Aletta bangun dari tidurnya. Ia tersadar bahwa keadaan di sekitarnya masih gelap gulita. Aletta mengambil HP yang ia taruh di atas meja dan memeriksa jam sambil menyalakan senter hp.
"Wah sudah jam 8 malam. Aku kelamaan tidur. Aduh belum buat sarapan untuk Brian lagi."
Aletta sempat melihat notifikasi panggilan tak terjawab dari Brian namun lupa untuk menelpon kembali.
Aletta duduk sebentar untuk mengumpulkan tenaganya kembali. Setelah merasa tenaganya pulih ia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makanan. Ia membuat menu yang berbeda dan lezat pasti nya demi suami tercinta. Selesai memasak ia membersihkan semua perlengkapan masak yang dipakainya. Ia menaiki tangga dan menuju ke kamarnya. "Sepertinya harus segera mandi nih..." Kata Aletta pada dirinya sendiri saat mencium aroma masam pada tubuhnya. Lima belas menit lamanya ia telah selesai membersihkan dirinya. Namun, dirinya masih belum mau beranjak dari shower. Ia ingin berlama-lama berada di sana, membiarkan air mengguyur tubuhnya. Setelah merasa puas bermain air, ia mengambil bathrobe di gantungan dan memakai nya. Dengan handuk kecil ia mengeringkan rambutnya yang baru habis keramas dengan cara di pijat. Aletta duduk di atas ranjang lalu mengambil handphone yang ditaruh nya di atas meja sebelum ia ke kamar mandi tadi. Ia terkejut saat melihat panggilan tak terjawab sebanyak tujuh kali dari Brian. Ia tadi berencana untuk menelpon kembali Brian setelah masak tapi ia malah melupakannya.
"Eh ada pesan juga darinya."
Aletta membuka pesan tersebut yang berisikan:
maaf sayang, hari ini aku nggak bisa pulang. Ada tugas tambahan dari bosku.
Setelah membaca itu, Aletta langsung menelpon kembali suaminya.
"Halo..." Sapa Brian dari seberang telepon.
"Iya, halo sayang. Kenapa kamu nggak pulang."
"Maaf ya sayang aku ada kerjaan tambahan kemungkinan besok pagi atau siang aku pulang."
"Tapi nggak biasanya kamu bekerja sampai seperti ini?"
"Sayang aku harus melakukan hal ini biar aku bisa naik jabatan."
"Bukankah kamu juga sudah di promosikan dari bulan kemarin. Tapi buktinya kamu nggak di naikan juga kan. Ngapain juga kamu harus sekeras ini."
"Aletta..." Aletta kaget mendengar suara bentakan Brian dari seberang telepon. Ia juga merasakan amarah yang keluar dari setiap perkataan suaminya itu.
"Aku tahu pangkat mu lebih tinggi dari aku. Tapi biarkan aku berjuang untuk kali ini. Aku hanya perlu kamu mendukung ku itu saja."
Sempat ada keheningan di antara mereka berdua.
"Maaf mas, aku mendukung mu kok." Kata Aletta pelan karena perasaannya masih campur aduk karena itu pertama kalinya ia di bentak sang suami.
"Maaf sayang... Maaf tanpa sadar aku membentak mu. Ini karena aku pusing sama pekerjaan ku. Aku minta maaf."
"Iya nggak apa-apa mas."
"Kamu nggak marah kan sayang."
"Iya nggak kok mas. Aku tau kamu pasti begitu karena kecapean juga. Ini juga salahku. Kalau gitu aku matikan ya, kamu lanjutkan saja pekerjaan mu."
Aletta melemparkan handphone nya di atas ranjang begitupun dirinya.
"Kenapa sih mas Brian membentak ku seperti itu. Setiap kali dia ada masalah sama pekerjaannya dia pasti selalu berada dalam pikiran nya sendiri. Bahkan pernah aku di cuekin. Padahal aku nggak tau apa-apa dengan pekerjaannya. Tapi baru kali ini marahnya itu sampai membentakku. Dia selalu berusaha keras untuk naik jabatan, tapi bosnya itu selalu saja plin plan. Padahal mas Brian sudah bekerja sangat keras. Kenapa sih mas Brian nggak resign dari perusahaan itu dan cari perusahaan lain. Jadinya sekarang aku kan yang kesal sendiri. Sudah masak capek-capek juga. Aku nggak mungkin bisa menghabiskan semua nya. Dan kalau pun di buang sayang juga karena aku yang memasaknya."
Aletta berpikir sejenak mencari solusi yang tepat agar ia tak perlu membuang masakannya. Jika ia menyimpan nya dalam kulkas ujung-ujungnya ia akan tetap membuangnya karena ia lebih menyukai masakan yang baru di masak dari pada makanan yang di simpan lalu di panaskan esok hari nya.
"Oh iya, aku undang Gion ke sini saja. Jadi makanannya nggak perlu di buang deh."
Aletta yang berada di depan pintu kamar Gion menekan bel pintu rumahnya.
"Eh Aletta? Ada apa?" Sapaan dari Gion saat melihat sosok Aletta yang sekarang sedang berada di depan pintu kamarnya.
"Maaf Gion mengganggu mu malam-malam begini."
"Iya, nggak apa-apa kok. Ada perlu sesuatu?"
"Nggak ada, aku hanya ingin mengundangmu untuk makan malam bersama. Sebenarnya aku sudah memasaknya untuk Brian tapi sayang, dia nggak bisa pulang hari ini dan baru pulang besok pagi atau siang katanya. Dan aku nggak bisa menghabiskan semua makanan itu sendiri. Aku juga nggak ingin membuangnya karena sudah capek-capek ku masak sendiri masa harus di buang." Jelas Aletta panjang lebar.
"Aku baru saja akan memesan makanan lewat gojek. Emang sebuah kebetulan tak terduga ya.
Aku terima tawaran mu."
"Tunggu sebentar ya," Gion masuk sebentar lalu keluar lagi dan mengunci pintu rumah nya.
"Ayo.."
Aletta berjalan masuk ke rumahnya di susul Gion.
"Silakan duduk!" Aletta mempersilahkan Gion saat mereka tiba di meja makan.
"Wah, keliatan lezat nih."
"Makan saja, nggak perlu sungkan."
Mereka menyantap makanan mereka. Gion bahkan menambah tiga kali karena masakan Aletta sungguh sangat lezat.
"Pantasan suamimu kelihatan sehat..." Puji Gion.
"Aku anggap sebagai pujian."
Gion ingin mengangkat piring kotor namun Aletta mencegahnya.
"Eh, kamu mau ngapain."
"Aku akan mencucinya."
"Nggak perlu."
"Tapi aku ingin melakukan sesuatu. Anggap saja sebagai bentuk terima kasih."
"Aku kan yang ngundang kamu buat makan di sini. Kamu adalah seorang tamu. Dan tamu itu adalah raja. Jadi nggak usah melakukan hal seperti itu. Aku juga bisa sendiri. Lagian piring kotornya hanya punya kita berdua saja."
"Baiklah kalau begitu, makasih untuk makanan lezatnya. Aku pulang dulu."
"Sudah mau pulang?"
"Iya, nggak baik juga aku terlalu lama di sini. Malah nanti menimbulkan fitnah."
Aletta hanya mengangguk. Gion keluar setelah pamit pada Aletta. Aletta lanjut mencuci piring yang mereka gunakan. Setelah itu ia berjalan menaiki tangga menuju kamar. Ia memeluk bantal guling dengan erat.
"Biasanya tubuh mas Brian yang aku peluk tapi kali ini berbeda."
Brian duduk menatap komputer nya dengan pandangan lesu. Pikiran nya sekarang hanya pada Aletta.
"Kata-kata ku tadi sudah sangat keterlaluan. Apa Aletta marah ya. Aku tahu dia pasti kaget saat aku berteriak padanya. Aduh bodoh.. bodoh.. bodoh. Karena kesal pada rekan kerjaku aku malah melampiaskan nya pada Aletta. Tapi sebenarnya ini salah dia juga. Dia nggak pernah mengerti sama keadaan suaminya ini. Padahal aku selalu peduli pada keadaannya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments