NovelToon NovelToon
Gadis Penakluk Tuan Ceo Mandul

Gadis Penakluk Tuan Ceo Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: KGDan

Karena panggilan sahabatnya, yang telah bekerja di ibukota, Esther Valencia pun datang ke ibukota, untuk bekerja di perusahaan sahabatnya.

Siapa sangka, ia dijual sahabat yang ia percayai selama ini, kepada lelaki hidung belang di sebuah club malam.

Tubuh panas Esther menabrak tubuh seorang pria, saat ia melarikan diri dari kejaran pria hidung belang, yang bertepatan pria tersebut akan masuk ke dalam sebuah kamar.

Esther pun akhirnya menghabiskan cinta satu malam dengan pria asing, karena pengaruh obat yang diberikan sahabatnya ke dalam minumannya.

Bagaimana sikap Esther setelah ia sadar dari pengaruh obat, kalau ia telah tidur dengan seorang pria yang tidak ia kenal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 1.

"Mau kemana kita?" tanya Esther setengah di seret Vera Wesley, sahabat Esther.

"Aku akan mengajakmu ke tempat yang menyenangkan!" jawab Vera sembari tersenyum penuh arti.

Vera mendorong Esther masuk ke dalam taksi online yang ia panggil.

Mobil pun meluncur membawa mereka ke tempat yang akan mereka tuju.

Esther dan Vera berteman sejak mereka duduk di bangku kelas satu menengah pertama di desa mereka.

Setelah Vera lulus sekolah menengah atas, ia diajak oleh kerabatnya ke ibukota untuk bekerja.

Setelah satu tahun di ibukota, Vera memanggil Esther untuk datang ke ibukota.

Vera menawarkan Esther lowongan pekerjaan, di perusahaan tempat ia bekerja.

Esther baru saja ditinggal mati Ibunya tiga bulan yang lalu, setelah kematian Ayahnya satu tahun yang lalu karena penyakit jantung.

Mendapat panggilan dari Vera untuk bekerja ke ibukota, Esther pun setuju untuk pergi ke ibukota.

Mengingat di desa mereka, tidak memungkinkan ia mendapatkan pekerjaan, setelah kehilangan ke dua orang tuanya.

Dengan tabungan yang tidak seberapa, Esther pun berangkat ke ibukota.

Baru saja satu jam ia sampai di apartemen sederhana Vera, sahabatnya itu sudah mengajaknya ke suatu tempat.

Ia di dandani dengan pakaian yang terlihat begitu seksi, dengan riasan wajah yang membuat Esther seperti bukan dirinya.

Awalnya Esther menolak memakai pakaian yang diberikan Vera.

Karena Vera mengatakan, ia harus terlihat cantik di depan Bos perusahaan tempat sahabat nya itu bekerja, akhirnya Esther yang polos terpaksa menuruti, apa yang dilakukan Vera pada dirinya.

Mobil berhenti di depan sebuah gedung club malam.

Dengan susah payah Esther melangkah, karena belum terbiasa memakai sepatu yang bertumit tinggi.

"Pelan-pelan jalannya, aku tidak dapat berjalan dengan kencang!" tegur Esther kepada Vera.

Vera melangkah tidak sabaran ingin segera sampai.

Mata Esther nanar melihat tempat yang mereka tuju, membuatnya merasa tidak nyaman.

Suasana tempat itu sangat berisik, dengan pencahayaan lampu yang berkelap-kelip terlihat temaram.

Suara musik yang kencang, membuat orang-orang yang ada di sana terlihat bergoyang dengan bahagia.

Esther ingin menutup telinganya mendengar suara hingar bingar, yang terdengar tidak nyaman ia dengar.

Ia ingin sekali pergi dari sana.

Vera membawanya ke sebuah ruangan.

Ia melihat dalam ruangan itu, ternyata sudah ada beberapa pria dan wanita duduk di sofa.

Tangannya ditarik Vera masuk ke dalam, dan tanpa mengatakan apa pun kepadanya, Vera membawanya duduk pada sofa yang kosong.

Ia dibawa duduk bergabung di samping seorang lelaki, yang tengah merangkul seorang wanita.

Ruangan itu tidak seberisik ruang utama di luar ruangan tersebut.

Tangan Esther membenarkan pakaiannya, karena sedikit naik memperlihatkan pahanya saat ia duduk.

"Tuan!" panggil Vera tersenyum manja kepada pria yang duduk di sampingnya.

"Apakah dia orangnya yang kamu janjikan padaku?" tanya pria itu melirik Esther.

"Benar, Tuan!" jawab Vera.

Pria itu memandang Esther, dengan tatapan nanar dari atas kepala sampai bawah kaki Esther.

"Mm.. sangat indah! aku sangat menyukainya!" pria itu menjilat bibirnya melihat Esther, dengan pandangan ingin sekali menyentuh Esther.

Sementara itu, Esther mengedarkan pandangan matanya ke sekitar ruangan itu.

Ia merasa semakin tidak nyaman melihat tempat yang mereka tuju tersebut.

"Vera! kenapa kita datang kesini? apakah memang ditempat seperti ini untuk bertemu dengan Bos mu membahas pekerjaan?" tanya Esther dengan perasaan gelisah.

"Tentu saja!" jawab Vera sekenanya, lalu meraih gelas minuman dari atas meja, "Nah, kamu minum dulu!"

"Minuman apa ini? aku tidak mau! aku mau jus, atau air putih saja!" tolak Esther mendorong gelas yang diberikan Vera.

Vera diam-diam merasa kesal dengan penolakan Esther.

Karena ia memiliki niat tertentu pada Esther, dengan menahan rasa jengkel, ia terpaksa menuruti apa yang dipinta Esther.

Lelaki yang duduk di samping Vera, memberikan sesuatu kepada Vera, untuk dimasukkan ke dalam gelas minuman Esther.

Vera tersenyum melihat apa yang diberikan pria itu kepadanya.

Ia pun menerima bungkusan kecil itu, lalu berhati-hati memasukkannya ke dalam gelas Esther, tanpa terlihat oleh Esther.

Esther menerima gelas air minum, yang diberikan Vera padanya tanpa memiliki sedikit pun rasa curiga kepada sahabatnya itu.

Setelah Vera melihat Esther meminum air minum dalam gelas yang ia berikan, ia pun permisi kepada Esther untuk pergi sebentar ke toilet.

"Kamu di sini dulu, ya! aku mau ke toilet sebentar!"

"Aku ikut!" Esther bangkit berdiri, karena merasa tidak nyaman berada di antara orang-orang yang tidak ia kenal.

"Aku sebentar saja, tidak lama! kamu mengobrol saja dengan mereka!" kata Vera menepis tangan Esther yang akan meraih lengannya.

Esther memandang punggung Vera, yang pergi menghilang dari balik pintu ruangan tersebut.

Begitu pintu ruangan tertutup, Esther tiba-tiba merasakan kepalanya mendadak pusing.

"Vera! Vera!" panggilnya lemah.

Esther semakin merasa pusing, dan ia juga merasa tubuhnya tidak nyaman.

Melihat perubahan pada Esther, pria yang tadi duduk di samping Vera tersenyum mesum.

Ia perlahan menggeser duduknya ke dekat Esther, "Nona, kamu kenapa? apakah perlu pertolongan ku?" tanyanya semakin tersenyum melihat perubahan pada diri Esther.

"Tidak! saya tidak kenapa-napa!" jawab Esther menggeser duduknya, agar semakin jauh dari pria tersebut.

"Sepertinya tubuh Nona tidak nyaman, ya? kulit wajah Nona terlihat begitu merah, apakah Nona perlu bantuan ku? agar rasa nyaman pada tubuh Nona mereda?" pria itu semakin menggeser duduknya merapat pada Esther.

