Villa 21+++

"Ayah, apakah aku bisa mendapatkan lebih dari ini?" Pinta Rania dengan memandang mata Putra penuh dengan permohonan.

Putra tampak berpikir sejenak.

"Tapi, sayang. Kamu harus pendidikan hari ini!" Jawab Putra.

"Lalu? Apa masalahnya? Bukankah semua hasil test aku sudah lolos semuanya? Bahkan test keperawanan aku juga sudah lolos. Jadi, apa yang perlu dipikirkan?" Tanya Rania dengan mata penuh ketegasan.

"Aku tidak ingin menghancurkan masa depan kamu, Rania!" Jelas Putra.

Rania menarik napas panjangnya.

"Baiklah kalau begitu, itu artinya, Ayah tidak bersedia dan tidak menginginkan aku. Okay, fine. Aku paham akan hal itu. Ayah ingin memberikannya khusus untuk Siska saja kan?" Ucap Rania seraya mendorong tubuh Putra.

Putra bergeming, ia sangat bingung dengan situasi saat itu.

"Rania, aku.."

"Stop, Yah. Cepat keluar dari kamarku!" Sentak Rania memotong ucapan Putra seraya menyambar handuk dan masuk kedalam toilet.

Rania meninggalkan Putra begitu saja didalam kamarnya.

Sejujurnya, Putra sangat ingin sekali melakukan hal itu kepada Rania. Namun, Putra tidak ingin merusak masa depan Rania.

Ditambah, hari itu juga Rania akan berangkat pendidikan.

Huh, baru juga membaik sudah berseteru kembali.

Ada-ada saja Rania dan Putra ini.

***

"Baik, saya minta agar di undur tiga hari lagi untuk keberangkatan Rania Baskara. Terima kasih." Ucap Putra kepada salah satu petugas yang bertugas dalam pendidikan Bintara panggilan teleponnya.

Putra meminta tenggang waktu tiga hari lagi agar Rania masih tetap stay di rumah.

Sebenarnya, untuk gelombang Bintara Rania sendiri masih akan dilakukan minggu depan. Namun, karena Rania sudah sangat tidak sabar ingin terbebas dari Putra. Mau tidak mau ia ingin mempercepat untuk menunggu pendidikan Bintara di asrama saja dibandingkan di rumah yang tidak pernah diperbolehkan dalam melakukan hal apapun oleh Putra.

"Minah, panggil Rania untuk segera sarapan bersama!" Perintah Putra kepada Minah seraya meletakkan ponselnya diatas meja makan.

"Baik, Tuan." Minah segera bergegas menuju kamar Rania, untuk memanggil Rania.

Tidak lama kemudian, datanglah Rania dengan wajah yang begitu masam.

Wajah Rania sama sekali tidak mencerminkan hari yang menyenangkan pagi itu.

"Cepat sarapan, Rania. Setelah itu ikut denganku. Kemasi pakaianmu untuk dua hari ini." Perintah Putra kepada Rania.

Rania menoleh kearah Putra dengan mengerutkan dahinya.

"Apa, Yah? Ikut dengan, Ayah? Aku nanti sore sudah harus berangkat ke Asrama." Jawab Rania.

"Aku sudah minta tenggang waktu tiga hari untuk kamu berangkat ke Asrama. Lagi pula, gelombangmu juga belum mulai, akan mulai nanti minggu depan. Untuk apa kamu menunggu lama di Asrama? Sudah, ikut denganku jika keinginanmu ingin aku penuhi!" Titah Putra kembali.

Sontak Rania membelalakan matanya, ia bingung dengan ucapan Putra.

"Maksudnya?" Tanya Rania bingung.

"Nanti akan mengetahuinya!" Jawab Putra dalam sikap dinginnya.

Rania tidak memperpanjang kembali, ia memulai sarapannya dengan pikiran masih penuh dengan tanda tanya di otaknya.

***

"Dicky, mengapa Putra akhir-akhir ini sangat sulit aku hubungi? Apakah ada masalah dengan Putra?" Tanya Jendral Agung kepada Dicky yang saat ini tengah menggantikan posisi Putra untuk bertugas. Dikarenakan, Putra sedang cuti selama dua hari kedepan.

"Lapor, Jendral. Komandan Putra sedang mengurus Rania untuk pendidikan Bintara. Jadi, komandan Putra telah menitipkan salamnya kepada saya untuk Jendral." Jelas Dicky kepada Jendral Agung.

Jendral Agung mengangguk tanda mengerti.

"Bintara? Mengapa Rania tidak mengambil Akademi Kepolisian saja?" Tanya Jendral Agung kepada Dicky.

"Menurut info dari Komandan Putra, Rania bersedia masuk Bintara saja, Jendral." Jawab Dicky.

"Sayang sekali, padahal aku melihat potensi Rania sangat bagus sekali. Dari segi memanah, berkuda, militernya, bahkan mungkin menembaknya juga bagus. Hanya saja untuk menembaknya aku belum pernah melihatnya." Jawab Jendral Agung.

Dicky hanya tersenyum simpul mendengar ucapa Jendral Agung.

"Kalau begitu, sampaikan kepada Putra. Jika nanti Rania sudah lulus Bintara, segera menemuiku secepatnya. Dan juga, aku akan melakukan pertemuan kembali antara Putra dan Siska untuk membicarakan jenjang yang lebih serius." Titah Jendral Agung kepada Dicky.

Dicky bergeming dengan memikirkan nasib Rania jika Putra menikah dengan Siska.

(Bagaimana nasib Rania, jika komandan menikah dengan Siska? Pasti, Rania akan sangat kecewa dan terpukul) 

Batin Dicky.

"Baik, Jendral." Jawab Dicky dengan salam hormatnya.

"Kalau begitu, kamu ikuti Willy. Tugas apa yang harus kami kerjakan selama Putra tidak ada. Jika ada yang kurang paham, kamu bisa langsung tanyakan kepada Willy. Willy akan membimbingmu." Perintah Jendral Agung.

"Baik, Jendral. Laksanakan!" Jawab Dicky seraya mengekori Willy yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan Jendral Agung.

***

"Kita akan kemana, Ayah?" Tanya Rania tatkala dirinya sudah berada dalam satu mobil dengan Putra.

Putra sendiri telah berdandan layaknya anak muda dengan style yang membuat idaman para kaum hawa.

Putra tersenyum simpul dengan mata fokus lurus kedepan.

"Sudah, ikuti saja. Nanti kamu pasti suka!" Jawab Putra.

Baru saja Rania ingin mengeluarkan pertanyaan kembali, ponsel Putra sudah berdering tanda ada panggilan masuk.

Terpampang jelas dilayar bernama Siska.

Putra bergeming, ia sengaja tidak ingin menerima panggilan dari Siska.

Rania yang melihat layar ada nama Siska, langsung membuang muka ke arah luar jendela mobilnya.

"Mengapa tidak diangkat, Yah?" Tanya Rania dengan wajah mulai masam.

"Sengaja, aku tidak ingin hari-hariku ini diganggu oleh siapapun. Selama dua hari ini, waktuku khusus untukmu saja." Jawab Putra dengan nada tenang.

Rania mengerutkan dahinya, ia masih mencoba mencerna ucapan yang keluar dari mulut Putra.

Namun, lambat laun menciptakan senyuman dibibir Rania.

Selang tiga jam, ia telah sampai di sebuah villa indah dan mewah. Dengan pemandangan yang sangat cantik.

Villa tersebut sudah di sewa oleh Putra seja pagi dan khusus untuk mereka berdua saja.

Jarak antara villa yang satu dengan yang lainnya cukup berjauhan.

"Villa? Ayah mengajakku menginap di Villa? Berdua saja?" Tanya Rania dengan mata berbinar.

Putra mengangguk.

"Iya, kamu suka?" Putra balik bertanya.

Rania mengangguk dengan cepat. Ia langsung keluar dari mobil dan menikmati terpaan udara segar yang masuk melalui indera penciumannya.

"Ahhh... Segar sekali." Desah Rania.

Putra segera mengunci mobil dan menggandeng tangan Rania.

"Masuk yuk." Ajak Putra kepada Rania.

Rania tersenyum sumringah, baru kali ini lagi Putra mengajaknya berjalan-jalan. Karena, ia sangat jenuh sekali didalam rumahnya.

Begitu masuk kedalam Villa, datanglah seorang membawakan dua gelas welcome drink.

"Thank you." Ucap Putra.

Sang pelayan mengangguk dan tersenyum, ia pergi meninggalkan Putra dan Rania hanya berdua saja didalam Villa tersebut.

Putra dan Rania mencicipi minuman yang diberikan oleh pelayan.

Tatkala Rania melangkahkan kakinya lebih dalam, ia melihat sebuah private pool.

Membuat Rania semakin senang berada didalam Villa tersebut.

"Ish, keren sekali Ayah Villanya." Ucap Rania senang.

"So, kamu happy?" Tanya Putra untuk memastikannya.

"Sure, i'm so happy!" Jawab Rania dengan berlari menghambur pada tubuh Putra.

Dengan sigap, Putra langsung menerima tubuh Rania dan menggendongnya menghadap depan.

Pintu telah dikunci rapat oleh Putra.

Putra duduk ditepi ranjang, dengan Rania yang masih dalam gendongan Putra duduk menghadap Putra. Rania melingkarkan kedua tangannya pada tengkuk leher Putra. Sedangkan Putra melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping Rania.

"Apakah kamu sudah lapar? Atau ingin langsung berenang?" Tanya Putra dengan jarak begitu dekat pada wajah Rania.

"Hmmm.. Terserah Ayah saja." Jawab Rania pasrah.

Putra langsung melum*t b*bir Rania dengan lembut. Rania memejamkan matanya dan membalas serangan dari Putra.

"Ahh.. Ayah.. Mengapa kamu hanya mengajakku berdua saja tanpa ajak kakak dan yang lainnya?" Tanya Rania tatkala melepaskan pagutannya.

Putra memandang wajah Rania dengan banyak arti.

"Aku hanya ingin meluangkan waktu bersamamu, sayang. Jadi, tolong gunakan waktu kita sebaik mungkin." Bisik Putra seraya memutar posisi tubuhnya, kemudian membaringkan Rania diatas ranjang yang empuk.

Pandangan Putra tidak beralih menatap wajah Rania.

Putra kembali membenamkan b*birnya pada b*bir Rania. Keduanya terpaut dalam pagutan yang lembut nan indah.

Putra berhasil mengukung tubuh Rania, Rania begitu pasrah tatkala Putra menjamahi dirinya.

Memang itu yang diharapkan oleh Rania, agar ia segera dijamah terus-terusan oleh Putra. Pria yang saat ini tengah ia cintai dan sayangi. Ia tidak memikirkan cinta terlarang dan akan dosanya. Menurutnya, ia bisa meluapkan segala emosi dan hasratnya kepada Putra.

Rania membalas lumat*n Putra hingga begitu memanas.

Satu persatu, Putra membuka kancing pakaian Rania. Begitu juga Rania membantu membuka pakaian Putra. Keduanya sangat sudah tidak sabar ingin memadu kasih.

Usia yang terpaut jauh lima belas tahun, tidak menjadi penghalang bagi keduanya.

Rania dan Putra hanya menyisakan saja bagian penutup segitiga bawah area intim.

Putra segera menyesap dan menggigit puncak pay*dara milik Rania. Hingga Rania mendesah dan mengerang nikmat.

Tidak hanya itu, Putra juga telah mengusap dibagian yang tidak terjamah oleh mulutnya, yaitu area bawah milik Rania. Ia mengusap dengan lembut dan tampak sudah terasa b*sah.

Putrapun tersenyum seraya terus melakukan serangan-serangan yang membuat Rania kehilangan akal sehatnya.

Kemudian Putra membuka penutup keja*tanannya dan juga penutup area intim milik Rania.

Putra begitu terkejut ketika melihat milik Rania yang begitu indah dengan berwarna merah muda.

Tidak kalah terkejutnya, Rania melihat milik Putra yang panjang, mengeras, berisi dan begitu kokohnya.

Putra mendekatkan kembali tubuhnya pada Rania. Putra menyentuh tubuh Rania tanpa penghalang sehelai benang pun.

"Apakah Ayah akan melakukannya sekarang?" Tanya Rania dengan pandangan tidak sabar.

"Bukankah ini yang kamu inginkan?"

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

siap unboxing putra...

2025-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Terkekang
2 Menegangkan
3 Terjamah
4 Hukuman
5 Penyesalan
6 Kecewa
7 Membaik
8 Menggoda Iman
9 Gara-Gara First Kiss
10 Second First Kiss
11 Gara-gara Kolam Renang
12 Ditolak Mentah-mentah
13 Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14 Malam Panas 21+
15 Sepucuk Surat
16 Masih Dalam Pencarian
17 Menemukan Rania
18 Uh, Panas 21+++
19 Villa 21+++
20 Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21 Lagi dan Lagi 21+++
22 Bad Mood
23 Asrama Bintara
24 Sesuatu Yang Berbeda
25 Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26 Pertemuan Rania dan Putra
27 Pernikahan Putra dan Siska
28 Briptu Fauzi
29 Akankah Terulang Kembali?
30 Dan Terjadi Lagi
31 Siapa Dia?
32 Waspada!
33 Penuh Dengan Kepanikan
34 Lolos Dari Incaran
35 Ah, Jangan!
36 Runtuhnya Sebuah Komitmen
37 Rasa Kecewa Dicky
38 Menuju Desa Seruni
39 Penyesalan Putra
40 Coach Baru?
41 Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42 Pesona Rania
43 Denyut Jantung Berdebar
44 Rasa Khawatir
45 Iptu Mario, Kamu Kemana?
46 Bagai Tersambar Petir
47 Bawa Aku Pergi!
48 Terasa Sesak di Dada
49 Mendadak Galau
50 Ungkapkan atau Tidak?
51 Kamu Kemana Lagi?
52 Tersipu Malu
53 Terbayang Wajahnya
54 Pertemuan 2 Hati
55 Perdebatan Sengit
56 Jadian vs Hamil
57 Penyelidikan Identitas
58 Hari Kelulusan
59 Bripda Rania Baskara
60 Memori Lama
61 Sakit Hati
62 Kediaman Jenderal Agung
63 Chemistry Rania & Mario
64 Pendaftaran Kandidat
65 Putra vs Mario
66 Service Dari Rania
67 Upacara Pemilihan Kandidat
68 Apakah Dia Aninda?
69 Pernyataan Pahit
70 Penuh Tanda Tanya!
71 Masa Lalu
72 Penuh Dengan Misteri
73 Kejujuran Putra
74 Rania Anak Jenderal Agung?
75 Cemburu Buta
76 Tertembaknya Bripda Rania!
77 Fitnah Untuk Mario
78 Rasa Penasaran
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Terkekang
2
Menegangkan
3
Terjamah
4
Hukuman
5
Penyesalan
6
Kecewa
7
Membaik
8
Menggoda Iman
9
Gara-Gara First Kiss
10
Second First Kiss
11
Gara-gara Kolam Renang
12
Ditolak Mentah-mentah
13
Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14
Malam Panas 21+
15
Sepucuk Surat
16
Masih Dalam Pencarian
17
Menemukan Rania
18
Uh, Panas 21+++
19
Villa 21+++
20
Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21
Lagi dan Lagi 21+++
22
Bad Mood
23
Asrama Bintara
24
Sesuatu Yang Berbeda
25
Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26
Pertemuan Rania dan Putra
27
Pernikahan Putra dan Siska
28
Briptu Fauzi
29
Akankah Terulang Kembali?
30
Dan Terjadi Lagi
31
Siapa Dia?
32
Waspada!
33
Penuh Dengan Kepanikan
34
Lolos Dari Incaran
35
Ah, Jangan!
36
Runtuhnya Sebuah Komitmen
37
Rasa Kecewa Dicky
38
Menuju Desa Seruni
39
Penyesalan Putra
40
Coach Baru?
41
Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42
Pesona Rania
43
Denyut Jantung Berdebar
44
Rasa Khawatir
45
Iptu Mario, Kamu Kemana?
46
Bagai Tersambar Petir
47
Bawa Aku Pergi!
48
Terasa Sesak di Dada
49
Mendadak Galau
50
Ungkapkan atau Tidak?
51
Kamu Kemana Lagi?
52
Tersipu Malu
53
Terbayang Wajahnya
54
Pertemuan 2 Hati
55
Perdebatan Sengit
56
Jadian vs Hamil
57
Penyelidikan Identitas
58
Hari Kelulusan
59
Bripda Rania Baskara
60
Memori Lama
61
Sakit Hati
62
Kediaman Jenderal Agung
63
Chemistry Rania & Mario
64
Pendaftaran Kandidat
65
Putra vs Mario
66
Service Dari Rania
67
Upacara Pemilihan Kandidat
68
Apakah Dia Aninda?
69
Pernyataan Pahit
70
Penuh Tanda Tanya!
71
Masa Lalu
72
Penuh Dengan Misteri
73
Kejujuran Putra
74
Rania Anak Jenderal Agung?
75
Cemburu Buta
76
Tertembaknya Bripda Rania!
77
Fitnah Untuk Mario
78
Rasa Penasaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!