Bab 17 Kau Sudah Mengerti

"Sekolah !?" tanya Lakas yang berbaring disisi Cornelia.

Cornelia segera menyahut ucapan Lakas.

"Untuk apa kau sekolah ?" tanya Lakas.

Lakas menopang tubuhnya dengan tangannya sembari menatap ke arah Cornelia serius.

"Bukankah itu hal yang biasa dilakukan oleh semua manusia diusia remaja sepertiku ?" sahut Cornelia.

Giliran Cornelia membalas tatapan Lakas dengan ekspresi sangat serius.

"Sekolah itu penting, untukku, masa depanku dan kesuksesanku, tentunya", sahut Cornelia sembari menaikkan alisnya.

"Apa penting bagi pasangan vampir ?" ucap Lakas.

"Sebagai pasanganmu, tentunya aku harus berotak encer agar terlihat sepadan denganmu", lanjut Cornelia.

"Kurasa itu semua tidaklah perlu, selama kau masih berada bersamaku, semua itu tidak penting, kekasih vampir yang dibutuhkan hanyalah dia sehat", ucap Lakas.

"Bagaimanapun aku harus ke sekolah, aku manusia seharusnya aku hidup layaknya mereka", kata Cornelia.

Cornia segera beringsut turun dari atas tempat tidur.

Tiba-tiba Lakas menarik tubuh Cornelia kembali mendekat ke arahnya.

"Kita hanya perlu beradaptasi seperti mereka, bukan berarti kita harus hidup layaknya mereka", kata Lakas.

Cornelia terdiam sedangkan tatapannya terarah ke arah bawah.

"Semua itu tidak kita butuhkan lagi karena yang kita perlukan adalah tetap selalu bersama-sama, kita pasangan kekasih dan kau calon pengantin perempuan untukku", tegas Lakas.

Lakas membelai lembut lengan Cornelia sembari mengecup lembut bahu perempuan itu.

"Masa depan milik kita sekarang adalah pernikahan, meski aku tahu ini terlalu dini untukmu, Cornelia", ucap Lakas.

Lakas menggenggam kuat-kuat bagian dada milik Cornelia lalu menyesap ringan pangkal leher Cornelia.

"Aku selalu menantikanmu membangkitkan gairah dalam diriku, dan aku ingin kamu menggodaku dengan rayuan manjamu, Cornelia", bisik lembut Lakas ditelinga Cornelia.

Cornelia mendesah lirih saat Lakas mempermainkan tubuhnya dengan sentuhan-sentuhan liarnya.

"Aku menginginkanmu, Cornelia...", ucap Lakas dengan sorot mata tajam.

Cornelia tak mampu menghindar dari godaan Lakas yang selalu berhasil menggoda dirinya. Bahkan dia mampu membuat seluruh isi pikiran Cornelia teracak-acak tak menentu.

Jeritan-jeritan kecil terdengar kembali dari Cornelia, tatapannya sendu saat Lakas menguasai tubuhnya.

Tiba-tiba Lakas menghentikan semua aktivitasnya pada tubuh Cornelia.

"Cepatlah mandi sebelum terlambat ke sekolah, Cornelia !" ucap Lakas.

Cornelia segera beranjak lalu berlari cepat ke arah kamar mandi yang terletak didalam kamar tidurnya.

Terlihat Lakas memperhatikan jam yang bergerak di dinding ruangan kamar ini.

"Kemana Nobel ? Sedari tadi aku tidak mencium bau tubuhnya !?" ucap Lakas.

Lakas segera berpindah tempat ke dalam kamar mandi, menyusul Cornelia yang sedang mandi disana.

Brak... !

Lakas masuk sembari tersenyum saat tubuhnya telah berpindah tempat.

"Lakas !" pekik Cornelia terpana saat melihat kehadiran Lakas dikamar mandi bersamanya.

"Aku rasa tubuhku perlu juga dibersihkan meski jujur aku katakan bahwa rasanya kebiasaan ini terlalu menyiksaku sebagai vampir", ucap Lakas.

Lakas bergerak maju lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh milik Cornelia.

Mereka berdua bersama-sama diguyur oleh air dari arah kran pancuran kamar mandi yang ada disana.

Senyum Lakas mengembang menawan.

Sorot matanya yang tajam menampilkan pesona Lakas yang seksi.

Terkadang membuat Cornelia tak berkutik jika berada dekat dengan Lakas.

Seolah-olah seluruh perhatian Cornelia tersedot kuat sepenuhnya kepada Lakas, kekasihnya sekarang ini.

Air dingin dari arah pancuran kamar mandi membuat tubuh mereka berdua sama-sama kedinginan, sehingga Cornelia sempat menggigil pelan, meski rasa dingin sangat akrab untuk Lakas, sang vampir, tetap rasa air yang menyentuh kulit tubuhnya dapat dia rasakan sangat dingin.

Lakas menarik pinggang Cornelia agar merapat kepadanya.

Dipandanginya wajah cantik milik Cornelia dengan sorot mata teduh.

"Kau sangat seksi, Cornelia...", ucap Lakas dengan suara parau.

Cornelia hanya terdiam ketika mendengar ucapan Lakas sembari menatap ke arah Lakas yang terus memperhatikan dirinya, Cornelia lalu bereaksi cepat.

"Dan kau sungguh menawan hatiku, Lakas", sahut Cornelia dengan mengerjapkan kedua bola matanya.

"Benarkah ?" ucap Lakas terdengar senang saat Cornelia memuji dirinya.

"Ya, kau adalah pangeran dalam jiwaku yang tak tergantikan dan aku sangat menyukainya jika kau bisa terus bersamaku, Lakas", sahut Cornelia.

Cornelia mengusap-usap lembut pipi Lakas.

Tak henti-hentinya deburan dalam hatinya terus berdetak keras hingga Cornelia merasakan tubuhnya menggigil kuat karena kekaguman ini.

Cornelia terus saja memperhatikan Lakas dan keduanya saling berpandang-pandangan mesra.

Satu jam kemudian...

Cornelia telah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

Disebelahnya, Lakas sedang berdiri disampingnya.

"Kita berangkat sekarang, kurasa masih banyak waktu untuk sampai ke sekolah dan tidak terlambat", ucap Cornelia.

"Ngomong-ngomong kemana Nobel ? Apa dia masih didalam peti matinya ?" tanya Lakas sembari mengedarkan pandangannya.

"Apa sebaiknya kita menengoknya di kamarnya ?" tanya Cornelia.

"Sebaiknya kita melihatnya sebentar lalu berangkat ke sekolah", sahut Lakas.

Lakas berjalan mendahului Cornelia menuju ke arah kamar Nobel, mereka memang tinggal bertiga satu rumah karena Nobel sebagai asisten pribadi Lakas diharuskan terus mendampingi Lakas.

Cornelia mengikuti langkah Lakas dari arah belakang, agak berlarian kecil untuk mengiringi langkah sang vampir.

Tap... Tap... Tap..., terdengar suara langkah kaki mereka berdua menggema keras didalam rumah berukuran besar itu.

Lakas memang sengaja memilih rumah megah daripada tinggal diapartemen karena dia dapat meletakkan peti mati miliknya diruangan luas jika tinggal disebuah rumah besar.

"Apa dia masih tertidur ?" gumam Lakas sambil berjalan.

Letak kamar Nobel berada di lantai bawah sedangkan kamar tidur Cornelia dan milik Lakas berada di lantai atas.

Namun sekarang, Lakas tidak membutuhkan kamar pribadi lagi untuknya sebab dia tinggal satu ruangan kamar tidur bersama Cornelia.

Krieeet... !

Lakas mendorong pintu kamar tidur Nobel.

Ruangan tampak gelap tanpa adanya cahaya sedikitpun didalam sana.

Lakas berjalan dengan langkah hati-hati ketika memasuki ruangan tidur milik Nobel, dia tidak ingin mengusik ketenangan Nobel didalam peti matinya.

Tampak Lakas menghampiri sebuah peti mati yang posisinya berdiri tegak lalu berdiri diam tepat didepannya.

"Nobel..., apa kau masih tidur ?" sapa Lakas.

Cornelia tidak berani masuk menyusul Lakas ke dalam kamar tidur milik Nobel, dia lebih memilih menunggu diluar kamar daripada mengikuti Lakas.

Tidak terdengar suara sahutan dari dalam peti mati milik Nobel.

Lakas bergeming lalu mengetuk pelan peti mati didepannya dengan jeda irama tertentu.

"Nobel...", panggil Lakas.

Masih tidak ada suara sahutan dari dalam peti mati milik Nobel.

Lakas terdiam sejenak lalu memutar badannya dari hadapan peti mati milik Nobel dan bermaksud pergi.

Tib-tiba pintu mati terbuka pelan.

Krieeet... !

Lakas segera membalikkan badannya, menghadap kembali ke arah peti mati milik Nobel yang ada dibelakangnya.

Tampak sosok Nobel yang terpejam berada diam didalam peti mati dengan kedua tangan melipat didepan dada.

"Nobel...", panggil Lakas.

Kedua mata Nobel langsung terbuka lebar ketika mendengar suara panggilan dari Lakas.

Ekspresi wajah Nobel dingin seraya melirik tajam ke arah Lakas lalu menyeringai lebar, memperlihatkan gigi-gigi taringnya.

"Grrrm... Selamat pagi tuanku Lakas...", sapa Nobel dari dalam peti matinya tanpa bergerak sedikitpun.

Nobel menatap dingin ke arah Lakas lalu melanjutkan ucapannya.

"Ada apa mencariku dikamarku ini ?" tanya Nobel tanpa keluar dari dalam peti matinya.

"Aku mencarimu hendak memberitahukan padamu, aku dan Cornelia akan berangkat ke sekolah, maksudku kalau aku akan mengantarkan Cornelia ke sekolahnya", sahut Lakas.

"Oh..., baiklah...", ucap Nobel.

"Baiklah !?" kata Lakas tertegun.

"Ya !?" sahut Nobel.

"Apa kau tidak akan keluar dari dalam peti matimu ? Bukankah kau vampir darah murni, yang bisa bangun di pagi hari !?" kata Lakas.

"Ya..., begitulah...", sahut Nobel dengan santainya.

"Apa kau tidak akan menjaga rumah selama aku pergi dan tetap didalam peti matimu sampai aku pulang ?" cerca Lakas.

"Ya, aku akan menjaga rumah selama kau pergi tapi sekarang aku akan melanjutkan tidurku sekitar satu jam lagi", sahut Nobel.

Nobel menjawab ucapan Lakas dengan santainya dan tetap berada didalam peti matinya.

"Baiklah, kuharap kau tidak lupa dengan tugasmu", lanjut Lakas.

"Ya, aku mengerti, selamat jalan, semoga harimu menyenangkan", ucap Nobel.

Krieeet... Blam... !

Pintu peti mati milik Nobel tertutup rapat kembali tanpa memberi kesempatan pada Lakas untuk berbicara lagi dengan Nobel. Sedangkan Lakas hanya berdiri tertegun diam ketika melihat peti mati itu tertutup lagi semula.

Episodes
1 Bab 1 Lakas
2 Bab 2 Cornelia
3 Bab 3 Tersentuh
4 Bab 4 Hilangnya Lakas
5 Bab 5 Kaisar Vampir
6 Bab 6 Darah Milik Cornelia
7 Bab 7 Kerinduan Dihati Gadis Kecil
8 Bab 8 Kesan Pertama Dari Nobel
9 Bab 9 Bukan Hal Penting Tapi Menyesakkan
10 Bab 10 Kerinduan Yang Tersimpan
11 Bab 11 Siksaan Berat
12 Bab 12 Gadis Itu Tumbuh Remaja
13 Bab 13 Hadiah Ulang Tahun
14 Bab 14 Pertemuan Itu
15 Bab 15 Miliki Aku Malam Ini
16 Bab 16 Ucapan Di Pagi Hari
17 Bab 17 Kau Sudah Mengerti
18 Bab 18 Aku Mencintainya
19 Bab 19 Munculnya Pangeran Yosua
20 Bab 20 Arti Kejujuran Vampir
21 Bab 21 Festival Bulan Purnama
22 Bab 22 Tragedi Terjadi Di Festival
23 Bab 23 Menghapus Ingatan
24 Bab 24 Kejadian Ditaman Sekolah
25 Bab 25 Kabar Untuk Kaisar Vampir
26 Bab 26 Yosua Yang Marah
27 Bab 27 Serum Anti Vampir
28 Bab 28 Bangkit Dari Kubur
29 Bab 29 Berita Tersebarkan
30 Bab 30 Mengintai
31 Bab 31 Target Selanjutnya
32 Bab 32 Berhasilnya Misi
33 Bab 33 Bahaya Datang
34 Bab 34 Jejak Tertinggal
35 Bab 35 Insting Lakas Bekerja
36 Bab 36 Datangnya Kelima Utusan
37 Bab 37 Bepergian Melalui Peti Mati
38 Bab 38 Tertangkap
39 Bab 39 Waktu Yang Terasa Singkat
40 Bab 40 Aroma Sangit
41 Bab 41 Sebuah Pilihan
42 Bab 42 Hukuman Bagi Sang Pangeran
43 Bab 43 Ke Istana Kaisar Vampir
44 Bab 44 Apapun Yang Terjadi
45 Bab 45 Trisula Pelindung
46 Bab 46 Apa Yang Harus Kulakukan
Episodes

Updated 46 Episodes

1
Bab 1 Lakas
2
Bab 2 Cornelia
3
Bab 3 Tersentuh
4
Bab 4 Hilangnya Lakas
5
Bab 5 Kaisar Vampir
6
Bab 6 Darah Milik Cornelia
7
Bab 7 Kerinduan Dihati Gadis Kecil
8
Bab 8 Kesan Pertama Dari Nobel
9
Bab 9 Bukan Hal Penting Tapi Menyesakkan
10
Bab 10 Kerinduan Yang Tersimpan
11
Bab 11 Siksaan Berat
12
Bab 12 Gadis Itu Tumbuh Remaja
13
Bab 13 Hadiah Ulang Tahun
14
Bab 14 Pertemuan Itu
15
Bab 15 Miliki Aku Malam Ini
16
Bab 16 Ucapan Di Pagi Hari
17
Bab 17 Kau Sudah Mengerti
18
Bab 18 Aku Mencintainya
19
Bab 19 Munculnya Pangeran Yosua
20
Bab 20 Arti Kejujuran Vampir
21
Bab 21 Festival Bulan Purnama
22
Bab 22 Tragedi Terjadi Di Festival
23
Bab 23 Menghapus Ingatan
24
Bab 24 Kejadian Ditaman Sekolah
25
Bab 25 Kabar Untuk Kaisar Vampir
26
Bab 26 Yosua Yang Marah
27
Bab 27 Serum Anti Vampir
28
Bab 28 Bangkit Dari Kubur
29
Bab 29 Berita Tersebarkan
30
Bab 30 Mengintai
31
Bab 31 Target Selanjutnya
32
Bab 32 Berhasilnya Misi
33
Bab 33 Bahaya Datang
34
Bab 34 Jejak Tertinggal
35
Bab 35 Insting Lakas Bekerja
36
Bab 36 Datangnya Kelima Utusan
37
Bab 37 Bepergian Melalui Peti Mati
38
Bab 38 Tertangkap
39
Bab 39 Waktu Yang Terasa Singkat
40
Bab 40 Aroma Sangit
41
Bab 41 Sebuah Pilihan
42
Bab 42 Hukuman Bagi Sang Pangeran
43
Bab 43 Ke Istana Kaisar Vampir
44
Bab 44 Apapun Yang Terjadi
45
Bab 45 Trisula Pelindung
46
Bab 46 Apa Yang Harus Kulakukan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!