Di bawah rembulan yang dingin, seorang jenderal berdiri tegak, pedangnya berkilauan memantulkan cahaya. Bukan hanya musuh di medan perang yang harus ia hadapi, tetapi juga takdir yang telah digariskan untuknya. Terjebak antara kehormatan dan cinta, antara tugas dan keinginan, ia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya—dan mungkin juga seluruh kerajaannya. Siapakah sebenarnya sosok jenderal ini, dan pengorbanan apa yang bersedia ia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Fha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salju merah
Salju turun dengan lembut, menyelimuti jalanan Kota Mingyue dengan lapisan putih yang sunyi. Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi yang rapuh. Malam itu, hujan salju yang dinantikan oleh sebagian besar orang kini ternodai cairan merah darah, yang akan menjadi lembaran paling kelam dalam sejarah kota tersebut.
Warga berhamburan keluar rumah, bukan untuk menyambut musim dingin, melainkan melarikan diri dari malapetaka. Keheningan malam pecah oleh dentingan pedang yang beradu, jeritan memilukan, dan tangisan yang tak sempat terselesaikan. Mayat-mayat tergeletak di antara puing, menjadi saksi bisu kekejaman para pemberontak. Asap hitam mengepul tinggi, mencekik udara yang kian membeku.
Di tengah neraka yang terjadi di kota itu, di dalam sebuah ruangan tersembunyi dengan cahaya lilin yang temaram, seorang wanita tengah bertaruh nyawa.
Liu Mei, Putri pertama keluarga Marquis Liu, mencengkeram pinggiran kayu yang ia gunakan sebagai alas hingga membuat buku jarinya memutih dengan sekuat tenaga. Peluh membanjiri wajahnya yang pucat, napasnya tersengal-sengal di sela geraman tertahan. Di sisinya, para pelayan hanya bisa terdiam dengan tangan gemetar. Mereka diliputi ketakutan luar biasa—khawatir pada pedang musuh di luar sana, sekaligus cemas akan nyawa majikan mereka yang sedang berjuang melahirkan.
"Nona pertama, apa anda yakin untuk melahirkan nya?"Tanya Bibi Qiong dengan derai air mata.
"Nona besar, anda harus memikirkan keselamatan anda, Relakan saja anak ini."Sahut yang lain
"Kalian diamlah!!... Hiks , Bagaimanapun juga Anak ini harus lahir!!," suaranya hampir menyerupai bisikan dengan nada yang bergetar namun tajam, saat seorang pelayan membujuknya untuk berhenti karena situasi yang mustahil.
"Feng Tian...."Gumamnya
Meskipun hatinya perih mengingat pengkhianatan pria itu pada klan Liu nya . Namun , dibalik lubuk hati terdalam nya ia yakin suaminya tidak akan melakukan hal menjijikan seperti itu,Liu Mei yakin ada kesalahpahaman dibalik tragedi ini. Dengan satu tarikan napas panjang yang terakhir, Liu Mei mengerahkan seluruh sisa kekuatannya.
"NGHHHHH....Xin....lannn! Cepatlah keluar nak!"Mengenjan.
*Oekkk... Oekkk...*
Tangisan bayi memecah ketegangan. Seorang bayi perempuan telah lahir.
Diluar, Marquis Liu zhong bergerak sangat cepat menebas kepala para lawannya, Mata Ungu yang mengerikan menatap tajam kearah musuh di tengah kegelapan malam yang Membuat nyali mereka perlahan menciut.
Crash!
Brak!
jenderal Liu zhang berdiri ditengah tumpukan mayat dengan Memegangi sebilah pedang yang sudah berlumuran darah.
"Tuan Besar! Tuan besar!" Seorang pelayan menghampiri Liu zhong yang sedang membasuh wajahnya yang penuh darah.
"Nona pertama!...."Belum sempat menjelaskan pria itu langsung bergegas menuju tempat ia menyembunyikan Putri nya.
BRAK!!!
Pintu ruangan terbanting terbuka. Marquis Liu zhong masuk dengan zirah yang masih berlumuran darah segar.Langkahnya langsung terhenti.Tertegun, mendengar suara tangisan bayi.
"Selamat Tuan besar ,Nona pertama melahirkan anak perempuan, kondisi ibu dan putri ketujuh dinyatakan sehat."Ucap pelayan yang menyadari kedatangan tuannya segera menghampiri Liu zhong.
Liu zhong Tersenyum haru.
"Bagus!! syukurlah...., akhirnya keluarga Liu ku memiliki seorang putri !, ah..., bawa aku menemui cucuku!"
Liu zhong berjalan dengan semangat untuk menemui putrinya, air matanya langsung melihat putrinya tengah menyusui bayi yang tengah berlumuran darah.
"Mei'er!"
"Xin Lan... akhirnya kita bertemu, Sayang," bisik Liu Mei, menyentuh pipi bayinya yang sedang menyusu. "Ayah lihatlah."
"Aiya..., Cucu kakek."
Bayi perempuan yang sudah terlelap itu akhirnya berpindah Buaian.
"Cari Jenderal Liu!!
Suara gaduh prajurit musuh terdengar semakin dekat. Liu Mei menatap ayahnya dengan sorot mata penuh permohonan.
"Ayah..., Tolong bawa Xin Lan pergi dari sini. Aku akan menahan mereka."
"Mei'er, kau—"
"Tolong sampaikan salamku pada Kaisar,dan jelaskan kepadanya kami keluarga Marquis Liu bukanlah pengkhianat,Tolong ayah! Hanya hanya ayah yang bisa kuandalkan!," potong Liu Mei lemah. Ia meraih sebilah pedang di samping tempat pembaringan nya, lalu memaksakan diri untuk berdiri meski kakinya gemetar dan hanfunya masih bersimbah darah persalinan. Ia mengalungkan sebuah giok ke leher bayinya dan mencium keningnya lama. "Xin'er, kau harus hidup. Ayahmu pangeran dan kakekmu adalah kaisar Yangzhai. Berbaktilah pada mereka, gantikan ibumu yang tidak berguna ini."
"Ayah cepat pergi! Aku mempercayai ayah untuk melindungi putriku."Ucap Liu mei menghempaskan tubuh ayahnya kebelakang.
"MEI'ER!!!!"
Walau dengan hati yang hancur dan rasa enggan untuk pergi, Marquis Liu akhirnya berlari membawa Xin Lan ke dalam kegelapan malam. Ia tidak berani menoleh ke belakang.
Ditambah ia sempat mendengar Suara Segerombolan pasukan menerobos masuk ke ruang persembunyian tersebut.
Di dalam ruangan itu, Liu Mei berdiri tegak. Matanya yang semula lembut berubah menjadi dingin dan mematikan.
"HADAPI AKU PARA ANJING ANJING PEMBAWA FITNAH!!!"
"Mata Ungu Ilusi, Aktif!"
Aura keunguan yang pekat meledak dari tubuhnya, memenuhi ruangan. Para pemberontak yang masuk terkesiap. Di depan mereka, tiba-tiba berdiri ratusan bayangan Liu Mei yang identik. Sebelum mereka sempat menyadari mana yang asli, pedang Liu Mei telah menebas udara, melumpuhkan musuh satu demi satu demi memberi waktu bagi ayahnya untuk menjauh.
Langkah kaki Marquis Liu Zhong terasa seberat timah saat ia mencapai Area puncak perbukitan. Napasnya memburu, meninggalkan uap putih yang langsung hilang ditelan angin malam yang membeku. Untuk pertama kalinya sejak pelariannya yang membabi buta, ia memberanikan diri menoleh ke belakang.
Di kejauhan, Kota Mingyue—telah berubah menjadi tungku api raksasa. Warna jingga yang mengerikan melalap langit malam, membiaskan cahaya merah pada salju di bawah kakinya. Itu adalah api pemberontakan Feng Yan, Pria itu adalah kakak dari pangeran ketujuh,Feng Tian, suami Liu mei, putrinya.
Dengan kata lain Feng yan adalah Paman Xin lan.
Feng yan menyebarkan fitnah palsu ke Kekaisaran Qingshui dan menutup akses informasi ke kekaisaran Yangzhai agar berita tentang pembantaian massal di kota Mingyue tidak tersiar di ibukota.
Pertahanan sang jenderal besar akhirnya runtuh. Lututnya menghantam tanah yang keras dan dingin. Di tengah reruntuhan harga dirinya, ia memeluk erat bayi dalam buaian itu ke dadanya.
"Mei'er... putriku..." suaranya pecah, tenggelam dalam isak tangis yang menyesakkan. "Maafkan Ayah... Ayah gagal melindungimu!"
Tangisan Marquis Liu yang memilukan memecah tidur sang bayi. Xin Lan kecil mulai meronta, tangisan melengkingnya bersahutan dengan deru angin bukit seolah mengerti apa yang sedang dirasakan oleh sang kakek.
Marquis Liu menunduk, menatap wajah kecil yang suci itu dengan perasaan kacau balau, Keluarga nya dibantai habis beserta sebagian besar rakyatnya hanya dalam satu malam.
Marquis Liu zhong kembali menunduk melihat bayi yang ada di gendongan nya.
"Xin Lan....," Ucapan Marquis Liu zhong terhenti begitu kelopak mata bayi itu terbuka, Marquis Liu terkesiap.
Sepasang mata berwarna ungu lavender menatapnya—jernih.
"U...ungu? " bisiknya gemetar. Jemarinya yang kasar dan bersimbah darah menyentuh pipi lembut sang cucu dengan penuh penyesalan. "U...umur sekecil ini,Cu... cucuku...,Lanlan ku mengaktifkan mata dewa!! Lanlanku terlahir sebagai jenius!!!!"Ucap Kakek Liu setengah berteriak girang.
Air mata haru mengalir di pipi Marquis Liu Zhong, membasuh sedikit noda darah yang mulai mengering di sana. Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sekejap sebelum digantikan oleh kilatan kewaspadaan yang tajam.
Ia tersentak, teringat akan pemimpin organisasi Mo Hui yang kejam Yang menjadi dalang pembantaian klan nya. Jika kabar tentang bayi dengan "Mata Dewa" ini sampai ke telinga pria itu, Xin Lan akan menjadi senjata hidup yang dikendalikan oleh ambisi gelap Mo Hui.
Dengan tangan yang masih gemetar, Marquis Liu memposisikan jarinya di atas kening Xin Lan. Ia merapal mantra dalam bahasa kuno yang nyaris terlupakan, memanggil sisa-sisa energi murni dari aliran darahnya.
Marquis Liu menggambar segel transparan di udara. Cahaya keemasan tipis meresap ke dalam kelopak mata sang bayi.
Perlahan tapi pasti, warna ungu lavender yang mistis itu memudar, berganti menjadi warna hitam pekat yang normal, menyembunyikan kejeniusannya di balik samaran yang biasa.
Wajah sang Marquis memucat. Menggunakan teknik ini menguras Energi nya, namun ia tidak peduli.
"Maafkan kakek, Lan-er," bisiknya dengan suara serak, mencium kening cucunya yang kini terlelap karena pengaruh segel tersebut.
"Dunia ini terlalu busuk untuk mata seindah itu. Kakek hanya ingin menyelamatkan mu dan ingin kau tumbuh sebagai gadis biasa, sampai tiba saatnya kau cukup kuat untuk membuka segel ini dengan tanganmu sendiri. Aku tidak akan membiarkan Feng Yan menyentuh sehelai rambutmu pun."
Marquis Liu bangkit berdiri, mengeratkan gendongannya. Ia tahu, mulai saat ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan tameng bagi rahasia terbesar yang pernah dilahirkan di bawah langit ini.
Kesedihan itu kini berganti menjadi api tekad yang baru. Marquis Liu menghapus sisa air matanya dengan kasar. Ia tahu, mereka tidak bisa lama di sini. Para pengejar dari organisasi Mo Hui pasti sedang menyisir hutan.
"Xin Lan, dengarkan Kakek," ucapnya dengan nada rendah namun penuh otoritas seorang jenderal. "Kita harus mencapai Ibu Kota. Kau harus bertemu dengan ayahmu, keenam kakakmu, dan Kakek Kaisar mu. Dunia harus tahu apa yang terjadi malam ini."
Ia berdiri tegak, menyembunyikan Xin Lan di balik jubah zirahnya yang robek. Matanya menatap tajam ke arah cakrawala, di mana fajar masih jauh.
"Kau adalah saksi, dan kau akan menjadi keadilan bagi kita semua."
Marquis Liu berlari menembus badai salju, napasnya memburu. Namun, Belum jauh ia melangkah. Sebuah anak panah dengan lambang Organisasi bertuliskan 'Mo Hui' melesat, menggores bahunya.
Dari balik kegelapan, Feng Yan—paman dari bayi yang digendongnya—muncul
dengan senyum sinis.
"Jenderal Liu, menyerah lah. Serahkan bayi itu padaku," ucap Feng Yan dingin.
Pertempuran itu singkat namun brutal. Marquis Liu yang sudah terluka parah akhirnya ambruk bersimbah darah. Sebelum kesadarannya hilang, ia hanya bisa melihat Feng Yan mengambil paksa Xin Lan dari pelukannya.
"Feng yan!! Kembalikan Dia! Kembalikan Cucuku! Xin Lan!!!"
Bruk!
"Jadi ini putri adik ipar Liu Mei? Liu Xin Lan...Hah!" Feng Yan menatap bayi itu dengan tatapan predator. "Mulai hari ini, kau adalah Feng Yu'er. Kau akan menjadi pedang Kesayangan ku Di masa depan."
5 tahun kemudian Di kamp pelatihan Organisasi Mo Hui.....
PLAK!
Cambuk kulit menghantam telapak kaki kecil yang sudah membiru. Yu'er, yang baru berusia tujuh tahun, hanya menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ia tidak menangis. Matanya hanya menatap kosong ke lantai yang dingin.
"Sudah kubilang berapa kali? Jangan bersuara! Bodoh!" bentak Feng Yan.
"Anak ini tidak berguna! Dia bahkan tidak bisa mengaktifkan mata dewa klan Liu dan Klan Feng! Dasar Sialan!"Gerutu Feng yan dalam pikirannya melihat gadis kecil dihadapannya berusaha untuk berdiri.
Xin Lan menatap Feng yan, yang langsung membuat Feng yan marah besar karena memiliki mata seperti Liu Mei.
"Anak Sialan!!!"
...
Feng Yan, sang pemimpin organisasi sekaligus pria yang telah menghancurkan keluarganya, mendidik Yu'er dengan kebohongan. Ia menanamkan cerita bahwa Yu'er adalah anak yang dibuang oleh keluarga aslinya dan ditemukan di reruntuhan.
Kini, Yu'er tumbuh menjadi "senjata" yang mati rasa. Ia diasingkan oleh teman-temannya karena kekuatannya yang tidak wajar dan sifatnya yang sedingin es.
"Nona Feng, Master memanggil Anda," seorang pengawal muncul di pintu selnya.
Yu'er bangkit. Rasa sakit di kakinya sudah ia simpan di kotak terdalam di benaknya. Ia berjalan menuju ruang utama yang memiliki ukiran naga mengancam di pintunya. Di sana, Feng Yan duduk dengan senyum yang tidak pernah mencapai matanya.
"Yu'er, ada tugas penting," Feng Yan melemparkan gulungan kertas. "Adipati Han harus dibereskan malam ini."
"Yu'er, Mulai saat ini dan selamanya Gunakan topeng ini, kau bisa melepaskan nya disaat kau sendiri."
Yu'er tidak bertanya mengapa. Ia hanya membungkuk rendah. "Murid mengerti."
Di tengah temaram lilin di sebuah kamar seorang gadis kecil berusia sekitar 6 tahun mengenakan sebuah topeng pemberian Masternya, seberkas cahaya hijau berkilat di matanya. Dalam sekejap, tubuh mungil itu lenyap di balik bayangan, menuju malam yang akan kembali bersimbah darah.
lanjut thor