Keluarga Frederick datang ke rumah sakit untuk melihat jenazah Reno.
Di sana Rima menangis histeris melihat dan adik terbujur kaku.
" Reno hiks hiks kenapa kamu pergi secepat ini "
William mengusap bahu istrinya " Sudah ma ikhlaskan kepergian Reno agar dia tenang di alam sana".
" Tapi pa" Rima tak kuasa meluapkan kesedihannya, dia pun tersungkur dan tak sadarkan diri membuat William dan yang lainnya panik.
Flashback on.
Reno dan Felisa hendak pulang setelah mengantarkan CV ke kantor.
Felisa sangat senang akhirnya bisa bekerja dan membantu keuangan kakaknya serta membiayai kuliahnya sendiri.
Reno yang sebenarnya menaruh hati sejak pertemuan pertamanya dengan Felisa pun bersedia melakukan apapun untuk membuatnya bahagia.
Waktu sudah menujukkan pukul 6 sore. Tapi mobil yang mereka tumpangi masih terjebak macet di jalan raya.
" Fel "
" Emm " Jawabnya sambil menoleh menatap Reno yang dari tadi juga menatapnya.
" Aku mau ngomong sama kamu"
" Ngomong apa tuan Reno, ngomong saja " Jawab Felisa dengan senyum manisnya.
" Aku menyukaimu Fel, maukah kamu menjadi istriku ibu dari anak anakku? " Ucap Reno dengan lirih dan pandangan yang masih terkunci pada wajah cantik Felisa.
Felisa merasa terkejut dan tidak tahu harus menjawabnya apa karena sebenarnya dia juga menyukai laki laki berumur 42 tahun itu meskipun usia mereka terpaut sangat jauh, dan rasanya belum siap saja kalau tiba tiba mereka menikah.
" Em am, tuan Reno se sebenarnya a a aku ju juga suka padamu tapi apa harus secepat ini kita menikah? "
Reno tersenyum bahagia kemudian mengusap lembut rambut indah Felisa yang tergerai bebas " Kalau kamu belum siap aku bisa menunggu kok, santai saja. Yang pasti aku tidak mau main main dan buang waktu untuk pacaran, aku ingin segera menikah dan membina rumah tangga ".
" Tapi kan aku masih kuliah dan aku juga ingin berkarir dulu agar kedua orang tuaku di alam sana bangga padaku, serta tidak mengecewakan perjuangan kakakku selama ini. Jadi untuk membina rumah tangga dalam waktu dekat ini kayaknya aku belum siap" Jawab Felisa.
Reno pun mengangguk dan tersenyum getir karena keinginannya untuk segera menikah dalam waktu dekat ini sepertinya tidak akan terwujud.
Tiba tiba ada sebuah motor yang melintas di dekat mobilnya dan hampir saja menabraknya.
Dan mereka pun segera melajukan mobilnya karena lampu merah sudah berubah menjadi hijau dan kemacetan sedikit demi sedikitpun mulai terurai.
Setelah keluar dari kemacetan yang hampir dua jam , akhirnya mereka pun bisa keluar dan segera mengambil jalan pintas agar bisa cepat sampai tujuannya.
Namun ketika mereka sampai di persimpangan, tiba tiba ada sebuah motor yang melaju sangat kencang dan hampir saja menabrak mobil yang mereka tumpangi dan dengan reflek, Reno pun membanting setirnya ke sebelah kiri".
Cekikkk
Reno menoleh pada Felisa yang terlihat sangat ketakutan" Fel, kamu gak apa apa ?".
Dengan gemetar Felisa pun menggeleng.
Dan mereka pun melajukannya kembali mobil yang mereka tumpangi.
Karena waktu sudah cukup malam dan jalanan pun sepi , Reno membawa mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi !
Dan
Bruaks pyarrrr
Entah karena apa mobil yang dibawa Reno oleng dan menabrak pembatas jalan . Seketika asap mengepul.
Flashback off .
🌺
🌺
🌺
Kania terkesiap dan melihat dirinya berada di dalam pelukan seorang pemuda di atas ranjang dengan tubuh polos hanya tertutup selimut tebal.
" Hah , aku di mana? Astaga apa yang sudah aku lakukan?" Gumamnya sambil melepaskan diri dari dekapan Sean.
Kania merasakan tubuhnya remuk dan bagian sensitifnya sangat sakit bahkan untuk berjalan saja susah.
