Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak dianggap
***
Pagi-pagi sekali setelah melaksanakan sholat subuh, Tania langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan buat semua orang yang berada dirumah sang mertua....
Bahkan saat semua masih terlelap dalam mimpi, Tania sudah harus berkutat didapur sendirian demi isi perut semua orang yang berada dirumah itu....
Begitu lah nasib Tania, yang dianggap bak pembantu oleh keluarga suami nya sendiri...
Sungguh memilukan bukan...
"Dek...." Sapa Raka, suami Tania saat melihat istrinya sedang sibuk menata semua menu makanan diatas meja.
"Eh Mas...?" Tania tersenyum hangat menyambut suaminya yang terlihat sudah rapi dengan pakaian kerja nya.
"Mas sudah mau berangkat kerja? Maaf ya Mas, aku tadi tidak sempat menyiapkan baju buat Mas dulu karena buru-buru." Ucap Tania sembari mengelap keringat yang menempel di pelipis nya.
Raka menatap istri nya dengan perasaan iba dan merasa bersalah.
"Iya, nggak papa, Mas tau kamu sedang sibuk didapur. Ini semua kamu yang masak sayang?" Mata nya fokus menatap ke meja yang sudah dipenuhi banyak makanan."
Tania mengangguk.
"Iya Mas, ini aku yang masak." Jawab nya sembari menarik kursi untuk suaminya.
"Dek, kan sudah sering mas bilang, kamu nggak usah capek-capek melakukan semua ini sendirian. Kan dirumah ini ada Farah juga sama Sindi yang bisa bantuin kamu." Raka menggenggam tangan Tania, mata nya menatap istri nya lekat-lekat.
"Aku nggak papa kok Mas, nggak capek sama sekali, malahan aku senang melakukan semua pekerjaan ini daripada nggak ngapa-ngapain juga kan." Imbuh Tania tersenyum hangat menyakinkan suaminya.
Rasa lelah nya terbayar melihat kasih sayang dan kepedulian sang suami terhadap dirinya.
Dukungan dan kasih sayang dari suami nya lah yang membuat Tania masih bisa bertahan hingga sampai saat ini.
"Mbak Tania....."
Tania dan Raka menoleh bersamaan mendengar suara Farah yang setengah berteriak memanggil Tania.
Farah, istri nya Davin adik nya Raka.
Terlihat Farah baru keluar dari kamar nya dengan penampilan yang sudah rapi dengan gincu merah menyala di bibir nya, mata wanita itu tertuju pada Tania yang berdiri disebelah Raka.
"Mbak, baju aku yang kemaren kamu cuci sudah kamu setrika kan? Kalau belum, tolong dong di setrika dulu, soalnya sebentar lagi aku sudah harus berangkat." Perintah Farah pada Tania.
Tania mengangguk lalu berusaha tersenyum.
"Baiklah Farah, setelah sarapan nanti aku setrika baju kamu, sekalian aku mau nungguin mas Raka selesai sarapan dulu." Balas Tania meng iyakan perintah Farah.
"Aduh Mbak Tania, jangan nanti-nanti dong Mbak. Aku sudah harus berangkat sekarang ini." Balas Farah terkesan memaksa.
"Farah, Tania itu capek, dia baru aja selesai masak buat kita semua. Bisa nggak, biarkan dia sarapan dulu bersama kita disini. Lagian, kalau kamu buru-buru kan bisa kamu pakai baju yang lain aja dulu," Sela Raka ikut kesal melihat adik ipar nya yang terlihat sekali memaksa.
Farah mendelik tidak suka Raka membela Tania.
"Ada apa sih ini, kenapa pada ribut pagi-pagi begini?" Terlihat Dinda, Davin dan Sindi. Mereka berjalan bersama menuju kearah meja makan.
Dinda, ibu nya Raka terlihat sudah segar dengan rambut ter sanggul kebelakang.
Wanita paruh baya itu langsung mengambil kursi dan duduk di kursi kebanggaan nya.
"Ini Lo bu, masak Mas Raka marah-marah sama Farah, gara-gara Farah nyuruh Mbak Tania setrika baju aku doang." Ngadu Farah pada mertuanya dengan begitu enteng.
