Penyesalan

"Rania bersedia mendapatkan hukuman!" Jawab Rania.

Putra segera mengambil sebuah rotan panjang.

Ia menggenggamnya dengan begitu erat.

"Buka telapak tangan!" Perintah Putra dengan suara lantangnya.

Rania harus siap menerima segala konsekuensi jika ia telah melakukan kesalahan.

Rania membuka telapak tangan kanannya.

Putra berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Rania.

Plaaaakkkkk...

Plaaakkkkk....

Plaaakkkk....

Rania menerima hukuman dari Putra. Tanpa terasa, air matanya menggenang dan mengalir membasahi kedua pipinya.

Telapak tangan Rania telah disabeti menggunakan rotan panjang.

Tiga kali pukulan Putra melakukannya, Rania hanya dapat menahan sakit dan perih yang ia rasakan. Air matanya terus mengalir.

Ia menunduk dan ikhlas menerima hukuman dari Putra.

Putra yang kejam ketika marah, selalu memberikan hukuman kepada Rania.

Namun, nampaknya semua itu tidak membuat Rania jera. Malah semakin hari semakin membangkang.

Usai memukul Rania, Putra langsung pergi meninggalkannya didalam ruang meditasi sendirian.

Pintu ruang meditasi terkunci otomatis. Rania tidak dapat keluar ruangan jika tidak mendapat izin dari Putra.

Rania menangis dengan posisi tidur meringkuk.

Telapak tangannya memerah dan memar.

Kedua matanyapun sembab.

***

"Komandan, apa yang anda lakukan kepada Rania? Mengapa terdengar suara pukulan?" Tanya Dicky yang terlihat tidak ikhlas jika terjadi apa-apa pada Rania, adik angkatnya.

Putra menatap tajam mata Dicky.

"Tidak perlu ikut campur. Urus saja pekerjaan kamu!" Jawab Putra dengan wajah penuh dengan kekesalan.

Tirta dan Minah yang saat itu sedang berada ditempat yang sama dengan Dicky dan Putra, tidak dapat banyak bicara ketika Putra sedang meluapkan emosinya.

"Tapi, Komandan. Biar bagaimanapun, Rania adikku, Komandan. Aku harus tahu apa yang sedang terjadi padanya." Protes Dicky kepada Putra.

Putra menatap Dicky, Tirta dan Minah, selaku orang kepercayaannya sejak dulu.

"Mulai sekarang, Rania tidak boleh pergi kemana-kemana tanpa izinku. Kalian harus pantau dan menjaganya dengan ketat. Jangan biarkan Rania pergi tanpa pengawasan!" Sentak Putra yang kemudian pergi melangkahkan kaki menuju area penembakan.

Sebelum mendapatkan jawaban dari Dicky, Tirta dan Minah, Putra sudah berlalu.

"Kasihan sekali Nona Rania." Ucap Tirta lirih.

"Apa hukuman yang diberikan Komandan? Mengapa sampai saat ini, Rania tidak kunjung keluar dari ruang meditasi?" Sahut Dicky dengan begitu cemas.

"Mengapa Tuan sesadis itu pada Nona? Padahal Nona hanya pergi ke toko buku saja." Imbuh Minah.

"Mulai sekarang, kita harus menjaga Rania dengan baik-baik. Jangan sampai Rania membuat kesalahan dan berakibat mendapatkan hukuman kembali dari Komandan." Perintah Dicky kepada Tirta dan Minah.

Tirta dan Minah mengangguk.

***

Dini hari, tubuh Rania tiba-tiba menggigil dan demam.

Mungkin akibat hukuman dari Putra.

Hingga kini Putra belum juga membebaskan Rania dari ruang meditasinya.

Bahkan, Rania juga belum sempat makan kembali. Terakhir terisi perutnya hanya diwaktu pagi saja.

Dan kini waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Ceklek..!

Putra memasuki ruang meditasinya, ia melihat keadaan Rania diluar dari dugaannya.

Rania terlihat pucat dan menggigil hebat.

Putra berjalan mendekati Rania.

"Rania! Rania! Apakah kamu sakit?" Tanya Putra kepada Rania.

Namun, nampaknya Putra tidak mendapatkan respon dari Rania yang biasanya terlihat lebih banyak bicara dibandingkan dirinya.

Putra lebih mendekatkan langkahnya dan menyentuh tubuh Rania.

Ya, tubuh Rania ternyata sedang panas.

Ia demam tinggi sehingga menimbulkan demam yang membuat Rania tidak dapat meresponnya.

"Rania! Tubuh kamu demam." Ucap Putra menyentuh dahi Rania, kemudian ia memperhatikan telapak tangan yang terdapat bekas pukulan darinya. Terlihat merah, memar dan mengeluarkan darah.

Dengan begitu panik, Putra langsung memeluk tubuh Rania.

Ia segera membopong Rania dan keluar dari ruang meditasinya.

"Dicky, Tirta, cepat kita bawa Rania ke rumah sakit! Cepaaatttt!" Teriak Putra kepada Dicky dan Tirta.

Dicky dan Tirta yang sedang berbincang terkejut dengan teriakan Putra. Keduanya langsung berlari kalang kabut menghampiri Putra yang telah menggendong tubuh Rania.

Rania terlihat lemas tidak berdaya.

Minahpun datang menghampirinya.

"Tuan, ada apa dengan Nona?" Tanya Minah kepada Putra.

"Jaga rumah, Minah. Saya akan membawa Rania ke rumah sakit." Jawab Putra.

Putra segera berlari menuju parkiran mobil.

Dengan cepat, Tirta menghidupkan mesin mobil, sedangkan Dicky membantu Putra dan Rania masuk kedalam mobil.

Setelah semuanya telah masuk kedalam mobil, Tirta langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Tirta ditemani oleh Dicky dibagian bangku depan, sedangkan Putra duduk dibelakang dengan menyediakan tubuhnya agar tetap bisa memeluk Rania.

"Ayah... Ayah..." Ucap Rania dengan lirih.

"Ini Ayah, Sayang. Maafkan, Ayah. Ayah telah berbuat salah kepada Rania." Jawab Putra dengan terus memeluk Rania.

"Sakit, Ayah. Sakittt..." Lagi-lagi Rania bergumam lirih.

"Maafkan, Ayah. Sudah membuat Rania sakit." Putra terlihat cemas dan begitu panik.

Tirta dan Dicky merasa iba, keduanya saling pandang.

***

"Bagaimana dokter dengan kondisi anak saya?" Putra tampak panik ketika dokter baru saja menyelesaikan dalam pemeriksaan Rania.

"Untuk kondisi Rania, harus dirawat inap ya, Pak. Agar kami dapat memantau perkembangan kesehatan Rania." Jawab sang dokter.

Putra mengangguk dengan cepat.

"Baik, dokter. Lakukan yang terbaik untuk anak saya." Pinta Putra kepada dokter.

"Baik, Pak." Jawab dokter kemudian berlalu meninggalkan Putra.

Putra terlihat gelisah, Dicky dan Tirta dapat melihat kecemasan Putra terhadap Rania.

"Komandan, sebaiknya anda menenangkan diri dulu. Percayakan saja semuanya kepada dokter. Nanti kalau seperti ini terus, malah Komandan yang jatuh sakit." Dicky berdiri menghampiri Putra yang masih saja berjalan mondar-mandir.

Putra menuruti apa yang dikatakan oleh Dicky.

Putra duduk dan Tirta langsung memberikan sebotol air mineral agar kecemasan Putra sedikit mereda.

"Andai Rania tidak membangkang, pasti tidak akan terjadi seperti ini." Ucap Putra dengan penuh penyesalan.

Dicky kemudian menggeser posisi duduknya.

"Komandan, semua yang sudah terjadi jangan pernah kita sesali. Tinggal bagaimana kita menata ulang kembali agar untuk kedepannya kita tidak salah langkah lagi." Lagi-lagi Dicky menenangkan Putra.

Putra mencerna ucapan Dicky, kemudian menoleh kearah Tirta yang sedang duduk tak jauh dari posisi Putra dan Dicky.

"Tirta, apakah benar kamu menemukan Rania di toko buku?" Tanya Putra kepada Tirta.

"Betul, Tuan. Nona bilang kalau ia bosan di rumah. Karena Nona keasyikan membaca, ia sampai lupa waktu. Padahal, hanya ingin membeli beberapa buku saja lalu akan ia baca di rumah. Namun, ia malah membaca buku hingga berjam-jam di toko buku tersebut." Tirta menjelaskan dengan sedemikian benar adanya.

"Ya ampun, mengapa aku langsung menghakiminya?" Putra menyesalinya.

***

"Rania, Rania! Kamu sudah sadar, Nak?" Ucap Putra begitu mengetahui bahwa Rania telah sadar akibat obat bius yang diberikan kepada dokter.

Dicky turut berjalan mendekati Rania yang telah terbaring diranjang rumah sakit.

Rania tampak mengerjapkan kedua matanya, pandangannya masih terlihat sangat samar-samar.

"Aku dimana?" Tanya Rania seraya mengedarkan pandangannya.

"Kamu di rumah sakit, Nak. Maafkan, Ayah. Kamu harus segera sembuh ya." Jawab Putra dengan menggenggam tangan Rania sebelah kanan. Karena, bagian tangan kirinya telah dibalut oleh kain kasa perban akibat luka yang dideritanya.

Rania menyeringai menahan sakit pada tubuhnya. Seluruh sendinya terasa sakit karena ia juga demam.

"Dicky, tinggalkan kami sejenak." Perintah Putra kepada Dicky.

Dicky yang sedang memperhatikan Rania, segera berjalan untuk meninggalkan ruangan Rania.

"Baik, Komandan."

Sepeninggal Dicky, Putra memeluk tubuh Rania.

"Maafkan, Ayah. Ayah telah bersalah." Putra memeluk tubuh Rania.

Rania hanya terdiam, ia tidak merespon Putra. Nampaknya, ia sudah dapat berpikir secara sadar dan kecewa atas apa yang diperbuat Putra.

Rania mendorong tubuh Putra, agar Putra menjauh darinya.

Putra mengerutkan dahinya, dan memasang wajah penuh tanda tanya.

"Kenapa, Rania?" Tanya Putra penasaran.

Rania membuang mukanya. Ia terlihat sedang menghindari kontak mata dengan Putra.

"Tinggalkan aku sendiri, Ayah!"

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Rania lg ngambek dan marah sm ayah angkatnya yg super posesif...

