“Mengumpulkan kenangan-kenangan singkat sembari menyatukan dengan luka. Sangat mendesak dada.”
♡♡♡
Kedua sahabat itu sedang duduk di kantin sekolah, dengan wajah lesu milik Rara buat sahabatnya mengernyit, “kenapa tadi di lab kkpi? Ada yang tra bisa ko jawab kah?”
Dapat gelengan lemah, “lah? Trus kenapa ko muka jelek begini?” Avisa semakin bingung.
Tidak tahu kenapa Rara jadi bimbang menyampaikan mengingat otak saja standart, boro-boro dapat nilai delapan puluh, naik kelas saja sudah cukup buat dia bersyukur.
“Cerita, apa yang buat ko begini? Soal teman-temanmu lagi kah?”
Rara tersenyum lalu sedetik kemudian menggeleng, “trus apa?”
“Kalau jadi programmer itu susah kah?” Akhirnya tercetus juga setelah buat sahabat sendiri pusing dengan isi kepala Rara.
Mendesah panjang, mengelus dada. Buat panik saja, gumam Avisa setengah kesal.Sambil sibuk mencatat pelajaran yang tadi tidak sempat di catat dalam kelas karena keluar mendapat titah dari guru buat fotocopy materi.
Meletakkan pulpen itu, karena merasa dan peka kalau sahabatnya menunggu saran yang bakal diberikan ke dia.
“Kalau sa sampaikan begini, ko mau dengar kah ndak?” Kata Avisa aba-aba tak ingin melihat ekspresi patah semangat sahabat sendiri.
Di luar dugaan, Rara mengangguk penuh semangat semakin buat Avisa melongo tak percaya.
“Kalau pengen jadi programmer ko harus..” Melihat Rara dengan lamat-lamat penuh
pertimbangan juga bingung buat melanjutkan perkataannya.
“Harus apa?!” Desak Rara penuh penasaran.
Menghembuskan napas, saat ingin melanjutkan, “sa juga pengen jadi animator sih,” karena sempat juga Rara menceritakan saat ujian masuk di smk, ditunjukkan salah satu guru tampilan di komputer ada gambar yang bergerak semakin buat Rara ingin melakukannya juga.
Tersenyum merekah, “ko harus lanjutin kuliah kalau mau mendapatkan apa yang ingin ko mau. Karena semua tra bakal tersampaikan kalau ko saja malas-malasan belajar begini.”
Tuh kan, mendadak lihat Rara tertunduk lesu diatas meja kantin.
“Bukannya malas, Visa. Tapi tahu sendiri toh--”
“Kenapa? Mau bilang kalau ko itu bodoh tra mampu buat lanjutin kuliah?” Dipotong dan dengan tegas Avisa sampaikan.
“Itu sudah tahu baru. Masih saja maksa buat sa kuliah.” Balas Rara dengan malas.
Avisa menggeleng tidak setuju dengan asumsi sahabatnya sendiri, “tidak ada anak yang
bodoh hanya malas. Ingat! M-A-L-A-S! Ko hanya butuh sabar dan rajin belajar saja,
makanya..jan kebanyakan baca novel!” Ih, mendadak Rara jadi sebal dengan perkataannya.
Berarti Avisa tidak berikan lampau hijau buat dia bisa sukses dengan karya sendiri suatu hari nanti?
Andai Rara bisa memiliki kemampuan daya ingat tinggi seperti Livi, mungkin sudah dari dulu tidak bakal minder dan terbuka sesuai apa yang dibilang sahabat sendiri. Dia terlalu tertutup dengan mereka semua.
Sayang, terlalu payah dan patah kalau sudah mulai sakit di area kepala semakin buat Rara malas dalam hal belajar toh nanti juga terbantu diluluskan oleh guru mereka.
Belajar sesuai porsi otak saja cukup buat Rara sudah melakukan kewajiban sebagai siswi di sekolah.
“Tapi, belajar itu harus dengan sungguh-sungguh, Ra. Kalau ko setengah-setengah yang didapati tra sesuai diinginkan.” Kok Avisa bisa menebak isi pikiran gadis itu sih?
Ih, Rara jadi bergidik ngeri dengan sahabat sendiri. Apa Avisa memiliki indra keenam?
Dibalas senyum sekenanya lalu memesan bakso kantin.
Rara sendiri bingung hal apa harus bisa buat daya serap pelajaran dengan mudah tanpa harus kesulitan belajar dari malam sampai ketemu matahari, bagi dia sendiri itu mustahil sekali buat mendapati hasil yang diharapkan. Ngomong saja mudah tapi dikerjakan sangat susah walau telah berjuang semaksimal mungkin.
“Nanti kalau sudah pulang, tunggu depan kelas eh?” Kata Rara, berpisah saat bel masuk
pelajaran ketiga bunyi.
“Sip, kalau ko yang pulang duluan tunggu di depan kantor.”
Masuk dalam kelas yang dirasakan Rara hanya satu, sunyi. Tidak ada yang indah selain diksi itu.
Sejak Reihan lebih memilih pergi dengan kalimat panjang cukup buat gadis itu menangkap kalau mantan kekasih masih belum ingin pamit dari hubungan yang terbilang hampir awet menginjak empat bulan lagi setahun pacaran.
Tapi, takdir lebih memilih buat mereka mengucapkan perpisahan walau dengan cara menyakitkan Rara sendiri.
♡♡♡
“Ra..ko sudah dengar kalau Kak Luthfi putus?” Seru Avisa.
Memang sudah lebih dulu tahu kabar itu, cukup buat Rara senang dalam diam.
“Kok bisa sih mereka putus?” Kata Rara basa-basi.
“Tra tahu, Ra. Duh..sa senang sekali kalau dong putus.”
Oh, jangan salah Avisa, sahabatmu lebih jauh senang hanya saja lebih memilih menyembunyikan perasaan suka itu, untuk menjaga persahabatan mereka.
Masih terekam jelas saat Luthfi memanggil, “Ra..mau ke mana?”
“Kanjang nih kak, kenapa mau ikut?”
“Oh, tidak, biasa..lagi sama..” Sambil menunjuk Naura dengan sumringah.
Dan Rara hanya ehem lalu pamit meninggalkan mereka walau tahu hati taik saat melihat wajah Naura yang membunuh itu ke arahnya.
Diluar dugaan, kok sahabatnya mendadak bete sih? Saat sapa doang dengan cowok itu?
Rara hanya tersenyum mengingat percakapan singkat itu. Padahal yang bisa dia tangkap dari wajah Luthfi, banyak kidung tertiup buat teman sekelasnya dan menjadi pertanyaan kok bisa mereka memilih berpisah?
Ah, sudahlah. Itu sudah tidak penting. Memang Naura sendiri kurang minat dalam menjalin hubungan lama kalau tidak serius dengan cowok itu. Yah, mau dibilang sebagai penyenang hati saja. Kalau bosan buang.
“Terus ko masih ada perasaan sama dia?” Kata Rara basa-basi, ingin tahu lebih jauh saja, lebih ke to the point sebenarnya pertanyaan itu sedikit menenangkan perasaan Rara saja apa nanti jawaban sahabat sendiri.
Benar. Avisa masih suka cowok tersebut. Kok, ada rasa kecewa saat dentuman terasa sangat cemburu? Bukan kah rasa itu lebih dulu dilabuhkan oleh Avisa? Kenapa dia harus cemburu apalagi sama sahabat sendiri?
“Sampai kapan ko cinta dia dalam diam? Sakit loh, kalau sa jadi ko.” Dibalas senyum miring dari Avisa.
Lebih pedih kalau satu sahabat belum menyuarakan hati juga menyukai cowok yang
sama. Ah, mendesah. Sampai kapan Rara menyimpan rahasia ini dari sahabatnya?
