~Part 15~Istri barumu, mas?~

Arian panik, kenapa istrinya bisa mengatahuinya jika ia berada di bali? Semoga saja dia tak mengatahui perihal Ema.

"Jawab mas."

"An-u, maafin mas."

"Itu aja yang terus mas ucapkan. Emang enggak ada kata lain dari itu?"

"Mas ke bali karena oma ingin bertemu dengan saudaranya. Dan mas terpaksa terbang ke bali saat itu juga makanya mas enggak bisa ngasih kabar sama kamu."

"Apa itu aja?" tanya Arika lagi hal itu membuat gelaga Arian semaki kentara di mata Arika.

"Siapa wanita ini, mas?" tanya Arika sembari memperlihat wanita yang sedang merangkul suaminya itu.

Jantung Arian semakin berdebar tak karuan, wajahnya mencoba mencari ketenangan dan ia berusaha mencari alasan yang pantas.

"Saudara jauh."

"Namanya? Apa dia pernah datang di hari pernikahan kita? Perasaan sepupu kamu kebanyakan cowok, adanya cewek tapi itu masih remaja, tetapi wanita ini seperti seumuran sama aku mas?"

"Itu sepupu jauh aku, sayang. Dia tidak datang di hari pernikahan kita soalnya dia kuliah di luar negeri. Mamanya sepupuan sama papa makanya enggak terlalu akrab banget. Ini baru bertemu lagi saat oma mau ketemu sama saudaranya."

"Apa itu benar?"

Arian langsung mengangguk. Walaupun alasannya sedikit ambigu semoga saja istrinya percaya.

"Tapi postur wanita itu enggak asing bagi aku, mas. Aku meraaa sering kali melihatnya."

Arian mengusap wajahnya kasar. Bagaimana tidak asing? Orang itu adalah Ema, sahabatnya sendiri.

"Cuma perasaan kamu aja kali, sayang. Kamu dan dia belum ketemu."

"Iyakali."

Helaan napas lega dari Arian. Untung saja istrinya itu lugu dan mudah percaya.

"Kamu masih marah sama mas atau udah enggak?"

"Masih! Mas enggak beri aku kabar seharian." Arika kembali tidur membelakanginya.

Arian menghembuskan napasnya. Ia memeluk sang istri.

"Kan udah mas jelasin, mas sibuk banget enggak sempat pegang hp. Mas pegang sih cuma enggak ada kesempatan balas chat kamu." Arian mencium leher Arika yang terbuka di hadapannya.

"Geli mas."

Bukannya berhenti, Arian malah semakin liar. Kini sudah memberi tanda kemerahan di sana, hal itu membuat Arika kesal.

"Sayang mas kangen banget. Mas pengen kamu malam ini."

Arika mengangguk, ia juga kangen dengan suaminya itu.

Arian dengan semangat delapan lima. Mulai menjajah badan istrinya.

Saat sedang asik beraktivitas. Ponsel Arian berbunyi membuat Arika menoleh memberi isyarat kepada sang suami.

"Enggak usah di jawab, sayang."

"Tapi mas, hp kamu bunyi dari tadi."

"Bodoh amat."

"Jawab dulu atuh, siapa tau penting."

Arian berdecak kesal, ia turun dari atas Arika dan mengambil ponselnya.

Kesalnya semakin menambah saat mengatahui Ema yang menelpon. Benar-benar membuat suasana hatinya hilang dalam sekejap.

"Siapa mas?" tanya Arika saat sang suami malah mematikan ponselnya.

"Kan udah bilang, nomor iseng."

Arika mengangguk mengerti, dan mereka melanjutkan hal yang tertunda.

...----------------...

Tidur Arika jadi terusik sebab suara telpon dari ponsel suaminya.

"Siapa sih pagi-pagi begini nelpon," kesal Arika. Ia meraba ke nakas dan mengambil ponsel Arian.

Saat memasukan password ponsel suaminya ternyata salah. Apa lelaki itu mengubahnya? Dulu Arian memberi password tanggal pernikahan mereka.

Arika tidak sempat berpikir ke sana. Ia membangunkan suaminya, takut itu telpon dari rekan kerja.

"Mas sayang." Arika menepuk bahu Arian yang masih terlelap seraya memeluk pinggangnya.

"Mas bangun."

"Sepuluh menit lagi, sayang."

"Ada yang nelpon mas di ponsel kamu, siapa tau penting. Nih jawab dulu." Arika melepaskan pelukan suaminya. "Aku mau membersihkan badan."

Arian menghela napas kasar, ia mengambil ponselnya. Dan dengan cepat mengangkat telpon dari Ema, sebab Arika berada dalam kamar mandi.

"Kamu kenapa sih nelpon mulu? Enggak tau situasi? Ini masih pagi Ema! Dan kamu ingat aku dan Arika sedang bersama!" Walaupun kesal dan emosi, Arian memelankan ucapannya.

"Kamu enggak datang menemuiku hari ini? Ingat janji oma."

"Nanti aku akan ke apartemenmu. Puas?" Arian memutuskan panggilan dan kembali tidur.

Arika keluar dari kamar mandi dan menghembuskan napasnya melihat suaminya kembali tidur.

Ia pun tak mempedulikannya dan fokus berdandan.

Padahal sebenarnya Arian tak tidur, lelaki itu memandang istrinya yang hanya memakai handuk sembari duduk di kursi hiasnya.

"Indah banget pemandangan pagi hari. Semoga saja akan setiap begini saat aku bangun tidur," gumam Arian, ia beranjak bangun lalu memakai handuk di pinggiran ranjang, ia mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.

"Kamu enggak dandan aja mas udah tergoda, sayang. Mas lebih suka kamu yang natural yang kek semalam pas kita..."

Arika langsung malu dengan ucapan suaminya barusan apalagi saat kata-kata terakhirnya sengaja di potong dan di ganti dengan godaan suaminya dari belakang.

"Jika aku sudah tidak ada, kamu akan gombal kek gini ke istri kamu yang baru, mas?"

Terpopuler

Comments

Ira Sulastri

Ira Sulastri

Arika lebih baik selidiki dulu pengakuan suami itu, persiapan diri kl sdh ada jawaban dr pencarian dan amankan semua aset berharga hak kamu, jangan jd wanita bodoh

2024-09-19

0

Juliana Tri Kuria

Juliana Tri Kuria

nyesek bacanya /Sob/

2024-09-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!