9. Curhatan Jessi

Reihan menuruni anak tangga menuju lantai dasar kediaman orangtuanya. Sebenarnya ini lebih ingin tinggal di apartemen tapi ia tidak ingin meninggalkan kedua orangtuanya di rumah ini berdua. Tinggal di apartemen yang beberapa waktu yang lalu ia beli untuk berinvestasi cukup dekat dengan rumah sakit tempat ia bekerja tapi ia tidak mau kedua orangtuanya merasa kesepian di rumah ini.

"Pagi Mam," sapa Reihan mendudukkan bokongnya di kursi meja makan bersebelahan dengan sang keponakan yang tampak sudah rapi namun ada sesuatu yang membuat Reihan mengerutkan keningnya yaitu melihat ekspresi sang keponakan yang tampak cemberut saja.

"Kenapa sayang?," tanya Reihan.

"Biasa Paman, tidak mau pulang," ucap Rania membuka suara. Putrinya memang seperti itu setiap kali mereka pulang ke Indonesia.

"Oh...," jawab Reihan. Ia tidak mau membujuk Regina karena memang tidak ada yang bisa membujuknya. Hanya satu orang di rumah ini yang selalu Rania patuhi ucapannya yaitu Opanya.

Setelah Kalen bergabung di meja makan, semuanya memulai sarapan mereka. Pagi ini Dea menyiapkan roti isi sebagai menu sarapan mereka. Anggota keluarganya hanya dirinya yang menyukai nasi goreng sebagai menu sarapan.. Kedua anaknya dan menantu serta cucunya tidak suka makan makanan berat di pagi hari.

Setelah sarapan Reihan berpamitan pada seluruh keluarganya untuk berangkat kerja. Ia ada jadwal penyuluhan pagi ini yang tidak bisa ia wakilkan pada Jessi karena gadis itu masih baru bekerja padanya dan ia belum bisa mempercayai gadis itu sepenuhnya.

"Maaf Kak, aku tidak bisa mengantar Kakak ke Bandara karena ada jadwal penyuluhan yang tidak bisa aku tinggalkan," ucap Reihan pada sang Kakak.

"Iya, tidak apa apa Rei," angguk Rania. Ia begitu tahu tanggung jawab sebagai seorang Dokter dan ia juga merasakannya.

Reihan mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman orangtuanya dengan kecepatan sedang. Pria yang memiliki postur tubuh profesional itu tampak begitu fokus pada jalanan yang mulai padat oleh kendaraan. Percakapannya dengan sang Kakak semalam menjadi buah pikirannya. Ia sendiri juga bingung kenapa ia bisa dengan mudahnya mengatakan kepemilikannya pada gadis yang baru saja ia kenal. Namun ia yakin semuanya hanyalah kebetulan saja.

Sesampainya di rumah sakit Reihan dibuat heran oleh Kakak sepupunya, Zain yang berada di parkiran. Untuk apa Kakaknya itu ada disini?, Zain bekerja di rumah sakit yang dipimpin Papanya. Dan setahunya tidak ada pertemuan pagi ini yang melibatkan Kakaknya itu.

"Rei...," sapa Zain berjalan menghampiri Reihan yang menatapnya dengan tatapan dingin.

"Hum"

"Kenapa tidak membalas pesanku semalam?," tanya Zain.

"Jadi Kakak datang hanya untuk itu?," tanya Reihan dengan tatapan tidak percaya. Sejauh itu Kakaknya datang hanya untuk bertanya kenapa ia tidak membalas pesannya.

"Iya. Sekalian aku ingin bertemu dengan asisten mu itu," jawab Zain.

"Ingat Maya, tunangan Kakak," ucap Reihan lalu melangkah meninggalkan Zain. Ia benar-benar heran dengan kelakuan Kakak sepupunya itu. Hanya Zain satu-satunya keturunan Atmaja yang kelakuannya brengsek dan suka sekali bermain wanita meski ia seringkali beralasan tidak memakai hati karena hatinya hanya milik Maya.

"Rei... jangan--

"Kembalilah ke kota Kak, atau aku perlu menghubungi Uncle Kai?," sela Reihan.

Reihan memijit kepalanya yang terasa pusing karena kelakuan Kakak sepupunya itu. Apakah benar Kakaknya itu anak kandung dari Uncle Kai atau tidak. Kelakuannya benar benar berbeda.

"Jessi... kamu sudah datang?," tanya Reihan yang melihat Jessi sedang berdiri di depan lift

"Iya Dokter," Jessi memasang wajah datarnya.

