Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kota di Bawah Bayang-Bayang Rembulan
Hujan turun dengan irama yang mendayu-dayu, membasahi jalanan berbatu kota Lunaria. Kota ini bukanlah kota biasa yang tercatat di peta dunia modern.
Lunaria tersembunyi di balik selimut kabut abadi, sebuah tempat di mana garis antara dunia nyata dan dunia magis menjadi kabur.
Di sini, angin tidak hanya berhembus, ia berbisik. Dan waktu, seolah berjalan lebih lambat, seakan sedang menunggu sesuatu yang telah lama tertunda.
Di tengah kota itu, menjulang sebuah bangunan kuno yang arsitekturnya memadukan gaya gotik dengan ornamen-ornamen flora yang terukir indah.
Itu adalah Kedai Bintang Jatuh, tempat di mana orang-orang datang bukan hanya untuk mencari minuman hangat, tetapi untuk mencari jawaban. Jawaban tentang takdir, dan khususnya... tentang cinta.
Di sudut ruangan yang paling gelap, duduk seorang gadis muda bernama Elara. Usianya baru menginjak sembilan belas tahun, namun matanya menyimpan kedalaman yang jauh lebih tua dari usianya.
Elara memiliki rambut hitam legam yang dikepang panjang dan mata berwarna perak yang jarang dimiliki orang biasa. Mata itu adalah tanda lahirnya, sekaligus kutukannya.
Elara adalah seorang Peramal Benih Jantung. Dalam dunia Lunaria, setiap orang terlahir dengan sebuah sihir yang terhubung dengan hati mereka. Sihir ini akan menuntun mereka menuju belahan jiwa—satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk mereka cintai.
Namun, berbeda dengan orang lain yang bisa merasakan getaran sihir itu, Elara tidak merasakan apa-apa. Dadanya terasa kosong, dingin, dan sunyi. Seperti sebuah ruangan yang terkunci rapat tanpa kunci.
"Elara, kopi herbalmu," sapa sebuah suara lembut.
Elara mengangkat wajah, menatap wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya. Itu Nenek Mara, penjaga kedai dan satu-satunya keluarga yang dimiliki Elara.
Wajah Nenek Mara dipenuhi kerutan yang menceritakan ribuan kisah, dan tangannya selalu mengeluarkan aroma rempah-rempah serta dupa.
"Terima kasih, Nek," jawab Elara pelan. Ia menyesap minuman hangat itu, namun tidak mampu menghangatkan perasaannya yang gelisah.
"Hari ini adalah malam Gerhana Bulan Darah," ucap Nenek Mara tiba-tiba, suaranya rendah namun tegas. "Kau tahu apa artinya, kan?"
Elara mengangguk pelan. Malam Gerhana Bulan Darah adalah malam di mana kekuatan sihir cinta di seluruh Lunaria mencapai puncaknya.
Malam di mana ikatan takdir akan semakin kuat, atau justru... terputus. Namun bagi Elara, malam ini hanyalah pengingat pahit bahwa ia adalah seorang Anomali.
"Aku tidak merasakan apa-apa, Nek," keluh Elara, suaranya bergetar menahan tangga. "Kenapa sihirku tidak mau bangun? Apakah aku tidak ditakdirkan untuk mencintai siapa pun? Apakah hatiku benar-benar beku?"
Nenek Mara menghela napas panjang, lalu duduk di hadapan gadis itu. Tangannya yang keriput menggenggam tangan halus Elara.
"Bukan beku, Elara. Tapi... terkunci."
Kata-kata itu membuat jantung Elara berdegup kencang. "Terkunci? Apa maksud Nenek?"
"Dulu, saat kau masih bayi, ada seorang peramal tua yang datang ke pintu kita. Dia berkata, bahwa kau memiliki kekuatan yang sangat besar, terlalu besar untuk tubuh kecilmu. Agar kau bisa hidup, kekuatan itu harus disegel. Hatinya dikunci, agar tidak meledak menghancurkan dirimu sendiri," cerita Nenek Mara dengan nada serius. "Tapi kuncinya... kuncinya tidak ada pada kita. Kunci itu ada pada seseorang yang juga memiliki takdir yang sama rumitnya denganmu."
Tiba-tiba, lonceng kecil di pintu kedai berbunyi nyaring. Suara itu bukan bunyi biasa, melainkan nada yang tinggi dan menusuk, tanda bahwa seseorang dengan energi magis yang sangat kuat baru saja melangkah masuk.
Udara di dalam ruangan seketika berubah menjadi berat. Hujan di luar seolah berhenti berdetak sejenak.
Elara menoleh ke arah pintu. Seorang pemuda baru saja masuk, menutup payung hitam besarnya. Ia mengenakan jas panjang berwarna gelap yang basah oleh air hujan.
Postur tubuhnya tegap, wajahnya tampan namun memiliki garis rahang yang keras dan dingin. Matanya berwarna merah gelap, seperti warna anggur tua atau darah yang mengering.
Nama pemuda itu adalah Kael.
Di Lunaria, semua orang mengenalnya. Ia adalah pewaris keluarga Voss, klan yang dikenal memiliki sihir kegelapan yang kuat. Namun yang membuat orang takut bukan hanya sihirnya, tapi fakta bahwa Kael adalah seorang Juru Pisah Takdir.
Sihirnya mampu memutuskan benang-benang cinta yang telah dijalin oleh takdir. Ia adalah simbol kesepian dan kehancuran bagi hubungan asmara.
Kael tidak melihat ke sekeliling. Tatapannya lurus, tajam, dan langsung tertuju pada satu titik.
Pada Elara.
Waktu seolah berhenti.
Saat mata perak Elara bertemu dengan mata merah Kael, sesuatu terjadi. Bukan perasaan berbunga-bunga seperti yang diceritakan dalam dongeng. Melainkan sebuah sentakan hebat di dalam dada Elara.
DRANG!
Seperti suara rantai yang pecah.
Elara memegang dadanya, terengah-engah. Ia bisa merasakannya untuk pertama kalinya. Bukan kehangatan, melainkan sebuah tarikan magnet yang sangat kuat namun menyakitkan. Ada semburat cahaya keemasan yang tiba-tiba muncul di udara di antara mereka berdua, namun cahaya itu berubah menjadi warna ungu gelap saat menyentuh area tubuh Kael.
"Kau..." bisik Elara tak percaya.
Kael mengernyitkan dahi, seolah ia juga merasakan hal yang sama. Ia maju selangkah, dan Elara tanpa sadar mundur selangkah.
"Ini tidak mungkin," gumam Kael pelan, namun suaranya terdengar jelas oleh telinga Elara berkat sihir pendengarannya yang tiba-tiba aktif. "Aku seharusnya tidak bisa merasakan ikatan ini. Aku adalah pemutus ikatan."
Nenek Mara segera berdiri di antara mereka berdua, mengangkat tangannya sebagai tanda peringatan. "Tuan Muda Kael, silakan tinggalkan tempat ini. Kau membawa badai."
Kael tidak menggubris Nenek Mara. Pandangannya masih terkunci pada Elara. Ada pertarungan besar di matanya; antara keinginan untuk pergi dan keinginan untuk mendekat.
"Ramalan itu benar," ucap Kael perlahan. "Hatinya memang terkunci. Dan aku..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "...adalah kuncinya. Atau mungkin... aku adalah gemboknya."
Malam itu, hujan kembali turun semakin deras, seiring dengan terbukanya lembaran pertama takdir yang selama ini disembunyikan. Elara menyadari satu hal yang menakutkan: Sihir cinta terkuat tidak selalu membawa kebahagiaan. Terkadang, ia membawa malapetaka. Dan cintanya, ternyata terikat pada seseorang yang tugasnya adalah menghancurkan cinta.
°
°
°
°
Bersambung....