NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 01

Kirana terbangun karena dingin.

AC kamar hotel menyala terlalu rendah. Udara menusuk kulitnya, membuat tubuhnya menggigil sebelum pikirannya benar-benar sadar. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit putih dengan napas tersangkut.

Lalu rasa nyeri itu datang.

Kirana langsung menahan napas. Tangannya bergerak meraba selimut yang setengah melorot dari pinggangnya. Gaun yang semalam ia pakai tercecer di lantai, bersama tas kecil, sepatu hak, dan jaket tipis yang sudah kusut.

Ia duduk dengan gerakan kaku. Kepalanya berdenyut. Mulutnya pahit. Potongan ingatan semalam muncul tidak utuh.

Ruang karaoke VIP. Nadira tersenyum manis. Gelas jus yang katanya tidak dicampur apa pun. Tawa teman-teman Nadira. Lampu remang. Tubuhnya tiba-tiba panas. Seorang pelayan perempuan membantunya berdiri.

"Istirahat saja dulu, Kirana. Kamu kelihatan pucat."

Itu suara Nadira.

Kirana memejamkan mata. Jantungnya memukul tulang rusuk.

Ia baru pulang ke Jakarta dua hari lalu setelah lima tahun tinggal di Bandung. Lima tahun ia belajar tata boga, kerja sambilan, dan mencoba hidup tanpa banyak mengingat rumah Pak Hendra. Baru pulang, Nadira langsung mengajaknya bertemu.

Katanya, "Kita saudara. Masa aku tidak boleh menyambut adikku?"

Kirana tahu senyum Nadira tidak pernah gratis. Namun Bu Farida, ibu asuhnya, sejak kecil selalu menanamkan kalimat yang sama.

Nadira itu anak sah keluarga Hendra. Kamu cuma anak luar. Kalau Mbak Nadira memanggil, kamu datang.

Maka Kirana datang.

Dan sekarang ia terbangun di kamar hotel dalam keadaan yang tidak sanggup ia sebutkan.

Yang paling membuatnya takut bukan hanya keadaan tubuhnya. Yang lebih menakutkan adalah betapa rapi semuanya terasa. Tasnya tidak hilang. Ponselnya ada di meja. Sepatunya diletakkan dekat sofa, seolah seseorang sempat memastikan adegan ini terlihat masuk akal saat ditemukan.

Kirana pernah melihat cara Nadira bekerja. Kakaknya itu tidak pernah berteriak lebih dulu. Ia menata keadaan, menunggu orang lain masuk, lalu menangis pada waktu yang tepat. Sejak kecil Nadira bisa membuat guru meminta Kirana minta maaf, padahal yang menyobek buku adalah Nadira sendiri.

Pikiran itu membuat tenggorokan Kirana kering.

Tidak. Jangan panik.

Kalau ia panik, Nadira menang sebelum permainan dimulai.

Ia memaksa dirinya mengingat detail. Gelas terakhir yang ia minum. Warna kuku pelayan yang membantunya berdiri. Nomor kamar yang samar terdengar dari kartu akses. Semua kecil, semua berantakan, tetapi mungkin suatu hari nanti salah satunya bisa menyelamatkannya dari tuduhan yang sudah disiapkan.

Selama ini Kirana selalu kalah karena tidak punya bukti. Ia hanya punya ingatan, dan ingatan anak yang tidak diakui tidak pernah dianggap cukup. Pagi ini, walau tubuhnya gemetar, ia berjanji tidak akan membiarkan mereka mengambil cerita ini sepenuhnya.

Jika harus jatuh, setidaknya ia ingin tahu siapa yang mendorongnya dari belakang.

Dan kali ini, ia akan mengingat wajah orang itu.

Dari kamar mandi terdengar suara air.

Kirana membeku.

Ada orang.

Ia menarik selimut sampai menutup dada, lalu menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram. Di baliknya, bayangan seorang laki-laki tampak tinggi dan tegap.

Jantung Kirana seperti berhenti.

Pintu kamar mandi terbuka.

Seorang laki-laki keluar hanya dengan handuk melilit pinggang. Rambutnya basah, beberapa tetes air turun ke leher dan bahunya. Wajahnya terlalu tenang untuk situasi yang membuat Kirana ingin berteriak.

Kirana mengenalnya.

Raka Mahendra.

Semalam Nadira memperkenalkan laki-laki itu di ruang karaoke dengan nada seperti memperkenalkan beban keluarga.

"Ini Raka. Calon suamiku. Dulu Kakek pernah janji pada keluarganya. Entah apa yang Kakek lihat dari dia."

Teman-teman Nadira tertawa kecil saat itu. Raka hanya duduk diam, memakai kemeja sederhana dan sepatu yang tampak sudah lama. Tidak seperti pria-pria di lingkaran Nadira yang memakai jam mahal dan mobil sport.

Kirana ingat Nadira memandang Raka seolah ia noda di ujung meja.

Dan sekarang, laki-laki itu berdiri di kamar yang sama dengannya.

"Kamu..." Suara Kirana serak. "Kenapa kamu ada di sini?"

Raka mengambil kaus putih dari kursi, memakainya tanpa tergesa. Matanya menatap Kirana sebentar, lalu menyapu lantai yang berantakan.

"Ini kamar saya."

Kirana merasa darahnya turun ke kaki.

"Tidak mungkin." Ia menggenggam selimut lebih kuat. "Aku yang diantar ke kamar untuk istirahat. Pelayan itu..."

"Pelayan itu mengantarmu ke sini."

Nada Raka datar.

Kirana menelan ludah. "Apa yang kamu lakukan padaku?"

Tatapan Raka berubah. Ada sesuatu yang tajam, tetapi bukan marah. Lebih seperti seseorang yang juga baru menemukan jawabannya sendiri.

"Pertanyaan itu seharusnya saya tanyakan juga."

Wajah Kirana memanas. "Apa maksudmu?"

Raka melangkah mendekat, tapi berhenti cukup jauh agar tidak membuatnya semakin panik.

"Semalam saya minum dari gelas yang diberikan Nadira. Tidak lama setelah itu, tubuh saya tidak beres. Saya kembali ke kamar. Lalu kamu masuk."

Kirana menggeleng pelan. "Aku tidak mungkin..."

Ingatan itu menusuk.

Pintu kamar. Tangannya yang gemetar. Panas di tubuhnya. Suara napas laki-laki. Tangannya sendiri yang menarik kemeja orang itu. Ia ingat samar-samar, tetapi cukup untuk membuat wajahnya pucat.

Ia menutup mata.

"Aku dijebak," bisiknya.

"Saya tahu."

Kirana membuka mata. "Kamu percaya?"

Raka belum sempat menjawab.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Kirana tersentak dan menarik selimut sampai ke dagu. Nadira masuk dengan langkah cepat, di belakangnya dua perempuan dan seorang laki-laki memegang ponsel. Wajah Nadira tampak terkejut, tetapi matanya terlalu siap untuk disebut kaget.

"Ya Allah, Kirana!" Nadira menutup mulutnya. Suaranya sengaja dibuat keras. "Kamu benar-benar di sini?"

Kirana menatapnya.

Di belakang Nadira, kamera ponsel sudah terangkat.

"Jangan rekam!" Kirana berteriak.

Salah satu perempuan tetap menekan layar. "Ini buat bukti, Mbak. Jangan sampai nanti diputarbalikkan."

Nadira mendekat, matanya berkaca-kaca seperti sedang berada di panggung.

"Kirana, kamu adikku. Aku selalu baik padamu. Kenapa kamu tega melakukan ini denganku? Raka calon suamiku. Minggu depan keluarga kita akan bicara soal lamaran."

"Kamu yang menjebakku," kata Kirana.

Nadira tertegun sebentar. Sangat sebentar. Lalu air mata jatuh dari matanya.

"Aku menjebakmu?" Ia tertawa lirih, seperti tidak percaya. "Aku yang kehilangan calon suami, tapi kamu menuduhku?"

Raka berdiri di samping tempat tidur. Kaus putih dan celana jeans membuatnya tampak seperti pria biasa, namun wajahnya tidak menunjukkan rasa takut.

Kirana ingin menjelaskan. Ingin mengatakan minuman itu. Pelayan itu. Tubuhnya yang tiba-tiba tidak bisa dikendalikan.

Namun ponsel-ponsel itu terus merekam.

Nadira menoleh ke kamera, lalu kembali menatap Kirana.

"Aku tidak mau mempermalukan keluarga di sini. Kita pulang. Papa dan Mama harus tahu."

"Tentu mereka harus tahu," kata Kirana pelan.

Nadira menatapnya tajam.

Kirana mengangkat dagu walau tubuhnya masih gemetar.

"Karena kalau ini memang permainanmu, Nadira, aku tidak akan diam."

Tangis Nadira berhenti sesaat. Di balik air mata itu, ada kilatan marah yang hanya Kirana lihat.

Raka juga melihatnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, Raka tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Senyum seseorang yang baru menemukan lawan main menarik di tengah permainan kotor.

Nadira menunjuk pintu.

"Pakai bajumu. Sekarang."

Kirana menarik napas panjang. Ia tahu begitu keluar dari kamar ini, seluruh keluarga akan menghakiminya. Mungkin seluruh Jakarta akan melihat potongan video itu sebelum makan siang.

Namun ia juga tahu satu hal.

Malam itu bukan akhir hidupnya.

Kalau Nadira mengira ia masih Kirana kecil yang hanya bisa menunduk setelah ditampar Bu Farida, Nadira salah.

Kirana menatap Raka.

"Balik badan."

Raka mengangkat alis.

"Kamu mau saya keluar?"

"Aku bilang balik badan."

Untuk sesaat, suasana aneh itu nyaris membuat Raka tertawa. Ia menurut.

Kirana turun dari ranjang dengan selimut melilit tubuh. Kakinya gemetar, tapi ia tidak jatuh.

Di depan pintu, Nadira masih menangis.

Di balik ponsel, orang-orang masih merekam.

Kirana memungut gaunnya dari lantai.

Hari ini, semua orang akan menyebutnya perempuan tidak tahu malu.

Baik.

Kalau mereka ingin membuatnya menjadi tokoh jahat dalam cerita ini, ia akan memastikan cerita itu tidak berakhir sesuai naskah Nadira.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!