kenyataannya aku nggak pernah benar-benar pergi. Aku masih di sana, tertinggal di tempat di mana kamu memintaku menjauh."

Aku ingin dia tahu bahwa selama enam tahun ini, aku tidak pernah beranjak. Aku mencoba mencari tahu lewat teman-temannya, lewat Valerie, tapi semua pintu tertutup. Dia menghilang bagai ditelan bumi, meninggalkan aku yang masih memegang sisa-sisa janji yang tak pernah ia tepati.

"Azzalia!" teriakku saat dia tiba-tiba berbalik dan menarik temannya pergi.

Langkahnya cepat, seolah ingin segera menghapus keberadaanku dari pandangannya. Aku berdiri mematung di tengah taman, menatap punggungnya yang menjauh. Rasa sakit ini... aku sudah terbiasa dengannya, tapi melihatnya lari dariku tetap saja membuat ulu hatiku nyeri.

"Azzalia! Kalau kamu udah capek berkelana, please noleh ke belakang! Aku masih di sini nungguin kamu berbalik arah!" teriakku sekuat tenaga, tidak peduli pada orang-orang yang mulai memperhatikan.

Aku hanya ingin dia tahu, bahwa sejauh apa pun dia berlari, ada satu tempat yang selalu menunggunya pulang. Yaitu aku.

"Ayo pak Nendra, teman-teman yang lain sudah menunggu di sana," suara Bagas tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

Aku mengangguk lemah, mengikuti langkah Bagas menuju teman-teman departemenku. Sepanjang waktu berolahraga, aku hanya menjadi pendengar yang pasif. Tawaku terasa hambar, pikiranku masih tertinggal pada langkah mundur Azzalia tadi.

"Mas Nendra lagi banyak pikiran?" tanya Selvi, salah satu rekan kerjaku yang menyadari kegelisahanku.

"Enggak kok, cuma lagi sedikit capek," jawabku sambil menggaruk tengkuk, mencoba menyembunyikan badai di dalam hati.

Setelah sarapan bubur ayam bersama teman-teman, aku kembali ke kost. Aku merebahkan diri di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang sepi. Ingatanku kembali pada pertemuan pertama kami di depan sekolah enam tahun lalu. Gadis manis yang susah digapai hatinya, yang sikapnya bisa berubah semanis gula atau sedingin es dalam hitungan detik.

Aku mengambil ponselku yang tergelatak di atas nakas.

Jemariku gemetar saat mengetik pesan singkat itu. Setelah enam tahun, ini adalah kesekian kalinya aku mencoba mengetuk pintu yang sama, meski aku tahu kuncinya telah dibuang oleh Azzalia.

To: Valerie

"Val, gue ketemu Azzalia hari ini. Di taman kota. Dia ada di sini, di kota J. Lo beneran nggak tahu kalau dia pindah ke sini?"

Aku melempar ponsel ke samping bantal, tak sanggup menunggu balasan yang biasanya hanya berupa kebohongan atau penolakan. Namun, hanya dalam hitungan detik, ponselku bergetar.

Valerie:

"Nen, gue udah bilang berkali-kali. Stop cari tahu tentang Azzalia. Kalaupun dia ada di depan mata lo sekarang, itu bukan berarti dia mau ketemu lo."

Valerie:

"Dia udah punya dunianya sendiri, Nen. Dia udah bahagia, dan lo juga berhak bahagia. Tolong, relain Azzalia. Lupain dia. Ini permintaan gue sebagai temen lo sekaligus sepupunya."

Aku tertawa getir membaca pesan itu. Relakan? Lupakan? Bagaimana bisa aku melupakan seseorang yang kehadirannya di taman tadi pagi saja sanggup meruntuhkan seluruh pertahanan yang kubangun selama satu bulan di kota ini?

Valerie memang selalu begitu. Dia adalah benteng terakhir Azzalia yang tak pernah bisa kutembus. Tapi, ada yang janggal. Kalimat "dia udah bahagia" terasa seperti duri yang menusuk ulu hatiku. Jika dia bahagia, kenapa tatapannya tadi penuh dengan ketakutan? Kenapa dia melangkah mundur seolah-olah aku adalah hantu dari masa lalu yang mengerikan?

Aku bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju jendela kamar kostku yang menghadap ke jalan raya. Lampu-lampu kota mulai menyala, menandakan sore telah berganti malam.

"Maaf, Val. Gue nggak bisa," batinku.

Aku tidak tahu apakah pertemuan tadi adalah murni ketidaksengajaan atau sebuah skenario semesta yang ingin mengujiku. Tapi satu hal yang pasti, melihatnya tadi—meski hanya sebentar dan penuh dengan penolakan—telah menghidupkan kembali api yang selama ini kucoba padamkan dengan paksa.

Aku kembali menatap layar ponselku, melihat foto profil WhatsApp Azzalia yang masih kosong. Dia tetap menutup diri, tetap menjadi teka-teki yang sulit kupecahkan.

"Zal, sejauh apa pun kamu lari, kalau semesta sudah berkehendak kita bertemu di kota ini, aku nggak akan pernah bisa merelakan kamu begitu saja," gumamku pelan.

Malam itu, aku tertidur dengan satu tekad baru. Aku tidak akan mencarinya secara membabi buta seperti dulu. Aku akan membiarkan takdir bekerja, tapi kali ini, aku tidak akan membiarkannya menghilang lagi tanpa jawaban yang jelas.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!