Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Sang Dewi Kata
Disclaimer:
Cerita ini adalah karya fiksi dan FIKSI BERARTI TIDAK NYATA! Semua tokoh, kejadian, dan latar belakang dalam cerita ini adalah hasil imajinasi penulis dan tidak bermaksud mencerminkan kehidupan nyata siapa pun, baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada.
Beberapa tema dalam cerita menyentuh perbedaan budaya, nilai, dan keyakinan. Tujuannya bukan untuk mengajak, menyinggung, membenarkan, ataupun menentang kepercayaan mana pun.
Cerita ini ditulis sebagai bentuk eksplorasi emosional dan moral, bukan sebagai acuan hidup, teologi, atau panduan etika.
Pembaca yang bijak diharapkan membaca dengan pikiran terbuka, dan menyadari bahwa setiap karya fiksi memiliki kebebasan untuk bercerita tanpa batasan realitas.
Selamat membaca.
⊹ ──༺𝐁𝐘𝐍𝐊༻── ⊹
Hidup Nala Aleyra Lareina tak pernah penuh cahaya sorotan. Ia lahir dan tumbuh di sebuah kota kecil bernama Sukabumi, di mana sawah masih terbentang luas dan suara adzan senja menyelinap lewat jendela kayu rumahnya.
Di sanalah ia belajar bahwa dunia bisa sederhana—dan sekaligus kejam—bagi mereka yang tak punya apa-apa. Nala memiliki tinggi 165 cm dengan tubuh ramping. Wajahnya bulat manis, kulit putih bersih, mata besar yang selalu tampak berbinar ketika bicara tentang hal yang ia cintai: menulis.
Rambutnya panjang hitam pekat, lebat, sering ia biarkan tergerai atau diikat sederhana tanpa banyak aksesori. Senyumnya lembut, tapi di balik itu tersimpan kegigihan dan keteguhan hati yang jarang dimiliki anak seusianya.
Nala bukan putri bangsawan, bukan pula anak orang berada. Ayahnya seorang buruh tani, ibunya ibu rumah tangga yang setiap hari berjuang menjaga dapur tetap berasap. Hidup mereka sederhana, sering kali pas-pasan, tapi di tengah kesulitan itu Nala menemukan satu hal yang tak pernah bisa diambil siapa pun: kata-kata.
Sejak remaja, ia menulis. Menulis saat bahagia, menulis saat marah, menulis bahkan ketika dunia seakan menutup pintu di hadapannya. Dari catatan kecil di buku tulis sekolah, hingga akhirnya berani mengirimkan naskah ke penerbit di Jakarta. Dan perlahan, namanya mulai terdengar.
Kini, di usia dua puluh dua, ia bukan lagi sekadar gadis kampung dengan mimpi besar. Ia telah menjelma menjadi penulis profesional—karya-karyanya menyentuh jutaan hati, mengajaknya keluar dari lingkaran kecil yang dulu sempat mengurungnya.
Namun, meski namanya sudah dikenal banyak pembaca, hatinya tetaplah sama: seorang Nala sederhana yang rindu rumah, rindu suara ibunya memanggil dari dapur, rindu tawa adik perempuannya yang cerewet, rindu teguran kakaknya yang selalu mengingatkan agar jangan terlalu “bermimpi tinggi.”
Nala selalu percaya satu hal: hidup bukan tentang siapa yang paling kaya, atau siapa yang paling dipuja, tapi tentang bagaimana bertahan, bagaimana menjaga hati agar tetap utuh di tengah segala kehilangan.
Pagi Jakarta selalu sibuk, dan begitu pula hidup Nala. Usia dua puluh dua, namun agenda harianya bisa menyaingi eksekutif papan atas. Bedanya, Nala bukan pebisnis, melainkan seorang penulis—nama yang karyanya sudah berulang kali menembus rak bestseller dan tak jarang trending di media sosial.
Meja kerjanya di apartemen penuh dengan kertas berisi coretan, laptop yang masih terbuka pada file naskah, dan cangkir jus jeruk yang sudah setengah habis. Di layar, bab baru menunggu diselesaikan. Di kalender dinding, jadwal padat menatapnya tanpa ampun.
Pukul 08.00 meeting online dengan editor, membahas deadline revisi novel terbaru. Lanjut pukul 10.00 wawancara dengan majalah sastra. Setelah itu pada pukul13.00 jumpa pembaca di sebuah pusat perbelanjaan besar, ribuan penggemar sudah menunggu.
Di lanjutkan dengan pukul 16.00 rapat dengan tim produksi film, membicarakan adaptasi salah satu novel karyanya. Dan malam nya pukul 20.00 kembali menulis, menebus halaman-halaman yang tertunda.
Nala terkadang heran pada dirinya sendiri. Gadis yang dulu hanya menulis diam-diam di kamar sempit Sukabumi, kini dikejar waktu, dipuja pembaca, bahkan karyanya akan diangkat ke layar lebar.
Namun di balik semua itu, ia tetaplah Nala: penulis yang mencintai kata-kata, dan penulis yang jatuh cinta pada kegelapan cerita. Genre angst adalah rumahnya. Ia mengagumi Dante Alighieri, Pramoedya Ananta Toer, dan Gustave Flaubert juga seorang idol terkenal asal negeri gingseng yang menjadi sumber inspirasi terbesar bagi nya —dan seperti mereka, ia ingin karyanya meninggalkan bekas luka sekaligus cahaya di hati pembacanya.
Sesaat sebelum berangkat ke acara jumpa pembaca, Nala menatap cermin. Gaun sederhana membungkus tubuh mungilnya, wajahnya dirias natural oleh tim, tapi matanya tetaplah mata seorang gadis yang dulu takut bermimpi terlalu tinggi. Ia menghela napas.
“Ini semua nyata… kan?” bisiknya pada dirinya sendiri.
Nyata atau tidak, hidup Nala baru saja memasuki babak paling sibuk—dan tanpa ia tahu, juga paling berbahaya—dalam perjalanan cintanya.
Tepat pukul satu siang Nala menghadiri acara yang memang rutin di adakan setiap kali dia menerbitkan sebuah buku baru ke pasaran, lampu panggung menyilaukan, tapi sorakan para pembaca justru yang membuat jantung Nala berdentum lebih kencang.
Ia melangkah naik ke atas panggung, menyunggingkan senyum ragu tapi hangat. Di depan sana, ratusan pasang mata menatapnya—bukan sekadar menatap penulis, tapi menatap seseorang yang karyanya pernah menyentuh hati mereka.
“Selamat siang semuanya…” suara Nala agak gemetar, mikrofon bergetar sedikit di tangannya. Sorak dan tepuk tangan langsung membalas.
“Hari ini kita kedatangan penulis yang sedang jadi sorotan. Bukunya Sehelai Luka, Seribu Doa akan segera difilmkan. Bagaimana perasaan mbak Nala?” tanya seorang pria yang merupakan MC di acara tersebut, Nala terdiam sebentar, bibirnya melengkung.
“Sejujurnya… seperti mimpi. Saya dulu menulis hanya untuk menyembuhkan diri sendiri. Saya tidak pernah menyangka, cerita yang lahir dari luka pribadi bisa sampai ke titik ini. Jadi, kalau sekarang difilmkan, itu bukan tentang saya lagi. Itu tentang semua orang yang pernah merasa kehilangan, dan saya hanya jadi jembatan kecilnya,” ujar nya yang membuat sorak membahana lagi.
Beberapa pembaca di barisan depan terlihat mengusap mata, terharu.
Setelah beberapa saat berpidato dan menjelaskan tentang buku tersebut, Nala akhirnya di pandu untuk memasuki acara sesi tanya jawab dengan pembaca nya. Seorang gadis muda dengan jilbab abu-abu mengangkat tangan, suaranya gemetar.
“Kak Nala… aku dahulu membaca novel kakak saat sedang sakit parah. Cerita kakak yang Langit Tak Pernah Diam itu yang membuat ku bertahan. Terimakasih ya, Kak…” ujar nya yang membuat Nala tercekat. Ia turun dari kursinya, menghampiri gadis itu, lalu menggenggam tangannya erat.
“Kamu yang harus kuat. Kalau kamu bisa ada di sini hari ini, berarti kamu lebih tangguh dari tokoh mana pun yang pernah aku tulis,” ujar nya yang membuat tepuk tangan lagi, kali ini bercampur isakan kecil dari penonton.
Setelah gadis itu selesai bertanya tiba-tiba seorang wanita muda dengan wajah gugup berdiri dari kursinya. Tangannya memegang mikrofon erat-erat, suaranya bergetar saat berbicara.
“Kak… aku sebenarnya juga penulis. Tapi hanya menulis di platform online gratis. Cerita-ceritaku memang banyak dibaca orang, tapi… terkadang aku malu. Orang sering bilang aku bukan penulis, karena aku tidak punya buku cetak,” ujar nya dengan wajah tertunduk, dia takut jawaban yang akan keluar dari Nala tidak sesuai harapannya, karena bagaimanapun Nala penulis besar.
Ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju padanya—dan juga pada Nala. Sesaat, Nala terdiam. Kata-kata itu terasa familiar, karena ia pernah berada di titik yang sama. Bibirnya kemudian melengkung tipis, lalu ia melangkah pelan mendekat ke arah wanita itu.
“Ayo naik ke atas panggung bersamaku,” ucap Nala sambil mengulurkan tangan.
Wanita itu sempat terkejut, tapi akhirnya menerima uluran itu dan naik, disambut tepuk tangan riuh dari penonton. Begitu berada di panggung, Nala menatap hadirin dengan mata berkilat.
“Sebelum aku bicara lebih jauh, aku ingin tahu… apa ada di sini yang juga merasa seperti dia? Merasa rendah diri karena menulis hanya di platform online, atau merasa belum cukup layak disebut penulis?” tanya Nala, matanya mengedar ke sekelilingnya.
Awalnya tidak ada yang bergerak. Hening. Namun, perlahan, dua orang mengangkat tangan—seorang pria muda dan seorang perempuan dengan jilbab cokelat. Mereka ragu, tapi akhirnya ikut naik. Penonton menyambut dengan sorak dukungan. Nala menatap mereka bertiga, lalu menoleh kembali ke arah audiens. Senyumnya lembut, tapi suaranya mantap.
“Anggapan bahwa penulis hanyalah mereka yang punya buku cetak… itu pemikiran yang sangat sempit. Karena sejatinya, penulis adalah siapa pun yang menulis—tidak peduli apakah tulisannya ada di platform gratis, di memo ponsel, atau bahkan hanya di buku catatan kecil yang kusut.” Nala berhenti sejenak, lalu menatap mata para pembaca di hadapannya.
“Kalau penulis hanya boleh disebut penulis ketika punya buku cetak, lalu bagaimana dengan Pramoedya Ananta Toer, salah satu kebanggaan kita, menulis dalam keterasingan, hanya dengan mengandalkan ingatan karena kertas dirampas saat ia diasingkan? Bagaimana dengan Chairil Anwar yang puisinya awalnya hanya tercatat di lembaran kertas sederhana? Kertas kusut? Apa mereka bukan penulis?” ujar Nala menatap semua orang yang menatap nya kagum.
Suasana sontak bergemuruh. Sebagian penonton mengangguk, sebagian lagi terharu, bahkan ada yang langsung mengusap air mata.
Nala menghela napas kecil, menatap tiga orang yang kini berdiri di sampingnya dengan penuh keyakinan.
"Kalau kalian tahu, bahkan J.K. Rowling dulu sempat ditolak puluhan penerbit sebelum akhirnya Harry Potter terbit. Ernest Hemingway pernah menulis di kertas bekas karena tidak mampu membeli kertas yang baru. Dan, mereka semua tidak berhenti menulis meskipun kondisi tidak mendukung. Itu karena mereka tahu, yang menjadikan seseorang penulis adalah tulisannya, bukan medianya," Lanjut nya.
Nala lalu menoleh lembut pada wanita yang pertama kali angkat bicara, juga kepada dua orang lain yang berdiri di sebelahnya.
"Aku dulu juga pernah merasa rendah diri," ucap Nala jujur, suaranya sedikit bergetar. "Aku menulis pernah di platform gratis, sama seperti kalian. Aku sering berpikir, apakah ada gunanya? Karena orang-orang bilang, penulis itu harus punya buku cetak harus terkenal, harus punya banyak pembaca. Tapi kenyataannya, justru di platform itulah aku belajar banyak, menemukan pembaca yang menghargai tulisanku, sampai akhirnya aku bisa berdiri di sini. Aku pernah di tuduh sesat karena ikut pada prinsip aliran sastra realisme, aku pernah di rendahkan orang terdekat ku, aku pernah merasakan semua yang kalian rasakan sebelum semua ini. Dan aku mengerti bagaimana rasanya," lanjut Nala.
Penonton mulai hening, beberapa menatap Nala dengan mata berkaca-kaca.
"Aku janji akan membaca karya kalian," lanjutnya sambil tersenyum hangat. "Kalau kalian izinkan, aku bahkan akan membagikannya agar lebih banyak orang tahu. Karena setiap tulisan punya jiwa, dan setiap penulis berhak didengar."
Sorak-sorai mulai terdengar, beberapa orang bertepuk tangan. Para fans yang tadi ragu kini terlihat bangga dengan keberanian tiga orang di atas panggung.
"Terimakasih banyak kak," ucap tiga orang itu dengan wajah haru, tidak menyangka akan dapat jawaban yang membela mereka sejauh itu.
Tiga orang penulis muda itu hampir menunduk menahan tangis. Bagi mereka, ucapan Nala terasa seperti pelukan hangat setelah lama merasa sendirian.
"Aku tahu, jadi penulis itu tidak mudah," ucap Nala lagi, kali ini menatap ke arah seluruh penonton. "Kita sering berjuang dalam diam, menghadapi komentar orang yang meremehkan, bahkan orang terdekat yang bilang menulis itu cuma hobi yang membuang waktu. Tapi ingat, kalian tidak sendirian. Ada banyak orang di luar sana yang menunggu cerita kalian, menunggu untuk disentuh oleh kata-kata kalian," Tutup nya yang seketika itu pun ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan.
Kamera-kamera ponsel para fans terangkat, mengabadikan momen itu. Nama Nala bukan hanya bergema sebagai penulis terkenal, tapi juga sebagai suara bagi penulis-penulis lain yang masih berjuang.
Setelah sesi tanya jawab berakhir, tibalah giliran sesi tanda tangan buku. Antrean mengular panjang. Ada yang membawa novel baru, ada juga yang membawa karya lama Nala yang sudah lusuh karena terlalu sering dibaca.
Di meja panjang, Nala menuliskan pesan personal untuk tiap nama:
“Teruslah menulis kisahmu sendiri.”
“Semoga kamu selalu menemukan cahaya.”
“Kamu lebih berharga daripada yang kamu kira.”
Di sela-sela itu, beberapa pembaca meminta foto, ada juga yang memberi hadiah kecil: boneka, bunga, bahkan surat tangan. Nala menerima semuanya dengan senyum tulus. Meski lelah, Nala merasakan sesuatu yang tak bisa ditukar dengan apa pun: cintanya pada kata-kata benar-benar berbalas.
☾ ── ❖ ── ☾
Setelah selesai dengan acara jumpa pembaca akhirnya Nala memutuskan untuk langsung pergi ke rapat film, yang di adaptasi dari novel nya.
Sore itu, Nala memasuki sebuah gedung tinggi di kawasan Sudirman. Jantungnya berdegup kencang. Ruangan rapat besar sudah dipenuhi orang: produser, sutradara, penulis skenario, dan beberapa staf produksi. Poster sementara novelnya, Sehelai Luka, Seribu Doa, terpampang di layar proyektor. Seorang pria paruh baya, produser film, tersenyum menyambut.
“Selamat datang, Nala. Akhirnya kita bisa duduk bersama. Novelmu luar biasa, dan kami yakin film ini bisa mengguncang banyak hati,” ujar nya sembari tersenyum tipis. Nala menunduk sopan, tangannya dingin.
“Terima kasih, Pak. Jujur… saya masih tidak percaya cerita saya bisa sampai sejauh ini,” ujar nya yang membuat sutradara muda dengan kemeja putih mulai bicara, penuh semangat.
“Kami ingin film ini tetap setia pada nuansa aslinya: getir, emosional, tapi penuh harapan. Tapi tentu ada penyesuaian—durasi film terbatas, jadi beberapa bagian harus dipadatkan,” ujar nya semua orang menyimak termasuk Nala yang mendengarkan dengan seksama, mencatat di buku kecilnya.
Ia sudah tahu akan ada kompromi, tapi mendengar langsung kata ‘dipadatkan’ membuat dadanya sedikit sesak.
“Misalnya, adegan di Bab 12, saat tokoh utama menunggu di rumah sakit. Itu mungkin akan kami gabung dengan Bab 15 supaya lebih efisien,” lanjut penulis skenario yang menyetujui ucapan sutradara muda itu, Nala mengangkat wajahnya, suaranya tenang tapi tegas.
“Saya paham soal efisiensi, tapi saya harap esensinya jangan hilang. Bab 12 itu inti—di situ tokoh belajar bahwa penantian adalah bentuk cinta paling sunyi. Kalau itu dihapus, tokohnya kehilangan lapisan terdalamnya,” ujar Nala yang membuat ruangan mendadak hening. Semua menatap Nala hingga akhirnya produser lalu mengangguk pelan.
“Saya suka cara kamu melihatnya. Oke, kita pertahankan adegan itu. Kita butuh penulis asli untuk menjaga roh ceritanya,” Ujar nya sembari tertawa pelan, bukan tawa merendahkan tapi gawa ketika seseorang kagum dengan orang yang bisa mempertahankan prinsip nya.
Perlahan, rapat berjalan lebih cair. Nala mulai berani menambahkan pendapat: tentang pemilihan lokasi, siapa aktor yang cocok, bahkan soundtrack yang seharusnya mendukung suasana. Rapat berjalan cukup alot hingga 2 jam berlalu saat rapat usai, sutradara mendekat, menepuk bahu Nala.
“Kamu bukan hanya penulis novel, kamu juga punya insting visual yang kuat. Jangan segan kasih masukan, ya. Film ini… akan jadi milikmu juga,” ujar nya yang membuat Nala mengangguk hormat.
"Terimakasih banyak pak," ujar nya lebih ke seluruh yang hadir di acara tersebut.
Dia kebetulan datang ke sana sendiri karena Davin orang yang biasa ikut menemani nya kemana pun ia pergi tidak bisa hadir.
Davin Pratama adalah pria kelahiran Solo, tahun 1999, yang kini bekerja bersama Nala sebagai editor pribadi sekaligus promotor karyanya. Pria berkulit sawo matang dengan postur tegap itu memiliki tinggi sekitar 178 cm. Rambutnya hitam kecoklatan sedikit bergelombang, sering ditata rapi ke samping, memberi kesan profesional namun tetap santai.
Wajahnya bersih dengan garis rahang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata teduh berbingkai kacamata tipis yang menambah aura intelektual.
Davin merupakan lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Gadjah Mada sama seperti Nala, dengan fokus studi di bidang kritik sastra modern. Saat kuliah, ia dikenal sebagai mahasiswa cerdas, perfeksionis, dan aktif dalam berbagai komunitas literasi. Dari sanalah ketertarikannya terhadap dunia penerbitan tumbuh, hingga akhirnya ia bekerja sebagai editor.
Sifatnya tenang, penuh perhitungan, dan cenderung perfeksionis dalam pekerjaannya. Davin dikenal jarang berbicara banyak, namun sekali ia mengomentari naskah, biasanya kritiknya tajam, jujur, tapi tetap membangun. Meskipun terlihat dingin, sebenarnya ia cukup peduli pada penulis yang dibimbingnya—terutama pada Nala.
Sebagai promotor, Davin tidak hanya membantu memperbaiki karya, tetapi juga memastikan novel-novel Nala mendapat sorotan di berbagai media dan platform. Ia lihai dalam memanfaatkan tren, punya insting tajam membaca pasar, sehingga kehadirannya menjadi salah satu alasan Nala bisa berkembang sejauh ini.
Di balik sikap profesionalnya, Davin memiliki sisi sederhana khas anak Solo. Ia masih sering pulang kampung, dekat dengan keluarga, dan punya kebiasaan unik: selalu membawa buku catatan kecil ke mana pun pergi, tempat ia menulis kutipan atau ide-ide spontan. Namun di balik itu semua dia terkadang menyimpan rasa lebih pada Nala yang dia anggap begitu luar biasa.
"Sama sama Nala, kalau begitu hati hati di jalan," ujar nya yang membuat Nala mengangguk sopan sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu dengan senyum yang sulit dihapus.
Di balik lelahnya hari yang penuh acara, ia merasa satu langkah lagi mimpinya semakin nyata.
Namun di luar gedung, langit Jakarta mulai meredup. Nala tak tahu—di balik semua kesibukannya sebagai penulis, takdir sedang menyiapkan kejutan: sebuah pertemuan yang tak pernah ia rencanakan.