Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Rumah keluarga Ratmini dipenuhi tamu yang ingin menyaksikan pertunangan Sekar dan Lindu, anak juragan Ramli. Orang terkaya di Desa Wanasari.
Semua orang desa berkumpul dengan wajah gembira. Sekar gadis cantik dan Lindu, pria tampan yang mapan, sungguh pasangan yang sangat serasi.
"Aku nanti pengen juga dapat laki macam Lindu. Tampan, kaya pula." Kata seorang gadis yang hadir di acara pertunangan itu. Dia duduk bersila di atas lantai rumah panggung sederhana milik keluarga Ratmini bersama beberapa gadis lainnya.
"Eh, bukan kau saja. Aku pun juga mau." Sahut gadis lainnya sambil tertawa kecil. Ucapan itu langsung disambut anggukan dan tawa para gadis yang berada di sana.
Mereka sama-sama mengaminkan harapan itu dalam hati. Siapa yang tidak ingin memiliki suami seperti Lindu? Wajahnya tampan, sikapnya sopan, dan kehidupan yang mapan membuat banyak perempuan diam-diam iri pada keberuntungan Sekar.
"Beruntung sekali keluarga Ratmini dapat calon menantu seperti itu. Tampan, kaya, sopan pula orangnya." kata salah satu ibu yang sedang sibuk di dapur menyiapkan kudapan untuk rombongan keluarga Lindu.
"Iya, jarang ada pemuda kaya yang tetap rendah hati seperti dia." Timpal ibu lainnya sambil menyusun piring di atas meja.
Suasana rumah malam itu dipenuhi obrolan hangat dan pujian untuk calon pengantin pria yang menjadi kebanggaan seluruh Desa Wanasari.
"Iya lah. Lindu itu kalau bicara sama orang tua lembut sekali. Jarang sekarang laki-laki begitu." Timpal ibu lainnya.
"Sekar pun cocok sama dia. Sama-sama enak dipandang." Sambung yang lain hingga dapur dipenuhi suara tawa kecil para ibu-ibu.
"Memang sudah jodohnya itu. Kalau sudah rezeki, nda ke mana." Ujar seorang ibu sambil mengangkat gorengan dari kuali.
"Aku juga berharap nanti dapat menantu seperti itu." Kata ibu yang menanak nasi.
"Tapi, sayangnya, di desa kita hanya satu laki-laki seperti Lindu." Kata ibu yang lainnya, lalu mereka semua yang ada di dapur tertawa bersama-sama.
Sementara itu, Sekar yang baru selesai dihias duduk anggun di dalam kamar bersama Wulan. Wajahnya tampak semakin cantik dengan riasan lembut yang menghiasi parasnya.
Rambut hitamnya disanggul rapi. Kebaya sederhana namun elegan yang dikenakannya membuat Sekar terlihat begitu mempesona.
Wulan yang duduk di sampingnya terus memperhatikan sahabatnya dengan senyum kagum. Sesekali dia membantu merapikan ujung pakaian Sekar sambil menggoda sahabatnya yang tampak gugup menghadapi acara pertunangan.
"Sekar, aku senang melihatmu akan menikah." Ujar Wulandari sambil menatap sahabatnya dengan senyum hangat.
Meski ada sedikit rasa sedih di hatinya, karena mereka mungkin tidak akan sesering dulu bersama. Meski begitu, Wulan tetap merasa bahagia melihat Sekar akhirnya menemukan lelaki yang dicintainya.
"Terima kasih, Wulan. Aku memang merasa sangat bahagia." Ucap Sekar lembut sambil menggenggam tangan sahabatnya erat.
"Aku harap kau juga nanti menemukan laki-laki yang baik dan menyayangimu sepenuh hati, seseorang yang akan menjadi suami terbaik untukmu kelak." Wulan tersenyum kecil mendengar ucapan itu. Dia mengangguk pelan, lalu memeluk Sekar dengan hangat di tengah ramainya suasana pertunangan mereka.
"Nda lama lagi, kau akan menjadi istri orang. Pasti nanti kita akan jarang bertemu dan bermain lagi." Wulan berkata dengan wajah murung. Matanya tampak berkaca-kaca saat menatap Sekar yang duduk di sampingnya.
Dia merasa sedih membayangkan sahabat kecilnya akan menjalani kehidupan baru setelah menikah dengan Lindu.
Selama ini mereka selalu bersama, mulai dari pergi ke pasar, bermain di sungai, hingga saling bercerita setiap malam. Sekar menggenggam tangan Wulan dengan lembut lalu tersenyum menenangkan.