"Tidak! terimakasih! saya tidak apa-apa!!"

Esther sontak berdiri dari duduknya, karena pria berperut gendut itu semakin merapat padanya.

Tapi saat Esther berdiri, tangan pria itu menangkap tangannya, dan menariknya untuk duduk di atas pangkuannya.

Dengan tenaganya yang mulai lemah, Esther berlari keluar dari dalam ruangan tersebut.

Esther semakin merasa tidak nyaman dengan tubuhnya, yang membuat ia pun menaruh curiga dengan minuman yang diberikan Vera padanya.

Kakinya setengah berlari membawa dirinya, yang merasakan kepalanya semakin terasa pusing.

"Berhenti!!"

Terdengar suara teriakan dibelakangnya, membuat Esther semakin cepat menyeret kakinya berlari.

Ia tidak tahu ke arah mana berlari, yang ia tahu harus menghindari pria itu menangkap dirinya.

Sampailah ia ke arah lorong koridor seperti labirin, yang membuat ia kebingungan akan ke arah mana bersembunyi dari pria tersebut.

Dengan pandangannya yang mulai tidak jelas, dengan kondisi tubuh yang semakin lemah dan panas, Esther terus saja menyeret tubuhnya.

Bruk!!

Tiba-tiba tubuhnya menabrak tubuh seseorang, dan ia pun memfokuskan penglihatannya melihat siapa yang ia tabrak.

Ternyata seorang pria, tengah berdiri di depan sebuah pintu, yang sepertinya akan masuk ke dalam ruangan di balik pintu tersebut.

"Tolong, seseorang ingin menculik saya! tolong!!"

Dengan suara nyaris menangis, Esther memegang lengan pria tersebut, dengan raut wajah yang terlihat sangat ketakutan.

"Berhenti! jangan lari kamu, Nona!!!"

Terdengar suara pria yang mengejar Esther, sudah semakin dekat di belakangnya.

Membuat Esther pun spontan mendorong tubuh pria, yang berdiri di depan pintu tersebut, untuk masuk ke dalam ruangan di balik pintu itu.

Bersambung.........

1
vania larasati
lanjut
partini
Jack dah tau harusnya antisipasi lah aduhhh bikin gumussss aja sih kamu CEO 1/2 ons🤦🤦🤦
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
💝F&N💝
esther, kau harus mempertahankan jack. jack itu sudah bucin sama kamu. kamu jangan merasa rendah. jack sangan mencintai kamu. kau harus tau itu
vania larasati
lanjut
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
vania larasati
lanjut
partini
aaihhhh ini mah si Jack nya aja nya yg goblok udah tau Kunti bogel
vania larasati
lanjut
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Endang Sulistiyowati
bukannya Jack ga bisa berdekatan sama perempuan, karna hidungnya yg sensitif?
partini
ini Jack yg lolos bodoh lemot bin bodoh aihhh kenapa CEO ogeb semua
partini: dua" mah itu kalau belum di ucapkan belum sah kata cinta
total 4 replies
partini
hemm pasti bikin masalah,, insting suami biasanya rada" kalau udah kena baru reaksi
Mineaa
hadeech.....melda....melda.....
cari penyakit aja kamu.....😡
partini
masa Tidak saling mencintai belum nyadar aja kalian berdua ,,wihhhh tahan sekali ga di sentuh Ampe lahiran
Reni Anjarwani
lanjut thor
Anita Rahayu
karma itu namanya buat anaknya kena autisme biar di buang sama keluarga william😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Anita Rahayu
Ayo dong cepet buat si verot di siksa di hotel prodeo karna udah mau bhnuh ester😠😠😠😠😠🙏🙏🙏🙏
partini
kasih bodyguard bayangan dong Mr Jack biar istri mu mana, Secara banyak ygbga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!