Membaik

(Dicky: Komandan, jangan lupa untuk datang ke tempat Jendral Agung. Terkait acara makan malam. Jangan sampai tidak datang ya!)

Putra tampak enggan sekali untuk datang diacara tersebut. Namun, karena Putra sudah lama mengabdi kepada Jendral Agung karena tugas kepolisiannya dicabut beroperasi dan ia lebih memilih menjadi ajudan resmi Jendral Agung, mau tidak mau ia harus tetap mengikuti arahan dari Jendral Agung.

(Putra: Siap, Dic. Bagaimana keadaan Rania?)

(Dicky: Rania, sudah mulai membaik, Komandan.)

(Putra: Baiklah. Ingat, Dicky. Kamu dan Rania hanya sebatas kakak dan adik. Jangan pernah melebihi batas!)

(Dicky: Baik, Komandan)

Putra meletakkan ponselnya.

"Huh, aku rindu sekali dengan Rania. Maafkan aku, Rania." Gumam Putra ketika melihat foto Rania yang terpajang di kamarnya.

Putra mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Karena, ia terasa sangat lelah sekali.

***

"Rania, aku izin istirahat ya. Kalau ada apa-apa, kamu tinggal panggil kakak saja. Kakak istirahat di sofa sebentar saja." Dicky hendak berjalan menuju sofa.

Rania sudah tampak lebih segar dari sebelumnya. Raut wajahnya sudah bisa ceria kembali.

"Iya, Kakak. Kakak istirahat saja. Kasihan belum sempat istirahat. Oh iya, kakak tidak tugas?" Jawab Rania.

"Bagaimana mau bertugas? Kan aku menjaga kamu disini." Jawab Dicky yang sudah membaringkan tubuhnya di sofa.

"Hehehe iya juga ya!"

"Kamu kapan akan bertemu dengan Komandan? Kasihan komandan, nampaknya dia merindukan kamu." Ujar Dicky kembali.

"Entahlah, aku belum kepikiran akan hal itu!"

Jawab Rania dengan acuh.

Dicky tidak membalas ucapan Rania. Nampaknya ia sudah mulai terlelap dan masuk kedalam alam bawah sadarnya.

Rania merenungkan ucapan Dicky.

"Pasti Ayah khawatir denganku. Tapi, aku malah mengusirnya. Padahal, sudah sejauh ini Ayah menolongku dan membuat hidupku jauh lebih baik dari kehidupan sebelumnya." Gumam Rania.

Ia meraih ponselnya. Sebagian lukanya sudah cukup membaik.

Tut..

Tut..

Tut..

Rania sedang menelepon nomor Putra.

Berdering namun tidak kunjung diterima oleh Putra.

Rania mencobanya kembali.

"Hallo, Ayah?" Ucap Rania dengan lembut.

"Hallo, Rania. Rania, sayang! Bagaimana keadaan kamu saat ini, Nak?" Tanya Putra penasaran dan tidak sabar.

Rania tersenyum, karena ia bisa berbicara kembali dengan Putra.

"Sudah sedikit membaik, Ayah. Ayah kenapa belum tidur?" Tanya Rania.

"Ayah tidak bisa tidur, Rania. Ayah terus memikirkan kamu. Hati Ayah tidak tenang, apalagi ketika kamu menyuruh Ayah untuk pergi, hati Ayah terasa sakit sekali." Ungkap Putra dengan begitu antusias.

Terdengar dari suaranya yang menjadi lebih hangat.

"Maafkan aku ya, Ayah. Rania saat itu sedang merasa kecewa saja dengan, Ayah. Padahal aku sudah jujur dan tidak berbohong kepada Ayah kalau memang aku benar-benar pergi ke toko buku. Tapi, Ayah malah menghukumku." Rania memberikan penjelasan.

"Ayah juga minta maaf, sayang. Ayah hanya tidak ingin kamu kenapa-napa. Dicky dimana sekarang?" Tanya Putra.

