NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangisan di balik Restu

Cantika melangkah masuk ke kamar ibunya dengan kaki yang gemetar hebat, seolah setiap langkah menarik beban dunia di pundaknya. Pagi itu, sinar matahari pagi menyusup tipis melalui celah-celah bambu dinding rumah kecil mereka di pinggir desa. Udara masih lembap dengan aroma tanah basah dan asap tungku yang samar.

Ibu Ratih,ibu kandung Cantika ,Ia duduk bersandar pada bantal usang yang sudah apek baunya, tubuhnya kurus kuyu karena penyakit yang telah lama menggerogoti. Wajahnya pucat, pipi cekung, tetapi matanya yang redup itu masih menyimpan cahaya kasih sayang yang tak pernah pudar.

“Ibu sudah dengar semuanya, Nduk,” bisik Ibu Ratih pelan, suaranya serak karena menahan tangis yang sudah sejak subuh mengalir diam-diam.

Cantika langsung bersimpuh di samping tempat tidur bambu yang reyot itu. Lututnya menyentuh lantai tanah yang dingin. Ia menenggelamkan wajahnya ke pangkuan ibunya, tubuhnya bergetar hebat. Isakannya pecah seketika, lebih memilukan daripada tangisan malam sebelumnya ketika pernikahan paksa itu terjadi. Air matanya membasahi kain sarung ibunya yang sudah usang, bahu Cantika naik-turun tak terkendali. “Bu … Cantika tidak mau pergi… Cantika mau di sini saja… urus Ibu dan adik-adik …” katanya di sela isakan, suaranya pecah-pecah seperti kaca yang retak.

Ibu Ratih mengusap rambut Cantika dengan tangan yang gemetar karena tremor penyakitnya. Jari-jarinya yang kurus dan kasar karena kerja keras seumur hidup itu bergerak pelan, penuh kelembutan. Air mata ibunya juga mengalir deras, membasahi pipi yang sudah tak berisi lagi. “Nduk … kamu sudah sah menjadi istri orang. Tempat seorang istri itu di samping suaminya. Ibu memang sedih, sangat sedih, Nak. Hati Ibu seperti diremas-remas melihat kamu harus meninggalkan kami. Tapi Ibu tidak boleh egois. Tuhan sudah mengatur jalan ini. Tuan Arka itu orang berada. Dia pasti bisa menjagamu lebih baik daripada Ibu yang penyakitan ini. Ibu takut … kalau Ibu egois, kamu akan menderita di sini selamanya.”

Cantika mengangkat wajahnya yang sembap dan merah. Matanya bengkak, bulu matanya basah oleh air mata. “Tapi siapa yang cari nafkah buat Ibu? Siapa yang goreng keripik singkong setiap pagi? Siapa yang antar adik-adik ke sekolah? Cantika yang selalu bangun sebelum subuh, Bu. Cantika yang jualan di pasar. Kalau Cantika pergi … rumah ini … keluarga ini …” Tangisannya semakin menjadi, suaranya tersendat-sendat. Ia memeluk pinggang ibunya erat, seolah tak ingin melepaskan.

Ibu Ratih menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan isakannya sendiri. Dengan suara yang penuh getar dan kasih, ia mulai memberikan nasehat yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. “Dengar baik-baik, Cantika sayangku. Ibu tahu ini berat. Sangat berat. Kamu sudah menjadi tulang punggung keluarga ini sejak ayahmu meninggal. Kamu jadi bapak sekaligus ibu bagi adik-adikmu yang masih kecil. Kamu goreng keripik dari pagi sampai malam, kamu cuci baju, kamu urus sawah kecil kita yang tak seberapa. Ibu lihat semua itu, Nak. Setiap malam Ibu menangis diam-diam karena merasa tak berguna, hanya bisa terbaring di sini sambil melihat kamu lelah.”

Air mata Ibu Ratih jatuh lagi, satu per satu, membasahi rambut Cantika. “Tapi sekarang, ini adalah ujian dari Tuhan. Rezeki sudah ada yang mengatur, Cantika. Selama ini kamu sudah lelah sekali. Mungkin ini cara Tuhan supaya kamu bisa istirahat dari beban yang terlalu berat untuk pundakmu yang masih muda. Jangan pernah membenci Tuan Arka. Dia mungkin datang dengan cara yang salah, tapi ingat, pernikahan itu sudah sah di mata agama dan hukum. Sebagai istri, tugasmu adalah mendampingi suamimu dengan sabar dan ikhlas.”