2025-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Terkekang
2 Menegangkan
3 Terjamah
4 Hukuman
5 Penyesalan
6 Kecewa
7 Membaik
8 Menggoda Iman
9 Gara-Gara First Kiss
10 Second First Kiss
11 Gara-gara Kolam Renang
12 Ditolak Mentah-mentah
13 Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14 Malam Panas 21+
15 Sepucuk Surat
16 Masih Dalam Pencarian
17 Menemukan Rania
18 Uh, Panas 21+++
19 Villa 21+++
20 Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21 Lagi dan Lagi 21+++
22 Bad Mood
23 Asrama Bintara
24 Sesuatu Yang Berbeda
25 Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26 Pertemuan Rania dan Putra
27 Pernikahan Putra dan Siska
28 Briptu Fauzi
29 Akankah Terulang Kembali?
30 Dan Terjadi Lagi
31 Siapa Dia?
32 Waspada!
33 Penuh Dengan Kepanikan
34 Lolos Dari Incaran
35 Ah, Jangan!
36 Runtuhnya Sebuah Komitmen
37 Rasa Kecewa Dicky
38 Menuju Desa Seruni
39 Penyesalan Putra
40 Coach Baru?
41 Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42 Pesona Rania
43 Denyut Jantung Berdebar
44 Rasa Khawatir
45 Iptu Mario, Kamu Kemana?
46 Bagai Tersambar Petir
47 Bawa Aku Pergi!
48 Terasa Sesak di Dada
49 Mendadak Galau
50 Ungkapkan atau Tidak?
51 Kamu Kemana Lagi?
52 Tersipu Malu
53 Terbayang Wajahnya
54 Pertemuan 2 Hati
55 Perdebatan Sengit
56 Jadian vs Hamil
57 Penyelidikan Identitas
58 Hari Kelulusan
59 Bripda Rania Baskara
60 Memori Lama
61 Sakit Hati
62 Kediaman Jenderal Agung
63 Chemistry Rania & Mario
64 Pendaftaran Kandidat
65 Putra vs Mario
66 Service Dari Rania
67 Upacara Pemilihan Kandidat
68 Apakah Dia Aninda?
69 Pernyataan Pahit
70 Penuh Tanda Tanya!
71 Masa Lalu
72 Penuh Dengan Misteri
73 Kejujuran Putra
74 Rania Anak Jenderal Agung?
75 Cemburu Buta
76 Tertembaknya Bripda Rania!
77 Fitnah Untuk Mario
78 Rasa Penasaran
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Terkekang
2
Menegangkan
3
Terjamah
4
Hukuman
5
Penyesalan
6
Kecewa
7
Membaik
8
Menggoda Iman
9
Gara-Gara First Kiss
10
Second First Kiss
11
Gara-gara Kolam Renang
12
Ditolak Mentah-mentah
13
Meluangkan Waktu Dengan Yang Lain
14
Malam Panas 21+
15
Sepucuk Surat
16
Masih Dalam Pencarian
17
Menemukan Rania
18
Uh, Panas 21+++
19
Villa 21+++
20
Menjebol Benteng Pertahanan 21+++
21
Lagi dan Lagi 21+++
22
Bad Mood
23
Asrama Bintara
24
Sesuatu Yang Berbeda
25
Kembali Pada Rasa Masa Lalu
26
Pertemuan Rania dan Putra
27
Pernikahan Putra dan Siska
28
Briptu Fauzi
29
Akankah Terulang Kembali?
30
Dan Terjadi Lagi
31
Siapa Dia?
32
Waspada!
33
Penuh Dengan Kepanikan
34
Lolos Dari Incaran
35
Ah, Jangan!
36
Runtuhnya Sebuah Komitmen
37
Rasa Kecewa Dicky
38
Menuju Desa Seruni
39
Penyesalan Putra
40
Coach Baru?
41
Iptu Mario Adalah Coach Baru Itu
42
Pesona Rania
43
Denyut Jantung Berdebar
44
Rasa Khawatir
45
Iptu Mario, Kamu Kemana?
46
Bagai Tersambar Petir
47
Bawa Aku Pergi!
48
Terasa Sesak di Dada
49
Mendadak Galau
50
Ungkapkan atau Tidak?
51
Kamu Kemana Lagi?
52
Tersipu Malu
53
Terbayang Wajahnya
54
Pertemuan 2 Hati
55
Perdebatan Sengit
56
Jadian vs Hamil
57
Penyelidikan Identitas
58
Hari Kelulusan
59
Bripda Rania Baskara
60
Memori Lama
61
Sakit Hati
62
Kediaman Jenderal Agung
63
Chemistry Rania & Mario
64
Pendaftaran Kandidat
65
Putra vs Mario
66
Service Dari Rania
67
Upacara Pemilihan Kandidat
68
Apakah Dia Aninda?
69
Pernyataan Pahit
70
Penuh Tanda Tanya!
71
Masa Lalu
72
Penuh Dengan Misteri
73
Kejujuran Putra
74
Rania Anak Jenderal Agung?
75
Cemburu Buta
76
Tertembaknya Bripda Rania!
77
Fitnah Untuk Mario
78
Rasa Penasaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!