NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"I am not designing for anyone," (Saya tidak mendesain untuk siapa pun) jawab Gaby akhirnya, suaranya sedikit lebih kuat dari sebelumnya, berusaha menjaga martabatnya di depan kelas.

"Good," Melvin menegakkan tubuhnya, kembali menjadi asisten dosen yang profesional. "Prove it. For the next assignment, I want a 3D render of a garment that represents 'Sanctuary'. But remember, a sanctuary can easily turn into a cage if you're not careful."

(Buktikan. Untuk tugas berikutnya, saya ingin render 3D dari pakaian yang merepresentasikan 'Suaka'. Tapi ingat, suaka bisa dengan mudah berubah menjadi sangkar jika kamu tidak hati-hati.)

—Gabriella Queensa Vanessa, tinggal dengan sepupunya di London-sebagai mahasiswi baru di Oxford University bersama dua sahabat barunya, Sabrina dan Emilia. Tapi ada lagi sahabat baru Gaby yang bernama Melvin Jabulani-Blackwood. Dia awalnya baik, tapi....

Daripada kepo-mending chek it out ke ceritanya langsung!!!

Happy Reading~

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Homecoming

Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta

Empat tahun.

Empat tahun membiarkan dirinya dibuai oleh dinginnya angin London, oleh gemericik hujan yang tak pernah benar-benar pergi, oleh aksen Oxford yang perlahan melekat di lidahnya. Gabriella Queensa Vanessa Princess Kaito, atau yang sering di panggil Gaby, ia berdiri di tepi area kedatangan dengan koper hitamnya, merasakan sesuatu yang asing.

Bukan jaket tebal yang membalut tubuhnya sekarang. Bukan sweater wool yang biasa ia kenakan saat kuliah. Di sini, di tanah kelahirannya sendiri, udara terasa seperti menampar pipinya. Panas. Lembab. Menyengat.

Rambut pirang panjangnya yang terurai tertiup angin, beberapa helai menempel di sudut bibir. Gaby menyibakkannya dengan jemari lentik, mata biru mudanya menyipit menatap keramaian bandara. Suara orang bersaut-sautan, teriakan porter, tangisan anak kecil, deru mesin mobil di luar..semuanya terasa begitu hidup, begitu kacau, begitu... berbeda dari keteraturan steril yang ia tinggalkan di Heathrow.

Jadi beginilah rasanya pulang.

Ia hampir tersenyum getir, tapi kemudian dua bayangan besar menghalangi sinar matahari yang menyilaukan.

"Nona."

Gaby menegang. Refleknya hampir mengambil langkah mundur, tapi naluri yang diasah selama bertahun-tahun di kota asing membuatnya tetap berdiri tegak. Matanya meneliti kedua pria di depannya—tinggi, berbadan kekar, jas hitam rapi meskipun cuaca panas terik. Lalu ia melihatnya.

Bros perak. Bintang bersudut delapan.

Internal Corp.

Alisnya terangkat. Sebuah senyum tipis, menggores bibirnya.

"Where is my brother?" Suaranya datar, aksen Inggrisnya terasa begitu tebal di telinganya sendiri. Ah, ia harus membiasakan diri berbicara dalam bahasa Indonesia lagi.

Pria di sebelah kiri membungkuk hormat. "Mari, Nona. Ikuti kami."

Gaby tidak membantah. Ia membiarkan dirinya diapit oleh dua pria berbadan kekar itu, berjalan di antara mereka seperti seorang putri mahkota yang dikawal pasukan elit—karena bukankah itu yang sebenarnya terjadi? Ia adalah pewaris Internal Corp. Darah biru penguasa ekonomi Asia Tenggara.

Mobil hitam yang menunggu di VIP parking bukanlah mobil biasa. Gaby mengenali mereknya, tentu saja. Roll-Royce Phantom. Warna hitam pekat dengan kaca film gelap. Seorang supir berseragam membukakan pintu untuknya, dan Gaby melangkah masuk ke dalam kabin yang ber-AC dingin.

Udara sejuk menyapu wajahnya. Lega.

Tapi kemudian ia menoleh ke samping, dan semua kelegaan itu lenyap seketika.

Dia di sini.

Duduk di sisi lain kabin yang luas itu, dengan postur yang tak mungkin tidak ia kenali. Tubuh besar terbungkus kemeja hitam, dua kancing atas terbuka memperlihatkan dada bidang yang kokoh, sedikit rambut halus di sana. Rambutnya yang hitam pekat, sedikit berantakan seolah baru saja mengacak-acaknya dengan frustrasi—menambah kesan liar yang justru... menggoda.

Mata hitam kelamnya menoleh.

Bibir tebalnya membentuk senyum tipis.

"Long time no see, Vanessa."

Suara itu.

Deeper dari yang ia ingat. Lebih berat. Lebih... berbahaya. Seperti suara yang bisa membujuk iblis sekalipun untuk menurut.

Gaby menelan ludah. Jari-jarinya meremas pegangan pintu mobil tanpa sadar.

Oh, God...

Pria di sampingnya ini—Emrys Aetherion Kaito—di usianya yang ke-34, bukannya menua, malah semakin... hot. Kata itu terdengar norak di kepalanya sendiri, tapi tidak ada deskripsi lain yang lebih tepat. Ada sesuatu tentang rahang tegasnya, tentang bekas luka tipis di alis kirinya (hasil dari apa? Gaby tidak tahu), tentang aroma parfum kayu cendana dan danger yang menyelimutinya.

Berbahaya, pikir Gaby lagi. Pria ini berbahaya.

"Yes," jawabnya singkat. Suaranya keluar lebih tinggi dari yang ia inginkan.

Emrys mengamatinya sejenak—mata ke mata, biru melawan hitam—lalu ia menoleh ke depan. "Jalan," ujarnya pada sopir.

.

.

Di perjalanan menuju Menteng

Diam.

Itulah yang mengisi kabin mobil mewah itu selama beberapa menit pertama. Hanya suara mesin yang menderu halus dan bunyi ketukan jari Emrys pada layar iPad di pangkuannya.

Gaby melirik ke samping. Emrys sedang membaca laporan keuangan, tampaknya. Alisnya berkerut sesekali, bibirnya mengerucut tipis. Ia terlihat serius. Fokus. Begitu berbeda dari kenangan Gaby tentang pria ini tujuh tahun lalu, ketika ia masih remaja dan Emrys sering mengajaknya main catur di beranda belakang.

Dulu aku sangat clingy padanya.

And now? Gaby hampir tertawa miris. Sekarang ia duduk di sisi lain mobil seolah ada tembok kaca di antara mereka. Awkward. Canggung. Seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi ruang.

"Bagaimana kabar Bunda?" tanya Gaby akhirnya, memecah kebisuan.

Elena Sandra Kaito. Wanita yang membesarkannya setelah ibunya meninggal. Ibu tiri Gaby, sekaligus ibu kandung Emrys.

"Cukup baik," jawab Emrys singkat. Matanya tak lepas dari iPad.

Gaby menunggu tambahan kalimat. Mungkin "Dia merindukanmu" atau "Kamu sebaiknya segera pulang". Tapi tidak ada. Hanya kesunyian yang kembali mengisi.

Ia menggigit bibir bawahnya. Baiklah.

Lalu ingatan tentang kabar yang sempat ia dengar di London muncul tanpa diundang.

Emrys bercerai.

Seminggu yang lalu. Dengan seorang model terkenal, Nagetha Samosir Arendt Vartha. Pernikahan yang berlangsung setahun—yang Gaby kira akan bertahan lama, karena dari foto-foto yang ia lihat di media sosial, mereka terlihat bahagia—tiba-tiba berakhir dalam waktu singkat setelah sang istri melahirkan seorang bayi perempuan.

Seorang bayi.

Gaby tidak tahu detailnya. Media hanya berspekulasi. Ada yang bilang perselingkuhan, ada yang bilang perbedaan prinsip, ada yang bilang Emrys terlalu sibuk dengan pekerjaan. Tapi satu hal yang pasti: perceraian itu terjadi begitu cepat, seolah pernikahan itu sendiri hanyalah formalitas yang harus diselesaikan.

Menyakitkan? Atau justru melegakan? Gaby tidak bisa menebak.

Ia membuang pandangan ke jendela. Gedung-gedung Jakarta melaju cepat di balik kaca film gelap. Langit masih terik, polusi membuat semuanya tampak berdebu.

Pulang ke rumah setelah empat tahun, dan kakak tiriku baru saja bercerai. Sempurna.

Tepat ketika Gaby berpikir untuk kembali diam, ponsel Emrys bergetar.

Pria itu mengangkatnya dengan santai. "Bunda-"

"Emrys? Udah jemput Gaby?" Suara dari seberang terdengar jelas di keheningan kabin. Elena. Nada suaranya yang ceria dan penuh kasih sayang begitu khas, membuat Gaby tersenyum tanpa sadar.

Emrys menoleh sekilas ke arah Gaby, lalu kembali ke iPad-nya. Tangan kirinya tetap menempelkan ponsel ke telinga. "Udah," jawabnya singkat. Sesingkat mungkin.

"Mana, Bunda mau denger suaranya dong! Kasi hp kamu ke Gaby sekarang!"

Tanpa banyak komentar, Emrys menyerahkan ponselnya ke arah Gaby. Mata hitamnya menatap Gaby sebentar tanpa ekspresi, lalu kembali ke laporan keuangan.

Gaby menerima ponsel itu. Masih hangat dari sentuhannya.

"Halo, Bunda!" suaranya langsung berubah menjadi lebih lembut, lebih manis. Ini Gaby yang dulu. Sebelum London mengeraskan-nya.

"Halo sayangg~!" Suara Elena di seberang sana terdengar meledak-ledak dengan kegembiraan. "Kamu beneran pulang hari ini? Bunda udah nyuruh koki bikinin masakan terbaik buat menyambut kamu. Anak bunda~ Bunda udah kangen banget lohh~!"

Gaby tertawa kecil. Air matanya hampir meleleh di ujung matanya, tapi ia menahannya. "Bunda, Bunda tenangin diri dulu ihh, Gaby kan cuma pergi 4 tahun."

"4 tahun itu gak sebentar, Gaby! Udah, hati-hati di jalan, gak papa telat sampe rumah asal kamu selamat."

"Iya Bunda sayang, masih lama nih nyampe rumah. Tunggu aku yaaa~ Love you, Bunda! Muah muah muah!"

Gaby mengakhiri panggilan itu dengan senyum lebar, lalu mengembalikan ponsel ke Emrys. Pria itu mengambilnya tanpa komentar, tapi Gaby bisa melihat sudut bibirnya terangkat sedikit.

Hanya sedikit. Hampir tidak terlihat.

Tapi Gaby melihatnya.

**

Jakarta Pusat, Menteng

Rumah itu masih sama.

Bangunan bergaya Belanda dengan taman luas di depan, pohon-pohon rindang yang menaungi halaman, pagar besi hitam dengan ornamen emas di ujungnya. Gaby menghirup udara yang sekarang terasa lebih bersih—mungkin karena banyaknya pepohonan di area Menteng—dan merasakan sesuatu yang menggelitik di dadanya.

Rumah.

Pintu mobil terbuka. Supir membukakan pintu untuknya, dan Gaby melangkah keluar. Belum sempat ia berdiri tegak, seseorang sudah berlari ke arahnya.

"Gabyyy~!"

Serangkaian pelukan erat, wangi parfum bunga-bunga, dan tangisan kecil yang tertahan. Elena Sandra Kaito, wanita 54 tahun itu, memeluknya seerat mungkin meskipun tubuhnya yang agak pendek membuat Gaby harus sedikit menunduk.

"Sayangnya Bundaaa~ Bunda kangen banget lohh~!!" Elena melepaskan pelukan itu, lalu menatap wajah Gaby dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya meremas pipi Gaby dengan lembut. "Kamu kurusan. Makan di luar negri gak bener ya? Rambutmu juga panjang banget. Cantik sih, tapi Bunda minta kamu potong dikit ya?"

Gaby tertawa. "Baru juga sampai, Bunda udah ngatur-ngatur."

"Ya iyalah, Bunda kan sayang sama kamu."

Dari balik pintu utama, suara berat menyapa. "Jangan dimonopoli terus, Elena. Ayahnya juga mau."

Gaby menoleh.

Wystan Sirius Kaito berdiri di beranda, bersandar pada tongkat kayu hitamnya. Pria 58 tahun itu masih tampak gagah meskipun uban mulai menghiasi pelipisnya. Mata brown sugar-nya—yang diwariskan pada Gaby dalam versi biru—menatap putrinya dengan sorot yang hangat sekaligus penuh wibawa.

"Ayah!"

Gaby melepaskan diri dari Elena dan berlari kecil ke arah ayahnya. Ia berhambur memeluk pria itu, hampir menjatuhkan Wystan jika ia tidak segera menstabilkan diri dengan tongkatnya.

"My Gabriella..." lirih Wystan. Tangannya yang besar mengelus rambut pirang panjang putrinya, membelainya dengan lembut. Rambut yang sama dengan mendiang istri pertamanya. Mata biru yang sama.

Wystan mengalami dejavu sekilas. Alice.

Tapi ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan. Ada Elena yang setia di sampingnya, ada Gaby yang sekarang sudah dewasa di pelukannya.

"Sudah puas berkeliaran di negara orang?" Wystan mencolek hidung Gaby, membuat gadis itu mengerutkan hidungnya. "Sekarang waktunya kamu menampakkan kemampuan-mu itu. Hm?"

Gaby tersenyum. Ia melepaskan pelukan itu dan menatap ayahnya dengan tekad di matanya.

"Yeah," ucapnya. "Dan aku siap bekerja di perusahaan kita."

Internal Corp.

Perusahaan yang didirikan oleh kakeknya, dibesarkan oleh ayahnya, dan sekarang dipegang oleh Emrys. Tapi suatu saat—ketika Gaby benar-benar siap—perusahaan itu akan menjadi miliknya. Karena dialah pewaris sah. Darah daging Wystan Sirius Kaito.

Sementara Emrys... Emrys hanya anak tiri. Penerima sementara. Pengganti sampai Gaby dewasa.

Gaby menoleh ke belakang, mencari sosok pria yang sedari tadi diam di belakangnya.

Emrys berdiri di samping mobil, satu tangan di saku celana, menatap ke arahnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Angin Jakarta berembus lembut, menggerakkan rambut hitamnya yang sedikit berantakan.

Ia tidak tersenyum. Tidak mengucapkan selamat datang.

Dia hanya berdiri di sana, menyilangkan tangan di dada, dan menatap Gaby seolah berkata, "Ini rumahmu. Tapi ingat, untuk sekarang, aku yang berkuasa."

Gaby membuang pandangan.

Yeah, I know that.

.

.

.

Bersambung...

1
Jj^
Thor kasih visualnya Melvin yg rambut putih itu pasti cakep bgtt dah😁
Jj^: ok thor
total 3 replies
Jj^
terimakasih Thor😍
Jj^
lanjut Thor 🤗
Jj^
yg banyak update nya thor aku makin penasaran maaf ngelunjak 😁
Jj^
makin seru nih Thor🤩
Thinker Bully ><: aku juga😄👍
total 4 replies
Jj^
terimakasih Thor 🤗
lanjut update lagi thor
🤗
Jj^: siapp thor🤗
total 2 replies
Jj^
lanjut Thor 🤗
Jj^: semangat Thor aku selalu menunggu 🤗
total 2 replies
Thinker Bully ><
Keep up the good work for myself.
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!