NovelToon NovelToon
Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Horor / Spiritual / Percintaan Konglomerat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rahwana Bataragunadi, menyamar menjadi Office Boy di kantornya sendiri untuk menguak berbagai penyimpangan yang terjadi.
Pemuda itu mengalami banyak hal, dari mulai kasus korupsi, sampai yang berhubungan dengan hal-hal gaib.
Dalam perjalanannya, ia ditemani entitas misterius yang bernama Sita. Wanita astral yang sulit dikendalikan oleh Rahwana itu selalu membantunya di saat butuh bantuan.

Masalahnya, Rahwana tahu Sita bukan manusia. Tapi semakin hari ia malah semakin jatuh cinta pada Sita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat Datang Di PT. Garnet Land

Rahwana Bataragunadi, namanya.

Bukan, bukan ingin jadi hatersnya Rama. Kita semua tahu kalau Rama masih mencintai Sinta setulus hatinya, namun karena desakan rakyat Ayodya yang mempertanyakan kesucian Sinta setelah diculik Rahwana, jadi Rama membiarkan Sinta menceburkan dirinya ke dalam api. Lagipula, di jaman itu, Rahwana Sang Tiran banyak sekali menculik wanita untuk dijadikan selir, terang saja Sinta tak akan mencintainya.

Namun ini bukan kisah legenda itu

Rahwana Bataragunadi dinamai 'Rahwana' karena dia diharapkan sesukses Rahwana si raksasa. Dalam bisnis, tak ada yang namanya jalan kebaikan. Terbanyak adalah trik trik licik yang digunakan untuk mencapai profit perusahaan. Sebagai pewaris, ia diharapkan bisa melampaui ayahnya yang seorang legenda. Tentunya, urusan cinta adalah nomor sekian. Seperti Sinta yang hadir di dalam hidup Rahwana dan akhirnya malah menghancurkan kerajaannya, Rahwana yang ini seakan diingatkan bahwa mencampuradukkan cinta dengan bisnis adalah hal yang mengancam seluruh tatanan kejayaan yang sudah lam dirancang.

Namun sayang, di kisah ini justru Rahwana yang ini juga terjerat cinta.

Pemuda itu mendongak ke atas, menatap gedung tinggi di depannya. Ia memicingkan mata memfilter semburat cahaya mentari yang menyerang pelupuk matanya.

“Oke,” gumamnya malas.

Gedung tinggi 30 lantai yang mewah, terlihat futuristic sekaligus eco friendly. Sudah pasti pengembangnya tidak main-main membangunnya, ini proyek ratusan miliar. Dan ada di area bisnis center.

Masalahnya...

Pemuda 21 tahun itu melihat ada yang tidak beres di baliknya. Namun sulit dijelaskan dengan kata-kata. Udara yang menyelimuti gedung itu suram dan gelap. Bagaikan ada selubung tak kasat mata yang mengelilinginya.

“Sudah pasti ‘ada’, ini sih,” keluhnya dalam hati.

Dengan langkah berat, setelah memarkir motornya di area parkir luar, Rahwana masuk ke dalam gedung itu sambil dengan waspada menatap sekitarnya.

Area lobi dipenuhi dengan para pekerja kantoran, working space dan cafe juga banyak pengunjung yang sedang beraktivitas.

Sekuriti menyeringai ke Rahwana menyapa pemuda itu dengan ramah, Rahwana menundukkan kepalanya untuk membalas sapaannya. Para operator di front desk meliriknya beberapa kali sampai mengiringi langkah cowok itu lekat-lekat.

Pandangan yang sudah biasa diterima Rahwana sejak ia kecil. Itu sebabnya ia jarang ke area ramai karena risih dan tidak nyaman ditatap sedemikian rupa sepanjang jalan.

Tapi, hari ini Rahwana datang ke gedung ini dalam suatu misi.

Ia melangkahkan kakinya ke arah lift barang, menekan tombol open, dan masuk ke dalam.

Lalu dengan tenang menunggu sampai lift membawanya naik ke lantai 15, lantai yang ia tuju.

Ting!

Lift berhenti di lantai 7.

Dan pintu pun terbuka.

Gelap dan kosong.

Pemuda itu sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mengintip area luar lift.

Hanya kegelapan yang tampak di matanya, tanpa penerangan sama sekali. Gelap gulita.

Nggak beres, ini sih, Pikir Rahwana sambil masuk lagi ke dalam lift dan menyandarkan tubuhnya. Ia langsung tegang tak bergerak. Instingnya memerintahkannya supaya waspada.

Ini pagi hari pukul 9, kenapa ruangannya bisa segelap ini?! Bagaikan tidak ada satu pun jendela. Atau...

“Permisi, tolong tahan liftnya,” terdengar suara wanita dari sana.

Reflek, Rahwana menekan tombol hold.

Tapi perutnya langsung mual. “Anjrit!” keluhnya dalam hati.

Wanita berparas manis dengan seragam Office Girl, menggenggam sapu dan menarik troli, muncul di depan Rahwana. Lalu wanita itu masuk ke dalam dan berdiri di sebelah Rahwana.

Pintu lift pun tertutup.

Saat ini pemuda itu menyesal kenapa tadi ia reflek menekan tombol hold. Tapi kalau dipikir, ia tidak tekan tombol pun apakah lift ini akan menuruti jemarinya?

Rahwana menatap ke depan, dari sudut matanya ia bisa menangkap kalau Mbak-mbak yang tadi masuk itu berdiri menghadap ke arahnya, mematung dan menatapnya dengan pandangan kosong.

Rahwana mencoba untuk tenang.

Dan ia berpikir tak perlu basa-basi bertanya ‘lantai berapa, mbak?’, karena ia tahu, pekerja di sampingnya tidak butuh ke lantai berapa pun.

“Masnya bisa lihat saya yaaaaaaa?!” tanya si OG (Office Girl). Suara mendayu dan serak bagaikan tidak minum sangat lama. Terputus-putus dengan nada yang sumbang.

“Pake nanya, lagi...” gumam Rahwana. Pandangan cowok itu tetap ke depan, tapi bulu kuduknya merinding.

“Tolong saya Maaaaas,”

“Ogah,” jawab Rahwana cepat.

Aroma busuk tak terkira langsung menyelimuti lift itu. Kalau diibaratkan, seperti bau bangkai tikus, tapi lebih busuk, dengan aroma anyir yang sangat kuat sampai membuat kepala pusing.

Rahwana merogoh kantongnya dan menyemprotkan hand sanitizer aromatheraphy ke udara.

“Tolong ikut saya matiiii,” kata suara itu.

Ajakan yang sangat epic. Mati kok ngajak-ngajak.

Lalu Rahwana mengernyit. Ini bisa jadi jawaban untuk misinyansaat ini. Bukankah semakin cepat diselesaikan malah semakin baik?

Rahwana ingin cepat-cepat laporan ke Shareholders yang merupakan Papanya sendiri, lalu merombak segala regulasi di sini. “Eh, iya," Rahwana berusaha tenang. Lagipula ia tidak bisa kemana-mana. "Misi Mbak, Saya mau tanya. Kamu dikasih makan di lantai berapa?” tanya Rahwana sambil menatap si Mbak yang kini rupanya sudah berubah wujud menjadi lebih tidak tertata. Rambut berantakan dan melayang di udara, dengan darah di sekujur tubuh dan wajah yang berantakan. Tapi masih tetap dengan seragam OG-nya.

Rahwana ingin sekali lari tapi ia harus berusaha terlihat berani. Anjir serem gilak ! keluhnya dalam hati.

Si Mbak OG menatap Rahwana sambil terbelalak. Mungkin sosok itu akhirnya sadar kalau Rahwana bukan orang sembarangan.

Rahwana mengamati astral di sampingnya ini dengan lebih seksama. Lalu menajamkan hidungnya.

“Coba buka mulutnya,” Rahwana meraih dagu wanita itu dan menariknya ke bawah. Rahang wanita itu langsung copot dan jatuh ke bawah. Wangi kemenyan dan bunga 7 rupa. Dengan sedikit kayu cendana.

Dengan keadaan itu, Rahwana hampir saja berteriak histeris. Tapi ia harus kalem.

Kan T4i... umpatnya dalam hati mencoba sabar.

Tinggal cari bau yang mirip. Kalau Si Mbak OG tidak mau bicara ya sudah. Yang penting aku tahu kalau di sini memang ada pesugihan. Pikir Rahwana.

“Oke Mbak,” jawab Rahwana sambil tersenyum sinis.

“Jangan coba-coba mengusik kami,” geram si mbak.

“Kalau kamu dan teman-teman kamu berulah, saya tinggal minta Eyang Ghandes untu...”

“Eyang Gandhes?!” teriak si Mbak OG memotong kalimat Rahwana.

Bets!!

Lift langsung berhenti. Si Mbak kembali ke wujudnya yang semula, OG dengan wajah manis menenteng sapu. Dan langsung berlutut di depan Rahwana. “Tolong, Jangan!”

“Siapa yang kasih kamu makan?” tanya Rahwana sekali lagi.

“Saya tak bisa bilang. Tapi saya suka di sini, tidak ada tempat lain!”

“Ya kamu suka jahil sih. Tapi sekarang gerakan kamu akan saya batasi, yah.”

“Kamu bukan keturunan Eyang Gandhes, apa hubungan kamu dengan beliau?”

Rahwana maju dan mencondongkan tubuhnya, menantang si astral dan berbicara dengan nada rendah. “Nama saya Rahwana, saya pemilik gedung dan perusahaan ini. Sebarkan ke sejenis kamu. Tapi awas, jangan bicara ke majikan manusia kamu. Saya akan usut semua yang merugikan keluarga saya,”

Dan si Mbak OG pun mengangguk, dan menghilang.

Lift kembali menyala dan pintu pun terbuka. Masih di lantai 7, lantai yang sama.

Namun dengan pemandangan yang berbeda, seperti layaknya kantor biasa dengan karyawan yang sibuk berlalu-lalang.

Lagi-lagi Rahwana menghela napas dan menekan tombol close. Lift pun terasa naik ke lantai atas. “Anjrit, belum juga mulai kerja, udah kesasar ke dimensi lain,” gerutunya. Ia memang agak sompral.

Walaupun astral tadi tidak bilang siapa yang memberinya makan, tapi Rahwana yakin akan menemukan si ‘majikan’.

Papanya memang mengeksekusi gedung ini karena masalah hutang piutang. Gedung ini sebagai jaminan kredit di Bank milik Papa Rahwana. Tadinya keadaannya memang tidak terurus, tapi Papanya membangunnya kembali dan memfungsikannya.

Tapi aslinya, gedung ini memang sudah lama tidak ditinggali. Bahkan setelah dibangun kembali dengan fasilitas canggih pun, rumor kalau gedung ini berhantu sangat santer terdengar.

Dan masalahnya, warisan saham Rahwana, seluruh aset atas nama Rahwana, dipindahkan ke gedung ini.

“Ngasih warisan kok wujudnya amburadul,” keluhnya lagi.

Dan kini, perusahaan ini selalu merugi.

Itu sebabnya, Rahwana dalam misi penyamaran untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Tidak mungkin ia datang dalam wujud seorang pemegang saham.

Atas saran salah satu teman Papanya, untuk mengetahui kelakuan yang sebenarnya dari para karyawan, Rahwana disarankan untuk mengambil pekerjaan dengan hierarki jabatan terendah di perusahaan. Karena dengan begitu, tingkat kewaspadaan orang lain akan turun dan cenderung menampakkan sifat aslinya.

Jadi, Rahwana mendaftar di perusahaan ini sebagai Office Boy.

*

*

“Bagaimana keadaannya?” si Papa menelponnya, tepat saat Rahwana keluar dari lift.

“Parah Pah,” jawabnya.

“Bagus,”

Lah kok ‘bagus’, nyebelin banget, khas Papanya.

“Kamu jadi bisa belajar banyak,” kata Papanya lagi.

“Aku nggak dapat warisan, nggak papa kok Pah,”

“Nggak bisa, kamu paling capable,”

“Aku mau minta mata batinku ditutup aja,”

“Nggak bisa, usut dulu semua baru mata batin kamu ditutup,”

“Papa tahu nggak sih kalau kelebihan ini sebenarnya kekurangan? Hanya sesama jin yang bisa melihat jin lain, ini tandanya aku sebenarnya dirasuki-”

“Papa sudah tahu konsep itu,” potong Papa Rahwana. “Tapi kan kondisi kamu yang paling kuat. Pokoknya kalau kamu hampir mati sebut nama Eyang Gandhes, oke?”

“Aku anak kandung atau anak pungut?”

“Heeeei,” sahut Papanya. “Waktu muda dulu, kejayaan yang Papa lalui juga seringkali melibatkan hal Ghoib. Dari mulai transaksi sama Saranjana, sampai bertemu dengan Kanjeng Ratu Barat. Hal seperti itu seringkali terjadi di negara yang masih menganut paham kejawen. Dan perusahaan yang diwariskan ke kamu itu, diukur dari perhitungan probabilita, seharusnya bisa sehat dan profit, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Tugas kamu untuk mengusut semuanya,”

Rahwana pun menghentikan langkahnya dan menghela napas berat.

“Iya,” hanya itu yang diucapkannya. Ia akhirnya menyerah. Karena yang bisa mendebat Sang papa hanyalah Sang Mama. Percuma saja Rahwana berusaha merayu.

Ia tiba di ruangan operasional. Di depannya terpampang papan nama raksasa yang berkilau.

PT. Garnet Mas Land, Tbk.

“Hm,” gumam Rahwana sambil menutup sambungan teleponnya.

Ia tidak tahu sama sekali budaya kerja di bidang property dan perumahan. Ia bukan arsitek, backgroundnya bukan teknik sipil, tidak menguasai marketing, awam masalah hukum, dan yang paling penting, ia adalah Mahasiswa Fakultas Desain Jurusan DKV semester 6. Sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaannya sekarang.

“Apa sih yang kulakukan di sini?” gumamnya kesal.

Bersih-bersih tentunya. Membersihkan seluruh ruangan di gedung ini, sampai membersihkan seluruh persoalannya.

*

*

1
🇮🇩 SaNTyHaSan 🇵🇸
Gak anaknya, Gak cucunya si Sandra & Gerald, Cicitnya pula si Iwan, smuanya paling males kalo dpt telp dr Eyang Gandhes. 🤣🤣🤣
Nayaka
madam bikin cerita tentang nayaka dong
eka wati
aamiin ya rabbal alamin 🤲🏽
AI AW50 𝐙⃝🦜
Wkwkwk keren banget dah minta bitcoin 🤣
AI AW50 𝐙⃝🦜
Halah bocah 😎😎
AI AW50 𝐙⃝🦜
Ayank akoh kah mas AI AW50 mah 😍
ᵉᵖʰᶦ
ternyjadi terimakasih setelah bbrp bab gk kepingin mewarisi,dasar mas Iwan ckckckck
ᵉᵖʰᶦ
dramaquen Nay n Ai dimulai...geli sekaligus seru sekali
ᵉᵖʰᶦ
Ai ternyata mpokcecif ke Nay, tapi blm nyadar🤣
ᵉᵖʰᶦ
berasa reapl bgt kisahnya
ᵉᵖʰᶦ
kyk e di novel author ini yg nyleneh,sama warisan pada emoh klu bisa ditolak aja🤣
ᵉᵖʰᶦ
bagaikan bumi n langit yak wan🤣
ᵉᵖʰᶦ
gua baca ini berasa horor tapi kok ada komedinya...yg awalnya takut jadi ketagihan baca
ᵉᵖʰᶦ
bisa bgt bikin readers ketagihan buat baca sampai end
ᵉᵖʰᶦ
ya ampun ganteng n cantiiiiiiik
ᵉᵖʰᶦ
thank Thor,gua jadi tahu lebih detail kisah pewayangan versi ini...selama gua kenal,Rahwana yg jadi penjahatnya padahal klu lebih detail baca kisahnya Rahwana gk jahat loh malah dia jadi inti di cerita RamaSinta..pikirnya aq Rama lah tokoh utamanya saja
ᵉᵖʰᶦ
bisa-bisanya gibahin orangnya didepan muka e🤣
ᵉᵖʰᶦ
ada promosinya yak disini,baca gaes kisah emak bapak Rahwana seru juga kog
ᵉᵖʰᶦ
jadi keinget kisah Rahwana n Dewi Sinta
ᵉᵖʰᶦ
Dedemite akeh eram ya Ampun...Jan Jane kantore bekas opo seh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!