Legenda Urban: Panggilan Misterius
Bab 11 - Upaya Pembebasan
Franda mulai memasuki lingkungan tempat Erlina diculik.
Matanya menatap awas ke sekeliling, memastikan kalau tidak ada yang mencurigai dirinya.
Kan nggak lucu, tiba-tiba ada yang berteriak maling karena melihat dirinya.
Kaki Franda melangkah semakin jauh dari depan lingkungan.
Ia menyusuri jalan berbatu dan pasir tersebut dengan langkah pelan.
Di depan gadis itu, berdiri sebuah rumah tua yang terbuat dari kayu.
Rumah tersebut tampak kokoh berdiri di atas tanah, menumpu lantai duanya yang terlihat rapuh.
Franda menoleh ke arah pohon yang ada di seberang rumah tua itu.
Pohon tua besar—yang kemungkinan pohon inilah tempat Zahra bersembunyi.
Semak-semak di sekitar pohon bergerak.
Tak lama kemudian, sesosok gadis cantik bertubuh mungil pun muncul.
Mata gadis itu terlihat kaget, tak percaya pada apa yang tengah ia lihat.
Gadis itu keluar dari semak-semak dan langsung memeluk Franda.
Zahra
Lo oke? Lo kan lagi sakit! Kenapa datang?
Zahra
Lo tau dari mana alamat ini?
Franda
Kan lo share di grup
Zahra tersenyum, menampakkan baris giginya yang putih bersih.
Zahra
Kalau lo masih sakit, nggak usah datang sih
Zahra
Nanti lo kenapa-napa lagi
Franda
Gue aman-aman aja kok, santai
Franda melihat ke arah semak-semak, tempat Zahra muncul tadi.
Franda
Lo ngapain di semak-semak?
Zahra menunjuk ke pintu rumah tersebut.
Zahra
Rio, Rifat, Dimas, Rifat, sama Dwinata
Zahra
Saran gue sih jangan
Zahra
Mending lo di sini, nemenin gue
Zahra
Kasihan gue sendirian
Franda
Ide gue sih kita masuk, Zah
Franda
Kita bantuin mereka
Zahra
Gimana kalau kita cuma jadi beban?
Zahra
Asli, ide lo buruk banget sumpah
Franda
Tapi ini yang terbaik
Franda menggenggam pergelangan tangan Zahra dan menariknya.
Kedua gadis itu melewati pintu putih kusam dengan pelan, masih waspada.
Sepi, kosong. Itulah yang Franda dan Zahra lihat setelah mereka sampai di dalam.
Zahra menarik tangannya, melepaskan diri dari cengkraman Franda.
Dia mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah.
Cengkraman Franda memang bukan main-main
Zahra
Tenaga lo kuat banget kayak laki
Zahra
Sampai tangan gue merah gini
Zahra
Ayo masuk lebih dalam
Franda
Eh? Tadi katanya ga mau masuk. Gimana sih?
Zahra
Biarin, lo udah buat gue penasaran gini
Zahra
Ayo buruan naik, sebelum gue berubah pikiran
Mereka pun menaiki tangga. Bunyi reyot tangga mulai terdengar, membuat mereka jadi was-was.
Franda
Lo yakin mereka di lantai dua?
Franda menatap tangga yang sedang merek pijak dengan tatapan tak percaya.
Franda
Gue merasa gue bakalan jatuh ke bawah kalau melangkah lagi
Zahra
Gue lihat siluet dua orang di atas sini
Zahra
Coba tanya Rio kalau ga percaya
Franda
Tapi kalau iya, mereka di mana?
Franda
Kenapa lantai dua kayaknya sepi banget?
Zahra
Tapi serius mereka tadi naik ke sini
Zahra
Masa gue salah lihat sih?
Zahra
Rio juga bilang gitu
Kedua gadis itu pun tiba di lantai dua.
Seperti dugaan Franda, lantai dua memang seolah-olah kosong.
Hanya ada dua lemari berisi buku-buku bersarang laba-laba, serta sebuah meja dengan satu kain menutupi meja tersebut.
