Terjamah

"Dicky, temani aku." Titah Putra dengan pandangan telah beralih ke arah Dicky.

"Baik, komandan." Sahut Dicky.

"Giliran kakak boleh ikut, sedangkan aku? Dirumah saja, bosan sekali!" Sungut Rania kesal.

Putra dengan cepat menggenggam jemari Rania dengan lembut untuk menenangkan Rania yang kerap sekali tantrum.

"Setelah selesai, Ayah akan ajak Rania pergi jalan-jalan. Kita jalan bertiga, bagaimana?" Ucap Putra kemudian.

Rania melirik kearah Putra.

"Baiklah, janji ya, Ayah. Awas kalau ingkar!" Ancam Rania.

"Tidak akan!"

"Kira-kira, kita akan pergi kemana, Ayah?" Tanya Rania kembali.

Putra tampak berpikir sejenak.

"Hmm.. Terserah kamu saja!" Jawab Putra.

***

"Putra, bagaimana dengan perkembangan penambangan emas di desa Seruni?" Tanya seorang Jendral bernama Jendral Agung Adikusuma.

Ia yang tak lain adalah sahabat dari Putra.

Sejak kecil, Putra selalu bermain dan setia menemani Agung kemana dan kapanpun.

Pengabdian Putra kepada Agung sungguh luar biasa dan patut diacungi jempol.

Setelah Agung menjabat Jendral, ia menjadikan Putra sebagai kaki tangannya.

Ia mempercayakan Putra dari segi aspek manapun.

"Menurut laporan dari ketua penambangan, masih aman dan tidak ada masalah Jendral. Hanya saja membutuhkan beberapa tambahan penambang. Karena, sebentar lagi akan memasuki musim hujan. Ditakutkan, penambangan akan tertunda akibat curah hujan yang tidak dapat diprediksi. Sangat disayangkan, apabila proses penambangan kita biarkan begitu saja. Kita juga akan membuang peluang yang sudah ada didepan mata." Jawab Putra dengan cukup matang.

Jendral Agung mengangguk tanda mengerti.

"Betul. Lakukanlah yang terbaik. Aku akan mempercayakan kepadamu." Sahut Jendral Agung.

"Baik, laksanakan!" Jawab Putra dengan salam hormatnya.

"Putra, kamu bisa minta bantuan pada orang-orangmu. Terutama, Dicky. Ajarkan dia untuk menjadi lebih baik. Pendidikan militernya juga lumayan bagus. Hanya saja, ia lebih memilih untuk tetap dijalur Bintara. Padahal, aku telah memberikan peluang untuknya masuk ke Akademi Kepolisian." Ucap Jendral Agung.

"Baik, Jendral. Adakah yang ingin Jendral sampaikan kembali?" Putra bertanya kepada Jendral Agung.

"Tidak, Putra. Pulanglah, aku ingin beristirahat. Tubuhku terasa kurang sehat." Jawab Jendral.

"Baik, Jendral. Kalau begitu kami izin pamit. Selamat siang!" Ucap Putra yang hendak pergi meninggalkan Jendral.

Disusullah Dicky mengekorinya.

***

"Dimana Rania?" Tanya Putra kepada Tirta.

Tirta yang sedang membersihkan mobil milik Rania, langsung memberikan salam hormat kepada Putra.

"Nona sedang berenang, Tuan. Kata Nona, jangan ada yang mengganggunya, ia ingin menyendiri." Jelas Tirta kepada Putra.

"Dicky, tolong belikan makanan kesukaan Rania. Kamu pasti paham apa yang dia suka. Pergilah bersama dengan Tirta. Lalu, kamu dan Tirta bisa menikmati hari santai kalian. Hari ini aku sedang free. Jadi, tidak ada tugas yang berat. Aku bisa mengatasinya sendiri." Titah Putra kepada Dicky dan Tirta.

Dicky dan Tirta saling berpandangan.

"Baik, Komandan. Laksanakan!" Ucap Dicky.

"Baik, Tuan. Adakah yang ingin Tuan beli? Kami bisa sekalian membelikannya." Tanya Tirta kembali.

"Saat ini tidak ada, nanti aku akan hubungi kalian saja, jika ada yang ingin aku beli." Jawab Putra.

Tirta mengangguk. Dicky dan Tirta segera bergegas meninggalkan Putra yang masih berdiri dihalaman rumahnya.

Setelah itu, Putra melangkahkan kakinya menuju kolam renang.

Entah mengapa, suasana kamar menjadi sepi dan sunyi.

Suara hentakan kaki Putra dapat didengar oleh Rania.

Rania yang sedang asyik berenangpun menghentikan aktifitasnya.

"Sudah aku bilang, jangan ada yang datang kesini! Apakah belum cukup paham? Aku sedang berenang! Jangan menggangguku! Pergi!" Sentak Rania dengan kesal.

Ia mengira bahwa yang datang adalah yang lainnya. Ternyata yang datang adalah Putra.

"Kamu ingin mengusirku dari rumahku?" Suara khas Putra terdengar jelas sekali ditelinga Rania.

Putra berdiri tepat diteras rumah yang hanya beberapa meter saja dari tepi kolam.

Rania yang mendengar suara Putra, langsung menoleh dan tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.

"Eh, Ayah? Aku kira siapa? Maafkan aku, Ayah. Aku tidak tahu!" Ucap maaf Rania pada Putra yang masih menenggelamkan tubuhnya didalam air.

Tubuh Rania kala itu hanya terlihat bagian kepala saja, sehingga tidak dapat terekspos oleh mata Putra.

Putra kemudian duduk dikursi yang ada didekat teras dengan mata memandang Rania.

"Ayah, mau ikut berenang tidak?" Rania mengajak Putra untuk turut berenang.

"Tidak! Kamu saja." Jawab Putra dengan lantang.

"Ah, Ayah tidak asyik! Ayolah, Ayah. Jarang-jarang kan Ayah ada waktu berenang bersamaku? Terakhir kali kita berenang bersama, sewaktu aku masih kelas tujuh. Sudah lama sekali itu, bahkan sekarang aku sudah lulus dan sebentar lagi aku akan kuliah. Aku pasti akan semakin sibuk dengan waktuku, dan Ayah juga pasti akan sibuk." Pinta Rania kepada Ayah angkatnya.

Putra mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumahnya. Terlihat sepi dan sunyi.

"Dimana Minah dan yang lainnya?" Tanya Putra dengan perasaan tidak nyaman jika berenang ada banyak karyawannya.

"Mbak Minah dan yang lainnya sudah aku berikan uang untuk mereka belanja sepuasnya. Supaya aku bisa berenang sendiri di rumah tanpa ada gangguan!" Jelas Rania dengan senyumannya.

Putra mengerutkan dahinya.

"Jadi? Dirumah tidak ada orang kecuali kita?" Tanya Putra.

"Iya!" Jawab Rania dengan semangat.

Putra terlihat sedang berpikir. Hanya ada dirinya dan Rania saja di rumah. Tidak ada yang lainnya.

Tiba-tiba perasaannya berubah menjadi gelisah dan berdebar-debar.

Perasaan gelisah yang semalam muncul kembali.

Putra sedikit berkeringat dingin.

Karena Putra tidak menanggapinya, Rania akhirnya nekat keluar dari kolam renang dengan menunjukkan tubuhnya yang dibalut dengan Monokini Swimsuits (Gabungan dari bikini dan one-piece swimsuit, dengan aksen lubang di tengah badan) 

Tubuh yang sudah bertumbuh menjadi dewasa dengan jelas terpampang di hadapan Putra.

Buah dada yang kian berisi dan padat, b*kongnya yang cukup aduhai serta lekukan tubuhnya terbentuk sempurna.

Membuat Putra menjadi terpana dan terkejut.

"Rania! Dapat dari mana kamu pakaian renang seperti itu?" Putra menutup matanya seketika.

Mata Putra ternodai oleh tubuh Rania.

Rania terkekeh.

"Ya beli dong, Yah. Makanya kenapa aku meminta semuanya jangan ada disini, karena aku ingin berenang menggunakan pakaian ini. Cocok tidak, Yah?" Jawab Rania dengan memutarkan tubuhnya di hadapan Putra.

Putra sedikit risih dengan pakaian yang Rania kenakan.

"Lain kali jangan menggunakan itu kalau sedang banyak orang di rumah." Perintah Putra kepada anak angkatnya.

"Baik, Ayah. Ayo dong, temani aku berenang. Cepat buka pakaian, Ayah. Kalau tidak, aku yang membukanya nih!" Ledek Rania kepada Putra.

Seketika Putra menjadi kalang kabut. Ia panik dan segera menjauh dari Rania.

"Jangan! Biarkan aku yang membuka sendiri." Jawab Putra.

Rania pun tersenyum-senyum tipis melihat tingkah Putra yang tidak seperti biasanya.

"Cepetan, Ayah! Nanti keburu yang lain pulang." Ucap Rania yang setia menunggu Putra membuka pakaiannya.

Ketika Putra membuka pakaiannya dan tinggallah celana boxer trunk, sehingga menampakan junior nya terlihat besar dan bulat.

Rania membulatkan matanya, betapa terkejutnya jika milik ayah angkatnya begitu kokoh dan berisi.

"Hmm..." Gumam lirih Rania menggoda dengan menyembunyikan senyumannya.

"Ada apa?" Tanya Putra.

"Tidak, Ayah. Ayo cepat!" Rania menarik tangan Putra dengan begitu cepat.

Membuat Rania yang terlalu bersemangat tersandung dan akhirnya mereka tercebur di bagian yang paling dalam.

Rania sangat takut jika ia berenang hingga masuk sampai batas ukuran kolam yang terdalam dengan ukuran mencapai tiga meter. Ia lebih menyukai bagian yang sedang seperti kedalaman hanya satu setengah meter saja.

Byuuurrrr....!!!! 

(Rania!!) teriak Putra dalam hatinya ketika ia mengetahui bahwa dirinya dan Rania tercebur dibagian terdalam.

Putra paham betul jika Rania trauma berenang dibagian yang terdalam, ia berusaha menyelam dan mencari Rania yang nyaris tenggelam.

Putra dikenal mumpuni dalam berenang dan menyelam. Karena berenang menjadi salah satu syarat dirinya masuk dalam Akademi Kepolisian, dengan kepiawaian ia berhasil merengkuh tubuh Rania dan membawanya naik ke daratan.

Ranianya pun pingsan, nampaknya ia sempat menelan banyak air.

Sesampainya diatas, Putra menepikan Rania dan mengangkat tubuh Rania dengan terpaksa Putra harus menyentuh tubuh montok Rania yang telah mengganggu pikirannya sejak semalam.

Setelah Rania digeletakkan ditepi kolam, Putra tampak panik dan bingung harus berbuat apa.

Ia ingin memberikan nafas buatan dan memompa bagian dada Rania, namun Putra begitu maju mundur.

Jika Rania tidak cepat ditolong, maka bagian paru-parunya akan lebih lama terkena air, membuat kesehatan Rania menjadi tidak baik.

Putra menarik nafas panjangnya dan dengan cepat ia memberikan nafas buatan untuk Rania yang masih tergeletak menanti pertolongan.

Putra mendekatkan wajahnya kearah Rania, semakin dekat, dan mulut Putra berhasil menyentuh bagian b*bir Rania.

Ya, keduanya telah bersatu.

Putra meniupkan angin masuk kedalam tubuh Rania.

Sesekali Putra memompa bagian dada Rania. Sesuatu yang menyembul bagian dada berhasil ia sentuh.

Yang selama ini hanya menjadi rasa penasarannya.

Putra terus mencobanya hingga air berhasil keluar dari dalam tubuh Rania.

Namun, Rania tampaknya belum sadar akan pingsannya. Matanya masih terpejam.

Dengan cepat Putra membopong tubuh Rania yang masih dalam keadaan mengenakan pakaian renang yang menggoda iman Rania.

Putra melangkahkan kakinya menuju ruang meditasinya.

Ya, ruang meditasi adalah ruang privasi bagi Putra. Segala perlengkapan untuk istirahat, bersantai bahkan olahraga ringanpun ada didalam nya.

Mengapa Rania tidak langsung dibawa ke kamarnya saja?