Sempat juga Rara mengusulkan buat sahabatntya minta nomor cowok itu sekedar alasan belajar sama-sama di sekolah karena kalau di rumah jelas tidak dapat restu dari orangtua Avisa. Justru dapat penolakan halus dan mendadak salting pun melihat semu merah di kedua pipi sahabatnya itu.
“Kanjang yok?! Pen makan cilok.” Avisa pun memelas, tidak tahu kenapa coba berbincang seru di sana saja, sekarang sudah hampir detik masuk kelas ia ngajak sahabatnya ke kanjang.
“Ayo sudah, kenapa tadi tra ke sana trus makan di kantin sih?” Tuh kan, kena semprot dari Rara lalu dibalas cengir.
Usai beli cilok, “Ra, biar nanti sa makan dalam kelas saja sudah? Soalnya sedikit lagi masuk.” Kata Avisa dengan cengiran.
Berdecak. “Makanya, lain kali tuh sebelum ngobrol kita ke kantin supaya ko tra rengek minta di temani.” Kesal Rara.
Mereka pun kembali ke kelas masing-masing, dalam perjalanan menuju kelas Rara mengingat kembali, “sa tra bisa berduaan dengan Luthfi! De tuh maunya gonjengan dengan sa saja tuh?” Protes Naura.
“Ji, trus kenapa ko tolak? Ko nih pea sekali kah jadi cewek!” Nila, temannya tak habis pikir dengan Naura. Hanya menggeleng kesal.
“Ah..masa sa mau jalan trus berduaan dengan dia?! Sedangkan teman-temannya banyak sekali?” Lagi, Naura berdecak kesal masih membela diri.
Dan ingatan tadi sudah tersampaikan ke sahabatnya, “sempat sih sa dengar mereka kalau Naura kesal diajak berdua keluar trus ada teman bandnya juga.” Begitulah yang sudah disampaikan Rara tadi membeli cilok di kanjang.
Saat keluar dari lorong samping kelas akuntansi..
“Eh Rara, kenapa tra masuk ke kelas? Nanti gurumu tra kasih masuk ke kelas lagi!” Kata Luthfi.
Pandangan yang tadinya lurus, sontak terkejut, masih ada cowok itu di kantin? Bukannya sudah masuk jam berikutnya?
“Ah..ko sendiri bikin apa disini?” Spontan kalimat itu tercetus dari mulut Rara.
“Haha...biasa kabur dulu dari mata pelajarannya Bu Tri!” Celetuhnya tanpa bersalah.
“Oh, sa lapor dulu!” Rara pura-pura mengancam sambil mengayunkan jari telunjuknya ke arah Luthfi.
“Bah...Rara yang cantik, jangan lapor dong. Cantiknya semakin bertambah deh!” Ih, kok bukan hanya ganteng melainkan pandai gombal?
Semakin buat Rara menggeleng dengan tingkah Luthfi.
“Halah...Sa anti gombal! Tetap sa lapor nanti!” Sambil mengeluarkan lidah.
Tiba-tiba saja, muncul dan terbang begitu saja dengan sinyal peringatan jangan makan teman sendiri...
“Sa masuk ke organisasi rohis karena apa, Ra?” Kata Avisa kala itu dengan perasaan menggebu.
“Kenapa?” Rara membalas dengan cuek.
“Itu loh..ada Kak Luthfi di sana! Dia dipilih jadi ketua rohis kah!” Senangnya.
Lalu kembali melihat tawa puas milik Luthfi, dia pun tersenyum dan pamit naik kelas.
“Kakak juga tempo masuk kelas sudah sana! Jan kelyuran tros.” Begitulah yang di katakan Rara saat sudah tak berbalik lagi melihat cowok itu. []
Notes :
Deng \= Dengan
Tempo \= Cepat *Bahasa Gaul Papua*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments