Bab 7 Kerinduan Dihati Gadis Kecil

Suara gema lonceng berdentang keras dari kejauhan.

Seseorang bergerak pelan menelusuri jalan sepi bermandikan cahaya lampu yang temaram.

Kedua matanya bersinar terang berwarna merah.

"Apa kalian telah menemukan keberadaan pangeran Lakas ?" tanya nya pada seorang laki-laki bermantel tebal.

"Belum, kami masih belum menemukannya", sahut laki-laki bermantel tebal itu dengan pandangan agak tertunduk.

"Jangan sampai lengah ! Buat utusan kaisar vampir sibuk sehingga perhatian mereka teralihkan dari Lakas !" ucap laki-laki disampingnya dengan kedua mata berkilat-kilat merah.

"Baik, pangeran", sahut laki-laki bermantel tebal seraya mengangguk cepat.

"Cegah mereka dari pengejaran pangeran Lakas, apapun itu, lakukan agar mereka tidak dapat menemukannya'', perintah laki-laki bermata merah menyala itu.

"Siap, pangeran Yosua", sahut laki-laki bermantel tebal sembari memberi hormat.

"Tapi kami belum menemukan keberadaan para utusan kaisar vampir itu disini bahkan jejak mereka juga tidak terlihat dimana-mana, pangeran Yosua", sambung dari laki-laki berpakaian serba hitam sembari berjalan mendekat.

Laki-laki bernama Yosua segera mengalihkan perhatiannya ke arah laki-laki berpakaian serba hitam itu kemudian berkata serius padanya.

"Apa kalian tidak mengendus aroma vampir dari tubuh mereka ?" tanya pangeran Yosua sambil mengarahkan ujung jari telunjuknya ke atas.

"Tidak, pangeran Yosua", sahut laki-laki itu dengan sikap hormat.

"Cobalah tebarkan gaharu tua ini keseluruh jalan yang kalian lalui, akan ada jejak aroma vampir yang akan tercium diantara aroma gaharu tua ini !" ucap pangeran Yosua.

Yosua menyerahkan sebotol kaca bening beraroma gaharu tua kepada laki-laki bermantel tebal itu.

Kuku-kukunya yang runcing berwarna-warni dengan hiasan berlian diatas permukaannya tampak menghiasi seluruh kesepuluh jari tangannya ketika dia memberikan botol tersebut.

"Beritahukan segera padaku tentang Lakas jika kalian melihatnya, aku tidak ingin dia kembali ke istana vampir dan menjadi kaisar vampir", ucap Yosua sembari menggenggam erat-erat mantel bulunya dengan jari-jemari tangannya yang panjang berwarna-warni itu.

"Baik, pangeran Yosua", sahut laki-laki bermantel tebal.

"Sudah hampir lima tahun lamanya, kaisar vampir menunda pemilihan kaisar vampir yang akan menggantikannya", ucap pangeran Yosua dengan kepala mendongak ke atas.

Pandangannya tertuju lurus pada langit diatas sana.

"Entah, apa yang dicari oleh kaisar vampir dari kami, pangeran vampir, karena kami semua juga memiliki kemampuan luar biasa yang sama hebatnya seperti Lakas", ucap Yosua.

Yosua menghela nafas pelan lalu tersenyum sinis.

"Pergilah kalian ! Dan segera cari para utusan kaisar vampir itu serta Lakas secepatnya !" perintah Yosua sembari melambaikan tangan.

Serentak orang-orang berpakaian serba hitam bergerak pergi dari sisi Yosua, meninggalkannya sendirian ditengah jalanan yang sunyi.

Yosua memandang murung jalanan didepannya.

"Lakas..., kupastikan kau segera lenyap...", bisik Yosua dengan senyum sinis menghiasi sudut bibirnya yang menggoda.

...***...

Kring... Kring... Kring...

Suara dentang bel sekolah terdengar nyaring dari arah luar halaman.