Ibu Ratih menggenggam tangan Cantika erat, meski tangannya lemah. “Nasehat Ibu ini, simpan baik-baik di hati. Pertama, jaga hati suamimu. Jangan pernah membuatnya merasa bahwa pernikahan ini membuatmu jauh dari keluarga. Suami juga manusia, dia punya perasaan. Tunjukkan kasih sayangmu, meski hatimu sakit. Kedua, jangan lupa shalat dan doa. Setiap malam, berdoalah untuk Ibu, adik-adik, dan untuk rumah tanggamu. Tuhan yang Maha Pengasih pasti mendengar tangisan hati seorang anak yang salehah.”

Suara Ibu Ratih semakin pelan, tapi penuh kekuatan batin. “Ketiga, jadilah istri yang pandai mengatur rumah tangga. Meski kamu dari keluarga sederhana, ajari dirimu sopan santun di lingkungan baru. Jangan malu dengan asalmu. Keempat, jangan pernah lupakan adik-adikmu. Kirim kabar, doakan mereka, dan jika Tuhan izinkan, bantu mereka dari jauh. Tapi yang paling penting, Nak… jaga dirimu. Jangan biarkan kesedihan ini menghancurkanmu. Kamu cantik, kamu kuat, kamu anak Ibu yang paling bertanggung jawab. Ibu bangga sekali padamu. Air mata ini… ini karena Ibu mencintaimu terlalu dalam. Tapi Ibu rela, asal kamu bahagia di sana.”

Cantika menangis tersedu-sedu mendengar nasehat itu. “Bu … Cantika takut … Cantika takut sendirian di sana. Rumah mewah itu asing. Tuan Arka … dia orang kota, kaya raya. Cantika cuma gadis desa yang cuma bisa goreng keripik. Bagaimana kalau Cantika tak bisa menyesuaikan? Bagaimana kalau Ibu tambah sakit tanpa Cantika?” Isakannya pecah lagi, tubuhnya berguncang. Ia mencium punggung tangan ibunya berkali-kali, air liurnya bercampur air mata.

Ibu Ratih tersenyum tipis di sela tangisannya, meski hatinya hancur. “Ibu akan kuat, Nduk. Adik-adikmu sudah besar sedikit. Tetangga juga ada yang bisa bantu. Yang penting, kamu jangan menangis terus seperti ini. Air mata yang berlebihan bisa membuat suamimu merasa bersalah. Jadilah perempuan yang tabah. Ingat, perempuan itu seperti pohon kelapa—akarnya kuat di tanah, tapi daunnya tetap hijau meski angin kencang.”

Di balik gorden kain tipis yang sudah robek-robek, Arka berdiri diam mendengarkan seluruh percakapan itu. Dadanya terasa sesak. Rasa bersalah menusuk-nusuk seperti pisau tajam. Ia merasa seperti penjajah yang merenggut jantung dari rumah kecil ini. Semalam, karena insiden kesalah pahaman warga ia terpaksa menikahi Cantika secara paksa demi menjaga nama baik keluarganya yang terpandang. Kini, mendengar tangisan dan nasehat penuh kasih itu, egonya sebagai pengusaha sukses yang biasa mengendalikan miliaran rupiah mulai goyah. Tapi ia tetap diam, mundur pelan ke kursi kayu reyot yang menjadi tempat tidurnya semalam. Ia duduk, menatap langit-langit bambu yang menghitam karena asap dapur. Pikirannya berputar kencang. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, hidupnya berubah total. Kemarin ia di ruang rapat mewah, hari ini terjebak di rumah sederhana dengan atap bocor dan lantai tanah

Cantika keluar dari kamar ibunya dengan mata sembap dan wajah pucat. Ia menatap Arka sejenak, lalu menundukkan kepala. “Kalau memang harus begitu, Tuan… saya ikut. Tapi tolong izinkan saya pamit dan mengatur sedikit urusan keluarga dulu. Saya harus ajari adik saya cara goreng keripik, kasih uang tabungan Ibu, dan … peluk mereka sekali lagi.”

Arka mengangguk pelan, suaranya rendah. “Baik. Tapi jangan lama. Kita berangkat sebelum siang. Mobil sudah menunggu di ujung jalan desa.”

Cantika kembali ke kamar adik-adiknya. Dua adiknya yang masih kecil, Rara dan Dodi sudah bangun dan menatap kakaknya dengan mata polos yang mulai berkaca-kaca. “Kak… Kakak mau pergi ke mana? Jangan pergi ya…” kata Rara sambil memeluk Cantika.

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!