"Meskipun aku menikah, kita tetap bisa sering bertemu seperti sekarang ini. Kau tetap sahabat terbaikku, dan itu nda akan berubah hanya karena aku menjadi seorang istri." Kata Sekar.
"Kak Sekar... rombongan Mas Lindu sudah datang." Ujar seorang gadis sambil berlari kecil menuju kamar Sekar.
Napasnya terdengar sedikit terengah karena terlalu bersemangat menyampaikan kabar itu.
Sekar yang sejak tadi duduk bersama Wulan langsung menoleh cepat.
Jantungnya berdebar mendengar kedatangan keluarga calon tunangannya. Sementara itu, Wulan tersenyum lebar melihat wajah gugup sahabatnya yang mendadak berubah tegang.
"Benarkah? Mereka sudah sampai?" Tanya Wulan memastikan. Gadis itu mengangguk cepat.
"Iya, mobil mereka sudah di depan rumah. Banyak sekali orang yang ikut datang."
Dari luar kamar mulai terdengar suara warga yang menyambut kedatangan rombongan keluarga juragan Ramli.
Ibu-ibu yang berada di dapur langsung meninggalkan pekerjaan mereka dan bergegas ke depan rumah untuk melihat kedatangan lelaki tampan yang sedang menjadi pembicaraan seluruh Desa Wanasari itu.
Para gadis pun ikut berdiri sambil merapikan pakaian mereka, penasaran ingin melihat Lindu dari dekat.
"Assalamualaikum..." Ucap Pak Ramli yang berdiri di barisan depan bersama istrinya.
"Waalaikumsalam..." Sahut para warga hampir bersamaan dengan suara riuh penuh antusias.
Rombongan keluarga Pak Ramli kemudian naik ke rumah panggung sederhana milik keluarga Ratmini. Langkah mereka disambut hangat oleh para tamu dan warga desa yang sejak tadi menunggu kedatangan keluarga orang terkaya di desa itu.
Suasana mendadak semakin ramai ketika Lindu muncul di tengah rombongan dengan penampilannya yang rapi dan wajah tampan yang membuat para gadis tidak berhenti mencuri pandang.
Setelah rombongan keluarga Pak Ramli duduk di atas tikar yang telah disiapkan, suasana rumah panggung itu perlahan menjadi lebih tenang.
Para tamu mulai memusatkan perhatian pada pembicaraan kedua keluarga. Beberapa ibu masih sibuk menuangkan minuman dan menyuguhkan kudapan kepada para tamu yang datang.
Setelah basa-basi dan obrolan ringan dibuka, Pak Ramli pun mulai mengutarakan maksud kedatangan mereka malam itu. Meskipun sebenarnya seluruh warga yang hadir sudah mengetahui tujuan keluarga besar itu datang ke rumah keluarga Ratmini.
Dengan wajah tenang dan penuh wibawa, Pak Ramli memandang Ratmini beserta keluarganya sebelum akhirnya berbicara.
"Kedatangan kami malam ini tentu membawa niat baik. Kami ingin mempererat hubungan kedua keluarga dan menyampaikan kesungguhan hati keluarga kami untuk melamar Sekar bagi putra kami, Lindu."
Paman Sekar yang malam itu menjadi tetua keluarga, karena ayah Sekar telah lama meninggal dunia, pun menyambut pembicaraan itu dengan tenang dan penuh kehormatan.
Dia duduk di bagian depan bersama para sesepuh keluarga lainnya, mewakili keluarga Ratmini dalam menerima lamaran tersebut.
Dengan suara pelan namun tegas, paman Sekar menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan keluarga mereka atas niat baik keluarga Pak Ramli.
Suasana rumah panggung sederhana itu terasa hangat dan penuh haru ketika kedua keluarga mulai membicarakan rencana pernikahan Sekar dan Lindu.
Pembicaraan berlangsung lancar tanpa hambatan. Hingga akhirnya, setelah melalui kesepakatan kedua belah pihak, ditetapkanlah tanggal pernikahan mereka jatuh pada tanggal 13, tepatnya tiga minggu lagi.
Kabar itu langsung disambut senyum bahagia para tamu yang hadir. Beberapa ibu mulai berbisik antusias membicarakan persiapan pesta besar yang pasti akan digelar nanti.
****
Hello para pembaca, kita bertemu lagi ya. jangan lupa Like, komen dan subscribe cerita baru aku ya. Terima kasih