Bangunan megah mirip kastil tua terlihat berdiri kokoh ditengah-tengah hamparan taman yang luas.

Pintu kelas terbuka secara bersamaan saat semua siswa sekolah keluar dari kelas mereka seusai jam pulang.

Tampak Cornelia berjalan cepat menuju keluar halaman sekolah.

"Selamat sore, Cornelia !" sapa Nobel sembari berpangku tangan pada sebuah gagang payung berwarna hitam.

Senyum tipis lalu membayang diwajah Nobel ketika dia melihat Cornelia berjalan menghampirinya.

"Selamat sore, Nobel...", sahut Cornelia dengan wajah murung.

Nobel memperhatikan ke arah wajah Cornelia yang terlihat tidak senang lalu bertanya pada gadis itu.

"Ada apa denganmu Cornelia ?" tanya Nobel dengan hati-hati.

"Kau pasti tahu alasannya, Nobel...", sahut Cornelia.

Cornelia membuang muka ke arah lain sembari memasang wajah cemberut.

"Ada apa Cornelia ?" tanya Nobel. "Apa ada yang mengganggumu disekolah ?" sambungnya.

Cornelia lagi-lagi menggeleng pelan sedangkan perhatiannya teralihkan ke arah Nobel.

"Tidak ada yang akan berani padaku selama aku disekolah dengan kalung vampir ini", ucap Cornelia.

Cornelia mengangkat kalung yang melingkar dilehernya sembari menunjukkannya kepada Nobel.

"Kalung ini akan melindungiku dari segala gangguan makhluk manapun tak terkecuali manusia dan setan !" ucap Cornelia.

Nobel terbatuk pelan sembari mengerlingkan bola matanya, mengawasi jalan disekitar mereka saat ini.

"Lantas, apa yang menjadikanmu murung dan bersedih jika tidak ada yang berani padamu ?" tanya Nobel seraya berdehem ringan.

Cornelia menghentakkan salah satu kakinya lalu segera melipat kedua tangannya ke depan dada.

"Kau tahu bahwa aku sangat memikirkan tuanku Lakas, dan kenapa dia tidak keluar-keluar dari peti matinya sampai sekarang !?" ucap Cornelia bersungut-sungut marah.

"Ehem..., ehem..., hal itu tidak bisa kita bahas disini karena dinding selalu bertelinga, bukan", sahut Nobel.

Nobel berusaha mengalihkan perhatian Cornelia dari pikirannya terhadap Lakas yang berbaring membujur kaku didalam peti matinya.

Sejak Lakas meminum darah manusia yang berasal dari tubuh milik Cornelia maka Lakas terpaksa dikurung dalam peti matinya sampai batas waktu yang telah ditentukan nanti.

Seperti itulah ketentuan yang telah ditetapkan oleh klan vampir selama berabad-abad lamanya.

Tanpa adanya pernikahan maka salah satu vampir yang telah bercampur dengan meminum darah manusia akan terisolasikan dari kehidupan manusia.

Hal itu dilakukan agar vampir tersebut tidak kecanduan meminum darah manusia itu.

Nobel mengulurkan tangannya ke arah Cornelia.

"Kita pulang ke rumah sekarang, dan beristirahatlah sampai makan malam aku siapkan, Cornelia", ucap Nobel.

"Tapi aku ingin bertemu tuanku Lakas...", sahut Cornelia.

"Suatu hari nanti kalian akan bertemu lagi, Cornelia", ucap Nobel.

"Benarkah itu ?" tanya Cornelia sembari menggandeng tangan milik Nobel.

"Ya, benar...", sahut Nobel sambil mengangguk pelan.

Nobel menggandeng tangan gadis kecil itu lalu mengajaknya berjalan bersamanya dibawah naungan payung berwarna hitam yang dibawa oleh Nobel.

Cornelia hanya menuruti perintah Nobel sembari berjalan disampingnya.

"Kapan tuanku akan bangun?" tanya Cornelia dengan pandangan tertunduk.

"Sampai tiba waktunya kau akan tahu nanti karena aku tidak dapat memastikannya kapan dia akan bangun dari peti matinya", sahut Nobel.

"Apa lama ?" tanya Cornelia yang berjalan sembari memperhatikan ujung sepatunya.

"Mungkin...", jawab Nobel.

"Aku sudah merindukannya", ucap Cornelia.

"Benarkah itu ?" tanya Nobel.

"Ya, benar, sudah lama tuanku tidak bermain denganku", sahut Cornelia dengan wajah sedih.

"Pasti, dia pasti akan bangun secepatnya, bersabarlah", jawab Nobel.

"Apa aku boleh menjenguknya dikamarnya ?" tanya Cornelia dengan raut wajah muram.

"Belum saatnya, kau bertemu dengannya meski itu menjenguknya dikamar", sahut Nobel.

Genggaman tangan Nobel sangat erat ditangan Cornelia seolah-olah dia hendak menyingkirkan rasa cemasnya terhadap Lakas.

Nobel sangat takut jika Lakas terbangun nanti, dia tidak mengenali Cornelia setelah dia meminum darah milik gadis kecil itu.

Kekhawatiran Nobel terhadap Lakas adalah kalau Lakas tidak dapat mengendalikan dirinya dan akan menghisap habis darah milik Cornelia sedangkan saat ini, Cornelia masih berumur sepuluh tahun, dia terlalu kecil, hal itulah yang ditakutkan pada diri Cornelia jika gadis kecil itu tidak dapat menahan siksaan hebat pada tubuhnya seandainya saja, Lakas meminum darahnya.

Nobel tidak berbicara lagi meski Cornelia terus bertanya padanya.

Mereka berdua berjalan dibawah naungan payung besar berwarna hitam disore hari.

Udara sore yang sejuk mengalir lembut disekitar jalan menuju rumah milik Lakas.

Namun, perasaan Nobel kian tak menentu, hatinya masih tidak terasa tenang dengan kejadian itu, saat Lakas meminum darah segar milik Cornelia secara tidak sengaja.

Nobel berjalan sambil menggandeng tangan mungil milik Cornelia sedangkan pandangannya lurus terarah kedepan saat dia melangkah pulang.

Desir angin yang bertiup sore itu semakin menambah dingin suasana disekitar mereka.

Daun-daun dari batang pohon lalu jatuh berguguran disekeliling Nobel dan Cornelia ketika mereka berdua berjalan pergi.

Dalam hati Nobel, dia berucap pelan pada dirinya sendiri.

"Aku tidak mencium bau surga sekarang ini...", gumam hati Nobel dengan tatapan mata mengering sendu.

Cornelia masih berjalan disampingnya sambil memasang wajah murung. Dan Nobel segera sadar jika hati Cornelia dan Lakas mulai terpaut kuat sebab mulai timbul kerinduan didalam hati gadis berusia sepuluh tahun itu jika dia mengingat Lakas.

Episodes
1 Bab 1 Lakas
2 Bab 2 Cornelia
3 Bab 3 Tersentuh
4 Bab 4 Hilangnya Lakas
5 Bab 5 Kaisar Vampir
6 Bab 6 Darah Milik Cornelia
7 Bab 7 Kerinduan Dihati Gadis Kecil
8 Bab 8 Kesan Pertama Dari Nobel
9 Bab 9 Bukan Hal Penting Tapi Menyesakkan
10 Bab 10 Kerinduan Yang Tersimpan
11 Bab 11 Siksaan Berat
12 Bab 12 Gadis Itu Tumbuh Remaja
13 Bab 13 Hadiah Ulang Tahun
14 Bab 14 Pertemuan Itu
15 Bab 15 Miliki Aku Malam Ini
16 Bab 16 Ucapan Di Pagi Hari
17 Bab 17 Kau Sudah Mengerti
18 Bab 18 Aku Mencintainya
19 Bab 19 Munculnya Pangeran Yosua
20 Bab 20 Arti Kejujuran Vampir
21 Bab 21 Festival Bulan Purnama
22 Bab 22 Tragedi Terjadi Di Festival
23 Bab 23 Menghapus Ingatan
24 Bab 24 Kejadian Ditaman Sekolah
25 Bab 25 Kabar Untuk Kaisar Vampir
26 Bab 26 Yosua Yang Marah
27 Bab 27 Serum Anti Vampir
28 Bab 28 Bangkit Dari Kubur
29 Bab 29 Berita Tersebarkan
30 Bab 30 Mengintai
31 Bab 31 Target Selanjutnya
32 Bab 32 Berhasilnya Misi
33 Bab 33 Bahaya Datang
34 Bab 34 Jejak Tertinggal
35 Bab 35 Insting Lakas Bekerja
36 Bab 36 Datangnya Kelima Utusan
37 Bab 37 Bepergian Melalui Peti Mati
38 Bab 38 Tertangkap
39 Bab 39 Waktu Yang Terasa Singkat
40 Bab 40 Aroma Sangit
41 Bab 41 Sebuah Pilihan
42 Bab 42 Hukuman Bagi Sang Pangeran
43 Bab 43 Ke Istana Kaisar Vampir
44 Bab 44 Apapun Yang Terjadi
45 Bab 45 Trisula Pelindung
46 Bab 46 Apa Yang Harus Kulakukan
Episodes

Updated 46 Episodes

1
Bab 1 Lakas
2
Bab 2 Cornelia
3
Bab 3 Tersentuh
4
Bab 4 Hilangnya Lakas
5
Bab 5 Kaisar Vampir
6
Bab 6 Darah Milik Cornelia
7
Bab 7 Kerinduan Dihati Gadis Kecil
8
Bab 8 Kesan Pertama Dari Nobel
9
Bab 9 Bukan Hal Penting Tapi Menyesakkan
10
Bab 10 Kerinduan Yang Tersimpan
11
Bab 11 Siksaan Berat
12
Bab 12 Gadis Itu Tumbuh Remaja
13
Bab 13 Hadiah Ulang Tahun
14
Bab 14 Pertemuan Itu
15
Bab 15 Miliki Aku Malam Ini
16
Bab 16 Ucapan Di Pagi Hari
17
Bab 17 Kau Sudah Mengerti
18
Bab 18 Aku Mencintainya
19
Bab 19 Munculnya Pangeran Yosua
20
Bab 20 Arti Kejujuran Vampir
21
Bab 21 Festival Bulan Purnama
22
Bab 22 Tragedi Terjadi Di Festival
23
Bab 23 Menghapus Ingatan
24
Bab 24 Kejadian Ditaman Sekolah
25
Bab 25 Kabar Untuk Kaisar Vampir
26
Bab 26 Yosua Yang Marah
27
Bab 27 Serum Anti Vampir
28
Bab 28 Bangkit Dari Kubur
29
Bab 29 Berita Tersebarkan
30
Bab 30 Mengintai
31
Bab 31 Target Selanjutnya
32
Bab 32 Berhasilnya Misi
33
Bab 33 Bahaya Datang
34
Bab 34 Jejak Tertinggal
35
Bab 35 Insting Lakas Bekerja
36
Bab 36 Datangnya Kelima Utusan
37
Bab 37 Bepergian Melalui Peti Mati
38
Bab 38 Tertangkap
39
Bab 39 Waktu Yang Terasa Singkat
40
Bab 40 Aroma Sangit
41
Bab 41 Sebuah Pilihan
42
Bab 42 Hukuman Bagi Sang Pangeran
43
Bab 43 Ke Istana Kaisar Vampir
44
Bab 44 Apapun Yang Terjadi
45
Bab 45 Trisula Pelindung
46
Bab 46 Apa Yang Harus Kulakukan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!