NovelToon NovelToon
Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Mantan / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Sesampainya di rumah, Azel tidak membiarkan Runa menyentuh pekerjaan dapur sedikit pun. Ia langsung menggiring istrinya itu ke sofa ruang tengah, sementara ia sendiri melangkah ke dapur—masih dengan kemeja kantor yang lengannya digulung hingga siku.

Runa mencoba bangkit, "Zel, biar aku bantu—"

"Duduk di sana, Runa. Fokus saja pada berkas-berkas ujianmu itu," potong Azel tanpa menoleh, sibuk memeriksa suhu air di dispenser.

Tak lama, Azel kembali dengan segelas air lemon hangat madu. Ia meletakkannya di atas meja kerja kecil yang sengaja ia pindahkan ke ruang tengah agar Runa tetap dalam pengawasannya.

"Minum ini dulu. Untuk stamina. Aku tidak mau suara serakmu makin parah karena terus-terusan mengoceh di rapat tadi," ucap Azel ketus, namun tangannya sangat lembut saat merapikan anak rambut Runa yang menghalangi mata.

"Terima kasih, Zel," gumam Runa. Ia baru saja hendak meraih pulpennya saat Azel menahan tangannya.

"Makan dulu. Aku sudah pesan menu khusus dari koki langganan Mama. Salmon panggang, asparagus, dan sup kaldu tulang. Semuanya nutrisi untuk otakmu yang mungil itu," Azel menarik kursi dan duduk tepat di samping Runa, menyiapkan piring seolah Runa adalah tamu kehormatan di rumahnya sendiri.

Runa menatap piringnya yang penuh warna. "Banyak banget, Zel. Aku kan cuma mau bikin soal, bukan mau lari maraton."

"Berpikir itu membakar kalori lebih banyak daripada yang kamu kira, Runa. Buka mulutmu," perintah Azel, menyodorkan potongan salmon kecil ke arah bibir Runa.

Runa sempat ragu, tapi tatapan tajam Azel yang tak terbantahkan membuatnya akhirnya pasrah. Ia menerima suapan itu satu demi satu. Azel melakukannya dengan sangat telaten, tidak terburu-buru, sesekali menyeka sudut bibir Runa dengan tisu dengan gerakan yang sangat berhati-hati.

Setelah makan selesai, Azel mengeluarkan sebuah wadah kecil berisi vitamin. "Ini vitamin C dan minyak ikan. Telan sekarang."

Runa meminumnya patuh. Ia kemudian kembali fokus pada tumpukan kertas soal ujian matematika kelas 4. Keheningan menyergap ruang tengah itu, hanya terdengar suara coretan pulpen Runa dan denting halus saat Azel meletakkan cangkir kopinya.

Dua jam berlalu. Runa mulai memijat tengkuknya yang terasa kaku. Matanya mulai sedikit berair karena menatap laptop terlalu lama. Tiba-tiba, ia merasakan sepasang tangan besar dan hangat hinggap di bahunya.

"Zel?"

"Jangan menoleh. Teruskan saja mengetiknya," bisik Azel di dekat telinga Runa.

Jemari Azel yang biasanya sibuk menandatangani dokumen miliaran rupiah, kini bergerak perlahan menekan titik-titik saraf di bahu Runa. Tekanannya pas, tidak terlalu keras tapi cukup untuk meluruhkan rasa pegal yang menumpuk.

"Ah... di situ... enak banget," desis Runa tanpa sadar, ia memejamkan mata sejenak menikmati pijatan itu.

"Kamu tegang sekali, Runa. Apa Pak Olahraga itu tadi membuatmu stres sampai pundakmu sekeras batu begini?" sindir Azel pelan, meski sindirannya kini terdengar lebih seperti godaan daripada kemarahan.

Runa tertawa kecil, kepalanya tersandar pada perut Azel yang berdiri di belakangnya. "Cemburunya belum hilang juga ya?"

