NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Takdir Memainkan Peran

PROLOG

Dunia ini sering kali berputar dengan logika yang tak masuk akal. Seperti angin yang berhembus dari timur, namun tiba-tiba membawa hujan ke barat. Kita bisa merencanakan setiap langkah sehati-hati mungkin, memetakan jalan dengan detail, memastikan tak ada batu kerikil yang mengganjal. Namun, takdir? Ah, takdir adalah seniman yang paling suka mengubah kanvas lukisan saat warnanya baru setengah kering.

Ia datang bukan untuk meminta izin, melainkan untuk mengetuk pintu hingga lepas dari engselnya. Ia datang bukan untuk menawarkan pilihan, melainkan untuk menuntut penerimaan. Seperti kata seseorang, semula kau ingin berkelana ke utara, mencari kebebasan dan angin sejuk, tapi takdir malah memintamu terbang ke selatan, bahkan membuatmu berpindah dengan sukarela.

Dan kadang, takdir yang paling kejam sekaligus paling indah, adalah mempertemukan kembali dua hati yang sejak lama memilih untuk saling membenci.

...****************...

Waktu seolah berjalan dengan kecepatan yang tidak wajar, atau mungkin justru terlalu lambat bagai seekor kura-kura yang sedang bermeditasi. Jarum jam dinding tua di sudut ruangan itu terus berdetak, tik... tok... tik... tok..., bunyinya terdengar begitu jelas memecah keheningan malam, seolah sedang menghitung mundur sisa kesabaran seorang manusia.

Pukul sembilan lewat dua puluh menit. Di sebuah apartemen sederhana yang terletak di lantai dua puluh sebuah gedung perkotaan, Vira Calista duduk termenung di tepi kasur. Matanya menatap nanar ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota yang tak pernah tidur. Lampu-lampu terlihat berkedip-kedip seperti ribuan kunang-kunang yang kehilangan arah, sementara deru kendaraan di bawah sana menjadi simfoni kesepian yang tak berujung.

Di usianya yang baru menginjak dua puluh enam tahun, Vira seharusnya sedang menikmati masa-masa paling indah. Masa di mana seorang wanita muda bisa bebas mengejar mimpi, bergandengan tangan dengan orang yang dicintai, atau setidaknya pulang ke rumah dengan perut kenyang dan hati yang hangat. Namun, takdir seolah memiliki skenario lain yang jauh lebih rumit daripada naskah drama sinetron televisi.

Bagi banyak orang, merantau adalah sebuah petualangan. Sebuah momen emas untuk membuktikan diri, menaklukkan dunia, dan menjadi sosok yang mandiri. Tapi bagi Vira, merantau rasanya seperti dihukum tinggal di planet Mars yang dingin dan sepi. Jauh dari Evan dan Fenny, ayah dan ibunya yang selama ini menjadi benteng pertahanannya, membuat Vira merasa seperti burung yang sayapnya tiba-tiba patah di tengah langit luas.

"Ah, andai saja aku tidak keras kepala waktu itu," gumamnya pelan, suaranya hampir tertelan oleh angin malam yang berhembus pelan lewat celah jendela.

Rasa sesal itu memang ada, tapi ia tahu siapa yang harus disalahkan. Bukan ayahnya, bukan pula ibunya. Ini semua adalah buah dari keputusannya sendiri. Vira yang memaksa ingin mandiri, Vira yang ingin membuktikan bahwa ia bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus menjadi bayang-bayang orang tuanya. Ironisnya, keputusan "berani" itulah yang justru membawanya masuk ke dalam labirin kesedihan ini.

Dan yang paling menyakitkan? Ia harus merantau sendiri walau jarak tidak begitu jauh dari orang yang sangat dia kenal baik.

Jika saja jarak tidak memisahkan mereka, mungkin saat ini ia sudah pulang, memeluk kedua orang tuanya, dan menangis sepuasnya seperti anak kecil yang baru tersandung batu. Tapi karena berada di kota yang berbeda, rasa gengsi dan rasa ingin terlihat kuat di mata Evan dan Fenny, anak pertamanya yang selama ini manja akhirnya menjadi "keras kepala" dan ya, mereka membiarkan putri mereka berjuang sendiri. Mereka pikir Vira kuat. Mereka tidak tahu, bahwa di balik senyum manisnya, Vira adalah kumpulan air mata yang siap tumpah kapan saja.

 

Hari-hari berlalu dengan warna yang kelabu. Pagi datang membawa kesibukan, malam datang membawa kerinduan. Vira mencoba bertahan, mencoba tersenyum meski rasanya pahit seperti memakan buah pare mentah. Namun, hidup memang suka memberi kejutan dan sayangnya, kali ini kejutan itu berwujud bencana besar.

Masalah itu datang tanpa diduga, menyergapnya bagai petir di siang bolong. Sebagai Bendahara di perusahaan tempatnya bekerja, Vira memegang tanggung jawab besar atas aliran dana. Ia selalu berusaha teliti, meski sifat aslinya yang ceroboh sering kali membuatnya harus bekerja dua kali lebih keras untuk menutupi kekurangan. Namun kali ini, bukan kelalaiannya yang menjadi masalah.

