Uh, Panas 21+++

Putra dibuat terkejut oleh keberadaan Rania.

"Club malam Top House? Tidak salah ini Rania disini?" Putra mengerutkan dahinya.

Sepanjang perjalanan ia terus menggerutu, dari mana Rania mengetahui adanya club malam.

Padahal setahunya, Rania tidak pernah datang ke tempat seperti itu. Dan Putra sendiri tidak pernah membawanya ke tempat tersebut.

***

"Disini minuman yang enak apa, kak?" Tanya Rania kepada seorang Barista tampan.

Ia memberanikan dirinya untuk terjun ke tempat yang tidak seharusnya masuk dalam daftar list kehidupannya.

Pikirannya begitu kacau, ia ingin mencoba hal baru untuk sekedar bersenang-senang tanpa memikirkan dampak akhirnya akan seperti apa.

Rania sangat dijaga sekali oleh Putra untuk hal-hal yang terlarang. Terlebih dengan segala pergaulan bebas.

"Hallo, Kak. Baru ya? Disini ada banyak minuman enak. Ada Wine dan Smirnoff. Kalau Wine kadar alkohol nya cukup rendah hanya sekitar kurang lebihnya 12 hingga 15 persen saja. Wine terbuat dari fermentasi buah anggur. Kalau untuk Smirnoff merupakan Vodka dengan kadar alkohol kurang lebihnya empat puluh persen. Jadi, kakak mau coba yang mana? Untuk pemula biasanya cukup dengan Wine." Jelas sang barista tatkala dirinya tengah menjelaskan kepada Rania yang sedang duduk didepan Bartender.

Rania tampak berpikir sejenak.

"Hmm.. Kalau begitu aku coba dua-duanya. Coba segelas-gelas dulu ya!" Jawab Rania.

Tatkala sang Barista menyiapkan dua minuman tersebut, Rania mengedarkan pandangannya.

Ia melihat beberapa wanita yang tengah berjoget-joget dengan para pria disekelilingnya. Ia pun bergidik melihat itu.

Ia mengalihkan pandangannya kembali, pandangannya tertuju kepada sepasang wanita dan pria yang tengah berci*man didepan umum.

"Ish, sangat memalukan!" Gumamnya.

"Permisi, Kak. Ini pesanannya." Ucap sang Barista dengan menyodorkan dua buah gelas berisi Wine dan Smirnoff.

"Thank you!" Jawab Rania.

Rania mencoba gelas pertama, berisi Wine.

Ia menenggaknya dengan memicingkan kedua matanya.

Karena, baru pertama kalinya ia meminum minuman haram seperti itu.

"Uh, ternyata begini rasanya!" Ucap Rania.

"Bagaimana, Kak? Suka?" Tanya sang Barista tampan itu.

"Rasanya agak sedikit aneh, tapi lumayan enak." Jawab Rania.

"Kalau begitu coba gelas yang satu ini." Pinta sang Barista menunjuk gelas yang berisi Smirnoff.

"Okay." Rania mulai menenggak gelas berisi Smirnoff.

Rania terkejut dengan sensasi tatkala menenggak Smirnoff.

"Ah, rasanya tenggorokanku seperti terbakar. Pahit sekali. Dadaku langsung panas, Kak." Ucap Rania kepada sang Barista.

"Tapi, kalau untuk cepat fly, sebaiknya Smirnoff ini, Kak." Ucap sang Barista.

"Tidak, Kak. Aku tidak sanggup. Aku ingin yang pertama saja. Lebih ringan. Boleh tambahkan lagi?" Jawab Rania.

Sang barista kembali menuangkan Wine kedalam gelas Rania.

Pandangan Rania mulai kabur dan tidak jelas. Kepalanya mulai pusing. Tubuhnya mulai terasa seperti kapas.

Rania telah minum sebanyak enam gelas Wine. Ketika ingin minum gelas yang ke tujuh, datanglah Putra berlari menghampiri Rania dan mencegahnya.

"Rania!" Panggil Putra.

"Kamu siapa, Tuan? Wajahmu sepertinya tidak asing. Mirip dengan orang yang saat ini sedang aku benci." Tanya Rania tatkala dirinya sudah mabuk berat.

"Kamu mabuk, Rania! Ya Tuhan, apa yang kamu lakukan disini sih?' ucap Putra hendak memapah Rania.

Putra segera menyodorkan sebuah kartu kepada sang Barista untuk membayar semua yang telah diminum oleh Rania. Tidak lama kemudian, sang barista memberikan kembali kartunya kepada Putra.

"Kamu ingin bawa aku kemana? Kata Ayahku, tidak baik pergi dengan orang yang tidak kita kenal. Bahaya!" Ucap Rania mulai meracau.

Putra sedikit tersentuh dengan ucapan Rania. Biar bagaimanapun, setidaknya Rania selalu mengingat pesan darinya.

Tubuh Rania mulai tidak dapat berjalan sempurna, Putra segera menggendong ala bridal. Dan membawanya masuk kedalam mobilnya.

***

"Kamu siapa? Mengapa membawaku? Padahal kita tidak saling mengenal!" Rania masih terus meracau.

Pengaruh alkohol membuat dirinya terhanyut dalam imajinasi yang membuatnya tidak sadar.

Putra membaringkan tubuh Rania, dan segera melepaskan sepatu Rania.

Pakaian Rania yang cukup seksi dibiarkan begitu saja oleh Putra. Putra mendekati Rania dan mengusap lembut pucuk kepala Rania.

"Aku benci dengan Putra! Dia ingin menikahi wanita itu, tanpa memperdulikan perasaanku!" Lagi-lagi Rania mengucap dalam keadaan tidak sadar.

Putra mengamati wajah Rania dengan seksama.

"Memangnya apa hubungan kamu dengan Putra?" Tanya Putra seolah dia sedang menjadi orang lain.

"Hahaha, hubunganku dengan dia, adalah sebatas ayah dan anak angkat. Tapi, aku mencintai dia. Aku tidak rela dia menikah dengan wanita lain. Aku ingin dia menikahiku." Jawab Rania dengan wajah terpejam.

"Apakah Putra juga mencintaimu?" Tanya Putra kembali.

"Entahlah, yang jelas, aku sangat mencintai dan menyayanginya. Aku kabur dari rumah karena aku marah dengannya. Aku benci dia." Jawab Rania kembali.

Putra tersenyum menatap wajah Rania, ia menepiskan rambut yang telah menutupi wajahnya.

Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya mengarah ke wajah Rania.

Putra membenamkan b*birnya pada b*bir Rania. Ia melum*t lembut b*bir Rania.

Rania bergeming mendapat serangan dari Putra.

Ia pasrah karena ia juga sudah tidak berdaya.

Putra terus memperdalam pagutannya, bahkan lidah Rania sampai ia korek lebih dalam.

Dalam keadaan tanpa sadar bahwa Putra tengah melum*tinya. Rania membalas c*uman Putra dengan begitu liar.

Seluruh tubuhnya seketika memanas dan ia ingin sekali membuka semua pakaiannya.

Putra meremas pa*udara Rania, bahkan memainkan puncaknya dengan jemari Putra.

Membuat Rania mengeluarkan desahannya.

"Ahhhh.." Desah Rania.

Tidak berangsur lama, Putra menyudahi aktifitasnya. Ia membiarkan Rania untuk segera beristirahat.

Bahkan Putra rela tidur disamping Rania, agar Rania tidak dengan mudahnya kabur sewaktu-waktu.

***

"Ah, kepalaku sakit sekali ya ampun!" Desah Rania tatkala dirinya telah membuka matanya.

Ia memijit pelipisnya dengan mata masih tertutup.

Rania mencoba bangkit dari posisinya menjadi posisi duduk, namun ia mendapati Putra masih tidur terlelap disampingnya.

"Ish, kenapa ada Ayah disini? Tidak jelas sekali pakai tidur disini. Bukannya tidur saja dikamarnya!" Gumam Rania melirik kearah Putra.

Drrrrttttt...

Ponsel Rania berdering tanda ada panggilan suara masuk.

Namun, suara deringan ponsel Rania membuat Putra terbangun dari tidurnya tanpa sepengetahuan Rania.

Rania melihat layar ponsel tertera nama Aldo, ia segera menggeser tombol berwarna hijau.

"Hallo, Aldo. Selamat pagi." Ucap Rania masih dengan suara seraknya.

"Hallo, Rania cantik. Kamu baru bangun ya? Bukankah hari ini kamu akan pergi pendidikan?" Tanya Aldo diseberang.

"Iya, aku baru saja bangun. Aku berangkat pendidikan nanti sore, Do." Jawab Rania.

"Oh nanti sore, ya sudah kamu bersiap-siap dulu saja, Rania. Jangan sampai ada barang yang tertinggal. Nanti kalau sudah sampai asrama, kamu segera kabari aku ya." Pinta Aldo kepada Rania.

Rania tersenyum mendengar ucapan Aldo yang nampaknya perhatian dengannya.

"Baik, Aldo. Nanti aku akan berkabar kepadamu." Jawab Rania yang kemudian memutuskan panggilan suaranya.

Tidak terasa ternyata sejak tadi percakapan Rania dan Aldo didengar oleh Putra yang masih berada disamping Rania.

Dengan cepat, Putra meraih ponsel yang masih berada dalam genggaman Rania.

"Ayah!" Sentak Rania tatkala melihat ponselnya telah diambil paksa oleh Putra.

"Kenapa? Tidak suka?" Tanya Putra.

"Ish, Ayah. Kembalikan ponsel Rania." Pinta Rania kepada Putra.

Putra terus menjauhkan ponsel Rania hingga Rania tidak dapat menjangkaunya.

Rania hampir menindih tubuh Putra demi menjangkau ponselnya.

Namun, Rania tetap tidak dapat meraihnya.

Malah, gerakan Rania terus berusaha ingin meraih ponselnya membuat dirinya terjatuh diatas tubuh Putra.

Dengan cepat wajah Rania terbentur dengan wajah Putra hingga menciptakan jarak yang begitu dekat di antara keduanya.

Keduanya saling berpandangan penuh arti yang sangat dalam.

Kedua napas mereka memburu.

Putra segera membalikkan tubuh Rania, sehingga Rania berada dibawah tubuh Putra.

Walhasil, tubuh kekar dan besar Putra meni*dih dengan sempurna diatas tubuh Rania.

Putra dengan cepat melum*t b*bir Rania.

Rania terbelalak dengan aksi spontan yang diberikan oleh Putra pagi itu.

Rania mencoba mendorong tubuh Putra, namun apa daya tubuh Putra lebih kuat dari pada tenaga Rania.

Rania hanya bisa pasrah.

Lumat*n Putra semakin dalam membuat Rania terhanyut bahkan hingga memejamkan matanya.

Desahan demi desahan keluar dari mulut Rania, membuat Putra semakin bergairah dan memburu.

Putra memainkan puncak pay*dara Rania menggunakan jemarinya.

Ia segera membuka pakaian atas milik Rania dan melahap secara bergantian benda kenyal didepannya itu.

Rania begitu menikmatinya.

"Rania, aku minta maaf telah membuatmu semarah ini. Aku sayang kamu, aku cinta kamu. Aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku, sayang!" Bisik Putra kemudian melum*t kembali b*bir Rania.

Mendengar ucapan Putra, hati Rania bergetar dan segera membalas lumat*n Putra dengan begitu liar.

Pagi itu, keduanya berpagut dalam hasrat panas yang mendalam.

Untung saja pintu kamar Rania terkunci, andai jika tidak, mungkin sudah ada Dicky atau Minah yang mencoba masuk kedalam kamar.

Rania membuka seluruh pakaiannya, hanya tersisa saja penutup area intimnya.

Sama halnya Putra telah membuka pakaiannya dengan tersisa penutup tombak kejantan*nnya saja.

Keduanya bermain area atas dengan sentuhan langsung tanpa penghalang apapun.

"Ayah, apakah aku bisa mendapatkan lebih dari ini?"

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

jawabnya iya mau...

2025-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Terkekang
2 Menegangkan
3 Terjamah
4 Hukuman
5 Penyesalan
6 Kecewa
7 Membaik
8 Menggoda Iman
9 Gara-Gara First Kiss
10 Second First Kiss
11 Gara-gara Kolam Renang
12 Ditolak Mentah-mentah
13 Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14 Malam Panas 21+
15 Sepucuk Surat
16 Masih Dalam Pencarian
17 Menemukan Rania
18 Uh, Panas 21+++
19 Villa 21+++
20 Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21 Lagi dan Lagi 21+++
22 Bad Mood
23 Asrama Bintara
24 Sesuatu Yang Berbeda
25 Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26 Pertemuan Rania dan Putra
27 Pernikahan Putra dan Siska
28 Briptu Fauzi
29 Akankah Terulang Kembali?
30 Dan Terjadi Lagi
31 Siapa Dia?
32 Waspada!
33 Penuh Dengan Kepanikan
34 Lolos Dari Incaran
35 Ah, Jangan!
36 Runtuhnya Sebuah Komitmen
37 Rasa Kecewa Dicky
38 Menuju Desa Seruni
39 Penyesalan Putra
40 Coach Baru?
41 Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42 Pesona Rania
43 Denyut Jantung Berdebar
44 Rasa Khawatir
45 Iptu Mario, Kamu Kemana?
46 Bagai Tersambar Petir
47 Bawa Aku Pergi!
48 Terasa Sesak di Dada
49 Mendadak Galau
50 Ungkapkan atau Tidak?
51 Kamu Kemana Lagi?
52 Tersipu Malu
53 Terbayang Wajahnya
54 Pertemuan 2 Hati
55 Perdebatan Sengit
56 Jadian vs Hamil
57 Penyelidikan Identitas
58 Hari Kelulusan
59 Bripda Rania Baskara
60 Memori Lama
61 Sakit Hati
62 Kediaman Jenderal Agung
63 Chemistry Rania & Mario
64 Pendaftaran Kandidat
65 Putra vs Mario
66 Service Dari Rania
67 Upacara Pemilihan Kandidat
68 Apakah Dia Aninda?
69 Pernyataan Pahit
70 Penuh Tanda Tanya!
71 Masa Lalu
72 Penuh Dengan Misteri
73 Kejujuran Putra
74 Rania Anak Jenderal Agung?
75 Cemburu Buta
76 Tertembaknya Bripda Rania!
77 Fitnah Untuk Mario
78 Rasa Penasaran
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Terkekang
2
Menegangkan
3
Terjamah
4
Hukuman
5
Penyesalan
6
Kecewa
7
Membaik
8
Menggoda Iman
9
Gara-Gara First Kiss
10
Second First Kiss
11
Gara-gara Kolam Renang
12
Ditolak Mentah-mentah
13
Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14
Malam Panas 21+
15
Sepucuk Surat
16
Masih Dalam Pencarian
17
Menemukan Rania
18
Uh, Panas 21+++
19
Villa 21+++
20
Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21
Lagi dan Lagi 21+++
22
Bad Mood
23
Asrama Bintara
24
Sesuatu Yang Berbeda
25
Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26
Pertemuan Rania dan Putra
27
Pernikahan Putra dan Siska
28
Briptu Fauzi
29
Akankah Terulang Kembali?
30
Dan Terjadi Lagi
31
Siapa Dia?
32
Waspada!
33
Penuh Dengan Kepanikan
34
Lolos Dari Incaran
35
Ah, Jangan!
36
Runtuhnya Sebuah Komitmen
37
Rasa Kecewa Dicky
38
Menuju Desa Seruni
39
Penyesalan Putra
40
Coach Baru?
41
Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42
Pesona Rania
43
Denyut Jantung Berdebar
44
Rasa Khawatir
45
Iptu Mario, Kamu Kemana?
46
Bagai Tersambar Petir
47
Bawa Aku Pergi!
48
Terasa Sesak di Dada
49
Mendadak Galau
50
Ungkapkan atau Tidak?
51
Kamu Kemana Lagi?
52
Tersipu Malu
53
Terbayang Wajahnya
54
Pertemuan 2 Hati
55
Perdebatan Sengit
56
Jadian vs Hamil
57
Penyelidikan Identitas
58
Hari Kelulusan
59
Bripda Rania Baskara
60
Memori Lama
61
Sakit Hati
62
Kediaman Jenderal Agung
63
Chemistry Rania & Mario
64
Pendaftaran Kandidat
65
Putra vs Mario
66
Service Dari Rania
67
Upacara Pemilihan Kandidat
68
Apakah Dia Aninda?
69
Pernyataan Pahit
70
Penuh Tanda Tanya!
71
Masa Lalu
72
Penuh Dengan Misteri
73
Kejujuran Putra
74
Rania Anak Jenderal Agung?
75
Cemburu Buta
76
Tertembaknya Bripda Rania!
77
Fitnah Untuk Mario
78
Rasa Penasaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!