Arika membuka pintu ruangan Arian. Di sana sangat sepi tidak ada seseorang.
"Di mana mas Arian?" gumamnya.
Ia melihat pintu kamar istirahat Arian terbuka, ia pun melangkah ke sana berharap sang suami ada di dalam sana.
Arika berhenti sejenak dan menatap benda kecil yang dia pegang. Ia kembali tersenyum.
"Sepertinya aku tidak akan memberitahu mas Arian dulu, biar aku memberikannya pas pesta pernikahan kami." Arika kembali menyimpan ke dalam tas tespack itu dan ingin melangkah masuk ke dalam.
Namun, Arian sudah terlihat keluar dari sana. Dan lelaki terkejut dengan keadaan sang istri.
"Arika? Kamu ke sini?"
"Kejutan."
Arian tersenyum, ia mengajak istrinya ke sofa.
"Kok kelihatan bahagia banget?" tanya Arian melihat wajah bahagia istrinya.
"Mas benaran enggak tau? Apa pura-pura enggak tau?"
"Oh tentunya mas enggak lupa sayang. Hari ini adalah hari spesial bagi kita." Arian mengenggam tangan istrinya.
"Kamu enggak ngasih hadiah, mas?" tanya Arika.
"Ada dong tapi nanti di rumah aja, ya!" Arika langsung bahagia mendengarnya. "Kamu ada enggak hadiah buat mas?"
Arika berpikir seraya menaroh jari telunjuknya di pipinya.
"Hem ada deh."
"Apaan tuh, mas jadi penasaran."
"Rahasia dong." Mereka langsung tertawa terbahak-bahak.
"Mas kita makan di luar, yuk."
"Ayo, tapi mas ambil jas mas di dalam kamar dulu."
"Biar aku aja mas yang ambil."
"Enggak usah sayang, biar mas aja."
Arika mengangguk saja, ia menunggu sang suami di luar. Dan Arian mengambil jasnya di dalam kamar.
Di dalam Ema mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan kedatangan Arika.
"Aku pergi bersama Arika dulu, ya. Kamu ke rumah utama aja ketemu sama oma. Nanti aku akan nyusul ke sana." Arian mengecup kening Ema sebelum keluar dari sana.
Pov sebelum kedatangan Arika ke ruangan Arian.
Arian dan Ema sedang bermesraan tetapi Arian mendapatkan telpon dari asistennya.
"Ada apa, Bayu?"
"Bu Arika ada di kantor dan menuju ruangan bapak."
"Arika ke kantor?" Arian seketika panik mendengarnya. "Terima kasih infonya, Bayu."
...----------------...
Arian dan Arika berada di sebuah cafe. Mereka menikmati makan siang.
"Katanya kamu ada pemotretan, sayang. Kok cepat banget pulangnya?"
"Aku mau izin pulang aja, kepala aku pusing tadi."
Arian langsung menyimpan sendoknya dan menggeser kursinya ke dekat Arika.
"Kok kamu enggak bilang dari tadi sih?" tanya Arian langsung memeriksa tubuh Arika. "Masih sakit, sayang? Seharusnya kamu telpon mas biar mas jemput kamu dan kita ke dokter."
Arika tersenyum mendengar kekhawatiran suaminya itu.
"Aku baik-baik saja mas, ini cuma sakit kepala biasa aja. Dan udah enggak sakit lagi kok."
Arian bernapas lega, wajah khawatirnya sudah hilang.
"Yaudah kamu habisin ice cream kamu." Arian mengusap rambut panjang istrinya yang terurai.
"Mas aku mau shoping, boleh enggak?"
Arian mengerutkan keningnya. Baru kali ini ia mendengar Arika minta izin untuk shoping, dulu-dulu ia yang memaksa wanita itu untuk menguras uangnya.
"Boleh, sayang. Kamu bisa shoping sepuasnya, beli apapun yang kamu mau."
"Tapi aku mau ngajak Ema. Udah enggak lama aku enggak ketemu sama dia."
"Emang kamu udah dapat nomornya?" tanya Arian.
Arika mendengus sedih dan menggeleng.
"Enggak mas, aku lupa minta nomor baru Ema saat itu. Terus enggak nanya dia tinggal di mana sekarang, apa dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja."
Arika menatap bingung suaminya. "Dari mana mas tau kalau Ema baik-baik saja mas?
"A-nu, maksud mas, Ema pasti baik-baik saja."
Arika beroh saja dan sibuk memasukan ice cream ke dalam mulutnya.
"Kok selera makan kamu meningkat, sayang." Arian mengusap bibir istrinya yang terdapat ice cream.
"Kenapa mas enggak suka? Mas takut kalau aku gendut dan buat mas minder?"
"Apasih bukan begitu, sayang. Malahan mas suka lihat kamu doyan makan gini."
Arika menaroh sendok ice creamnya, terlihat kesal kepada sang suami.
"Bohong, bilang aja mas enggak suka. Udah ah, udah enggak mood aku mau pulang." Arika berdiri dan meninggal suaminya.
Arian mengerutuk dan mengejar istrinya yang tengah ngambek. Dia bingung dengan sikap Arika akhir-akhir ini suka berubah mood.
"Sayang." Arian ikut masuk ke dalam mobil.
Arika membalikan badannya keluar jendela. Dan beberapa saat kemudian menatap ke arah Arian.
"Mas antar aku ke pemotretan, di sana aku mau ketemu Erina, aku mau mengajak dia shoping kamu enggak usah antar kami dan enggak usah jemput, aku pulang sendiri. Kamu langsung ke kantor pasti banyak kerjaan."
"Enggak apa-apa, sayang?" tanya Arian membuat Arika mengangguk. "Baiklah, sayang. Tapi jaga diri baik-baik ya." Arika hanya berdehem saja.
Mereka menuju tempat pemotretan. Arika mengabari Erina, dan memastikan wanita itu masih ada di tempat pemotretan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Ira Sulastri
Hadeeeeeeehhh hampir jg mergoki perselingkuhan suami nya malah Gatot😏
2024-09-20
0
Nani Nuraeni
ohhhh belum nyampe nh, ketahuannya masih bahagia tar masih berjalan nh menuju ketahuannya😁😁😁
2024-09-20
0