"Kak Dicky sedang istirahat, Yah. Katanya dia mengantuk." Jawab Rania seraya menoleh kearah Dicky yang sudah terlelap.

"Baiklah, Rania. Kamu sekarang istirahat ya. Jangan berpikir macam-macam lagi." Pinta Putra kepadanya.

"Baik, Ayah. Selamat malam." Ucap salam dari Rania untuk Putra.

"Selamat malam, sayang."

***

"Hei, hei. Bangun segera! Kamu istirahat dirumah saja." Putra membangunkan Dicky yang tengah terlelap.

Ia mengecilkan suaranya agar Rania tidak terbangun dari tidurnya.

Putra datang ke rumah sakit malam-malam dan menyuruh Dicky untuk bergantian dalam menjaga Rania.

Dicky membuka matanya dengan sedikit mengerjapkannya.

"Komandan?" Ucapnya sedikit berbisik.

"Sssttt.. Jangan berisik, nanti Rania bangun. Cepat kamu pulang! Istirahat di rumah saja. Tirta sudah menunggu di parkiran. Biarkan Rania, aku saja yang menjaganya." Perintah Putra kepada Dicky.

"Tapi...?" Sahut Dicky.

"Tidak ada tapi-tapi. Cepat kamu pulang, kasihan tubuhmu juga butuh istirahat!" Perintah Putra sekali lagi.

Dicky mengangguk seraya membawa barang-barangnya berupa ponsel dan dompetnya.

Kemudian ia pamit undur diri dari pandangan Putra.

Sepeninggal Dicky, Putra menutup kembali pintu ruangan Rania dan berjalan mendekati Rania.

Ia duduk dikursi samping ranjang Rania.

Putra mengamati wajah Rania, ia mengusap pucuk kepala Rania dengan lembut.

Tidak lupa ia mendaratkan ciuman pada pipi dan dahi Rania.

Ingin rasanya ia memeluk Rania dengan erat, namun keadaan tidak memungkinkan untuk ia lakukan.

Karena, tangan Rania masih dibalut oleh kain kasa.

"Rania, Ayah datang. Cepat sembuh ya, sayang. Katanya mau berenang lagi dengan Ayah?" Ucapnya lirih setengah berbisik didekat telinga Rania.

Namun, tiba-tiba Rania membuka matanya. Seolah ia paham betul aroma tubuh Putra yang berada didekatnya membuat ia begitu mengenalinya. Ia terbangun dari tidurnya.

"Ayah?" Ucapnya lirih.

"Ssstttt.. Kamu istirahat lagi ya. Maafkan, Ayah. Sudah membuat kamu seperti ini." Putra meminta maaf kepada Rania. Ia menggenggam tangan Rania yang satunya.

Rania tersenyum menatap wajah Putra, ayah angkatnya yang tampan dan mempesona serta menjadi idaman para wanita diluaran sana.

Rania menoleh kearah ketempat dimana Dicky tadi beristirahat.

"Kak Dicky kemana?" Tanya Rania.

"Dicky sudah Ayah suruh pulang, biarkan dia istirahat di rumah. Kasihan, dia juga butuh istirahat yang cukup." Jawab Putra.

Rania mengangguk perlahan.

"Ayah, Rania minta maaf ya. Sudah berlaku tidak baik kepada Ayah. Pasti Ayah kecewa pada Rania?" Ungkap Rania dengan pandangan tertuju kewajah Putra.

Tatapan Putra begitu dalam. Tersirat rasa yang tidak dapat dijabarkan.

"Tidak, Rania. Ayah tidak kecewa. Malah, Ayah yang merasa bersalah." Jawab Putra.

"Ayah, aku sayang, Ayah!" Ungkap Rania kepada Putra seraya membuka kedua tangannya hendak meminta peluk pada Putra.

Melihat kedua tangan Rania terbuka, Putra langsung menyadari dan membalas pelukan Rania dengan hangat. Tidak ada celah diantara kedua tubuh mereka.

Putra mengecup dahi Rania. Kedua hati mereka berdebar kencang. Sulit untuk diungkapkan, hanya mereka yang tahu.

Ya, rasa debarannya seperti tidak biasanya.

Ada apakah gerangan?

Putra mengendurkan pelukannya. Namun, Rania menahan tubuh Putra agar tetap berada dalam pelukannya.

Sontak Putra memandang wajah Rania dengan jarak yang begitu dekat. Hanya sekitar beberapa centi saja.

Keduanya saling pandang, hatinya berdebar kencang. Ada rasa yang mendalam dan cukup luas.

"Rania." Ucap Putra berbisik.

"Ya, Ayah?" Jawab Rania.

"Kaki Ayah pegal, Sayang. Tolong lepaskan Ayah." Pinta Putra pada Rania.

Seketika, Rania melepaskan pelukannya. Ia tidak menyadari jika Putra ternyata mengalami pegal pada kakinya yang masih bertumpu dilantai. Padahal, ia sudah berharap lebih agar Putra melakukan serangan yang tidak pernah Rania rasakan sebelumnya.

Rania menaruh hati kepada sang ayah angkatnya. Baginya, Putra adalah sosok yang begitu sempurna dimatanya.

Dengan tubuh yang tinggi besar, kekar, atletis, berwajah tampan, berkarismatik, dan pesonanya mampu membuat Rania tidak dapat mengalihkan dunianya.

Ya, sepertinya Rania telah jatuh cinta kepada Putra.

(Apakah aku salah mencintai ayah angkatku? Sebenarnya tidak masalah kan? Karena, aku dan dia tidak ada ikatan darah. Jadi, sah-sah saja.) 

Batin Rania seraya mata menatap pada Putra.

"Maaf, Ayah. Aku tidak tahu. Bagaimana kalau Ayah tidur disampingku saja?" Pinta Rania kepada Putra.

Membuat Putra membulatkan matanya.

"Jangan, Rania. Ranjangnya tidak cukup. Tubuh Ayah kan besar. Nanti kamu malah jatuh ke lantai. Lagi pula, tidak enak jika nanti ada dokter atau perawat masuk kedalam ruangan, kalau kita sedang tidur bersama. Nanti saja ya, kalau Rania sudah pulang ke rumah. Ayah bersedia tidur bersama dengan Rania." Jawab Putra.

Rania sedikit kecewa atas penolakan Putra. Namun, Rania terkejut dengan ucapan terakhir Putra yang bersedia tidur bersama ketika sudah pulang ke rumah.

"Hmm.. Janji ya, Ayah akan tidur bersama denganku, kalau aku sudah pulang ke rumah?"

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Rania tidak tahu aja pria dewasa tidur wanita takutnya khilap....

2025-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Terkekang
2 Menegangkan
3 Terjamah
4 Hukuman
5 Penyesalan
6 Kecewa
7 Membaik
8 Menggoda Iman
9 Gara-Gara First Kiss
10 Second First Kiss
11 Gara-gara Kolam Renang
12 Ditolak Mentah-mentah
13 Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14 Malam Panas 21+
15 Sepucuk Surat
16 Masih Dalam Pencarian
17 Menemukan Rania
18 Uh, Panas 21+++
19 Villa 21+++
20 Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21 Lagi dan Lagi 21+++
22 Bad Mood
23 Asrama Bintara
24 Sesuatu Yang Berbeda
25 Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26 Pertemuan Rania dan Putra
27 Pernikahan Putra dan Siska
28 Briptu Fauzi
29 Akankah Terulang Kembali?
30 Dan Terjadi Lagi
31 Siapa Dia?
32 Waspada!
33 Penuh Dengan Kepanikan
34 Lolos Dari Incaran
35 Ah, Jangan!
36 Runtuhnya Sebuah Komitmen
37 Rasa Kecewa Dicky
38 Menuju Desa Seruni
39 Penyesalan Putra
40 Coach Baru?
41 Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42 Pesona Rania
43 Denyut Jantung Berdebar
44 Rasa Khawatir
45 Iptu Mario, Kamu Kemana?
46 Bagai Tersambar Petir
47 Bawa Aku Pergi!
48 Terasa Sesak di Dada
49 Mendadak Galau
50 Ungkapkan atau Tidak?
51 Kamu Kemana Lagi?
52 Tersipu Malu
53 Terbayang Wajahnya
54 Pertemuan 2 Hati
55 Perdebatan Sengit
56 Jadian vs Hamil
57 Penyelidikan Identitas
58 Hari Kelulusan
59 Bripda Rania Baskara
60 Memori Lama
61 Sakit Hati
62 Kediaman Jenderal Agung
63 Chemistry Rania & Mario
64 Pendaftaran Kandidat
65 Putra vs Mario
66 Service Dari Rania
67 Upacara Pemilihan Kandidat
68 Apakah Dia Aninda?
69 Pernyataan Pahit
70 Penuh Tanda Tanya!
71 Masa Lalu
72 Penuh Dengan Misteri
73 Kejujuran Putra
74 Rania Anak Jenderal Agung?
75 Cemburu Buta
76 Tertembaknya Bripda Rania!
77 Fitnah Untuk Mario
78 Rasa Penasaran
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Terkekang
2
Menegangkan
3
Terjamah
4
Hukuman
5
Penyesalan
6
Kecewa
7
Membaik
8
Menggoda Iman
9
Gara-Gara First Kiss
10
Second First Kiss
11
Gara-gara Kolam Renang
12
Ditolak Mentah-mentah
13
Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14
Malam Panas 21+
15
Sepucuk Surat
16
Masih Dalam Pencarian
17
Menemukan Rania
18
Uh, Panas 21+++
19
Villa 21+++
20
Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21
Lagi dan Lagi 21+++
22
Bad Mood
23
Asrama Bintara
24
Sesuatu Yang Berbeda
25
Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26
Pertemuan Rania dan Putra
27
Pernikahan Putra dan Siska
28
Briptu Fauzi
29
Akankah Terulang Kembali?
30
Dan Terjadi Lagi
31
Siapa Dia?
32
Waspada!
33
Penuh Dengan Kepanikan
34
Lolos Dari Incaran
35
Ah, Jangan!
36
Runtuhnya Sebuah Komitmen
37
Rasa Kecewa Dicky
38
Menuju Desa Seruni
39
Penyesalan Putra
40
Coach Baru?
41
Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42
Pesona Rania
43
Denyut Jantung Berdebar
44
Rasa Khawatir
45
Iptu Mario, Kamu Kemana?
46
Bagai Tersambar Petir
47
Bawa Aku Pergi!
48
Terasa Sesak di Dada
49
Mendadak Galau
50
Ungkapkan atau Tidak?
51
Kamu Kemana Lagi?
52
Tersipu Malu
53
Terbayang Wajahnya
54
Pertemuan 2 Hati
55
Perdebatan Sengit
56
Jadian vs Hamil
57
Penyelidikan Identitas
58
Hari Kelulusan
59
Bripda Rania Baskara
60
Memori Lama
61
Sakit Hati
62
Kediaman Jenderal Agung
63
Chemistry Rania & Mario
64
Pendaftaran Kandidat
65
Putra vs Mario
66
Service Dari Rania
67
Upacara Pemilihan Kandidat
68
Apakah Dia Aninda?
69
Pernyataan Pahit
70
Penuh Tanda Tanya!
71
Masa Lalu
72
Penuh Dengan Misteri
73
Kejujuran Putra
74
Rania Anak Jenderal Agung?
75
Cemburu Buta
76
Tertembaknya Bripda Rania!
77
Fitnah Untuk Mario
78
Rasa Penasaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!