Brian bangun dari tidurnya sambil memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia baru menyadari bahwa Aletta juga tidur di sampingnya. Ia melihat wajah cantik Aletta yang tidak menggunakan riasan. Ia teringat akan pertemuan pertamanya dengan Aletta.
*flashback
"Brian, mama sama papa mohon sama kamu untuk bertemu dengan nya. Dia gadis yang baik. Mama dan papa sudah sering bertemu dengan nya." Ucap pak Geonardo Warouw kepada putra semata wayangnya.
"Tapi pak ini sudah beda dengan zaman kalian yang selalu dijodohkan dulu. Lagian aku juga bisa mencari pasangan sendiri. Yang suka pada dia kan kalian bukan aku."
"Sayang jangan keras kepala, memangnya sampai kapan kamu mau sendiri. Kami juga pengen segera gendong cucu." ucap bu Leticia.
"Kalian kenapa sih mendesak aku buat cepat nikah. Aku kan masih mau merintis karier ku. Menghidupi kebutuhanku saja sudah sangat sulit, emang nya aku mau kasih makan apa buat istriku."
"Sayang hidup berkecukupan itu sudah sangat baik. Ngapain juga ngumpulin uang terus tanpa memikirkan masa depanmu."
"Uang juga masa masa depan ma."
"Kamu lihat papa menikahi mamamu sewaktu bapa masih nol, tapi setelah menikah hidup kita sangat berkecukupan. Terkadang istri bisa menjadi restu dalam kerja keras maupun usaha kita." Jelas pak Geonardo, berharap putranya setuju.
"Ya sudah aku akan pergi. Emangnya dimana aku harus bertemu dengannya?"
"Kamu hanya bertemu dengan nya dulu. Nanti kamu bisa menilai sendiri bagaimana dia. Alamatnya di Romance Resto"
"Kenapa harus di restoran seperti itu si pa? Kan kami hanya akan bertemu."
"Kami sudah sepakat. Nggak bisa diubah. Pokoknya kamu datang saja."
Brian memandang papan nama restorannya.
"Romance Resto, ini restorannya. Ngapain juga di restoran yang seperti ini, kami kan cuma mau kenalan." Brian mengatur langkah kakinya memasuki restoran tersebut.
"Misi mbak, meja atas nama Brian Warouw?"
"Oh mas Brian ya? Orangnya sudah menunggu, mari saya antarkan."
Brian mengikutinya langkah kaki pramusaji tersebut menuju meja yang paling pojok. Sepertinya di bagian pojokan lebih sepi daripada di tengah yang lumayan ramai walaupun tak sepenuhnya.
"Misi mbak, orangnya baru saja tiba. Saya permisi dulu."
Pramusaji tersebut meninggalkan dua orang pasangan yang masih begitu asing.
"Silakan duduk!" Brian bisa mendengar kesan elegan yang keluar dari mulut wanita tersebut. Ia akhirnya memberanikan diri menatap wajahnya. Ia terpesona pada kecantikan nya, dandanannya yang begitu natural namun pakaian yang ia kenakan sangat fashionable sehingga membuat penampilan nya menjadi mewah. Ia sempat tertegun sesaat.
"Salam kenal, nama saya Aletta Peterson. Panggil saja Aletta."
"Saya Brian Warouw. Senang berkenalan denganmu."
"Berarti saya panggil Brian ya. Apa kamu sudah tahu untuk apa kita bertemu di sini."
"Iya, umm kenapa kamu setuju mengikuti perjodohan?"
"Karena ayah saya memaksa,"
"Sama dong, saya juga dipaksa buat datang ke sini."
"Apakah kamu tidak suka dijodohkan?" Tanya Aletta.
"Bukannya tidak suka, hanya saja saya masih ingin berkarier. Tetapi para orang tua selalu saja cepat-cepat ingin menggendong cucu." Ucap Brian dengan wajahnya yang kesal.
Aletta tersenyum melihat ekspresi Brian.
"Ternyata kita sepemikiran ya. Bagaimana jika kali ini kita berdua gagal?"
"Berarti orang tuaku akan mencari wanita yang lain."
"Aku juga."
"Memangnya kamu nggak punya pacar biar dikenalkan pada ayahmu. Siapa tahu dia mau menikahkanmu dengan kekasihmu itu." Kata Brian
"Karier ku masih panjang, jadi nggak ada waktu buat pacaran."
"Kamu nggak punya pacar? Sama sekali?" Brian ternganga tidak percaya. Bagaimana bisa wanita secantik Aletta nggak punya pacar.
"Apakah kamu berbohong?"
"Aku nggak punya pacar dan bahkan belum pernah pacaran."
"Lalu kamu?" Tanya Aletta balik.
"Untuk sekarang belum punya, mungkin nanti."
Kesan pertama yang lumayan berakhir dengan baik.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya bu Leticia pada putranya.
"Lumayan," jawab Brian lalu berbaring di atas sofa.
"Hanya lumayan? Apa kamu nggak menyukainya?"
"Nggak tahu ma, baru juga sekali bertemu."
"Lalu gimana kelanjutannya?"
"Kami akan bertemu lagi."
"Semoga kami mendapatkan kabar baik."
Brian dan Aletta semakin dekat di setiap pertemuan mereka. Brian juga menjadi tahu terkadang istrinya itu punya sifat manja juga. Mereka memutuskan untuk menikah di saat sudah mengenal satu sama lain.
*Masa sekarang
"Aku tahu meskipun awalnya pernikahan kita hanya sebuah formalitas dan karena kesamaan kita yang ingin berkarier lebih dulu. Tapi sekarang aku paham cinta tidak selamanya menjadi patokan dalam kehidupan, tetapi komitmen kita untuk saling peduli dan menghargai justru lebih mendekatkan kita. Sama halnya mama dan papa, pernikahan mereka tetap bertahan sampai sekarang meskipun mereka juga di jodohkan. Aku harap kita berdua pun sama."
Aletta tersadar karena merasa sentuhan lembut pada rambutnya. Seperti di elus seseorang.
"Ayo bangun, kita tertidur dengan perut kosong."
"Jam berapa sekarang?"
"Sudah jam empat sore."
"Apa? Kita melewatkan makan siang."
"Sudahlah nggak apa-apa. Hanya sekali ini saja."
"Aku turun masak dulu."
"Eh tunggu sebentar." Brian memeluk erat istrinya dari belakang.
"Biarkan aku begini sebentar. Aku akan membantumu memasak." Aletta akhirnya mengizinkan mendengar suaminya merengek seperti seorang anak yang ingin di manja.
Mereka akhirnya memasak bersama. Setelah selesai Brian menginginkan untuk mandi dengan sang istri.
"Aku ingin mandi denganmu, bolehkah?"
"Asalkan kamu tidak macam-macam maka aku akan mengizinkan."
"Iya, aku janji." Mereka berdua mandi bersama.
Aletta hanya pasrah saat suaminya itu menggendongnya dari kamar mandi menuju ruang ganti. Padahal ia punya kaki dan bisa jalan sendiri.
"Gendong aku dengan erat, bagaimana kalau nanti handuk ku terlepas." Kata Aletta dengan geram saat sang suami tidak erat menggendongnya dan hanya fokus menghirup wangi tubuhnya.
"Siapa suruh kamu begitu wangi. Lagian aku sudah melihatnya ngapain mesti malu."
"Ngapain juga aku malu. Lagian kamu juga tahu istrimu ini kan punya kaki, dan bisa jalan sendiri."
"Di mana-mana seorang istri pasti senang kalau di manja sama suaminya."
"Tetapi aku istri yang berbeda mas Brian. Dan di mana-mana juga seorang istri harus waspada kalau suaminya tiba-tiba memanjakan nya. Artinya dia punya tujuan lain." Balas Aletta.
Mereka berdua tertawa mendengar ucapan masing-masing.
Setelah selesai berganti pakaian mereka turun ke bawah untuk makan bersama.
"Mas besok aku akan ke rumah ayah." Kata Aletta di saat mereka berdua sedang menyantap makanan masing-masing.
"Aku nggak bisa ikut, maaf ya sayang."
"Iya aku mengerti lagian aku bisa mengunjungi ayah pun kalau lagi cuti. Saat sudah masuk kerja akan menjadi sangat sulit untuk bertemu dengannya."
"Jam berapa kamu berangkat?"
"Mungkin sangat pagi, soalnya aku mau mampir dulu ke suatu tempat."
"Kalau begitu aku titip salam saja ya untuk ayah, jangan lupa sama permohonan maaf ku juga karena belum bisa berkunjung."
"Iya, nanti aku sampaikan. Lagian ayah sudah sangat mengerti."
Setelah selesai makan Aletta berniat untuk mencuci piring mereka berdua namun Brian melarangnya. "Biar aku yang melakukannya."
Brian menyuruh Aletta duduk dan memperhatikan nya saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments