Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01
Bau antiseptik memenuhi udara. Langit-langit putih rumah sakit itu terasa terlalu terang bagi Giana yang baru saja membuka mata. Kepalanya terasa berat dan tubuhnya lemas. Ada rasa kosong yang tak bisa ia jelaskan begitu ia tersadar sepenuhnya.
Tangannya refleks bergerak ke perutnya yang kini datar. Tidak ada lagi gerakan kecil yang biasa ia rasakan setiap malam. Tidak ada tendangan lembut yang selalu membuatnya tersenyum diam-diam.
“Bayiku ... maafkan aku yang tidak bisa menjagamu,” gumamnya serak, suaranya hampir tak terdengar.
Seorang perawat yang berdiri di samping tempat tidurnya menunduk pelan. Wajahnya lembut, tetapi mata itu menyimpan kabar yang tak ingin diucapkan.
“Ibu harus banyak beristirahat agar cepat pulih.”
Giana menoleh, menatap suster yang kini balik menatapnya dengan iba. Ingatan terakhirnya datang seperti kilatan cahaya yang menyakitkan. Dadanya terasa sesak dengan napas yang tersengal.
“Bayiku … di mana bayiku?” tanyanya bingung, seolah masih tidak bisa menerima kenyataan pahit.
Air matanya mengalir tanpa suara. Ia bahkan belum sempat mendengar tangis bayinya. Jangankan menyentuh atau menggendongnya untuk yang terakhir kali, Giana bahkan belum melihat rupa anaknya.
Pintu kamar berderit pelan, sesosok pria berjalan masuk dan mendekati Giana. “Ian? Anak kita, Ian. Anak kita sudah pergi,“ ucapnya dengan suara tertahan. Kenyataan itu membuat hatinya terasa dicabik-cabik.
Giana melihat suaminya berdiri tegak dengan setelan rapi, seperti hendak menghadiri rapat, bukan menjenguk dirinya. Pria itu kini menatapnya datar.
“Giana,” katanya singkat.
Giana menoleh perlahan. Di dalam dadanya, masih ada harapan kecil, bahwa mungkin ia akan dipeluk atau mungkin sekadar dikuatkan. Mungkin mereka akan berduka bersama. Namun pria itu hanya meletakkan sebuah map coklat di atas meja kecil di samping ranjang.
“A-apa itu, Ian? Surat apa yang kau bawa?” tanya Giana dengan suara yang bergetar.
“Surat perceraian,”jawab Adrian datar dan dingin.
Dunia Giana yang sudah retak, kini terasa benar-benar runtuh dalam seketika. Air matanya tak dapat lagi dibendung.
Giana menatapnya tak percaya. “A-apa? Ian? Kau bercanda, kan? Kau tidak mungkin menceraikan aku begitu saja, kan?” tanyanya serak seraya menahan nyeri yang tiba-tiba merambat.
“Kita sudah mencoba selama tiga tahun, Gia. Dan aku sudah memutuskannya,” ucap suaminya datar, menegaskan keputusannya. “Tapi apa hasilnya? Kau bahkan tidak bisa memberiku seorang anak.”
Kalimat itu menghantam Giana lebih keras daripada benturan yang membuat bayinya pergi.
“Bayi kita meninggal karena kecelakaan,” bisik Giana, napasnya terasa memburu. “Bukan karena aku—”
“Faktanya tetap sama,” potongnya. “Aku butuh penerus. Aku tidak bisa terus berharap padamu. Ibuku juga ingin menggendong seorang cucu, tapi sayangnya kau sudah menghancurkan harapan kita dalam sekejap.”
Air mata Giana jatuh semakin deras. “Aku baru saja kehilangan bayi kita, Ian. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?”
“Aku juga merasa kehilangan, Gia. Aku sudah kehilangan harapan dan masa depan sebagai seorang ayah. Dan semua itu gara-gara dirimu!”
Alih-alih menguatkan Giana, Adrian justru melimpahkan semua kesalahan pada Giana, seolah-olah kehilangan bayi bukanlah pukulan besar bagi seorang ibu yang sudah menantikan buah hati selama tiga tahun.
Pria itu kemudian meletakkan pulpen di atas map itu. “Tandatangani saja. Ini akan lebih mudah untuk kita berdua,” katanya lagi pada Giana.
“Kau tega sekali, Ian.” Air matanya kian deras. Dadanya terasa sesak. "Aku sudah bersabar selama tiga tahun, aku menerima setiap perlakuan buruk ibumu padaku. Aku bahkan rela melakukan apapun demi dirimu. Tapi, inilah balasannya?"
"Sudahlah, Gia. Kita akhiri saja semuanya sekarang. Dan ingat, jangan pernah datang atau menemuiku lagi. Kita sudah selesai!"
Giana baru saja kehilangan bayinya, tetapi, suami yang dicintainya dengan sepenuh hati itu justru ingin menceraikannya di saat Giana paling membutuhkan dukungannya.
Tubuh Giana masih terasa seperti terkoyak. Rahimnya masih berdenyut nyeri. Dadanya mulai terasa penuh oleh air susu yang seharusnya diminum oleh bayi yang sayangnya kini sudah tiada.
Tangannya gemetar saat mengambil pulpen. Giana tak tahu mana yang lebih sakit, jahitan di tubuhnya, atau kalimat yang baru saja ia dengar?
Dengan tangan yang bergetar hebat, ia menandatangani surat itu. Garis tipis yang mengakhiri pernikahan sekaligus mimpinya menjadi ibu, dalam satu hari.
Suaminya mengambil kembali map itu tanpa menatapnya lama. “Jaga dirimu baik-baik.”
Giana menatap kepergian pria itu dengan pandangan yang nanar dan hati yang terasa ngilu. Ruangan kembali sunyi dan Giana memeluk tubuhnya sendiri, ia terisak pelan. Ia merasa kosong. Tidak, lebih dari kosong. Giana merasa seperti ada sesuatu yang direnggut dari dalam dirinya.
“Ya Tuhan, tolong kuatkan aku,” lirihnya dengan mata yang basah.
Beberapa jam kemudian, saat senja mulai turun dan lorong rumah sakit lebih sepi, Giana tak mampu lagi berbaring diam. Rasa nyeri di perutnya masih ada, tapi rasa di dadanya jauh lebih menyiksa.
Ia turun dari ranjang perlahan. Langkahnya tertatih menyusuri koridor rumah sakit. Entah dorongan apa yang membuatnya berhenti di depan ruang perawatan bayi.
Melalui dinding kaca bening, ia melihat deretan bayi mungil yang tertidur dalam inkubator dan boks kecil. Wajah-wajah merah muda itu begitu damai. Beberapa bergerak kecil. Satu bayi menguap pelan. Lalu, tangis pelan terdengar.
Suara itu menghantam jantungnya.
“Anakku … anakku juga seharusnya menangis seperti itu, kan?” gumamnya tersedu. “Saat anakku menangis, aku akan menggendongnya dengan penuh sayang, lalu menyusuinya dengan penuh cinta.”
Seharusnya, Giana juga berdiri di sana sebagai seorang ibu yang bahagia. Tetapi kenyataan berkata lain. Tangannya terangkat menyentuh kaca. Air matanya jatuh lagi.
“Kalau saja kau masih ada,” bisiknya lirih. “Ibu pasti akan menjagamu. Ibu pasti akan memelukmu setiap malam.”
Dadanya terasa semakin sesak. ASI mulai merembes, menyakitkan sekaligus mengingatkan bahwa tubuhnya masih bersiap memberi kehidupan, pada bayi yang tak pernah sempat hidup lama.
Saat Giana hendak pergi, tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya.
Bruk!
Tubuhnya terdorong ke depan. Tas besar yang dibawa pria itu terjatuh, mengeluarkan suara logam beradu yang menghantam kaki Giana.
Giana meringis keras. Nyeri menjalar dari perut bagian bawahnya dan juga kakinya.
“Auw!” Giana hampir kehilangan keseimbangan.
Pria itu langsung berhenti seketika. “Maaf! Aku tidak melihat—”
Tangannya sigap menahan bahu Giana sebelum ia jatuh sepenuhnya. Sentuhannya hangat, kuat, tapi hati-hati.
Giana mengangkat wajahnya perlahan. Ia melihat pria itu tampak terburu-buru. Kemeja putihnya bahkan terlihat sedikit kusut, dengan napas yang terengah, dan rambutnya yang berantakan cukup menjelaskan bahwa ia berlari tanpa henti.
Di tangannya, tas besar berisi perlengkapan persalinan. Tatapannya tajam, namun penuh kepanikan.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya cepat, suaranya dalam namun terdengar cemas.
Giana mencoba berdiri tegak, meski rasa perih masih terasa menusuk tubuhnya. “Ya, aku tidak apa-apa.”
Pria itu memperhatikan wajah pucatnya, lalu sekilas melirik ke ruang perawatan bayi di balik kaca. Kesadaran perlahan muncul di matanya.
“Kau yakin? Perlukah aku panggilkan dokter? Kau tampaknya tidak baik-baik saja.” tanyanya pelan.
Giana tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali tertuju pada bayi-bayi di balik kaca. Keheningan menggantung di antara mereka. Tetapi kemudian ia tersenyum dan mengangguk.