NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Penghinaan Keras

Langit sore di atas Akademi Arvandor tampak cerah dengan warna keemasan yang memudar perlahan di ufuk barat, namun suasana di lapangan ujian justru dipenuhi ketegangan yang sulit diabaikan. Ratusan peserta berdiri berjajar rapi dengan jubah seragam yang menampilkan lambang sekte masing-masing, sebagian memancarkan aura energi yang terasa jelas bahkan dari kejauhan. Di tengah kerumunan itu, seorang pemuda berdiri sedikit lebih ke belakang, posisinya seolah tidak dianggap penting oleh siapa pun yang hadir di sana.

Namanya Alverion Dastan.

Tubuhnya tinggi namun kurus, memberi kesan rapuh bagi siapa saja yang melihatnya lebih lama. Wajahnya memiliki garis tegas yang sebenarnya tampan, tetapi kulitnya terlihat pucat dan matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan. Jubah yang ia kenakan bersih dan rapi, hanya saja terlalu sederhana jika dibandingkan dengan peserta lain yang mengenakan pakaian berlapis energi pelindung.

Di depan lapangan, sebuah papan besar berwarna hitam pekat memancarkan cahaya samar saat nama-nama peserta yang lulus seleksi tahap pertama muncul satu per satu. Setiap nama yang terukir di sana langsung disambut dengan sorakan kecil, disertai bisikan kagum yang tidak pernah benar-benar berhenti sejak ujian dimulai.

“Rivan Caldreth.”

Seorang pemuda berambut perak melangkah maju tanpa ragu, langkahnya ringan tetapi penuh kepercayaan diri. Aura energi yang mengalir di sekeliling tubuhnya membuat udara terasa lebih berat, bahkan beberapa peserta yang berdiri di dekatnya tanpa sadar menarik napas lebih dalam. Tepuk tangan langsung menggema, diikuti komentar yang tidak berusaha disembunyikan.

“Sudah pasti dia.”

“Dari awal juga jelas hasilnya.”

Alverion memperhatikan tanpa perubahan ekspresi, meskipun jari-jarinya perlahan mengepal di samping tubuhnya. Tidak ada aliran energi yang merespons, tidak ada getaran kekuatan seperti yang dulu pernah ia rasakan. Tubuhnya terasa kosong, seolah sesuatu yang seharusnya ada telah diambil tanpa sisa.

Nama berikutnya terus bermunculan, dan suasana tetap sama seperti sebelumnya, dipenuhi pujian bagi mereka yang kuat dan sindiran bagi yang dianggap lemah. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan mereka yang berdiri di pinggir, kecuali jika ada alasan untuk menertawakan.

“Selena Arclight.”

Seorang gadis berambut hitam panjang melangkah maju dengan tenang, setiap gerakannya tampak terukur tanpa ada usaha berlebihan. Wajahnya cantik dengan ekspresi dingin yang sulit ditembus, sementara matanya bergerak menyapu kerumunan sebelum berhenti sesaat pada satu titik.

Alverion.

Tatapan itu singkat, hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama, tetapi cukup untuk memancing reaksi dari orang-orang di sekitarnya. Beberapa peserta langsung saling bertukar pandang, lalu tersenyum dengan nada yang mudah ditebak.

“Dia masih diingat rupanya.”

“Bukan diingat. Itu lebih seperti rasa kasihan.”

Tawa kecil terdengar tanpa ditahan, mengalir begitu saja di antara kerumunan yang mulai kehilangan minat pada hal lain.

Alverion tetap diam, tidak memberi respons apa pun. Ia sudah terlalu sering berada dalam situasi seperti ini, mendengar kalimat yang sama dengan variasi yang berbeda. Tidak ada yang benar-benar baru, hanya cara penyampaiannya yang berubah.

Dulu, namanya disebut dengan nada yang sama seperti Rivan dan Selena, penuh harapan dan kekaguman yang tidak disembunyikan. Ia adalah kebanggaan keluarga Dastan, seseorang yang diprediksi akan melampaui generasi sebelumnya tanpa banyak usaha. Namun semua itu runtuh dalam satu malam yang tidak pernah ia ceritakan, bahkan kepada dirinya sendiri ia enggan mengingat terlalu dalam.

Sejak saat itu, energi dalam tubuhnya menghilang tanpa jejak yang jelas.

Bukan melemah secara perlahan, bukan juga tersegel dengan tanda yang bisa dilacak, melainkan benar-benar lenyap seolah tidak pernah ada sejak awal.

“Peserta berikutnya.”

Suara pengawas kembali terdengar, menarik perhatian yang mulai terpecah.

“Alverion Dastan.”

Lapangan mendadak sunyi selama beberapa detik sebelum suara tawa pecah tanpa penahanan, jauh lebih keras dibandingkan sebelumnya. Beberapa peserta bahkan tidak berusaha menutupi ekspresi mereka, menikmati momen yang sudah mereka tunggu.

“Itu dia.”

“Akhirnya muncul juga.”

“Masih mencoba lagi?”

Alverion melangkah maju perlahan, setiap langkah terasa berat seolah ada beban yang tidak terlihat menekan dari segala arah. Tanah di bawah kakinya terasa lebih dingin, dan jarak yang sebenarnya tidak jauh terasa lebih panjang dari seharusnya.

Ia berhenti di depan alat pengukur energi, sebuah kristal besar berwarna biru yang memancarkan cahaya redup. Permukaannya halus seperti es, dan di dalamnya terlihat aliran cahaya yang bergerak perlahan, menunggu respons dari siapa pun yang menyentuhnya.

Pengawas menatapnya dengan ekspresi datar yang sulit dibaca, seolah hasilnya sudah bisa ditebak tanpa perlu melihat.

“Letakkan tanganmu di atas kristal.”

Alverion mengangguk pelan, lalu mengangkat tangannya tanpa ragu. Ujung jarinya menyentuh permukaan dingin kristal itu, dan seketika udara di sekitarnya terasa lebih hening.

Satu detik berlalu tanpa perubahan.

Dua detik berikutnya tidak membawa hasil yang berbeda.

Waktu terus berjalan, namun kristal itu tetap redup, tidak menunjukkan reaksi sedikit pun terhadap sentuhannya.

Kerumunan mulai bergerak gelisah, lalu suara-suara kecil kembali terdengar, perlahan berubah menjadi ejekan yang tidak disembunyikan.

“Tidak ada cahaya sama sekali.”

“Ini bahkan lebih buruk dari sebelumnya.”

“Benar-benar kosong.”

Wajah pengawas berubah sedikit, bukan karena terkejut melainkan karena memastikan apa yang sudah ia duga sejak awal. Ia menarik napas pendek sebelum berbicara dengan suara yang cukup keras agar semua orang mendengar tanpa kesulitan.

“Energi nol. Gagal.”

Kata-kata itu jatuh tanpa emosi, tetapi dampaknya terasa jauh lebih berat dari teriakan.

Tawa langsung menyebar ke seluruh lapangan, tidak lagi ditahan atau disamarkan. Beberapa orang bahkan bertepuk tangan, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang menghibur.

“Energi nol. Itu bahkan tidak masuk akal.”

“Bagaimana dia masih berdiri di sini?”

“Memalukan.”

Alverion menurunkan tangannya dari kristal dengan gerakan pelan, tanpa ada tanda ingin membantah atau menjelaskan. Tatapannya kosong, seolah semua suara di sekitarnya hanya lewat tanpa benar-benar mencapai dirinya.

Namun di dalam, sesuatu tetap bergerak.

Rasa malu yang tidak bisa dihindari, bercampur dengan amarah yang tertahan terlalu lama, serta kelelahan yang terus menumpuk tanpa tempat untuk dilepaskan.

“Selanjutnya.”

Suara pengawas terdengar lagi, menandakan bahwa proses telah berlanjut tanpa menunggu siapa pun.

Namun sebelum Alverion sempat melangkah mundur, suara lain muncul dari sisi lapangan, memotong alur yang sudah berjalan.

“Tunggu.”

Semua kepala menoleh hampir bersamaan.

Rivan Caldreth berjalan maju dengan langkah santai, senyum tipis terlukis di wajahnya seolah situasi ini memang sudah ia tunggu. Aura energinya masih terasa kuat, menciptakan tekanan halus yang membuat beberapa peserta tanpa sadar memberi ruang.

Ia berhenti beberapa langkah dari Alverion, menatapnya dari atas ke bawah tanpa berusaha menyembunyikan penilaian.