" Au , aduh kenapa semua bisa seperti ini " Kania mulai mengenakan bajunya kembali dan duduk di tepi ranjang sambil menangis sesenggukan.
Mendengar suara tangisan Kania, Sean pun terbangun dan meraih baju bajunya yang berserakan untuk segera dikenakan.
Sean ikut duduk di samping Kania " Maafkan aku Kania, semua terjadi di luar akal sehat ku. Sungguh aku minta maaf, kamu tidak perlu cemas aku akan bertanggungjawab dan menikahimu kalau kamu hamil karena kita melakukan itu tanpa pengaman, meskipun" Sean menghentikan ucapannya karena melihat ekspresi Kania yang semakin terluka.
( Sean memang melakukan tanpa pengaman meskipun sebenarnya ada satu pack ko***m pemberian dari pihak hotel semalam).
Kania masih tetap menangis dengan semua penyesalannya.Bahkan di usianya yang masih sangat belia dia harus kehilangan keperawanannya.
Sean tidak tahu lagi harus bagaimana menghentikan tangisnya, dia peluk perlahan dan mengusap lembut bahunya agar lebih tenang.
Tiba tiba Kania terperanjat dan mengusap pipinya yang basah oleh air mata kemudian mendorong tubuh Sean dan mencari ponselnya yang berada di dalam tasnya.
" Ponselku mati , pasti kak Felisa sangat mencemaskanku" Gumamnya sendiri yang memang belum mengetahui Nabila pulang ke rumah sedangkan Felisa mengalami kecelakaan parah bahkan merenggut nyawa Reno.
Sean tahu kebingungan yang di alami Kania, dia segera beranjak dan meraih tas kecilnya kemudian menyodorkan sebuah charger kepada Kania.
" Pakai ini" Ucap Sean .
Tanpa mengeluarkan kata katanya Kania pun mengambilnya dari tangan Sean dan segera mengisi daya baterainya.
Setelah dikira cukup untuk menyalakan ponselnya Kania segera menghidupkan ponselnya untuk menghubungi kakaknya agar tidak khawatir.
Namun matanya terbelalak tajam begitu melihat ada banyak panggilan dari Nabila dan pesan yang masuk bagaikan hantaman pedang yang mengenai dadanya.
Kania pun lemas dan kembali menangis sesenggukan membuat Sean kaget dan penasaran. Dia pun segera mendekatinya dan melihat ponsel Kania untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
" Sekarang aku antar kamu ke rumah sakit melihat keadaan kakak kamu" Ucap Sean yang dijawab anggukan oleh Kania.
#
Di rumah sakit, Nabila sengaja tidak memperlihatkan dirinya di depan ibunya Erland karena masalah akan semakin runyam kalau sampai dia tahu kebenarannya.
Dengan lusuh Nabila tetap duduk di samping tubuh Felisa yang terbaring dengan mata masih terpejam.
Ceklek
Tak lama kemudian Kania datang dengan keadaan yang sama lusuhnya dan mata sembab.
"Darimana saja kamu semalam gak pulang! " Tanya Nabila dingin dan tanpa melihat adiknya itu.
" A a aku aku aku"
" Kak, kami " Sahut Sean.
" Diam! Jangan bicara lagi! Sekarang kamu pergi saja dari sini! " Gertak Nabila yang kesal pada adiknya yang dia anggap tidak perduli dengan kakaknya.
Kania menunduk dan menangis sesenggukan, dia luruh dan menurunkan lututnya di depan kaki kakaknya " Kak, aku mohon maafkan Kania hiks hiks".
Nabila mencoba tidak menangis dan menepis tangan Kania yang mendekap kedua kakinya
" Cukup Kania, selama kakak tidak di rumah apa begini kelakuan kamu, pulang pagi! ".
Sean terdiam dan tak bisa berbuat apa apa melihat Kania yang menangis sesenggukan di bawah kaki kakaknya.
Dan saat Kania tersungkur dengan air matanya membuat Sean iba dan berjongkok untuk menolongnya.
" Kania sudahlah, aku antar kamu pulang ke rumah " Ucap Sean.
Nabila menghela nafas dalam dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
F.T Zira
sepertinya ada kata yg kurang/CoolGuy//CoolGuy/
2025-04-02
1
Nazefa
semakin menegangkan.. lanjut thor.../Determined/
2025-03-27
1