Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
.
“Tolong…! Siapapun tolong aku…!”
Amanda terus berlari. Napasnya memburu membuat dadanya terasa sesak. Keringat dingin membasahi kulitnya. Debu beterbangan di belakangnya, jejak pelariannya yang tergesa. Amanda melirik ke belakang sekali lagi, empat pria berbadan besar itu masih membuntuti dengan jarak yang semakin dekat.
Setitik harapan muncul saat terlihat di depannya, sebuah mobil mewah berwarna merah tua tampak hendak melaju keluar dari parkiran taman. Dengan cepat, Amanda berlari menuju mobil itu, hingga jarak tinggal sejengkal. Dengan satu tarikan napas panjang, ia melompat, tubuhnya berguling melampaui atas kap mobil, lalu mendarat tepat di samping pintu bagian penumpang.
Tok… tok…tok..
Dengan penuh harap, Wanita itu mengetuk kaca mobil. Tampak olehnya seorang pria membuka kaca. Sebagian rambutnya yang telah memutih, menunjukkan usianya yang tak lagi muda. Namun, terlihat jelas olehnya sisa-sisa ketampanan masa muda.
“Ada apa?!" Wajah pria itu yang terlihat kesal membuat Amanda merasa bersalah.
“Tolong saya, mereka mengejar saya,” ucap Amanda, sambil menunjuk ke arah empat pria yang semakin dekat.
Pria itu menoleh mengikuti arah telunjuk Amanda. Tampak ragu sebentar, tapi akhirnya membuka pintu, mengambil jas dan dasinya yang berada di jok di sampingnya, lalu melempar ke jok belakang. Membiarkan Amanda duduk. Amanda bernapas lega.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan di kaca mobil membuat Amanda menegang. Buru-buru wanita itu melorot menyembunyikan diri di bawah kursi sebelum pemilik mobil menurunkan kaca.
“Apa Anda melihat seorang wanita berlari ke arah sini?” Salah satu dari empat pria itu bertanya.
Pria itu jelas tahu siapa yang dimaksud. “Oh, orang gila yang rambutnya acak-acakan tadi? Aku lihat tadi dia lari ke arah sana,” jawabnya, menunjuk ke arah yang berlawanan.
Salah seorang preman melongok memeriksa ke dalam mobil dan tak mendapati siapapun. Dengan isyarat tangannya, preman itu pun memberi kode pada tiga temannya untuk melanjutkan pencarian.
“Dasar orang-orang tidak tahu terima kasih!” gerutu pemilik mobil setelah mereka pergi. Menarik tuas mobil dan melaju meninggalkan tempat itu.
Amanda yang bersembunyi di bawah, antara kursi dan dasbor, perlahan kembali ke tempat duduknya dengan jantung yang masih berdebar kencang.
“Hufttt…” Amanda membuang udara melalui mulut. Dadanya terasa plong. "Selamat,” gumamnya.
Ckiittt…
Mobil berhenti mendadak! Membuat Amanda terkejut hingga kepalanya membentur dasbor.
“Apa yang kau lakukan di mobilku?” Pemilik mobil bertanya dengan suara keras. Dia baru menyadari keberadaan wanita dalam mobilnya. Dia bahkan mengira wanita itu orang gila.
Amanda terdiam. Ia tidak tahu apa maksud pria itu. Apakah mungkin dia lupa kalau dia telah menolongnya. Wanita itu menghela nafas panjang. Sepertinya masalahnya belum berakhir.
“Anda yang tadi menyuruh saya masuk!” jawab Amanda pelan.
Pria itu memang tak secara eksplisit meminta dirinya masuk, tapi saat dirinya mengetuk kaca mobilnya, memohon pertolongan saat dikejar, pria itu membuka pintu. Bukankah itu sama saja?
“Aku tidak akan menyuruhmu masuk kalau kau tidak mengetuk pintu dan merengek,” sergah pria itu.
“Saya juga tidak akan masuk jika Anda tidak membuka pintu." Lelah yang melanda membuat Amanda tanpa sadar berbicara dengan nada tinggi. Lututnya saja masih bergetar karena terus berlari tadi.
Mendengar nada bicara Amanda, membuat pria itu merasa geram. “Dasar manusia tidak punya sopan santun. Apa seperti itu caramu berbicara dengan orang yang lebih tua? Apa lagi orang itu baru saja menolongmu!”
“Oh, sudah tua rupanya? Pantas saja pikun,” ujar Amanda, tak kuasa menahan kesal. Bagaimana bisa ada orang dengan model seperti itu.
“Apa kau bilang?” Wajah pria itu memerah.
“Kalau tidak pikun apa namanya? Kamu yang menyuruhku masuk, waktu ada preman yang mengejarku. Tapi belum sampai beberapa menit kamu sudah lupa.”
“Lalu kenapa kau masih di sini? Seharusnya kau segera keluar dari mobil setelah orang yang mengejarmu itu pergi. Sudah ditolong tidak tahu terima kasih, malah berbicara tidak sopan,” umpatnya kesal.
“Aku keluar dari mobilmu? Lalu bagaimana jika preman itu tidak menemukan aku di tempat yang kau tunjuk, lalu kembali ke tempat semula dan menemukanku? Itu bunuh diri namanya?”
Pemilik mobil semakin geram mendengar suara keras Amanda. “Lalu sekarang, tunggu apa lagi? Ini sudah jauh, orang yang mengejarmu tadi tidak mungkin akan mencarimu sampai tempat ini. Sana cepat keluar! Karena aku juga harus cepat pulang!”
Amanda memperhatikan sekeliling. Mobil yang dia tumpangi berhenti di tempat yang sangat sepi. Jauh dari keramaian. Wanita itu menelan ludahnya kasar. Tidak mungkin ia turun di sini.
“Kau benar-benar manusia tidak punya perasaan,” kesal Amanda. “Apa pantas menurunkan seorang wanita di tempat seperti ini. Apa kau ini diciptakan layaknya pohon pisang? Berjantung, tak berhati!” Amanda tak bisa menahan amarah dan kepanikan.
“Kau…!” Jari telunjuk pria itu mengarah ke wajah Amanda. “Kalau aku tidak punya hati, aku sudah menyerahkanmu pada preman-preman tadi!”
Dengan emosi yang memuncak, pria itu turun dari mobil, lalu membuka pintu bagian penumpang dan menarik tangan Amanda dengan kasar.
“Ayo cepat turun! Aku tidak punya waktu untuk meladenimu!”
Amanda menjadi panik. “Tidak!” teriaknya panik. Sebelah tangannya berpegangan pada jok. “Aku mohon, aku tidak mau turun di sini. Tempat ini sangat sepi. Tolong berikan aku tumpangan untuk malam ini saja!"
Dengan kasar, pria itu melepaskan tangan Amanda, mengusap wajahnya frustasi. Lalu menghentakkan kaki kesal sebelum kembali masuk ke dalam mobil.
“Awas saja jika kau melakukan sesuatu yang buruk di rumahku nanti!” hardiknya sebelum mobil melaju.
“Kau pikir aku ini maling?” Amanda membentak. Ia tidak terima dituduh yang bukan-bukan.
“Dan jangan merepotkan para pelayanku. Mereka sudah cukup lelah dengan pekerjaan mereka!”
“Aku orang yang cukup tahu diri. Dan aku bukan anak kecil yang tidak bisa mengurus diri sendiri,” jawab Amanda ketus.
Karena kesal, pria itu secara tiba-tiba menambah kecepatan mobilnya. Namun, justru semakin kesal karena Amanda tidak berteriak ketakutan.
“Apa selalu seperti ini sikapmu pada seorang wanita? Kau sama sekali tidak seperti pria gentleman!” ledek Amanda.
Pria itu melirik sinis, lalu berkata, “Memangnya kau ini wanita? Aku tidak yakin."
“Kau…!!” Amanda bersedekap dan memalingkan wajahnya. Menatap jalanan malam di luar mobil lebih baik daripada berdebat dengan pria menyebalkan ini, yang sayangnya adalah dewa penyelamatnya.
*
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah pria itu. Rumah yang sangat mewah. Pria itu segera turun lalu berbicara dengan ketus. “Cepat turun! Jangan menunggu orang membuka pintu untukmu. Kau bukan seorang Putri!”
Amanda turun dengan diam, memperhatikan rumah besar itu. “Mewah sekali rumahnya,” gumamnya.
“Rani…! Rani…!”
Dengan suaranya yang menggelegar, pria itu berteriak memanggil seseorang. Amanda yang berdiri tak jauh darinya sampai harus menutup telinga karena kaget.
Tak lama, seorang gadis cantik muncul, memeluknya. “Ayah… Putri sudah nungguin ayah dari tadi,” ucap gadis itu.
“Maaf, tadi ada sedikit masalah di jalan,’ ucap pria itu sambil memeluk putrinya.
“Masalah?” Putri melepaskan pelukan dari ayahnya. Menoleh ke samping, ia terkejut melihat ayahnya pulang bersama seorang wanita dengan penampilan berantakan.
“Ayah…?” panggilnya. “Siapa dia, Yah? Apa yang telah Ayah lakukan padanya?” Gadis itu bertanya, menatap ke arah ayahnya dan Amanda bergantian. Matanya meneliti, menyelidik penuh pertanyaan.
“Orang terlantar." Pria itu menjawab acuh. Membuat Amanda yang mendengar seketika mengeraskan rahang dan mengepalkan tangan.
Putri mengarahkan pandangannya pada Amanda. Matanya menyipit, keningnya berkerut seolah sedang mengingat-ingat. Hingga, sedetik kemudian mata gadis itu terbelalak dengan mulut terbuka lebar.
“Ya, Allah..! Bu Manda..!”
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.