~Part 14 ~Kabar itu perlu~

Arian mengabaikan keberadaan Ema di sana. Ia mengambil ponselnya, melihat banyak pesan masuk oleh sang istri.

Ia langsung menelpon istrinya, tetapi wanita itu sudah tak menjawabnya. Ia melakukan panggilan berulang kali, tetapi Arika belum juga mengangkatnya hal itu membuatnya panik.

Ema mendekati suaminya dan memeluknya dari belakang. Hal itu membuat Arian menghembuskan napasnya kasar.

"Lepasin Ema!"

"Kamu kenapa sih, Ri? Kamu mikirin Arika disaat kita bersama?"

"Karena Arika istriku!" bentak Arian melepas paksa pelukan Ema.

"Aku juga istrimu, Arian!"

"Kita menikah karena terpaksa, pernikahan kita siri dan pernikahan di atas kertas, saya tidak pernah menganggapmu istriku, ingat itu," tekan Arian menunjuk wajah Ema dengan wajah kesal.

"Kamu jahat, Ari. Kamu jahat."

"Udah tau aku jahat, kenapa kamu masih menuruti permintaan oma? Kamu yang cari luka sendiri."

Arian membuka lemari dan memakai bajunya lalu keluar dari kamar.

"ARIKA SIALAN," teriak Ema menjambak rambutnya sendiri. "Kamu akan memperhatikanku, Ari. Setelah benihmu tumbuh dalam rahimku." Ema tersenyum smirk lalu mengusap perut ratanya.

Walaupun saat berhubungan badan, Arian hanya terus memanggil nama Arika dan lelaki itu minum obat penghilang kesadaran.

Ari berada di balkon, menelpon terus istrinya. Ia benar-benar khawatir dengan sang istri.

"Maafin mas, mas terlalu sibuk hingga lupa mengabari kamu. Mas juga sangat kangen sayang."

Arian akan pulang besok, ia tidak ingin berlama-lama di bali. Ia ingin secepatnya pulang dan menemui istrinya.

...----------------...

Arika tertidur pulas di bawah sofa dengan kepala di atas meja. Ponselnya terus menyala sebab Arian menelponnya, tetapi Arika benar-benar sudah terlelap dalam mimpinya.

Keesokan paginya. Arika terbangun dikarenakan wajahnya terkena sinar matahari. Ia perlahan mengangkat kepalanya yang terasa pusing dan pegal di bagian leher.

"Astaga, aku ketiduran di sini sampai pagi." Arika mengusap wajahnya, ia beranjak masuk ke dalam kamar mandi.

Dia akan kemhali di indonesia hari ini, sebab ia sudah selesai pemotretan di london.

Wanita itu pun bersiap-siap agar tak ketinggalan pesawat.

Tok-tok.

Arika yang tengah berdandan menoleh ke arah pintu. Ia berdiri dan membuka pintu.

"Sudah selesai?" tanya staf.

"Belum sebentar lagi."

"Perlu bantuan?"

"Enggak usah, kamu bawakan makanan aja ke sini."

"Baiklah." Staf itu pun pergi dari sana, dan Arika kembali masuk ke dalam kamar hotelnya.

Setelah selesai bersiap, Arika mengambil ponselnya tetapi mati. Ia pun mengisinya batrei sebelum pergi.

...----------------...

Arika sudah sampai di bandara seokarno-hatta. Ia menghela napas panjang melangkah keluar untuk menunggu taksi yang sudah ia pesan.

Ia tidak benar-benar kepikiran untuk memberi kabar kepada Arian. Dia sedang marah kepada suaminya itu dan ingin membalas perbuatan yang semalam lelaki itu perbuat kepadanya.

Seseorang menepuknya dari belakang membuatnya menoleh.

"Mas?" Arika melihat suaminya dengan senyuman seraya membawa sebuah buket dan boneka besar.

Arian menaroh boneka dan buket itu di bawah lantai dan memeluk istrinya.

"Mas kangen banget sayang."

Arika hanya diam tanpa membalas pelukan sang suami. Mengingat kemarin tak memberinya kabar seharian.

"Sayang?" Arika melepaskan pelukannya. "Kamu senang tidak?"

Arika hanya manggut-manggut saja dan tersenyum tipis.

"Yaudah ayo kita pulang."

"Sini biar aku yang bawa." Arika mengambil ahli buket dan boneka itu dari sang suami.

Di atas mobil hanya ada keheningan. Arika menatap keluar jendela, dan Arian tahu bahwa suasana istrinya tidak baik-baik saja.

Sesampainya mereka di rumah. Mereka berjalan biringan masuk ke dalam rumah.

"Sayang kamu istirahat aja dulu, ya? Biar mas yang masak."

Arika hanya mengangguk. Ia duduk di sofa dan menatap keluar balkon.

Sedangkan Arian masak di dapur untuk makan malam mereka.

Usai memasak ia memanggil istrinya. Dan mereka makan bersama.

"Sayang? Kok sedikit banget makannya?" tanya Arian. "Masakan mas enggak enak, ya?"

"Aku udah kenyang mas." Arika berdiri dan membawa piring bekas makannya ke wastafel dan berjalan masuk ke dalam kamar.

Arian menghela napas panjang. Ia ikut meletakkan bekas makannya di wastafel lalu menyusul istrinya ke dalam kamar.

"Sayang?" panggil Arian melihat istrinya tidur membelakanginya.

"Sayang, kamu marah sama mas?" Arian mengusap bahu istrinya. "Maafin mas karena tidak membalas pesan dan tak mengabarimu kemarin seharian."

Arika hanya mengangguk saja. Tanpa ingin membuka matanya.

"Saya ngadap mas."

"Aku ngantuk mas, kita bahas besok aja ya?"

"Enggak bisa, mas enggak mau kamu tidur dengan keadaan marah seperti ini." Arian berusaha membalik badan istrinya.

Arika terpaksa bangun dan menatap suaminya yang juga tengah menatapnya.

"Maafin mas, sayang. Mas salah."

"Mas di mana aja seharian kemarin?"

"Mas sibuk sayang."

"Sibuk liburan di bali bersama dengan keluarga kamu sampe kamu enggak sempat ngasih kabar? Aku enggak akan minta ikut dan menganggu waktu kalian kok aku cuma butuh kabar dari kamu karena aku khawatir mas. Kamu pernah mikir enggak sih gini, istri aku akan khawatir kalau aku enggak ngasih kabar."

Terpopuler

Comments

Ira Sulastri

Ira Sulastri

Arika cari orang untuk menyelidiki semua kegiatan suami itu selama ga ada di sisimu, jangan mau di bodohi terus menerus

2024-09-19

0

Ma Em

Ma Em

Sudahlah Arika cepat selidiki suamimu itu apa saja yg dikerjakan Arian selama di bali

2024-09-18

0

Nani Nuraeni

Nani Nuraeni

aku paling benci sama laki" yg ga bisa tegas, tar kalau udh ketahuan istrinya baru nangis" ,, walaupun cuma novel tpi aku kesel bacanya, emosi dikit😁😁😁😤😤

2024-09-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!