Anehnya, meja tersebut memiliki tonjolan seperti tubuh manusia.
Franda
Lo lihat meja itu ga?
Zahra melihat ke arah yang ditunjuk Franda.
Gadis itu mengernyitkan dahinya, merasa kalau apa yang Franda katakan adalah benar.
Benar-benar mengerikan, maksudnya.
Zahra
Kayak ... mayat ga sih?
Franda
Tebakan gue juga apa
Zahra
Tapi ... mayat siapa?
Kedua gadis itu saling berpandangan.
Zahra
Fran, kita ga tau loh itu apa
Zahra
Kita juga ga tau itu jebakan atau bukan
Zahra
Gimana kalau itu jebakan dari penculik itu?
Zahra
Kan tiga cowok itu hilang tanpa jejak
Zahra
Gimana kalau ternyata mereka itu kayak kita?
Zahra
Mereka kepo sama benda itu—mereka buka, eh kena perangkap
Franda
Perangkap seperti apa yang pakai mayat di atas meja?
Zahra
Perangkap langit-langit?
Zahra
Kalau kita narik kain, itu bakal memicu tali dan menurunkan kurungan dari langit-langit?
Franda melihat ke langit-langit. Kosong. Tak ada apa-apa.
Franda kembali melihat ke lantai mereka. Dibuat dari potongan papan kayu yang berbunyi tiap diinjak.
Franda
Gue jamin bukan perangkap
Zahra
Berapa persen jaminan lo?
Zahra
Gimana kalau itu beneran perangkap?
Franda
Ya ... apa boleh buat?
Franda
Yang terjadi, maka terjailah
Zahra
Seenggaknya gue udah mengingatkan
Kedua gadis itu mendekati sang mayat. Franda meraih kain, dan menyingkap bagian kepala.
Keduanya tertegun. Ini adalah sosok mayat perempuan.
Namun, untungnya bukan seseorang yang mereka kenali.
Franda
Tuh kan, gue bilang juga apa?
Franda
Bukan perangkap ini
Zahra
Iya deh sesuka hati lo aja
Zahra
Terus sekarang kita harus apa?
Franda
Apa mau nyari Rio dkk?
Zahra
Tawaran kedua emang menggoda banget si Fran
Zahra
Tapi ... kalau kita keluar—dan mereka terjebak
Zahra
Gue merasa bersalah sama kedua pacar orang itu
Zahra
Gue rasa kita harus mencari mereka deh
Zahra
Seperti yang lo bilang
Zahra
Yang terjadi, maka terjadilah
Helena
Lah? Belum balik juga?
Helena
Balik woi, nanti pagi sekolah
Virtha
Gue izinin mereka, santuy aja
Helena
Dosa lo woi bohongin orang
Virtha
Anak dunia malam ngomong dosa?
Virtha
Coba spill lo lagi di mana?
Helena
Wkwkw sstt rahasia pabrik
Anna
Ini yang di rumah itu gimana kabarnya?
Risma
Ga tau, kayak hilang aja
Risma
Rio gue chat juga ga dibales
Zahra
Mereka masih di dalam guys
Helena
Balik woi, udah pagi ini
Zahra
Kita kehilangan jejak mereka sih
Helena
Maksud amat hilang di rumah gubuk
Anna
Lo pada yakin ga mau manggil polisi aja?
Anna
Nanti gue telepon bapaknya Rifat
Zahra
Gue sama Franda nyari dulu
Zahra
Kalau kita belum chat sampai setengah empat
Zahra
Boleh deh telepon polisi
Helena
Franda ngapain gila?
Helena
Emang udah sehat dia?
Zahra
Tadi dia datang tiba-tiba
Virtha
Stay safe aja lah kalian
Virtha
Gue tunggu kabarnya sampai setengah empat ya
Virtha
Ga ada kabar gue paranin si Anna biar telepon bapaknya Rifaf
Anna
Susah ya punya pacar cantik
Zahra
Udah dulu guys. Ada yang datang
Helena
Maksud amat tiba-tiba hilang
Comments