Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maling
Sumi berteriak terkejut melihat kehadiran Bramasta di samping pintu kamar nenek Sri." kamu siapa ?" tanya Sumi lagi yang mana langsung menodongkan sapu yang ada di samping pintu.
" Pasti kamu maling ya ? Maling !! Maling !!!" teriak Sumi sambil memukuli Bramasta.
Bukkkk
Bukkkk
" Akkkhhhh...akkkhhhh...ampun...ampun." Bramasta mengaduh kesakitan saat di pukuli Sumi hingga sampai keluar dari rumah.
" Ada apa itu nduk ?" tanya nenek Sri.
" Aku juga nggak tau nek,coba aku lihat dulu ya." Ucap Reina lalu beranjak keluar dari kamar neneknya.
Nenek Sri yang juga penasaran pun ikut beranjak dari ranjang menuju ke depan. Reina sendiri yang sudah sampai di teras rumahnya
terkejut melihat adegan itu.
" Ada apa Bu sum ?" Tanya Reina.
" Ini Re ada maling...tadi aku pas mau keluar udah lihat dia mau masuk rumah jadi aku pukul aja dia." Jawab Sumi menunjuk ke arah Bramasta yang mana menutup wajahnya.
Reina menatap ke arah seseorang yang di bilang Sumi maling tadi dan betapa terkejutnya saat melihat Bramasta dengan wajah yang sudah babak belur.
" Astaga kak Bram." Reina menghampiri Bramasta membuat nenek Sri dan Sumi ikut terkejut saat Reina ternyata mengenal orang itu.
" Kakak nggak papa ? kenapa bisa sampai sini ? Ayo duduk biar aku obati." Ucap Reina mengajak Bramasta untuk duduk di kursi teras rumahnya lalu dia bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil kotak P3K melewati neneknya dan Sumi.
Nenek Sri dan Sumi memperhatikan Reina yang mengobati Bramasta. Baru setelah selesai nenek Sri dan Sumi yang sangat penasaran pun baru bertanya.
" Teman kamu re ?" Tanya Sumi dengan wajah takut.
" Iya buk," Jawab Reina.
" I-itu nak maafin ya saya nggak tau kalau kamu teman Reina, soalnya saya belum pernah lihat jadi aku kira maling karena sekarang banyak banget maling." Ucap Sumi meminta maaf pada Bramasta.
" Nggak papa buk,lagi pula memang saya yang sudah lancang tadi masuk ke rumah tanpa izin. Tadi saya hanya khawatir saat Reina mengangkat panggilan teleponnya seperti ada buru-buru jadi saya khawatir dan mengikuti dia pulang." Jawab Bramasta jujur namun tidak mengatakan jika dirinya memang ingin tau rumah Reina.
Bramasta beranjak dari duduknya dan menyalami nenek Sri lalu bergantian Sumi." Kenalkan,saya Bramasta nek,buk." Ucap Bramasta mengira jika Sumi adalah ibu Reina.
Sumi sendiri sedikit malu di mana pakaian Bramasta yang rapi harus berantakan gara-gara dirinya. Apalagi wajahnya yang terlihat sangat tampan dan berwibawa itu membuatnya minder.
" Nenek Sri,saya nenek Reina.Sepertinya kamu bukan orang sini ya nak ? Nenek belum pernah melihat kamu." nenek Sri memperhatikan Bramasta dengan seksama mengingat-ingat.
" Ah,iya nek memang saya bukan orang sini rumah saya ada di perumahan anggrek nek." Jawab Bramasta tersenyum.
" Perumahan anggrek ? Kamu- teman sekolah Reina kah ?" tanya nenek Sri sedikit tau perumahan itu adalah perumahan elit tempat orang kaya.
" Bukan nek. Dia...dia omnya temanku." jawab Reina cepat karena khawatir neneknya akan berfikir macam-macam nanti jika mempunyai teman yang usianya di atasnya.
" Ow,apa om teman kamu yang bantuin kamu carikan pekerjaan itu ?" Tanya nenek Sri.
" Haaa !! Iya-iya bener sekali. Buk tolong bawa nenek masuk ke dalam dulu ya nenek harus istirahat." Ucap Reina menyuruh Sumi membawa nenek Sri masuk ke dalam rumah.
Sumi hanya menurut dan mengajak nenek Sri masuk ke dalam. Begitu keduanya sudah masuk ke dalam rumah Reina sedikit mendekat pada Bramasta.
" Maaf ya kak aku harus bohong,soalnya aku khawatir dengan kesehatan nenek dan nggak mau sampai nenek mikir aneh-aneh karena aku punya temen yang umurnya sedikit lebih tua dariku." Ucap Reina menjelaskan pada Bramasta dengan lirih di akhir kalimatnya.
" Dan lagi-lagi dia bicara seperti itu. Apa karena ini memang efek aku yang sudah lama menjomblo ya." Ucap Bramasta dalam hati.
" Iya nggak papa,aku tadi hanya khawatir dengan kamu jadi aku ngikutin kamu. Tapi apa kita bisa berteman ?" Tanya Bramasta sepertinya sangat memohon.
" Itu- " Reina ragu karena sedikit khawatir nanti jika dia sampai di jadikan sugar baby lagi.
" Apa karena aku terlalu tua jadi nggak boleh berteman denganmu ?" Tanya Bramasta saat melihat keraguan Reina.
" Ya sudah nggak papa,maaf ya sudah mengganggu tadi. Dan semoga nenek Sri lekas sembuh. Salam buat ibu kamu tadi,maaf membuatnya takut. Kalau gitu aku pamit ya." Ucap Bramasta tersenyum dan beranjak berdiri pamit.
Reina hanya diam saja namun saat Bramasta ingin naik mobil Reina menghampiri." Boleh kak,maaf dan maaf sekali lagi udah buat kakak luka. Apa aku boleh minta nomer kakak biar nanti saat aku punya uang bisa ganti rugi uang pengobatan." Reina mengulurkan ponselnya pada Bramasta membuat Bramasta yang memang ingin mendapatkan nomer Reina pun langsung tersenyum namun mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat jadi sok cool.
" Aku nggak butuh ganti rugi kok lagi pula akhhh...ini hanya luka kecil." Ucap Bramasta dengan pura-pura memegang pipinya yang memar.
Reina meringis melihatnya." Udah kakak tulis saja nomer kakak." Reina semakin di buat ngotot karena khawatir nanti Bramasta akan menuntutnya jika dia nggak bertanggung jawab.
" Ya sudah kalau kamu maksa,tapi aku beneran nggak mau uang ganti rugi." Meski mengucapkan seperti itu namun Bramasta tetap menulis nomernya di ponsel Reina dengan hati yang ingin bersorak dan melompat-lompat karena bisa mendapatkan nomer Reina tanpa dia susah payah meminta.
" Kalau gitu kakak hati-hati pulangnya ya. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Reina menunduk berulang kali pada Bramasta meminta maaf.
Belum sempat Bramasta menjawab Reina pun langsung pergi meninggalkan Bramasta dan membuatnya cemberut.
" Huh,pergi dia. Tapi nggak papa,nanti dia akan hubungi aku." Ucapnya tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.
Ingin menjalankan mobilnya ada panggilan dari asistennya." Ada apa ?" Tanya Bramasta.
" Ya aku ke sana sekarang." Ucapnya lalu menutup panggilan teleponnya setelah mendengar penjelasan asistennya.
Sambil menuju ke kantor dia terus menerus menatap ponselnya berharap ada pesan atau panggilan masuk dari Reina.
" Entah kenapa aku jadi seperti ini ? Padahal aku biasanya nggak tertarik sama cewek tapi dengannya-" Bramasta jadi membayangkan wajah Reina yang sangat teduh dengan senyuman manisnya membuat jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
" Aduduh...ini sangat menyiksa. Sepertinya nanti aku harus periksa ke dokter. Aku khawatir ada penyakit tersembunyi dalam tubuhku." Ucap Bramasta memegangi dadanya dengan satu tangannya karena satu tangannya untuk menyetir mobil.
Sedangkan Reina yang baru masuk ke dalam kamar neneknya langsung di todong pertanyaan.
" Beneran om teman kamu ?" Tanya nenek Sri.
Deg
---------->>>>>