Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Menembus Jantung Ibukota dan Hancurnya Segel Naga
Pesawat jet pribadi berlogo naga emas membelah awan malam di atas langit Ibukota. Di dalam kabin VVIP yang mewah, Arya Permana duduk sambil menatap layar tablet berenkripsi tinggi. Lampu-lampu Ibukota yang gemerlap di bawah sana terlihat seperti lautan bintang buatan, namun di mata Arya, itu tak lebih dari sebuah papan catur raksasa yang siap ia obrak-abrik.
Thomas berdiri di sampingnya, membungkuk sedikit untuk menjelaskan data di layar. "Keluarga Dewangga. Raksasa nomor satu di Ibukota. Mereka menguasai enam puluh persen sektor perbankan, energi, dan properti nasional. Namun, kekuatan sejati mereka bukan pada uang, Tuan Muda. Rumah utama mereka, 'Istana Dewangga', dilindungi oleh Formasi Segel Naga—sebuah barikade energi kuno yang konon tak bisa ditembus oleh peluru kendali sekalipun."
"Formasi energi yang dipertahankan menggunakan uang dan batu spiritual kelas rendah," Arya berkomentar dengan nada datar yang sangat rasional. "Itu bukan pertahanan, Thomas. Itu adalah kandang babi yang dihias emas."
Tiba-tiba, intuisi Arya menangkap sebuah fluktuasi Qi yang sangat familiar dari arah ruang kargo jet tersebut.
"Kita punya penumpang gelap," ucap Arya tenang. Ia bahkan tidak menoleh, hanya menjentikkan jarinya ke arah pintu kabin.
Wusss! Sebuah bilah energi Qi melesat dan memotong engsel pintu baja tersebut dengan presisi bedah. Pintu itu ambruk, memperlihatkan sosok Elena yang bersembunyi di baliknya. Wanita pembunuh bayaran itu terkejut, namun dengan cepat ia menyarungkan pedang tipisnya dan berjalan masuk, lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Arya.
Thomas langsung merogoh pistol di balik jasnya, namun Arya mengangkat tangan untuk menghentikannya.
"Kau menyusup ke bandara militer swastaku dengan menyembunyikan hawa keberadaanmu," Arya menatap Elena dengan dingin. "Sebuah manuver taktis yang berani, tapi memiliki probabilitas kematian sembilan puluh sembilan persen jika aku sedang dalam suasana hati yang buruk. Beri aku satu alasan logis untuk tidak membuangmu dari ketinggian tiga puluh ribu kaki ini."
Elena menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Arya secara langsung. Pria ini terlalu mengerikan. "Nama saya Elena. Tiga tahun lalu, sekte saya, Ordo Teratai Malam, dibantai habis oleh Keluarga Dewangga karena menolak tunduk pada Formasi Segel Naga mereka. Saya menawarkan kesetiaan absolut saya kepada Anda, Tuan Arya. Saya memiliki pemetaan lengkap tata letak Istana Dewangga dan jadwal rotasi penjaga elit mereka."
Arya menganalisis tawaran tersebut. Memiliki pemandu lokal yang memahami medan musuh secara detail akan meningkatkan efisiensi waktu hingga empat puluh persen.
"Kesetiaan tidak dibuktikan lewat kata-kata sedih atau dendam masa lalu, Elena," jawab Arya dingin. "Kesetiaan dibuktikan dengan nilai guna. Jika informasi yang kau berikan malam ini akurat, kau boleh menjadi bayanganku. Jika tidak, aku akan menguburmu bersama mereka. Mengerti?"
"Saya mengerti, Tuan!" jawab Elena dengan tegas, sebuah harapan berdarah menyala di matanya.
Satu jam kemudian, di pusat distrik elit Ibukota.
Istana Dewangga berdiri megah di atas lahan seluas sepuluh hektar yang dikelilingi oleh tembok setinggi enam meter berlapis baja. Di mata manusia biasa, tempat itu terlihat sangat aman. Namun, dengan Mata Dewa (hadiah awal dari Sistem), Arya bisa melihat sebuah kubah energi berwarna emas transparan menyelimuti seluruh area properti tersebut. Energi itu berputar dengan pola sisik naga yang rumit, menyedot Qi dari tanah untuk memperkuat dinding tak kasat matanya.
Di dalam ruang rapat utama Istana Dewangga, kepanikan tengah melanda.
Bramantya Dewangga, pria tua berusia tujuh puluhan dengan rambut putih memanjang namun memiliki otot tubuh sekokoh baja, duduk di kursi kebesarannya. Ia memancarkan aura Setengah Langkah Menuju Ranah Grandmaster (Half-step Grandmaster)—sebuah tingkat yang menjadikan dirinya dewa di mata manusia biasa.
"Bastian Tjandra mati di Puncak Awan?!" Bramantya menggebrak meja gioknya hingga retak. "Dan pembunuhnya adalah pewaris Keluarga Permana yang dikabarkan menghilang tiga tahun lalu?!"
Beberapa tetua keluarga dan jenderal bayaran di ruangan itu menelan ludah.
"B-Benar, Tuan Besar," ucap salah satu intelijen dengan gemetar. "Bastian membocorkan keterlibatan kita dalam insiden Penerbangan 777 sebelum dia dibunuh. Arya Permana kini sedang menuju Ibukota!"
"Bocah ingusan!" Bramantya tertawa parau, matanya memerah karena amarah bercampur arogansi. "Keluarga Tjandra hanyalah anjing penjaga lapis luar! Meskipun dia memiliki kekuatan untuk membunuh Guru Bela Diri, dia sedang menghadapi Istana Dewangga! Kita dilindungi oleh Formasi Segel Naga dari Kuil Kegelapan! Sekalipun seratus Guru Bela Diri menyerang bersamaan, mereka hanya akan terbakar menjadi abu!"
Bramantya berdiri, memancarkan Qi keemasannya. "Perintahkan semua penembak jitu dan master bela diri bersiap di balik kubah formasi. Biarkan bocah itu datang. Aku ingin melihat tubuhnya meledak saat menyentuh energi Segel Naga!"
Di luar gerbang utama.
Arya turun dari Range Rover hitam yang dikemudikan oleh Elena. Ia melangkah santai menuju gerbang raksasa berlapis baja hitam, mengabaikan puluhan laser merah dari senapan penembak jitu yang diarahkan tepat ke dahi dan jantungnya.
"Berhenti di sana, gembel!" suara seorang komandan penjaga terdengar dari megafon di atas menara. "Ini adalah wilayah terlarang Keluarga Dewangga! Satu langkah lagi, dan kami akan menjadikanmu daging cincang!"
Elena, yang berdiri tiga langkah di belakang Arya, menghunus pedangnya. "Tuan, penembak jitu berada di sektor jam dua, empat, dan sebelas. Titik buta kubah formasi ada di sektor—"
"Tidak perlu mencari titik buta," potong Arya tenang. "Mencari titik buta adalah cara kerja pencuri. Saat Sang Naga datang berkunjung, ia masuk melalui pintu utama."
Arya melangkah maju. Sepatunya menginjak garis batas yang memicu Formasi Segel Naga.
Seketika, kubah energi emas transparan itu bermanifestasi menjadi nyata. Aliran listrik spiritual yang mematikan meledak, menjalar seperti cambuk naga yang marah ke arah Arya. Serangan ini setara dengan seratus juta volt energi Qi murni.
Di ruang kendali, Bramantya dan para tetua Dewangga menonton dari layar monitor dengan seringai kejam. "Mati kau, bocah arogan!"
Namun, seringai mereka membeku seketika.
Alih-alih hangus terbakar, tangan Arya yang berlapis Qi Ranah Pembentuk Fondasi dengan santai mencengkeram 'cambuk listrik' emas tersebut. Arya tidak menghindar, tidak berteriak, dan bajunya bahkan tidak hangus sedikit pun.
[Ding! Menganalisis Struktur Formasi Segel Naga...]
[Analisis Selesai. Mendeteksi cacat fatal pada Simpul Energi Tengah (Dantian Formasi) akibat penggunaan material murahan.]
[Saran: Hancurkan simpul menggunakan Injeksi Qi Pembalik.]
Arya mendongak menatap kubah emas raksasa itu. "Sebuah karya seni yang menyedihkan. Kau menyebut ini pelindung mutlak?"
Arya menarik napas pendek. Ia memusatkan seluruh energi murninya ke telunjuk tangan kanannya, mengompresinya hingga ujung jarinya memancarkan cahaya biru bintang yang menyilaukan. Tanpa ragu, ia menancapkan jari telunjuknya langsung ke dinding kubah energi yang keras seperti berlian itu.
Jleb!
Jari Arya menembus formasi itu dengan mudah, seolah menembus selembar kertas basah. Arya kemudian menyuntikkan aliran Qi pembaliknya ke dalam sirkuit energi Segel Naga, menyebabkan aliran energi formasi itu saling bertabrakan satu sama lain dari dalam.
"Hancur," ucap Arya datar.
KRAAAAAAK! BUMMMMM!
Sebuah ledakan spiritual yang memekakkan telinga mengguncang pusat Ibukota. Kubah emas raksasa yang dibanggakan Keluarga Dewangga selama bertahun-tahun retak seperti kaca yang dipukul godam raksasa, lalu pecah menjadi jutaan serpihan energi yang turun seperti hujan salju di malam hari.
Gelombang kejut dari hancurnya formasi tersebut menyapu ke dalam area istana. Penara penjaga runtuh, puluhan penembak jitu terlempar dari atap, dan gerbang baja raksasa seberat dua puluh ton terpelanting hingga ke tengah halaman utama.
Di dalam ruang rapat, Bramantya Dewangga memuntahkan seteguk darah hitam kental. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak dipenuhi teror absolut. Formasi Segel Naga terikat dengan Qi miliknya; hancurnya formasi itu secara brutal telah merobek separuh nyawanya.
"T-Tidaaaak! Formasi pelindung... hancur dalam satu serangan?!" ratap seorang tetua keluarga dengan kaki gemetar. "B-Bukan manusia... dia iblis yang menyamar!"
Di luar, debu mulai menipis. Arya Permana melangkah melewati reruntuhan gerbang besi yang berasap, tangan kirinya santai di dalam saku mantel. Di belakangnya, Elena mengikuti dengan tatapan takjub yang tak bisa disembunyikan.
Arya menatap lurus ke arah bangunan utama istana, memproyeksikan suaranya ke seluruh penjuru properti menggunakan Qi.
"Bramantya Dewangga," suara Arya menggema pelan, namun mampu menggetarkan setiap jantung yang mendengarnya. "Pintumu sudah kubuka. Bersiaplah melunasi hutang darah Penerbangan 777 malam ini."