Sepucuk Surat

"Ayah, apa yang sudah ayah lakukan dengan wanita itu? Mengapa ada noda lipstick dipipimu, Ayah?" Sentak Rania ketika melihat noda merah itu terlihat jelas dipipi Putra.

Putra menjadi panik, dan segera menarik tubuh Rania hingga berhasil menindih tubuh Rania.

Emosi Putra meletup-letup. Hasratnya kian membara. Ia tidak memperdulikan bahwa Rania adalah anak angkatnya.

Pengaruh alkohol membuat dirinya ingin menodai Rania malam itu.

Rania mendorong tubuh Putra kembali.

"Ayah, lepaskan. Aku tidak ingin disentuh oleh Ayah usai Ayah menyentuh wanita itu. Sangat menjijikkan!" Hardik Rania.

Rania berusaha bangkit dari ranjang dengan susah payah. Namun, akhirnya berhasil terlepas dari jangkauan Putra.

"Rania, aku tidak melakukan apa-apa dengan dia!" Protes Putra membela diri.

"Buktinya mengapa ada noda merah lipstick di pipi Ayah? Aku kecewa denganmu!" Rania menangis dan berlari menjauh meninggalkan Putra.

Putra mengusap wajahnya dengan kasar.

Ia hendak mengejar Rania, namun ia mengurungkan niatnya.

***

"Dimana Rania, Minah?" Tanya Putra tatkala menyelesaikan sarapannya.

Namun, hingga sarapan telah usai, ia sama sekali tidak melihat Rania.

Putra sejak tadi hanya bersarapan dengan Dicky saja.

"Maaf, Tuan. Kamar Nona Rania sejak tadi masih terkunci. Saya sudah ketuk-ketuk namun tidak ada jawaban sama sekali." Jelas Minah kepada Putra.

Putra mengerutkan dahinya.

"Apakah kamu yakin Rania berada dikamarnya, Dicky?" Tanya Putra kepada Dicky.

"Saya kurang tahu, Komandan. Bisa jadi memang dia mengunci dirinya dikamar, atau jangan-jangan... Rania.." Jawaban Dicky belum sampai tuntas, namun Putra sudah paham dengan maksud yang ingin Dicky katakan.

Putra segera bergegas berjalan menuju kamarnya. Ia mengetuk-ketuk pintu kamar Rania yang tak kunjung hasil.

Dicky mengekori Putra.

"Bagaimana kalau kita dobrak saja, Komandan?" Dicky memberikan sebuah saran.

Putra mengangguk dengan cepat.

Dalam dua kali hentakan, pintu kamar Rania belum dapat di dobrak.

Sehingga, Putra mencoba kembali untuk ketiga kalinya.

Braaakkkk.... 

Dan akhirnya pintu kamar Rania berhasil terbuka.

Putra dan Dicky memasuki kamar Rania, namun ia tidak melihat adanya Rania.

"Rania tidak ada, Komandan." Ucap Dicky.

"Kemana Rania?" Ujar Putra dengan emosinya.

Keduanya saling mencari di beberapa ruangan didalam kamar Rania.

Dari toilet, ruang ganti pakaian, dan juga balkon kamar Rania.

Namun, keduanya tidak menemukan Rania.

"Komandan, Rania meninggalkan surat." Ucap Dicky menyodorkan selembar surat kepada Putra.

Putra menerimanya dan sangat tidak sabar ingin membacanya.

(Ayah, maafkan aku yang harus melawan peraturan dari Ayah kembali. Disini aku ingin mengungkapkan bahwa Rania cukup bosan hidup dalam kekangan dan terus seperti burung didalam sangkar. Semua apa yang aku lakukan selalu salah dimata, Ayah. Maafkan aku yang tidak tahu terima kasih. 

Aku memutuskan untuk pendidikan Bintara berangkat besok lusa saja ya, Ayah. Aku tidak bisa berlama-lama diam dirumah. Bahkan, Ayah juga terlalu sibuk dengan tugas, Ayah. Apalagi, ditambah Ayah sudah menemukan seseorang yang jauh bisa membawa Ayah dalam dunia masa depan. Aku do'a kan, semoga kabar perjodohan Ayah dengan wanita yang bernama Siska memang benar dan segera terlaksana. Laksanakan pernikahan disaat aku sedang pendidikan ya, Ayah. Agar aku tidak bisa melihat pernikahan Ayah dengannya. Rasanya, aku tidak akan kuat jika harus melihat orang yang selama ini aku cintai dan sayangi harus menikah dengan wanita lain. Jujur aku tidak bisa! 

Dan satu hal lagi, aku pergi sementara waktu sampai nanti tiba aku akan berangkat pendidikan. Agar aku tidak terlalu mengganggu urusan Ayah lagi. Dan Ayah bisa fokus mengurus pernikahan Ayah. 

Sekali lagi, maafkan aku, Ayah. 

Rania,) 

Hati Putra bagaikan teriris dan tersayat menggunakan benda tajam.

Ia terkejut dan shock dengan apa yang dilakukan Rania kepadanya.

Kakinya seolah menjadi lemas. Tubuhnya bergetar hebat.

"Cepat cari Rania sampai ketemu!" Sentak Putra.

"Siap, komandan!" Jawab Dicky.

Putra mengutus Dicky dan beberapa ajudan lainnya agar segera mencari Rania sampai ketemu.

Putra tidak ingin terjadi hal-hal buruk menimpa Rania.

Gadis yang akhir-akhir ini membuat gejolak hatinya berbeda dari biasanya.

***

"Hari ini, kita akan pergi kemana, Rania?" Tanya seorang pria yang tengah bersama Rania.

Rania begitu bahagia akhirnya bisa terbebas sejenak dari rumah Putra. Dirumah Putra, Rania mengibaratkan dirinya sebagai burung yang selalu berada didalam sangkar.

"Hmm... Terserah kamu saja, Aldo. Aku ikut saja. Yang penting hari ini aku bisa bebas." Jawab Rania dengan tidak sengaja memeluk tubuh Aldo.

Aldo yang tengah mengendarai motor gedenya langsung tersenyum manis tatkala dirinya dipeluk oleh Rania.

Teman masa sekolahnya yang dulu sempat ia taksir. Namun, ia tidak berani untuk mengungkapkannya.

"Baiklah kalau begitu. Kita cari udara yang lebih segar saja ya. Agar kamu bisa lebih relaks!" Jawab Aldo.

Rania mengangguk dan pasrah kemana saja Aldo akan membawanya.

Disepanjang perjalanan, tidak hentinya Aldo dan Rania bercanda dan cerita satu sama lain.

Hingga tidak terasa, Rania dan Aldo telah sampai ke Puncak, Bandung.

Sengaja Aldo membawa Rania membawa ketempat yang sejuk, agar Rania tidak bersedih lagi.

Berhentilah Aldo disebuah kedai kopi dengan pemandangan hamparan luas dibawah sana. Membuat view semakin jelas begitu indahnya.

"Kamu mau pesan kopi apa, Rania?" Tanya Aldo hendak memesankan kopi untuknya.

"Hmm.. Es cappuccino sepertinya enak!" Jawab Rania.

Aldo melirik jam di pergelangan tangannya.

"Ini masih jam sepuluh, Rania. Mengapa sudah minum es?" Aldo balik bertanya.

"Tidak apa-apa, Aldo. Aku sudah terbiasa seperti itu. Ish kamu ini sama saja dengan Putra!" Jawab Rania.

Aldo mengerutkan dahinya dan kemudian terkekeh.

"Baiklah, tunggu ya!" Jawab Aldo seraya berjalan memesankan es cappuccino untuk Rania dan juga memesan kopi untuknya serta dengan beberapa cemilan.

Rania memilih tempat duduk Bean Bag Sofa bulat, dengan view didepannya yang begitu indah.

Tidak salah Rania mengajak kabur Aldo. Aldo cukup paham dengan situasi dan kondisi yang Rania sedang hadapi.

***

Waktu menunjukkan pukul lima sore.. 

Putra terlihat panik tatkala belum ada kabar tentang keberadaan Rania.

Pikirannya begitu kacau, ia sampai tidak dapat berkonsentrasi ketika Jendral Agung mengadakan meeting dan juga jamuan dengan beberapa kolega lainnya.

Pikiran Putra terus tertuju kepada Rania.

Drrrrttt...

Ponsel Putra tiba-tiba berdering, tanda ada panggilan masuk.

Terpampang nama Siska dilayar ponselnya.

Putra mengumpat kesal ketika yang menelepon ke ponselnya adalah Siska. Bukan Rania atau kabar dari ajudannya mengenai perkembangan Rania.

Karena, sejak pagi ponsel Rania tidak kunjung aktif. Rania sengaja mematikan ponselnya, agar tidak dihubungi oleh Putra dan yang lainnya.

Dengan terpaksa, Putra menerima panggilan dari Siska.

"Hallo, ada apa?" Tanya Putra dengan nada cueknya.

"Hallo, Putra. Mengapa aku tiba-tiba bisa ada di Hotel? Dan mengapa aku hanya sendirian saja?" Tanya Siska kepadanya.

Putra menarik napas panjangnya.

"Maafkan aku, Siska. Semalam kamu mabuk berat. Aku tidak tahu dimana rumah kamu sekarang. Makanya, aku membawa kamu ke Hotel saja. Supaya kamu bisa beristirahat dengan nyaman. Dan maaf juga, aku tidak bisa menemani kamu. Aku masih banyak pekerjaan." Jawab Putra menjelaskan kepada Siska.

"Oh begitu, baiklah Putra. Terima kasih banyak atas perhatianmu. Hmm.. Apakah hari ini kita bisa bertemu kembali? Kamu bisa datang ke apartemenku saja." Siska menawarkan diri untuk Putra mendatanginya.

"Tidak bisa, Siska. Hari ini aku banyak pekerjaan. Next time saja ya!" Tegas Putra.

"Baiklah, Putra."

Putra segera mengakhiri panggilan suaranya dengan Siska.

Ia kemudian menelepon ke nomor Dicky.

"Hallo, Dicky. Apakah sudah ada perkembangan?" Tanya Putra dengan harap-harap cemas.

"Hallo, Komandan. Untuk saat ini belum, Komandan. Kita masih terus mencarinya." Jawab Dicky.

"Baik, kalau sudah ada kabar segera berkabar!" Pinta Putra.

Putra membanting tubuhnya pada sandaran mobil.

Sejak tadi memang Putra berada didalam mobil. Ia ingin melajukan mobilnya kembali demi mencari Rania hingga ketemu.

***

"Rania, hari sudah hampir petang. Kita pulang atau bagaimana, Ran?" Tanya Aldo kepada Rania.

Rania menggelengkan kepalanya.

"Jangan, Do. Sebaiknya kita mencari tempat camping saja. Bagaimana kalau kita istirahat di tenda saja?" Pinta Rania.

Aldo tampak berpikir sejenak.

"Apakah kamu tidak merasakan dingin?" Tanya Aldo.

"Tidak, Aldo. Ayo cepat kita cari tempat camping." Ajak Rania kepada Aldo.

Keduanya menyusuri jalan hingga akhirnya mereka menemukan area tempat camping yang bisa di sewa hanya semalaman saja.

Area campingnya cukup luas, dan banyak beberapa orang telah menyewa tendanya.

Apalagi, ditambah tempat campingnya sudah tersedia lengkap. Hanya tinggal membawa badan saja tanpa perlu repot bongkar pasang tenda dan juga membawa perlengkapan tenda.

Karena, tempat camping yang Rania dan Aldo pilih sudah tersedia semua dari bahan makanan dan peralatan masaknya juga.

"Wah, enak nya." Guman Rania ketika memasuki tenda.

"Rania, kamu beristirahat lah. Biarkan aku saja yang mengurusi masakan. Nanti, kalau sudah selesai, aku akan membangunkan kamu." Perintah Aldo kepada Rania.

Rania tersenyum hangat kepada Aldo.

"Terima kasih banyak, Aldo. Kamu sungguh pengertian dan baik sekali." Ujar Rania seraya membaringkan tubuhnya di kasur busa.

"Apakah kamu sudah lapar, Rania?" Tanya Aldo.

"Belum kalau kamu?" Rania balik bertanya.

"Belum juga." Jawab Aldo.

"Ya sudah, nanti saja masaknya. Lebih baik kita beristirahat dulu saja sambil bercerita. Nanti kalau sudah lapar, baru kita masak bersama. Lumayan, Do. Kita istirahat untuk meluruskan pinggang. Cukup melelahkan diatas motor berlama-lama." Pinta Rania kepada Aldo.

Aldo memikirkan ucapan Rania yang ada benarnya juga.

"Pintu tendanya dirapatkan saja, Do. Supaya kita istirahat bisa dengan tenang." Ucap Rania.

Aldo segera menuruti permintaan Rania.

Setelah pintu tenda ditutup rapat oleh Aldo, Aldo segera mematikan lampu yang terang. Tinggal lah lampu yang redup saja.

"Aldo, sini. Kita satu kasur saja. Kalau kamu istirahat dikarpet, pasti akan dingin." Pinta Rania menarik tangan Aldo.

Aldo menjadi salah tingkah tatkala tangannya disentuh oleh Rania.

"Hah? Aku istirahat satu kasur denganmu? Memangnya tidak apa-apa, Rania?"

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Asal kuat iman aja aldo....

2025-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Terkekang
2 Menegangkan
3 Terjamah
4 Hukuman
5 Penyesalan
6 Kecewa
7 Membaik
8 Menggoda Iman
9 Gara-Gara First Kiss
10 Second First Kiss
11 Gara-gara Kolam Renang
12 Ditolak Mentah-mentah
13 Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14 Malam Panas 21+
15 Sepucuk Surat
16 Masih Dalam Pencarian
17 Menemukan Rania
18 Uh, Panas 21+++
19 Villa 21+++
20 Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21 Lagi dan Lagi 21+++
22 Bad Mood
23 Asrama Bintara
24 Sesuatu Yang Berbeda
25 Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26 Pertemuan Rania dan Putra
27 Pernikahan Putra dan Siska
28 Briptu Fauzi
29 Akankah Terulang Kembali?
30 Dan Terjadi Lagi
31 Siapa Dia?
32 Waspada!
33 Penuh Dengan Kepanikan
34 Lolos Dari Incaran
35 Ah, Jangan!
36 Runtuhnya Sebuah Komitmen
37 Rasa Kecewa Dicky
38 Menuju Desa Seruni
39 Penyesalan Putra
40 Coach Baru?
41 Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42 Pesona Rania
43 Denyut Jantung Berdebar
44 Rasa Khawatir
45 Iptu Mario, Kamu Kemana?
46 Bagai Tersambar Petir
47 Bawa Aku Pergi!
48 Terasa Sesak di Dada
49 Mendadak Galau
50 Ungkapkan atau Tidak?
51 Kamu Kemana Lagi?
52 Tersipu Malu
53 Terbayang Wajahnya
54 Pertemuan 2 Hati
55 Perdebatan Sengit
56 Jadian vs Hamil
57 Penyelidikan Identitas
58 Hari Kelulusan
59 Bripda Rania Baskara
60 Memori Lama
61 Sakit Hati
62 Kediaman Jenderal Agung
63 Chemistry Rania & Mario
64 Pendaftaran Kandidat
65 Putra vs Mario
66 Service Dari Rania
67 Upacara Pemilihan Kandidat
68 Apakah Dia Aninda?
69 Pernyataan Pahit
70 Penuh Tanda Tanya!
71 Masa Lalu
72 Penuh Dengan Misteri
73 Kejujuran Putra
74 Rania Anak Jenderal Agung?
75 Cemburu Buta
76 Tertembaknya Bripda Rania!
77 Fitnah Untuk Mario
78 Rasa Penasaran
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Terkekang
2
Menegangkan
3
Terjamah
4
Hukuman
5
Penyesalan
6
Kecewa
7
Membaik
8
Menggoda Iman
9
Gara-Gara First Kiss
10
Second First Kiss
11
Gara-gara Kolam Renang
12
Ditolak Mentah-mentah
13
Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14
Malam Panas 21+
15
Sepucuk Surat
16
Masih Dalam Pencarian
17
Menemukan Rania
18
Uh, Panas 21+++
19
Villa 21+++
20
Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21
Lagi dan Lagi 21+++
22
Bad Mood
23
Asrama Bintara
24
Sesuatu Yang Berbeda
25
Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26
Pertemuan Rania dan Putra
27
Pernikahan Putra dan Siska
28
Briptu Fauzi
29
Akankah Terulang Kembali?
30
Dan Terjadi Lagi
31
Siapa Dia?
32
Waspada!
33
Penuh Dengan Kepanikan
34
Lolos Dari Incaran
35
Ah, Jangan!
36
Runtuhnya Sebuah Komitmen
37
Rasa Kecewa Dicky
38
Menuju Desa Seruni
39
Penyesalan Putra
40
Coach Baru?
41
Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42
Pesona Rania
43
Denyut Jantung Berdebar
44
Rasa Khawatir
45
Iptu Mario, Kamu Kemana?
46
Bagai Tersambar Petir
47
Bawa Aku Pergi!
48
Terasa Sesak di Dada
49
Mendadak Galau
50
Ungkapkan atau Tidak?
51
Kamu Kemana Lagi?
52
Tersipu Malu
53
Terbayang Wajahnya
54
Pertemuan 2 Hati
55
Perdebatan Sengit
56
Jadian vs Hamil
57
Penyelidikan Identitas
58
Hari Kelulusan
59
Bripda Rania Baskara
60
Memori Lama
61
Sakit Hati
62
Kediaman Jenderal Agung
63
Chemistry Rania & Mario
64
Pendaftaran Kandidat
65
Putra vs Mario
66
Service Dari Rania
67
Upacara Pemilihan Kandidat
68
Apakah Dia Aninda?
69
Pernyataan Pahit
70
Penuh Tanda Tanya!
71
Masa Lalu
72
Penuh Dengan Misteri
73
Kejujuran Putra
74
Rania Anak Jenderal Agung?
75
Cemburu Buta
76
Tertembaknya Bripda Rania!
77
Fitnah Untuk Mario
78
Rasa Penasaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!