Ada tangan-tangan licik yang bermain di belakang layar. Yorie Nabila dan Alan, rekan kerjanya yang selama ini terlihat ramah, ternyata telah merancang skenario yang sangat rapi. Mereka memanipulasi data, mengalirkan dana ke rekening pribadi, dan menyusun bukti-bukti palsu yang semuanya mengarah pada Vira.

"Kerugian ini mencapai angka yang fantastis, Nona Vira," suara atasan terdengar dingin dan tegas di ruangan itu beberapa jam yang lalu. "Semua jejak audit menunjuk pada Anda. Sebagai bendahara, Anda yang bertanggung jawab penuh."

"Tidak! Itu bukan saya, Pak! Saya difitnah! Yorie dan Alan yang melakukannya!" Vira mencoba membela diri, suaranya bergetar menahan tangis.

Namun, bukti-bukti yang dipajang di hadapannya terlihat begitu "sempurna". Tanda tangan yang dipalsukan, arsip yang dimanipulasi. Ia terjebak. Jerat itu sudah terlalu erat mengikat lehernya.

"Kami tidak peduli siapa yang melakukannya. Secara administrasi, nama Anda yang ada di sana," sahut atasan itu dengan nada menekan. "Pilihannya sederhana. Ganti seluruh kerugian itu dalam waktu tiga hari, atau kami akan melayangkan laporan polisi. Anda tahu akibatnya bagaimana, kan? Anda akan mendekam di tahanan, dan nama baik Anda serta keluarga akan hancur lebur."

Dunia Vira seakan berhenti berputar. Kakinya lemas seolah dipukul palu raksasa. Angka yang disebutkan itu bukan nominal receh. Itu adalah jumlah yang sangat besar, jauh melampaui tabungan yang ia miliki selama ini. Bagaimana mungkin ia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat itu?

 

Kini, di keheningan apartemennya, Vira memeluk lututnya erat-erat. Air mata sudah kering, tertahan oleh rasa syok dan panik yang luar biasa. Pikirannya kalut, berputar-putar mencari jalan keluar.

Ia mulai membuka daftar kontak di ponselnya. Satu per satu nama ia gulir. Siapa yang bisa ia minta tolong?

Pertama, ia teringat kedua orang tuanya. Evan dan Fenny. Mereka pasti punya uang. Mereka pasti sanggup membayarnya. Tapi... Saat menggeser layar ponsel, jari Vira terhenti di nama 'Ayah'. Dadanya sesak. Bagaimana mungkin ia menceritakan hal ini? Ia yang kemarin-kemarin begitu bangga bilang kalau ia sudah mandiri, kalau ia bisa hidup sendiri tanpa merepotkan mereka. Jika sekarang ia datang meminta uang dalam jumlah besar karena masalah pekerjaan, apa yang akan mereka pikirkan? Mereka pasti kecewa. Dan yang lebih parah, mereka pasti akan memaksanya pulang, menariknya kembali ke sarang ternyamannya, dan Vira akan selamanya dianggap sebagai anak manja yang tidak bisa diandalkan.

Tidak bisa. Tidak boleh. Aku tidak boleh melibatkan Ayah dan Ibu.

Lalu siapa lagi? Teman-teman kantor? Mereka semua sudah menjauh seakan ia membawa penyakit menular, atau mungkin memang sudah dihasut oleh Yorie dan Alan. Sepupunya, Meisya dan Haikal? Mereka pasti mau membantu, tapi Vira tahu kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan. Meminta bantuan berarti membebani mereka, dan itu juga bukan solusi karena jumlahnya terlalu besar.

Vira melempar ponselnya ke atas kasur dengan frustrasi. Ia membenamkan wajahnya ke dalam bantal, ingin berteriak sekeras-kerasnya tapi suaranya tertahan.

"Kenapa hidupku selalu begini sih?!" gerutunya pada semesta. "Mau mati aja rasanya!"

Di tengah keputusasaannya itu, sebuah nama muncul begitu saja di benaknya. Sebuah nama yang biasanya hanya ia sebut jika sedang menggerutu atau marah-marah.

Farzhan Ibrahim.

Hanya dengan memikirkan nama itu, dada Vira terasa sesak oleh emosi campur aduk. Farzhan, Pria itu... Laki-laki yang entah kenapa takdir selalu menyatukan jalan mereka sejak mereka masih kecil. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah, mereka selalu berada di tempat yang sama. Seolah-olah Tuhan sedang iseng bermain puzzle dan memasang dua keping yang sama sekali tidak cocok dalam satu kotak.

Farzhan Ibrahim. Anak dari Zyan Ibrahim, bos besar yang juga atasan dari orang tuanya. Pria itu kaya raya, berkuasa, dan yang paling penting... ia sangat mampu. Mampu menyelesaikan masalah sebesar ini dengan mungkin hanya menggerakkan satu jari saja. Uang? Bagi Farzhan, jumlah yang membuat Vira pusing tujuh keliling itu mungkin hanya seperti uang jajan hariannya.

Selain itu, meskipun mereka selalu bertengkar, ikatan mereka sebenarnya sangat dekat. Keluarga mereka akrab. Mereka tahu seluk-beluk satu sama lain. Farzhan tahu betapa cerobohnya Vira, dan Vira tahu betapa menyebalkannya sifat perfeksionis Farzhan. Tapi di saat-saat genting seperti ini... hanya Farzhan yang punya kekuatan untuk menyelamatkannya dari jeratan hukum.

"Haruskah aku menghubunginya?" bisik Vira ragu-ragu.

Ia meraih kembali ponselnya, mencari nama kontak pria itu. Namanya ia simpan dengan nama 'Si Robot Kaku'. Ia menatap foto profilnya—foto formal dengan wajah datar tanpa ekspresi, khas Farzhan.

Jari telunjuknya melayang di atas tombol panggil. Hampir saja ia menekannya. Hampir saja suara sambungan telepon terdengar. Tapi tiba-tiba, gengsi dan harga dirinya meledak.

Apa?! Aku minta tolong sama dia?!

Bayangan wajah Farzhan muncul di kepalanya. Pria itu pasti akan memasang wajah sinis. Ia pasti akan mengejeknya. 'Sudah kubilang kan Vi, otakmu itu cuma dipakai buat hiasan. Selalu aja bikin masalah.' Atau mungkin ia akan berkata, 'Kamu itu kan mau mandiri? Kenapa sekarang datang merengek minta tolong sama aku?'

Duh, membayangkan saja Vira sudah ingin memukul dinding! Farzhan itu memang tampan, kaya, dan sempurna di mata orang lain, tapi baginya ia adalah musuh utama! Sombong, dingin, dan suka merendahkan. Bagaimana mungkin Vira, dengan kepala yang tegak ini, harus bersujud meminta bantuan pada orang yang paling ia benci?

"Tidak mau! Dan tidak akan pernah! Mending aku masuk penjara aja daripada malu sama dia!" Vira melempar ponselnya lagi, kali ini lebih keras.

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Pikirannya bertempur hebat. Logika berkata hubungi Farzhan, ayo selamatkan dirimu. Tapi ego dan gengsi perempuan itu berteriak keras, bilang jangan pernah tunduk pada Si Robot itu!

"Kalau aku telpon dia, dia akan merasa menang selamanya. Dia akan tetap menganggap aku beban seumur hidup. Nanti setiap kita ketemu, pasti dia ungkit-ungkit hal ini. 'Oh iya, waktu itu kamu hampir masuk penjara loh, siapa yang menyelamatkanmu? Aku kan?' Aduh, membayangkannya saja terasa ngeri banget!" Vira mengacak-acak rambutnya sendiri yang sudah berantakan.

Tapi realita kembali menyakitinya. Bayangan dirinya mengenakan baju tahanan, digiring polisi, ditunjuk-tunjuk orang, dan membuat orang tuanya menangis malu... itu jauh lebih menakutkan daripada ejekan Farzhan.

Vira terduduk lemas di lantai. Air matanya kembali menetes. Ia benar-benar buntu.

"Zhan... kenapa sih kamu harus jadi orang yang paling bisa bantu aku, tapi juga orang yang paling bikin aku gengsi?" keluhnya pelan.

Ia mengambil lagi ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Si Robot Kaku'. Jantung Vira berdegup kencang. Ia menelan ludah, berkali-kali. Jarinya gemetar. Ia ingin menekan tombol hijau itu. Ia ingin berteriak minta tolong.

Tapi pada detik terakhir, dengan air mata yang mengalir deras, Vira menekan tombol kunci. Layar menjadi gelap, memantulkan wajahnya yang sedih dan kacau.

"Tidak bisa... Aku tidak sanggup," isaknya pelan. "Maaf Zhan... Aku gengsi. Aku tidak bisa minta tolong sama kamu. Aku harus cari cara lain. Aku harus..."

Namun kata-kata itu terdengar begitu lemah, bahkan untuk telinganya sendiri. Ia tahu, tidak ada cara lain. Tidak ada harapan lain. Kecuali... keajaiban turun dari langit.

Malam semakin larut. Waktu terus berjalan, menggerus sisa waktu yang ia miliki. Vira masih duduk di lantai, memeluk kakinya, terperangkap dalam dilema yang menyiksa. Antara harga diri yang harus dipertahankan, atau nasib yang harus diselamatkan. Dan di sudut kota lain, Farzhan Ibrahim mungkin sedang sibuk dengan dunianya yang rapi dan teratur, sama sekali tidak menyadari bahwa musuh bebuyutannya sedang berada di ambang kehancuran, dan terlalu gengsi untuk memanggil namanya.

 

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!