"Loh, Kan memang selama ini itu sudah tugas Tania setiap hari Raka. Kenapa kamu mesti marah sama Farah? Udah Tania, Sana cepat kamu setrika baju Farah." Titah Dinda seolah tidak peduli sama sekali sama perasaan Tania, dan menganggap Tania bagai pembantu di rumah nya.
"Tapi bu, setidak nya biarkan Tania sarapan dulu. Kasihan Tania, dia pasti juga lapar." Raka merasa kasihan melihat istrinya.
"Udah Mas, nggak papa. Tania juga belum lapar kok, Mas sama yang lain sarapan aja duluan. Biar aku bereskan semua dulu, baru aku lanjut makan." Sela Tania sembari menepuk lengan suaminya halus. Dia lebih memilih menurut dari pada terjadi keributan di meja makan.
"Nah, Tania aja nggak keberatan. Lagian, Tania kan nggak kemana-mana juga dia, palingan habis ini dia hanya tiduran dikamar aja. Gak kayak Farah yang harus buru-buru karena Farah kan kerja setiap harinya, bukan pengangguran seperti Tania." Sindir Dinda sembari melirik kearah Tania.
Deg
Hati Tania sedikit nyeri mendengar sindiran itu, padahal Tania lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa terkecuali. Mana sempat dia mikirin buat tidur.
"Gak tau nih mas Raka, selalu aja belain Mbak Tania. Lama-kelamaan bisa besar kepala tuh Mbak Tania." Timpal Sindi ikut kesal melihat Raka membela Tania.
Raka hendak membalas ucapan Sindi, namun dengan cepat tangan Tania menyentuh lembut lengan suaminya.
"Mas, sudah. Tania tinggal sebentar ya, Kalau Mas nanti mau berangkat kerja, berangkat aja nggak papa. Gak usah tungguin Tania, biar Mas nggak telat masuk kerja nya." Ucap Tania lembut, dia lebih memilih mengalah dari pada harus ribut-ribut karena dirinya.
Raka masih terlihat keberatan melihat Tania istri nya melakukan semua perintah keluarga nya sendiri. Dia sebenarnya gak tega.
Tapi mau gimana lagi, Raka masih tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia masih menumpang dirumah orang tuanya sendiri.
"Oh ya Mas, nanti Transfer aku uang 5 juta ya," Tiba-tiba Davin adik nya Raka meminta uang pada Raka.
Davin memang tidak banyak bicara, dan gak pernah ikut campur urusan dalam keluarga nya. Yang penting bagi dia, apapun yang dia mau ada, ia tinggal minta sama ibu dan Mas nya.
Davin sama sekali tidak pernah mau membantu Raka di pabrik, dia tau nya hanya menghabiskan uang saja.
"Buat apa uang sebanyak itu Davin, kan kemarin sudah Mas kasih?" Tanya Raka mengerutkan kening nya, padahal beberapa hari yang lalu Davin juga sudah meminta uang sama Raka.
"Uang kemarin sudah habis Mas, sudah aku kasih ke Farah buat dia ke salon sama aku pakai buat nongkrong sama teman." Jawab Davin santai, seolah-olah Raka mesin pencetak uang yang bisa dia minta kapan saja.
"Ya ampun Davin, kalau kamu terus berfoya-foya seperti ini bisa-bisa pabrik kita bangkrut Davin. Kamu terus saja meminta uang tanpa mau membantu Mas di pabrik." Keluh Raka menatap tajam adik nya.
"Mas, aku nggak foya-foya. Itu pabrik juga ada hak aku lo Mas, nggak usah lah Mas sok berkuasa seperti itu, yang aku minta ini jatah aku sendiri, bukan punya Mas." Mata Davin terlihat memerah dia seperti menahan kesal pada Raka.
"Raka, sudah.....Kasih aja, toh Davin juga nggak foya-foya, dia kasih buat istri nya, bukan buat dia sendiri aja. Ya wajar aja kalau uang yang kamu kasih kemarin kurang." Sela Dinda membela Davin anak kesayangan nya.
Raka hanya bisa menghela nafas kasar, tanpa menunggu lagi dia bergegas berangkat dengan perasaan kesal.