“Alverion Dastan,” ucapnya dengan nada ringan namun jelas. “Dulu kita sering dibandingkan.”

Beberapa orang di sekitar langsung tertawa kecil, memahami arah pembicaraan tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.

Alverion tidak menjawab, hanya menatap balik dengan ekspresi datar.

Rivan sedikit memiringkan kepalanya, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang menarik baginya.

“Aku sempat penasaran,” lanjutnya. “Bagaimana rasanya jatuh seperti ini.”

Tawa semakin keras, beberapa bahkan tidak lagi menahan suara mereka.

“Apakah kamu masih berpikir bisa kembali ke tempat semula?”

Kali ini, Alverion mengangkat kepalanya sedikit lebih tinggi, menatap langsung ke mata Rivan tanpa menghindar.

“Sudah selesai?” tanyanya singkat.

Nada suaranya datar tanpa emosi, tetapi justru itu yang membuat beberapa orang berhenti tertawa untuk sesaat.

Rivan tersenyum lebih lebar, tidak menunjukkan tanda tersinggung.

“Masih punya sisa harga diri rupanya.”

Ia melangkah mendekat, suaranya merendah tetapi tetap cukup jelas untuk didengar oleh orang-orang terdekat.

“Kalau aku berada di posisimu, aku tidak akan muncul di tempat seperti ini lagi.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada tinggi, namun terasa lebih tajam dibandingkan ejekan sebelumnya.

Alverion menatapnya beberapa detik, lalu berbalik tanpa berkata apa pun. Tidak ada perubahan ekspresi, tidak ada tanda ingin membalas, hanya langkah yang kembali bergerak menjauh.

Ia berjalan melewati kerumunan yang kembali dipenuhi suara sinis, ejekan yang semakin terang-terangan, serta tatapan yang tidak lagi berusaha disembunyikan.

“Tidak berani membalas.”

“Memang sudah tidak punya apa-apa.”

Langkahnya tetap stabil, tidak terpengaruh oleh suara yang terus mengikutinya.

Sampai akhirnya ia keluar dari lapangan ujian tanpa menoleh ke belakang.

Malam tiba dengan cepat, menggantikan suasana lapangan yang sebelumnya penuh keramaian. Aula keluarga Dastan dipenuhi cahaya lampu kristal yang memantulkan kilau keemasan di setiap sudut ruangan, menciptakan kesan megah yang sudah menjadi ciri khas keluarga itu.

Di tengah ruangan, Alverion berdiri sendirian.

Meja panjang di hadapannya dipenuhi anggota keluarga yang mengenakan pakaian mewah, masing-masing menunjukkan status mereka tanpa perlu kata-kata. Di ujung meja, seorang pria paruh baya dengan wajah tegas menatapnya tanpa ekspresi, sorot matanya tajam dan tidak memberi ruang untuk penafsiran lain.

Valerian Dastan.

“Gagal lagi,” ucapnya singkat, tanpa nada yang meninggi.

Alverion menunduk sedikit, menerima pernyataan itu tanpa mencoba membantah.

“Ya.”

Suara dari sisi meja terdengar, diikuti desahan pelan yang tidak disembunyikan.

“Sudah berapa kali ini?”

“Lima kali,” sahut yang lain dengan cepat.

Beberapa orang tertawa kecil, tidak merasa perlu menjaga suasana.

“Rekor baru untuk keluarga kita.”

Alverion tetap diam, membiarkan kata-kata itu lewat tanpa reaksi.

Valerian mengangkat tangannya, menghentikan suara yang mulai mengalir.

Ruangan kembali hening.

“Dulu, aku menaruh harapan besar padamu,” katanya perlahan.

Nada suaranya tidak keras, tetapi setiap kata terasa jelas dan tidak bisa diabaikan.

“Namun sekarang, kamu hanya menjadi bahan pembicaraan.”

Kalimat itu tidak panjang, tetapi cukup untuk menggambarkan posisi Alverion saat ini.

“Nama Dastan dibawa dalam keadaan seperti itu di depan akademi.”

Alverion menarik napas dalam, menahan sesuatu yang berusaha keluar.

Valerian berdiri, lalu melangkah mendekat tanpa tergesa.

“Aku sudah memberimu waktu, kesempatan, dan semua yang kamu butuhkan.”

Ia berhenti di depan Alverion, menatapnya dengan jarak yang tidak jauh.