Azel tidak menjawab. Ia mengalihkan tangannya untuk memijat area leher belakang Runa. "Sudah jam sebelas malam. Berhenti sekarang. Sisa soalnya bisa kamu kerjakan besok pagi."

"Sedikit lagi, Zel. Tinggal tiga soal uraian."

Azel langsung menutup layar laptop Runa tanpa peringatan. "Instruksi dari wali sahmu: tidur sekarang atau aku akan menyita laptop ini selama seminggu."

Runa merengut, tapi ia tidak punya energi untuk membantah. Saat ia berdiri, rasa lelah mendadak menghantamnya hingga ia sedikit sempoyongan. Azel dengan sigap menangkap pinggangnya.

"Lihat? Kamu bahkan sudah hampir tumbang," ucap Azel. Tanpa aba-aba, ia menggendong Runa menuju kamar utama di lantai atas.

Sesampainya di kamar, Azel merebahkan Runa di kasur yang sudah ia atur suhunya agar hangat. Ia melepaskan ikat rambut Runa, membiarkan rambut hitam itu tergerai di atas bantal sutra.

"Mau dipijat kakinya?" tanya Azel pelan saat ia ikut berbaring di samping Runa, menopang kepalanya dengan satu tangan.

Runa menatap Azel dengan mata mengantuk. "Memangnya kamu nggak capek? Kamu juga habis rapat seharian, Zel."

Azel menarik kaki Runa ke arahnya, lalu mulai memijat betis Runa dengan gerakan memutar yang ritmis. "Rasa capekku hilang kalau melihat kamu terurus dengan benar. Tidurlah. Aku akan memijatmu sampai kamu terlelap."

Runa merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar dari kakinya hingga ke seluruh tubuhnya. Perlakuan Azel yang begitu detail—mulai dari air jahe, suapan makan, hingga pijatan ini—benar-benar membuatnya merasa menjadi wanita paling berharga di dunia.

"Zel..." gumam Runa pelan.

"Hm?"

"Makasih ya... untuk semuanya."

Azel berhenti sejenak, ia menunduk dan mengecup punggung kaki Runa dengan penuh pengabdian, lalu kembali memijatnya. "Tidurlah, Runa. Di mimpimu pun, jangan berani-berani lari dariku."

Runa akhirnya memejamkan mata dengan senyum tipis di bibirnya. Di tengah keheningan malam Puncak yang kini berpindah ke dalam kamar mereka di Jakarta, Runa tahu satu hal: Dazello Zelbarra mungkin seorang CEO yang dingin bagi dunia, tapi baginya, Azel adalah pelindung paling hangat yang pernah ia miliki.

1
Ayusha
ya ampun kirain aku yg kelewat baca beneran ke IGD. 😄
Ayusha
nyatet nya tar aja kenapa si jel, lg panik masih sempet2nya nulis /Facepalm/
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣
kelakuan ajel emang...
total 1 replies
Ayusha
ya ampyuun sampe segitunya jel /Facepalm/
Ayusha: kalo aku di posisi Runa mungkin udh gila. gila karena ke absurdan Ajel, dan Ter gila2 Karena kebucinan nya 🤣🤣
total 2 replies
Ariska Kamisa
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Ayusha
/Joyful//Joyful/
Ayusha
katanya kayak meluk kayu kering, emang masih naf su juga 🤣
Ariska Kamisa: emang dasar ajel mah bilangnya apa tapi kelakuannya apa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
balon kali terbang /Sob/
Ayusha
mantap jel, aku padamu 😍
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Nesya
dapat suami yang mencintai, mertua yang baik dan pengertian beruntung ny kamu runa, nikmati harimu runa waktunya bahagia
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nesya
👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya kak♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
sa ae lu jel. melting kan gue 🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
tinggal bilang "menikahlah denganku"
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣
Ariska Kamisa: tsundere banget ya kak ...🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
oke, tim cowok posesif dengan segala obsesi nya🤭
Ariska Kamisa: oke satu tim kita kak.. terimakasih banyak ♥️♥️♥️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!