Arika langsung berdiri melihat oma Gema memperhatikan mereka. Jujur dia malu.
"Kenapa oma ke sini?"
"Enggak kenapa-napa, emang kenapa kalau oma ke sini? Ganggu kalian?"
Arika maju dan mencium punggung tangan oma suaminya itu.
"Mas oma datang itu di salami bukan malah nanya!"
"Maaf, sayang." Barulah Arian ikut mencium tangan omanya.
Oma Gema duduk di sofa, Arian dan Arika pun ikut duduk.
"Oma ke sini mau cek kantor kamu saja, terus Arika kamu gada pemotretan sampai datang ke sini?"
"Tidak oma."
"Kamu bisa menganggu Arian kerja, kalau kamu gada kerjaan tinggal di rumah enggak usah ikut ke kantor."
"Oma! Arika tidak pernah menganggu Ari kerja."
Arian tidak terima omanya memojokkan istrinya seperti itu.
"Dengan melalukan hal tadi? Bagaimana jika karyawan kamu yang melihatnya?"
"Mas." Arika menahan suaminya yang ingin kembali berucap, membalas sang oma. "Maaf oma, Arika hanya bosan di rumah makanya Arika ke sini."
Oma Gema memutar bola matanya malas. Saat ia mengatahui jika Arika belum hamil juga, ia sudah tak menganggap Arika menantu yang baik untuknya.
"Sudah kamu diam! Oma mau ngomong sama Arian bukan sama kamu."
Arika langsung bungkam dan perlahan mengangguk saja.
"Oma mending oma pulang. Oma istirahat."
"Kamu ngusir oma?"
"Enggak gitu oma, cuma-" Ucapan Arian tergantung saat tiba-tiba sang oma berdiri dan keluar dari ruangan Arian.
Arika berniat mengejar sang oma, tapi Arian menahannya.
"Enggak usah di kejar, biarin aja."
"Tapi mas..."
"Enggak usah, sayang. Oma memang gitu, efek udah tua memang suka ke singgung."
Arika menghela napas dan kembali duduk. Entah apa kesalahannya sehingga sang oma ketus kepadanya. Biasanya oma Gema sangat senang jika bertemu dengannya, tetapi kali ini oma merasa tak suka kepadanya.
"Sayang kita pulang aja, ya. Mas enggak sibuk, mas bisa tunda pekerjaan mas." Arian menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangannya.
...----------------...
Arian mengajak sang istri main timezone. Ia berpikir dengan mengajak istrinya bermain dia tidak terlalu memikirkan ucapan tadi.
"Mas aku mau boneka itu!" Tunjuk Arika ke boneka yang berada dalam kotak capit boneka.
"Mas coba ambilin, ya?" Arian mulai memasukan dua koin dan berusaha mengambil boneka yang istrinya inginkan.
Arian mendapatkan boneka, tetapi bukan boneka yang di inginkan istrinya.
"Mas hanya dapat ini, sayang?"
"Enggak apa-apa mas ini juga lucu banget." Arika memeluk boneka tersebut dan berterima kasih kepada sang suami.
Mereka pun kembali bermain, permainan yang lainnya.
Arian menatap wajah gembira istrinya, hal itu benar-benar membuatnya tenang.
"Arika?" panggil seseorang membuat kedua pasangan itu menoleh.
"Ema?" Arika menghentikan melempar bola basket ke dalam ring dan menghampiri Ema.
Mereka saling berpelukan satu sama lain. Sedangkan Arian menatap tak suka Ema ada di sana.
Ema tersenyum devil ke arah Arian, memberikan kedipan mata membuat Arian membuang wajah ke arah lain.
Mereka melepaskan pelukan mereka. Arika terlihat begitu senang bisa bertemu dengan Ema.
"Nomor lo kok enggak aktif, Ema? Gue telpon enggak aktif."
"Gue ganti nomor, Rik."
"Tapi lo baik-baik aja kan?"
Ema mengangguk membuat Arika bernapas lega. Di mata Arian, sikap sok baik Ema benar-benar membuatnya jijik.
"Lo ke sini bareng siapa?"
"Sendiri."
"Yaudah ikut sama kami aja ayo," ajak Arika. "Enggak apa-apa kan, sayang?" tanya Arika kepada suaminya.
"Tapi sayang kita ke sini niatnya ngedate berdua kok malah ngajak orang lain."
"Ngedatenya kapan-kapan aja mas, aku mau jalan sama Ema boleh kan?"
"Yaudah boleh."
Arika mengajak Ema keliling timezone, mengajaknya bermain banyak permainan. Sedangkan Arian hanya mengikuti mereka pergi.
"Mas aku haus."
"Bentar mas beliin minum dulu." Arian pergi dari aera timezone untuk membeli minum untuk istrinya.
"Rik gue juga izin ke wc bentar, ya? Enggak apa-apa gue tinggal bentar?"
Arika mengangguk saja. Ema pun ikut meninggalkan Arika.
Ucapan Ema yang ingin ke wc itu bohong nyatanya ia mengikuti Arian.
Saat Arian mengantri untuk membayar minum, tiba-tiba saja Ema merangkul lengannya.
"Gimana perasaanmu bawa dua wanitamu jalan-jalan mas Arian?" tanya Ema dengan suara manja.
"Apa yang kau lakukan, Ema!" Arian berusaha melepaskan rangkulan Ema.
"Kamu cuma beliin Arika doang? Aku mana?"
"Beli sendiri," ucap Arian dengan perasaan risih.
"Jahat banget sih sayang?"
Arian menghentakkan tangan Ema agar terlepas dari lengannya.
"Jaga sikapmu Ema ini di tempat umum!"
"Berarti kalau bukan di tempat umum boleh aja, mas?" tanya Ema hal itu membuat Arian memutar bola mata jengah.
"Apanya yang boleh, Ema?" tanya seseorang membuat Arian dan Ema menoleh secara bersamaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Ira Sulastri
Arika jadi orang jangan terlalu percaya dg orang lain baik suami atau sahabat kamu sendiri, setidaknya 20% ada rasa waspada terhadap orang terdekat, jangan polos atau bodoh dg perhatian dr seseorang yg berlebihan
2024-09-18
0