Sedikit kisah tentang Dila–
"Hore !!! Kak Nadila cepetan bola nya di lempar kemari "teriak bocah kecil berusia 4 tahunan .
Dila mengangguk kan kepala nya , lalu melempar bola ke arah anak kecil tersebut .
"Yah, kak Nadila jauh banget sih lempar bola nya . Bola nya kan jadi ke jalan " ucap bocah tersebut sambil mengerucutkan ujung bibir nya .
Dila terkekeh , mengacak rambut bocah itu dengan gemas . "Kakak ambil dulu oke . Bobi di sini aja " ucap nya , yang langsung membuat bocah bernama Bobi tersebut mengembangkan senyuman manis nya .
Dila lalu melangkah kan kaki nya menuju ke jalan yang ada di depan panti asuhan Kasih Bunda , mengambil bola milik Bobi , adik panti nya .
Bruk
"Awwwsss" Dila terperanjat , terjatuh sampai bokong nya membentur aspal .
"Maaf, maaf , gue enggak sengaja , " ucap seorang pria . Lalu pria itu melirik ke arah pria yang baru datang dengan nafas tersengal-sengal .
"Aiiits , kabur kan tuh orang Rel . Gue capek deh ngejer nya" ucap pria yang baru datang.
"Eh. Lo mau mana ?" Pekik pria yang baru datang ketika melihat teman nya -- Farel berjalan ke depan . "Udah kabur ya Elah, udah enggak usah di kejer---"
"Brisik!" Farel menyela perkataan teman nya itu .
Farel kini berjalan mendekat ke arah seorang gadis yang masih terduduk di aspal .
Tangan Farel terulur , ingin membantu nya berdiri .
Nadila mendongak kan kepala nya , ketika melihat sebuah tangan terulur .
Lalu pandangan kedua nya bertemu , dan untuk beberapa saat mereka dalam keheningan ....
"Ya elah , malah pandang-pandangan lagi ." Gerutu si teman yang langsung membuat Farel dan Nadila membuang wajah kedua nya ke samping ...
"Emmm gue minta maaf , sini gue bantu " ucap Farel .
Nadila mengangguk kan kepala nya . Karena memang sakit yang di bokong nya beneran sakit , jadi Nadila mau bangun di bantu oleh pria yang ada di hadapannya ini ...
"Masih sakit ?" Tanya Farel .
Dan lagi-lagi Dila mengangguk kan kepala nya .
"Gue bawa ke rumah sakit ya ?" Ajak Farel .
Dila menggeleng kan kepala nya ... "Em-- enggak usah , nanti juga hilang sendiri" ucap Dila menolak ajakan Farel .
"Tapi --"
"Kak Nadila ! Kenapa lama banget , Bobi capek nungguin" teriakan Bobi membuat Farel dan Nadila menoleh ke arah sumber suara .
Dila tersenyum manis menyambut kedatangan Bobi . "Maaf ya Bob , tadi kakak--"
"Kak cepetan , tadi kata ibu , suruh cepet balik , karena ada sesuatu" ucap Bobi menyela perkataan Dila .
Dila mengangguk kan kepala nya , dengan tangan nya yang memegang pinggang , dan berjalan sambil meringis , Dila mengambil bola yang tidak jauh dari nya .
Lalu Dila mengajak Bobi berlalu dari sana , mengabaikan keberadaan Farel yang masih terdiam dan tidak bergeming .
Kenapa ? Karena Farel melihat senyuman yang tersungging dari kedua sudut bibir Dila .
Farel memegangi dada nya , yang rasa nya berdetak kencang ... Entah lah rasa nya ada perasaan yang aneh tiba-tiba menyeruak di dalam diri nya ...
____oOo___
"Ke supermarket di depan sana aja Bu , lebih dekat dan enggak makan waktu banyak ." Ucap Dila sambil menunjuk ke arah supermarket yang ada di seberang jalan sana kepada Bu Imah-- ibu panti ..
Bu Imah mengangguk kan kepalannya , lalu berjalan beriringan dengan Dila menuju ke sebuah supermarket yang memang letak nya tidak jauh dari panti asuhan Kasih Bunda ..
"Bu , kayak nya ini udah cukup deh" ucap Dila sembari mengakat beberapa makanan ringan untuk anak panti .
Bu Imah mengangguk , "ya sudah ayo , nanti ke buru hujan , " ucap Bu Imah , lalu kedua nya menuju ke kasir untuk membayar .
"Semua nya 200 ribu ya buk " ucap sang kasir .
Bu Imah merogoh saku nya mencari uang yang tadi di letakkan oleh nya di saku baju nya .
Namun nihil .. tidak ada ...
Bu Imah sudah keringat dingin , tangan nya berpindah mencari ke saku sebelah nya .
Dan nihil ... Tidak ada ..
"Bu ada apa ? " Tanya Dila yang melihat gelagat gelisah dari Bu Imah yang berdiri tepat di samping nya .
"Nad , uang ibu enggak ada . Bagaimana ini ? Ibu kayak nya kelupaan" ucap Bu Imah .
Nadila membulat kan kedua bola mata nya ."Dila juga enggak bawa dompet Bu . Gimana dong ini"
"Kita batalin aja ya , besok aja deh , ini udah malam , mau hujan lagi" ucap Bu Imah .
Dila mengangguk kan kepala nya , lalu menoleh ke arah sang kasir . "Mbak maaf ya , saya lupa bawa uang , jadi barang nya enggak jadi saya beli , maaf --"
"Biar saya yang bayarin "
Dila dan ibu Imah langsung mendongak menatap seseorang yang baru saja berbicara .
Dan
Deg
"Berapa mbak ?"
"200 ribu mas "
Pria itu mengangguk lalu meraih uang yang ada di dompet milik nya , menyerahkan nya ke mbak kasir .
"Sekalian sama punya saya " ucap nya yang menunjuk beberapa kaleng minuman .
"Mas enggak usah, udah kami enggak jadi " ucap Bu Imah yang tak enak hati .
Si pria menoleh dan tersenyum , menatap ke arah Bu Imah dan gadis yang di samping nya . Gadis yang tadi pagi di temui oleh nya .
"Enggak apa-apa Bu , ini .." pria itu menyodorkan kresek ke Bu Imah ,
"Anggap saja ini permintaan maaf saya karena saya tadi menabrak putri ibu" ucap pria itu sambil melirik ke arah Dila , membuat ibu Imah mengerutkan kening nya bingung .
Sedangkan Dila tertegun mendengar nya ...
____oOo___
Dila mengusap air mata nya yang mengenang di pipi nya . Sungguh ini kenyataan yang paling membuat diri nya rapuh ...
Rayyan nya , putra nya marah besar dengan diri nya ...
Tok tok tok
"Rayyan , sayang , ayo nak buka pintu nya , umi bisa jelasin nak .." ucap Dila berdiri di ambang pintu kamar putra nya .
"Pergi ! Rayyan benci sama umi . Rayyan juga benci sama Abi . Abi jahat ! Hiks hiks Abi punya anak lagi , selain Rayyan . Rayyan itu mau nya cuman jadi satu-satunya ... Rayyan enggak mau punya kakak ataupun adik " teriak Rayyan di dalam kamar nya .
"Rayyan , kita bisa bicara dulu nak ."
"Enggak .. Rayyan enggak mau "
Dila menghembuskan nafas nya kasar , lalu memejamkan kedua mata nya sesaat ... Sungguh sangat pusing diri nya saat ini . Bagaimana diri nya harus menghadapi putra nya yang sedang marah ...
_____
Brak
"Rayyan !!" Pekik Arsyad yang melihat Rayyan menggebrak meja makan ...
Rayyan tidak perduli , walaupun masih kecil , tapi emosi Rayyan itu bisa berapi-api ... "Aku yang anak nya Abi Arsyad bukan kamu " ucap Rayyan menatap tajam ke arah Zahra .
Zahra tersenyum miring , "oiya ? Tapi kenyataannya ayah Arsyad itu sekarang jadi ayah aku " ucap Zahra .
"Zahra , sudah nak , ayo nak ,kita kembali " Lydia mencoba menengahi , dengan memegang lengan Zahra dan mencoba untuk membawa anak nya pergi dari sana . Namun Zahra menolak nya .
"Bunda , apaan sih , aku mau di sini . Aku kan juga mau kenal sama kakek dan nenek , kayak yang di bilang sama ayah tadi " seru Zahra .
"Zahra bisa besok--"
"Enggak Zahra enggak mau , Zahra mau nya sekarang !" Tolak Zahra
"Dasar enggak tau malu ya , udah sana pergi , jangan muncul lagi di sini , ini rumah nenek sama kakek ku , bukan kakek sama nenek mau " ucap Rayyan ..
"Hei , ini juga rumah kakek nenek ku ya , " Zahra tidak mau kalah ,
"Zahra !!" Peringat Lydia .
Zahra tidak perduli .
"Pergi sana kamu , bawa tu bunda mu , dan jangan harap Abi Arsyad jadi Abi kamu , " ucap Rayyan .
"Rayyan !!" Kali ini Arsyad sudah sangat muak , suara pekikan Arsyad membuat semua nya berdiri ..
"Arsyad " tegur Abi Husein .
"Mas--"
Arsyad mengangkat sebelah tangan nya menyuruh semua nya diam .
"Abi enggak suka kamu seperti itu Rayyan " ucap Arsyad tegas .
Rayyan menatap tajam Arsyad . "Rayyan kan sudah bilang ! Jika Rayyan tidak mau memiliki adik ataupun kakak , ataupun apalah , Rayyan tidak mau, " lalu Rayyan menatap ke arah Zahra . "Apa lagi dia ! Rayyan benci " sambung Rayyan tanpa merasa takut sedikitpun ...
"Rayyan !!!"
"Mas sudah --"
"Kamu mau membela anak kamu yang salah hm ? Begini cara kamu mendidik anak kamu ?" Desis Arsyad menatap Dila ..
"Mas --"
"Ini bukan salah umi " sela Rayyan .
Arsyad tersenyum miring , " rupa nya keras kepala nya sama dan bahkan sangat mirip " gumam nya yang masih bisa di dengar oleh orang-orang yang ada di sana , dan apa yang keluar dari mulut Arsyad membuat Dila diam membeku ...
"Umi , Abi , saya pamit , " ucap Lydia yang sudah tidak enak berada di sana . Lydia lalu menarik tangan Zahra , walaupun Zahra tetap kekeuh , tapi Lydia tetap menarik tangan putri nya itu .
Umi dan Abi mengangguk , lalu mengantar Lydia dan Zahra ...
Arsyad lalu ingin melangkah kan kaki nya , namun suara Rayyan membuat nya berhenti .
"Aku enggak akan biarin Abi pergi , aku mau Abi tetap di sini sama aku sama umi " ucap Rayyan .
Arsyad membalikkan tubuh nya ... "Saya ada pekerjaan " ucap Arsyad datar lalu berlalu dari sana , tanpa menghiraukan Rayyan yang memanggil nama nya .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
𝚔𝚊𝚢𝚊𝚔𝚗𝚢𝚊 𝚁𝚊𝚢𝚢𝚊𝚗 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚗𝚊𝚔 𝚔𝚊𝚗𝚍𝚞𝚗𝚐 𝚗𝚢𝚊 𝙰𝚛𝚜𝚢𝚊𝚍 𝚍𝚎𝚑, 𝚖𝚞𝚗𝚐𝚔𝚒𝚗 𝚍𝚒𝚕𝚊 𝚑𝚊𝚖𝚒𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚕𝚊𝚒𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝙰𝚛𝚜𝚢𝚊𝚍 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚊𝚗𝚐𝚐𝚞𝚗𝚐 𝚓𝚊𝚠𝚊𝚋
2025-02-04
1
Hanipah Fitri
pik, inimah Rayan bukan anaknya Arsyad
2025-02-09
0