Kota itu kini hanya bayangan suram dari kejayaannya. Bangunan-bangunan megah yang dahulu berdiri kokoh telah runtuh menjadi tumpukan puing-puing, berserakan di sepanjang jalan yang retak dan penuh lubang.
Asap hitam tebal membubung ke langit kelabu, membawa aroma menyengat dari kayu yang terbakar, batu yang hangus, dan sihir yang menyisakan energi yang berdesir di udara.
Sisa-sisa tembok kota berdiri dengan goyah, seperti saksi bisu tragedi yang melanda. Pecahan kaca dan logam berserakan, berkilau redup di bawah cahaya suram matahari yang hampir tertutup oleh awan abu.
Di tengah reruntuhan, beberapa patung dan monumen yang dulunya megah kini hancur, wajahnya retak atau hilang, seolah menangisi kehancuran di sekitarnya.
Jalanan dipenuhi kerangka, mayat yang hangus dan tak berbentuk, sementara retakan besar di tanah menganga seperti luka yang baru saja terbuka. Di beberapa sudut, kobaran api kecil masih menyala, melahap sisa-sisa kayu dan barang-barang yang tak sempat diselamatkan.
Gemuruh dari bangunan yang runtuh terdengar sesekali, memecah keheningan yang memekakan. Dari jauh, suara desis energi magis yang tersisa masih terdengar, seperti peringatan akan kekuatan yang telah menghancurkan kota ini.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan, hanya bayangan kelam dari kehancuran total. Kota ini, sekali tempat hidup dan kebanggaan, kini hanyalah kuburan bagi masa lalu.
Di tengah kabut tebal Baikal kembali membuka matanya yang hanya terbuka sedikit. Melihat sosok tinggi besar mendekatinya.
Baikal secara lamat lamat teringat perawakannya tinggi dan besar seperti karakter game yang dia mainkan saat masih sekolah dulu. Dalam game 5 vs 5 di ponselnya bernama Mobail Legendary, seperti tokoh hero bernama Tiager.
Sosok Tiager menghampiri Baikal. Namun sayang Baikal tak bisa lagi memperhatikan dengan jelas. Hanya sosok besar dengan pedang berat di punggungnya.
Baikal hanya merasakan dirinya diraih kemudian digendong pria tersebut. Baikal juga sempat mendengar Pria Tiager menggumamkan beberapa kata sebelum kembali tertidur lelap.
“Akhirnya aku menemukannu, semoga situasinya terkendali.”
Pria Tiager berjalan keluar dari kota. Seseorang menghampirinya.
“Yang Mulia, Benar benar sihir Tier 9 dirapalkan di sini. Bahkan sisa sisa pelepasannya masih membuat jubah anda compang camping.” Seorang paruh baya menyapa.
“Ramos, Rawat anakku dengan baik.” Aegonas mengabaikan ucapan Ramos. Dia menyerahkan Baikal kepadanya.
Pria Paruh baya dengan kepala botak dan jubbah longgar. Ramos Boa, merupakan salah satu tangan kanan Kaisar Starblaizer Aegonas Ramoses.
Ramos Boa berbagi ketenaran bersama Aegonas Ramoses di setiap lini pertempuran dan petualangan. Kehebatannya dalam sihir elemental, prestasi dan kemampuannya dicatat dan diakui oleh seluruh benua.
Ramos Boa juga dikatakan sebagai salah satu pilar dalam Kekaisaran Starblaizer saat ini.
“Putramu bertahan hidup dari serangan mematikan dari dua pelepasan mantra Tier 9. Untuk dia, peluang hidupnya seharusnya nol.” Ramos Boa memberikan pernyataan fakta.
“Seseorang melindunginya.” Aegonas Ramoses membalas dengan nada datar.
Ramos Boa menghela nafas dalam dalam memandang remaja di pangkuannya. Seperti menyesalkan sesuatu hingga sangat dalam.
“Berambut pendek, lurus, lembut hitam legam seperti ibunya, Lady Aurora. Tidak seperti ayahnya yang berambut perak.”
“Bermata merah sepertimu Yang Mulia, namun putramu medapatkan warna merah hati. Merah yang lebih gelap dari milikmu.” Ramos Boa mengidentifikasi Baikal.
Naga berwarna merah pekat menghampiri dengan cepat, disusul dengan loncatan Aegonas dan Ramos.
Naga dengan cepat mengepakkan sayap lebarnya, mengusir puing puing dengan melepaskan tornado mini saat beranjak melesat ke dalam lautan awan di langit.
Mereka terbang sangat cepat ke suatu arah.
Tepatnya arah di mana Kekaisaran Starglaiser berada.
Baikal sedikit tersadar di tengah lautan kantuknya. Dia tak lagi melihat sosok Tigear sebelumya. Kini hadir di samping ranjang empuknya sosok botak berjubah longgar.
Baikal mendengarkan dengan seksama pria botak mengucapkan beberapa kata namun tak satu pun kata dapat ditangkapnya. Baikal tertidur kembali
Ramos Boa menghembuskan nafas berat.
“Rawat pangeran ketujuh dengan baik, sesuai prosedur yang kutuliskan.” Ramos Boa menyerahkan beberapa lembar kertas kepada pelayan. Dia segera meninggalkan ruangan.
Beberapa hari berlalu, minggu hingga bulan.
Baikal sesekali terbangun namun tak dapat menangkap informasi apapun, hanya kemudian terlelap kembali.
Bulan keenam.
Baikal membuka matanya.
Pic Aegonas Ramoses
Pic Ramos Boa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments