°°°~Happy Reading~°°°
Anelis mulai memasuki rumah sakit itu dengan Arsha yang di gendongnya di depan layaknya anak koala. Wajah putranya itu membenam rapat di pundaknya, sepertinya anak es itu malu karena harus berada di gendongan ibunya.
Berbeda dengan Arsha yang kesal karena harus di gendong sang mommy, kini Arshi tampak ceria dengan kaki mungilnya yang melangkah gesit sembari menggandeng tangan Anelis. Rambut pirangnya di kuncir 2 ke atas dengan sebelah tangan yang setia menggenggam boneka Teddy kesayangannya.
Anelis mendudukkan kedua anak nya di kursi tunggu, sedang dirinya mengambil kartu antre di loket pendaftaran yang tak jauh dari kursi yang di tempati kedua anaknya, jadi ia bisa mengantre sekaligus mengawasi tingkah kedua bocah itu.
Setelah beberapa puluh menit menunggu, tibalah giliran Anelis yang kini di panggil.
Anelis mulai memasuki ruangan dokter dengan Arsha dan Arshi yang ikut bersamanya, tidak mungkin juga dirinya meninggalkan Arshi di luar seorang diri, bahaya karena anak perempuannya itu terlalu cerewet dan selalu mengundang perhatian banyak orang.
" Selamat Siang dok... " Sapa Anelis pada seorang dokter perempuan yang tengah sibuk mencorat-coret kertas di depannya, entah apa yang di tulisnya hingga menciptakan karya abstrak di kertas putih itu.
" Siang, silahkan duduk " Ucap dokter perempuan itu yang tak lain adalah dokter Nita, ia mempersilahkan Anelis untuk duduk di depannya.
Dokter Nita memulai pemeriksaan nya, mengajukan beberapa pertanyaan pada Anelis perihal keluhan yang tengah di alami Arsha, pasiennya.
Anelis yang mendapat pertanyaan itu pun berusaha menjelaskan keadaan putranya secara terperinci, dari demam tinggi, tubuh yang sering berkeringat dingin di malam hari, serta mimisan yang kerap kali di alami Arsha akhir-akhir ini.
Puas dengan penjelasan Anelis, akhirnya dokter Nita memilih untuk memeriksa keadaan tubuh Arsha secara langsung, menyuruh bocah kecil itu untuk berbaring di pembaringan yang terletak di pojok ruangannya.
Dokter Nita mulai mengayunkan tangannya hendak menyibak baju berkerah Arsha. Sejurus kemudian, Arsha mencengkeram erat kerah kemejanya, tatapannya menajam seolah tak suka, jangan berani-berani menyentuhku, itulah pesan yang disampaikan dari tatapan tajamnya.
Seolah mengerti maksud bocah kecil itu, terpaksa dokter Nita menghentikan pergerakannya.
" Oke, adik manis di periksa dulu ya. Nanti bu dokter kasih permen buat adik ganteng deh... "
Sahut dokter Nita lembut, seperti nya sudah biasa mengalami kejadian tak menyenangkan dengan pasien anak-anak yang tidak mau di periksa. Kebanyakan menangis karena takut jarum suntik, tapi anak laki-laki di depannya kini tampak berbeda.
" Doktel doktel, Ashi juga mahu peulmen kayak Asha dong... "
Timpal Arshi yang sedari tadi sibuk bermain di sofa dalam ruangan itu, tangannya yang sibuk bermain dengan boneka Teddy kesayangannya, kini teralihkan dengan iming-iming permen.
" Oke, nanti ibu dokter kasih permen yang banyak buat adek cantik... "
" Ashik ashik ashik... "
Sementara itu, Arsha masih memberengut kesal, ia tak kunjung menyingkirkan tangannya dari kerah bajunya, memaksa Anelis harus turun tangan sendiri kali ini.
" Arsha... Sayang... Arsha kan anak baik... Mau ya di periksa sama ibu dokter, virus jahat yang di tubuh Arsha mau di ambil sama ibu dokter, mau ya nak... " Sahut Anelis memancarkan tatapan lembutnya, membuat Arsha tersihir hingga menganggukkan kepalanya tanpa sadar.
Setelah pertarungan sengit itu, akhirnya dokter Nita berhasil melanjutkan pemeriksaan, menempelkan dinginnya besi stetoskop itu di dada polos Arsha yang kini sudah tersibak dengan 2 kancing kemejanya yang di lepas.
" Bu Anelis, sepertinya kita harus melakukan uji darah untuk memastikan apakah ada penyakit tertentu yang menyerang putra anda "
Sejenak Anelis terdiam, bayang-bayang tajamnya jarum suntik itu harus menusuk kulit Arsha membuat hatinya merasa tak tega.
Namun sebisa mungkin ia menepisnya, ini adalah satu-satunya jalan untuk mengetahui keadaan sang putra, hingga akhirnya ia terpaksa mengangguk tanda setuju.
Dokter Nita segera menyiapkan alat-alat nya, Anelis yang tahu tindakan apa yang akan di berikan pada putra kecilnya itu, berusaha memberikan pengertian pada Arsha agar Arsha tak lagi menolak untuk yang kedua kalinya.
" Sayang, ibu dokter mau ambil penyakit Arsha, boleh kan? Nanti Arsha di peluk sama mommy yah... " Sahut Anelis yang kemudian di angguki Arsha.
Saat dokter Nita mulai mendekat dengan peralatan medisnya, Anelis segera mendudukkan tubuhnya di sebelah Arsha, mendekap erat tubuh Arsha hingga wajah Arsha terbenam sempurna di pundaknya.
Dokter Nita memulai aksinya, sembari bercerita tentang berbagai hal agar mengalihkan perhatian Arsha dari rasa sakit yang akan dirasakannya.
Dokter Nita mengikat lengan kiri Arsha dengan alat tourniquet, setelah terikat sempurna ia menyeterilkan nya dengan kapas yang telah di bubuhi alkohol sebelumnya.
Dan tibalah ke acara inti, dengan hati-hati dokter Nita mulai menancapkan jarum tajam itu di lengan kanan Arsha hingga berhasil membuat sang pemilik tubuh sedikit mengernyit kesakitan.
" Selesai, pinter deh adek Arsha... " Sahut dokter Nita sembari membereskan peralatan yang dibawanya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu 🤗
Jangan lupa like nya yuhu...
💕💕💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
awesome moment
d2 dlu jg suka mimisan. umuran arsha, tp dgn pola makan shat tanpa pengawet dan micin, sembuh. skrg aman. bener2 no makanan pabrik. smua buatan sndiri dan fresh. bahkan ice cream jg buat sndiri
2024-12-01
0
inayah machmud
jd sedih, ,, inget dulu anak perempuan ku yg sering sakit', ,, jd harus sering pergi berobat ke rumah sakit. ..😭😭😭😭
2023-01-30
2
doonag1
lanjut
2022-11-26
0