“Namun tidak ada hasil yang berubah.”

Suasana tetap sunyi, tidak ada yang berani memotong.

“Mulai hari ini, kamu tidak lagi menjadi bagian dari inti keluarga.”

Kepala Alverion sedikit terangkat, bukan karena terkejut melainkan memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

Beberapa anggota keluarga terlihat puas dengan keputusan itu, ekspresi mereka tidak disembunyikan.

“Statusmu diturunkan menjadi anggota luar.”

Kalimat berikutnya datang tanpa jeda panjang.

“Kamu akan meninggalkan kediaman utama.”

Alverion menatap ayahnya, mencoba mencari kemungkinan lain dalam kalimat itu, tetapi tidak menemukan apa pun.

“Diusir?” tanyanya pelan.

Valerian tidak langsung menjawab, tetapi diamnya sudah cukup memberi kepastian.

Ruangan tetap hening selama beberapa detik sebelum suara kecil kembali terdengar dari sisi meja.

“Seharusnya sudah lama.”

Alverion menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan tanpa menunjukkan penolakan.

“Baik.”

Jawaban itu singkat dan tidak menimbulkan perdebatan.

Valerian memandangnya beberapa saat, lalu berbalik tanpa menambahkan apa pun.

“Pergi sebelum fajar.”

Pertemuan berakhir tanpa ada yang mencoba menahannya.

Malam semakin larut ketika Alverion berdiri di depan gerbang besar keluarga Dastan, membawa tas kecil yang hanya berisi beberapa barang pribadi. Tidak ada yang mengantarnya keluar, dan tidak ada yang berdiri di belakangnya untuk memastikan kepergiannya.

Angin malam berhembus pelan, membawa udara dingin yang terasa lebih tajam dari biasanya. Ia menoleh sebentar ke arah kediaman yang selama ini ia tinggali, melihat cahaya lampu yang masih menyala terang di dalamnya.

Tempat itu tetap terlihat megah, tetapi terasa jauh.

Langkahnya akhirnya bergerak, meninggalkan gerbang tanpa ragu.

Di luar, jalanan kota mulai sepi, hanya beberapa orang yang masih berlalu lalang tanpa memperhatikan siapa yang berjalan di antara mereka. Bagi mereka, Alverion hanyalah pemuda biasa yang tidak memiliki sesuatu yang layak untuk diperhatikan.

Ia berjalan tanpa tujuan yang jelas, melewati jalan yang perlahan semakin sunyi. Bayangannya memanjang di tanah, mengikuti langkah yang tidak terburu-buru namun juga tidak berhenti.

Di dalam dirinya, emosi yang selama ini tertahan mulai terasa lebih jelas, bergerak tanpa arah yang pasti.

Rasa sakit tidak bisa dihindari, sementara kemarahan muncul dalam bentuk yang lebih tenang tetapi tidak hilang. Pertanyaan yang selama ini ia abaikan kembali muncul, mencari jawaban yang tidak kunjung ditemukan.

Tangannya mengepal, tetapi tetap tidak ada respons dari dalam tubuhnya.

Ia berhenti di sebuah jembatan kecil di pinggir kota, memandang aliran air di bawah yang bergerak pelan mengikuti arus. Cahaya bulan memantul di permukaannya, menciptakan kilau yang tenang di tengah malam.

Alverion bersandar pada pagar, membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan apa pun.

Napasnya terdengar pelan, seiring pikirannya yang perlahan menjadi lebih jernih.

“Jadi seperti ini,” gumamnya.

Suara itu rendah, hampir tenggelam oleh angin yang lewat.

Ia mengangkat kepala, menatap langit yang luas tanpa batas.

Bintang-bintang tetap bersinar, tidak berubah oleh apa pun yang terjadi di bawahnya.

Alverion menghembuskan napas panjang, merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan mulai terbentuk di dalam dirinya. Bukan kekuatan, bukan juga harapan yang besar, melainkan sesuatu yang lebih sederhana namun terasa nyata.

Ia tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertahankan.

Langkahnya kembali bergerak, meninggalkan jembatan tanpa menoleh.

Malam menelan sosoknya perlahan, membawa dirinya menuju arah yang belum jelas.

Dan tanpa disadari oleh siapa pun, perubahan kecil mulai terjadi.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!