Reihan mengangguk pelan lalu kembali diam. Asistennya ini terlihat masih merasa kesal padanya. Ia juga tidak begitu peduli, biarlah bukankah ia hanya merangkul pinggangnya saja bukan lainnya. Menurutnya itu sih wajar tapi entahlah bagi asistennya itu.

***

"Maaf ya membuatmu menunggu lama, biasa Aiden minta aku ke ruangannya dulu," ucap Reska pada Jessi. Mereka memang berjanji untuk makan siang bersama namun ia malah datang terlambat.

"Iya...," angguk Jessi. Ia memaklumi bagaimana hubungan sahabatnya ini dengan Aiden, pria yang katanya bucin akut pada sahabatnya ini. Betapa beruntungnya sahabatnya ini mendapatkan kekasih yang begitu sangat mencintainya. Tidak hanya itu Aiden juga pria mapan yang akan mewarisi kerajaan bisnis Papanya. Aiden hanya anak tunggal karena adiknya meninggal dunia saat dilahirkan.

"Sudah pesan belum?," tanya Reska.

"Sudah, makanan kesukaan kita," jawab Jessi.

"Thanks ya Jessi. Karena aku datang terlambat, sebagai gantinya aku yang bayar semua pesanan kita," ucap Reska.

"Benar ya," jawab Jessi tersenyum lebar.

"Kapan sih aku berbohong sama kamu," ucap Reska.

"Oh ya bagaimana dengan pekerjaan mu?. Dokter Reihan tidak membuat kamu kesulitan kan?," tanya Reska dengan tatapan penuh kecemasan. Seisi rumah sakit tahu siapa Dokter Reihan yang selalu bersikap arogan pada asistennya.

Jessi menggeleng pelan, dua hari bekerja sebagai asisten Dokter Reihan tidak ada kesulitan sama sekali."Tidak, tapi--

"Tapi apa Jessi?," tanya Riska penuh selidik menatap sahabatnya yang tampak gelisah.

Jessi menatap sekeliling restoran memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka."Ris... tapi kamu jangan kaget ya," jawab Jessi.

"Memang ada apa sih Jessi?, sepertinya rahasia," ucap Riska menatap sahabatnya itu dengan penuh selidik.

"Kemarin, Dokter Reihan mengakui aku sebagai kekasihnya dihadapan seorang wanita," bisik Jessi.

"Serius?," pekik Riska tanpa sadar saking terkejutnya. Selama ini tidak ada wanita yang berhasil meluluhkan hati pria yang juluki Aiden kanebo kering itu. Reihan sangat sulit untuk di dekati dan juga selalu bersikap dingin.

"Res, pelan kan suara kamu," ujar Jessi yang benar benar malu karena pengunjung restoran malah memperhatikan mereka.

"UPS..sorry," kekeh Reska menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Jangan-jangan kalian sebenarnya memang memiliki hubungan makanya Dokter Reihan bisa ngomong seperti itu," tuduh Riska menggoda sahabatnya itu.

"Ish...mana ada. Aku dan dia itu bagaikan langit dan bumi Res. Aku juga tidak memiliki keinginan mempunyai kekasih yang status sosialnya berbeda jauh denganku. Aku capek dihina terus Res," jawab Jessi. Ia juga tidak ingin menjalin hubungan dengan pria manapun karena fokusnya yaitu mengumpulkan uang untuk pengobatan ibunya.

"Keluarga Atmaja tidak seperti itu ya Jessi," ucap Reska.

"Ish...kok omongan kamu malah ngelantur sih Res. Aku itu malah kesal banget sama Dokter Reihan. Dia bahkan tidak meminta maaf setelah merangkul pinggangku," ucap Jessi mengerucutkan bibirnya ke depan.

"What?. Dokter Rei rangkul pinggang kamu?," tanya Reska dengan tatapan tidak percaya. Ini adalah berita terhangat, dan jika saja ia ceritakan ini pada Aiden pasti tunangannya itu terkejut. Tapi ia tidak akan menceritakannya pada Aiden karena itu semuanya adalah rahasia mereka berdua.

"Iya," jawab Jessi.

"Fix. Aku yakin Dokter Rei memang suka sama kamu," ucap Reska.

"Tapi aku tidak," jawab Jessi dengan cepat. Memang Dokter Reihan bisa dikatakan sangat sempurna untuk seorang pria. Tapi ia tidak tertarik sedikitpun pada pria itu malah ia sangat kesal setiap kali melihat wajah pria itu.

Sementara itu dari kejauhan sepasang mata memperhatikan keduanya bahkan mendengar percakapan mereka.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Salim ah

Salim ah

waduh siapa ya kira2 orang itu 🤔
hmm..apakah dokter riehan?..
lanjut dan semangat terus thor

2025-03-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!