Siang itu Panji remaja dan Bela Remaja makan siang bersama di dapur.
Sambil menikmati makan seadanya... Bela berkata pelan,
"kang Panji... Kemarin lusa kamu memberi uang untuk berobat ayah ku, lalu kemarin siang kamu memberi uang Ibuku untuk memperbaiki rumah dan beli sepeda motor,
dan jumlahnya sangat besar sekali! Mungkin... Seumur hidup Ayah dan Ibuku bekerja, rasanya tidaklah mungkin bisa mendapatkan uang sebanyak itu."
"Lalu kenapa Bela," tanya Panji.
Apa kamu memberi uang kepada kedua orang tuaku itu, karena kamu mencintaiku?" tanya Bela.
"Hemmm... Sebenarnya aku menyukai mu," kata Panji sambil makan,
"Tapi... Kalau kamu tidak suka pada ku? Yaa kita berteman saja, kita bersahabat saja!"
"Gitu ya?" kata Bela sambil memandang wajah Panji yang imut,
"Maaf ya Panji... Aku tidak mencintai mu, karena ada cowok lain yang aku sukai. Jadi... Kita berteman saja ya? Kita bersahabat saja ya, seperti katamu barusan."
"Iya Bela, tidak apa - apa," ucap Panji.
"Oh iya... Besok pagi kamu daftar sekolah SMA, walau terlambat... Coba saja! Barang kali sekolah Negri ada yang mau menerima mu."
"Ini ada uang 1 juta untuk daftar sekolah besok. Jangan lupa kamu pergi ke Bank BCA yang ada di pasar Kramatwatu. Kamu buat no rekening, biar aku bisa transfer ke kamu sewaktu - waktu," ujar Panji.
Mendengar kata - kata Panji... Bela terdiam dan terkejut, lalu berkata,
"Dari mana kamu punya banyak uang Kang Panji? Kan kamu mondok tidak kerja?"
"Aku punya banyak uang tabungan," kata Panji,
"Jadi... Kamu tidak usah kuwatir, ini halal kok! Kan kamu teman ku... Jadi terimalah uang ini! Hemmm... Aku berangkat sekolah dulu ya? Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Kang Panji, terimakasih," ujar Bela.
"Ibuk... Panji sekolah Diniyah dulu," kata Panji pamit.
"Iya Kang Panji," sahut Ibunya Bela.
Dengan santai Panji berjalan menuju pondok Arrohman.
Sambil jalan kaki Panji berkata lirih,
"Lebih baik aku bolos sekolah Diniyah, tidak selera belajar di kelas! Lebih baik aku main ke makam Mbah Wali Jabat saja."
Tak lama kemudian... Panji sudah duduk di keramik di teras makam Mbah Wali Jabat. Sambil bersandar tiang kayu penyangga, lalu panji berdoa,
"Duh Gusti Allah... Dengan keberkahan dan ke-walian Kyai Jabat... Saya mohon dan berharap, semoga Kang Wawan teman mondokku sembuh seperti sediakala. Jika Kang Wawan tidak sembuh hari ini juga... Berarti Kyai Jabat bukanlah seorang waliyullah! Dan tidak mempunyai keberkahan untuk orang yang datang ziarah ke makamnya! Maka... Semoga tidak ada orang yang ziarah di makam Kyai Jabat ini. Aamiin...!!!"
Setelah selesai berdoa... Panji melihat cahaya putih kebiru - biruan melesat keluar dari makam Mbah Wali Jabat, menuju ke langit, lalu menghilang.
Sementara... Siang itu Bela memutuskan untuk bolos sekolah, dan pergi ke kecamatan Kramatwatu, untuk mendaftarkan diri ke sekolah Negri. Setelah bertemu dengan kepala sekolah... Bela di terima menjadi murid SMA Negri 01 Kramatwatu, karena ada beberapa siswi pindah ke Jakarta, jadi ada bangku kosong.
Setelah membayar administrasi dan seragam sekolah juga buku paket sebesar 450 ribu... Bela kemudian mengurus Rekening BCA dan BRI.
Ketika Bela duduk di dalam Angkot hendak pulang... Bela berkata lirih,
"Mengapa Panji tidak marah ya? Kalau aku menolak cintanya? Dia terlihat santai dan menikmati makan siangnya... Dia malah kasih aku uang untuk daftar sekolah? Heran aku dengan pemikiran Panji itu! Tidak faham apa maksudnya memuliakan keluarga ku?
Orang yang aku cintai... Orang yang sering aku pikirkan ketika hendak tidur... Oang yang aku sayangi tidak sebaik Panji? Dia tidak mau tau tentang penderitaan dan kesedihan ku, apalagi memikirkan keadaan kedua orang tuaku?
Walau Panji masih remaja seumuran dengan ku... Pikirannya dewasa. Dia memperhatikan diriku, seakan - akan dia tau kesedihan dan penderitaan yang aku pendam selama ini. Tapi mengapa? Aku tetap mencintai dia, orang yang tak pernah tau kesedihan juga penderitaan ku? Dan
Aku menolak cinta Panji???
Alhamdulillah... Berkat kebaikan Panji, keluarga ku mulai ada perubahan. Ayah dan Ibuku terlihat sangat senang dan bahagia. Panji... Semoga segala amal kebaikan mu atas diriku juga keluargaku, di balas berlimpah ruah oleh Allah swt. Semoga kamu menjadi orang yang alim, dan semoga kamu selalu hidup bahagia. Aamiin...."
Adzan asar terdengar mengema dari masjid kampung, Panji pun bergegas kembali ke pondok. Setelah melaksanakan solat Asar berjamaah, seperti biasa Panji menyapu halaman rumah sang Kyai.
"Kang Panji," panggil sang Kyai dari teras samping rumah.
"Iya Kyai," jawab Panji kemudian bergegas mendekat.
"Alhamdulillah... Kang Wawan sembuh secara ajaib," ucap sang Kyai,
"Barusan Pak Haji Rahmat Ayahnya Kang Wawan telpon.
Katanya... Kang Wawan bermimpi di tampar oleh orang berbaju putih. Ketika bangun... Kang Wawan mulutnya sudah kembali normal. Padahal... Rencananya Kang Wawan mau di bawah berobat ke Singapura."
"Alhamdulillah Kyai, itu berkat narokah doanya Kyai," ujar Panji sambil menundukkan kepalanya.
"Itu berkat barokah doamu Kang Panji," kata sang Kyai,
"Insallah... Nanti Pak Haji Rahmat ke pondok, untuk mengantar Kang Wawan balik lagi ke pondok. Pak Haji Rahmat berpesan... Katanya ingin memenuhi nadarnya atau janjinya kepada mu. Nanti malam kamu jangan main jauh - jauh ya? D pondok saja! Siapa tau kamu di kasih uang buat jajan, kan lumayan...!"
"Iya kyai," jawab Panji kemudian melanjutkan menyapu.
Jam 20.00 Malam sebuah sedan mewah memasuki halaman pondok. Setelah bertemu dengan sang Kyai untuk memasrakan Wawan putranya... Pak Haji Rahmat pamit pulang. Namun, sebelum pulang Pak Haji Rahmat pergi ke pondok untuk menjumpai Panji di kamarnya.
"Kang Panji... Karena Wawan putraku sembuh... Aku akan memenuhi janji ku kepada mu," ucap Pak Haji Rahmat,
"Katakan... Apa yang kang Panji minta, apa yang Kang Panji inginkan?"
Mendengar ucapan Pak Haji Rahmat... Panji berkata,
"Saya minta uang untuk biaya sekolah SMA dan sepeda motor baru saja Pak."
"Siapa yang sekolah Kang?" tanya Pak Haji.
"Teman baik saya Pak Haji, dia baru masuk sekolah," ucap Panji.
"Mengapa kamu ingin membantunya?" tanya Pak Haji sambil mengerutkan alisnya.
"Karena dia anak fakir miskin," kata Panji,
"Jadi... Saya punya kewajiban untuk membantunya selama saya mampu."
"Baiklah Kang Panji, akan aku penuhi permintaan mu," ucap Pak Hji Rahmat kemudian mengambil amplop tebal yang telah di siapkan di dalam tas,
"Ini ada uang 5 juta, insallah cukup untuk biaya sekolah selama 3 tahun. Dan amplop satu ini juga ada uang 5 juta, untuk beli motor baru. Motor baru kurang lebih harganya kisaran 3,5 juta."
"Pak Haji pamit dulu ya... Doakan bisnis Pak Haji lancar dan sukses selalu. Insallah... Bulan depan Pak Haji kesini lagi, untuk menjenguk Wawan. Baik - baiklah dengan Kang Wawan ya... Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji,
"Terimakasih Pak Haji."
"Wawan... Ayah pulang dulu, berteman baiklah dengan Panji, kalau liburan pondok... Ajaklah Panji main ke Bogor.
Assalamualaikum," ujar Pak Haji.
"Waalaikumsalam," jawab Kang Wawan.
"Kang Panji... Terimakasih ya telah di bantu doa," ucap Kang Wawan,
"Mari kita ngopi ke warung Pak Slamet."
"Hemmm... Kamu gak ikut ngaji ihya' di musolla?" tanya Panji.
"Gak ah, libur dulu hari ini, aku ingin santai di warung," ucap Kang Wawan.
"Baiklah," kata Panji sambil berdiri lalu menyimpan uang di bawah tumpukan baju di lemarinya.
Malam itu... Panji dan Wawan menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok di warung Pak Slamet di belakang pondok.
"Kang Wawan... Tumben kamu ngajak aku ngopi bareng di warung," tanya Panji santai,
"Selama ini... Kang Wawan menyapa saja tidak pernah? Kok tumben mau ngopi bareng sama aku!"
"Iya Kang Panji, aku baru menyadari kalau diriku terlalu sombong selama di pondok," kata Kang Wawan,
"Selama ini aku salah, karna terlalu menyepelekan temen pondok yang miskin... Itu karena aku mempunyai banyak uang kiriman dari Ayah ku. Sekarang... Aku sadar dengan sikap dan gaya hidupku di pondok. Aku minta maaf yaa Kang sama kamu."
"Alhamdulillah, kamu bisa merubah sikap mu," kata Panji,
"Aku juga minta maaf Kang sama kamu."
"Tadi siang aku bermimpi di tampar oleh orang tua berbaju putih yang tubuhnya penuh cahaya. Dalam mimpi itu... Aku di marahi juga di nasehati. Dalam mimpi itu... Aku juga melihat dirimu di gandeng oleh orang tua yang tubuhnya penuh cahaya.
Setelah aku bangun... Mulut ku sembuh dan normal kembali. Dari mimpi itulah aku sadar dan ingin berteman dengan mu," ucap Kang Wawan.
"Assalamualaikum," ucap Kang Salim dan Kang Ukang juga Kang Subur.
"Waalaikumsalam," jawab Panji dan Wawan.
"Eeh... Ada Kang Wawan," ucap Kang Salim,
"Alhamdulillah... Sudah sembuh."
Malam itu Wawan dan Panji juga teman karib Panji asik ngobrol dan bercanda. Wawan yang biasanya berteman dengan anak - anak orang kaya... Kini mulai akrab dengan Panji dan sahabat karibnya yang tergolong santri miskin.
Malam berlalu, kang Wawan, Panji dan sahabatnya tidur di teras musolla.
Subuh pun tiba.
Seperti biasa... Pagi - pagi Panji menyapu dan mengepel rumah sang Kyai. Setelah beres... Panji membantu Bu Nyai Halimah, lalu mandi di sungai bersama teman karibnya.
Siang itu setelah solat dzuhur Panji pergi sekolah Diniyah di pondok Arrohman. Setelah berada di pelataran pondok... Suasananya sangat ramai anak - anak remaja, santri putra - putri juga anak kampung berbaur jadi satu.
Ketika berjalan santai... Panji di sapa oleh Muna teman sekelasnya,
"Hai... Panji! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji menghentikan langkah kakinya,
"Muna... Tambah cantik saja diri mu."
"Baru sadar ya? Kalau aku cantik? Hahaha," ucap Muna tertawa,
"Kang Panji... Sini, aku traktir bakso dan es kelapa muda."
"Baiklah," kata Panji kemudian mendekat lalu duduk di warung bakso.
Ketika Panji dan Muna duduk berhadap - hadapan menikmati bakso... Bela yang melihat dari warung ibunya mengeryitkan kedua alisnya, lalu berkata lirih,
"Mengapa hatiku tidak suka ya? Kalau Panji dekat sama Muna...? Ada apa dengan suasana hati ku ini?"
Di warung bakso... Panji dan Muna asik ngobrol sambil menikmati bakso. Dalam obrolan... Panji dan Muna yang notabene sebagai anak yang berasal dari kota Besar, sudah terbiasa dengan pergaulan bebas dan demokrasi.
Walau begitu Panji dan Muna sangat menjaga hubungan perteman, karena Panji dan Muna sadar dengan posisinya sebagai santri dan tinggal di pesantren, yang mana ahlak dan tatakrama harus benar - benar di jaga dengan baik.
Bel bernyanyi tanda sekolah Diniyah masuk. Tak lama setelah belajar... Bel pun berbunyi lagi tanda pulang.
Ketika Panji sedang berjalan hendak kembali ke pondok... Tiba - tiba Panji mendengar Bela memanggilnya,
"Kang Panji... Tunggu sebentar."
"Hai Bela, ada apa?" tanya Panji menghentikan langkah kakinya.
"Alhamdulillah... Aku di terima sekolah di SMA Negri 1," ucap Bela,
"Tadi pagi aku sudah mulai sekolah."
"Alhamdulillah Bela, syukurlah, aku ikut senang," kata Panji datar,
"Semoga kamu mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk masa depan mu. Oh iya... Kamu sekolah naik apa? Angkot apa sepeda pancal?"
"Naik angkot Kang," kata Bela,
"Kalau udah seminggu masuk sekolah... Rencananya aku mau naik sepeda pancal saja, biar irit!"
"Apa kamu sudah bikin no rekening BCA," tanya Panji.
"Sudah kang, Alhamdulillah. Aku bikin no rekening BCA dan BRI," ucap Bela bahagia.
"Bela... Besok sore, kalau ada seles Honda datang ke rumahmu, dan minta identitas kamu, kamu terima ya?" kata Panji,
"Itu aku yang menyuruh, dan sudah aku bayar semuanya.
Sales hanya butuh nama mu dan alamat rumah mu, untuk keperluan surat - suratnya. Oh iya... Aku minta No rek BCA, aku mau transfer uang buat biaya sekolah mu."
Mendengar kata - kata Panji... Bela diam. Tak terasa air matanya menetes,
"Panji... Terimakasih ya... Kamu terlalu baik untuk ku. Aku pulang dulu ya, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian berlalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
ACHMAD GOZALI
Semua akan luluh dg kebaikan yg tulus om...
2025-03-29
0
Nafi' thook
Santri gitu ya....putus cinta langsung ke makam wali saja. berdoa
2023-03-01
1
na han ken tut
seneng ane ceritanya Keren si panji
2022-01-01
2