Karena menurut Putra, jika kondisi Rania belum stabil ia tidak ingin membiarkan siapapun mengganggu Rania dalam hal apapun.

Ruang meditasi yang dapat terkunci otomatis, menjadi ruangan bebas gerak bagi Putra.

Disanalah Rania dibaringkan, Putra tampak kebingungan ingin segera menggantikan pakaian Rania, namun baginya itu adalah sesuatu yang tidak pantas ia lakukan.

Namun, jika Rania dibiarkan mengenakan pakaian itu, akan membuat Rania menjadi sakit.

Putra segera meraih selimut tebalnya, lalu ia menutupi tubuh Rania yang telah terekspos oleh matanya.

"Rania, jangan sampai sakit ya, Nak. Ayah sayang dengan kamu. Melebihi apapun." Ucap lirih Putra dengan membelai lembut pucuk rambut Rania.

Putra terus memandang wajah Rania, ada getaran yang berbeda ia rasakan.

(Rasa apa ini? Mungkinkah aku jatuh cinta kepada anak angkatku sendiri? Bagaimana bisa?) 

Batin Putra berbicara.

Putra mendekatkan wajahnya kearah wajah Rania, kemudian ia mencium dahi milik Rania dengan lembut.

Namun, ada sesuatu yang mendorongnya ingin mencoba mencium yang lainnya.

Dengan perasaan yang bercampur aduk, Putra mengalihkan pandangannya pada bibir ranum milik Rania yang begitu mungil dan indah.

Dengan perlahan dan hati berdebar-debar, Putra memberanikan dirinya untuk lebih mendekatkan posisi bibirnya mengarah ke bibir Rania.

Cup!

Sebuah kecupan singkat yang ia berikan kepada bibir ranum Rania.

Rania masih terpejam, tidak ada reaksi yang diberikan oleh tubuh Rania.

Putra kembali memberanikan dirinya kembali untuk mencoba mengecup bibir Rania untuk kedua kalinya.

Putra sejak remaja bahkan sedewasa ini tidak pernah berpacaran atau dekat dengan wanita manapun. Membuat dirinya terlihat kaku dan dingin.

Bibir Putra mendekati bibir Rania, dengan hati-hati Putra akan mencoba sesuatu yang baru, sesuai yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Hembusan nafas Rania yang tengah terpejam dapat dirasakan oleh wajah Putra.

Putra berhasil mel*mat lembut bibir Rania.

Bibir anak angkatnya yang selama ini telah ia asuh dan ia rawat.

C*uman pertama bagi keduanya, yang sama sekali belum pernah mereka rasakan kepada siapapun.

Perasaan Putra semakin tidak beraturan, hatinya semakin berdebar kencang.

Ia melanjutkan aksinya untuk terus menjamah bibir Rania dengan sesuka hatinya.

Putra merasakan kenyaman ketika menjamah bibir Rania, akhirnya ia yang masih mengenakan boxer trunknya, ia masuk kedalam selimut yang sama dengan Rania.

Ia memeluk tubuh Rania yang hanya mengenakan pakaian renang menggoda iman. Ya, iman Putra telah hancur dibuatnya.

Putra kembali melanjutkan mel*umat bibir Rania, karena baginya kesempatan ini tidak akan terulang kembali.

Namun, tiba-tiba saja aksinya terhenti.

"Ayah?"

Episodes
1 Terkekang
2 Menegangkan
3 Terjamah
4 Hukuman
5 Penyesalan
6 Kecewa
7 Membaik
8 Menggoda Iman
9 Gara-Gara First Kiss
10 Second First Kiss
11 Gara-gara Kolam Renang
12 Ditolak Mentah-mentah
13 Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14 Malam Panas 21+
15 Sepucuk Surat
16 Masih Dalam Pencarian
17 Menemukan Rania
18 Uh, Panas 21+++
19 Villa 21+++
20 Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21 Lagi dan Lagi 21+++
22 Bad Mood
23 Asrama Bintara
24 Sesuatu Yang Berbeda
25 Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26 Pertemuan Rania dan Putra
27 Pernikahan Putra dan Siska
28 Briptu Fauzi
29 Akankah Terulang Kembali?
30 Dan Terjadi Lagi
31 Siapa Dia?
32 Waspada!
33 Penuh Dengan Kepanikan
34 Lolos Dari Incaran
35 Ah, Jangan!
36 Runtuhnya Sebuah Komitmen
37 Rasa Kecewa Dicky
38 Menuju Desa Seruni
39 Penyesalan Putra
40 Coach Baru?
41 Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42 Pesona Rania
43 Denyut Jantung Berdebar
44 Rasa Khawatir
45 Iptu Mario, Kamu Kemana?
46 Bagai Tersambar Petir
47 Bawa Aku Pergi!
48 Terasa Sesak di Dada
49 Mendadak Galau
50 Ungkapkan atau Tidak?
51 Kamu Kemana Lagi?
52 Tersipu Malu
53 Terbayang Wajahnya
54 Pertemuan 2 Hati
55 Perdebatan Sengit
56 Jadian vs Hamil
57 Penyelidikan Identitas
58 Hari Kelulusan
59 Bripda Rania Baskara
60 Memori Lama
61 Sakit Hati
62 Kediaman Jenderal Agung
63 Chemistry Rania & Mario
64 Pendaftaran Kandidat
65 Putra vs Mario
66 Service Dari Rania
67 Upacara Pemilihan Kandidat
68 Apakah Dia Aninda?
69 Pernyataan Pahit
70 Penuh Tanda Tanya!
71 Masa Lalu
72 Penuh Dengan Misteri
73 Kejujuran Putra
74 Rania Anak Jenderal Agung?
75 Cemburu Buta
76 Tertembaknya Bripda Rania!
77 Fitnah Untuk Mario
78 Rasa Penasaran
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Terkekang
2
Menegangkan
3
Terjamah
4
Hukuman
5
Penyesalan
6
Kecewa
7
Membaik
8
Menggoda Iman
9
Gara-Gara First Kiss
10
Second First Kiss
11
Gara-gara Kolam Renang
12
Ditolak Mentah-mentah
13
Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14
Malam Panas 21+
15
Sepucuk Surat
16
Masih Dalam Pencarian
17
Menemukan Rania
18
Uh, Panas 21+++
19
Villa 21+++
20
Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21
Lagi dan Lagi 21+++
22
Bad Mood
23
Asrama Bintara
24
Sesuatu Yang Berbeda
25
Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26
Pertemuan Rania dan Putra
27
Pernikahan Putra dan Siska
28
Briptu Fauzi
29
Akankah Terulang Kembali?
30
Dan Terjadi Lagi
31
Siapa Dia?
32
Waspada!
33
Penuh Dengan Kepanikan
34
Lolos Dari Incaran
35
Ah, Jangan!
36
Runtuhnya Sebuah Komitmen
37
Rasa Kecewa Dicky
38
Menuju Desa Seruni
39
Penyesalan Putra
40
Coach Baru?
41
Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42
Pesona Rania
43
Denyut Jantung Berdebar
44
Rasa Khawatir
45
Iptu Mario, Kamu Kemana?
46
Bagai Tersambar Petir
47
Bawa Aku Pergi!
48
Terasa Sesak di Dada
49
Mendadak Galau
50
Ungkapkan atau Tidak?
51
Kamu Kemana Lagi?
52
Tersipu Malu
53
Terbayang Wajahnya
54
Pertemuan 2 Hati
55
Perdebatan Sengit
56
Jadian vs Hamil
57
Penyelidikan Identitas
58
Hari Kelulusan
59
Bripda Rania Baskara
60
Memori Lama
61
Sakit Hati
62
Kediaman Jenderal Agung
63
Chemistry Rania & Mario
64
Pendaftaran Kandidat
65
Putra vs Mario
66
Service Dari Rania
67
Upacara Pemilihan Kandidat
68
Apakah Dia Aninda?
69
Pernyataan Pahit
70
Penuh Tanda Tanya!
71
Masa Lalu
72
Penuh Dengan Misteri
73
Kejujuran Putra
74
Rania Anak Jenderal Agung?
75
Cemburu Buta
76
Tertembaknya Bripda Rania!
77
Fitnah Untuk Mario
78
Rasa Penasaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!