7

"Sebaiknya aku mencoba membuat sendiri makanan ku, yang gampang-gampang saja pasti sangat mudah." Brian memeriksa isi kulkas, banyak sekali persediaan sayuran. Hanya sayangnya dia memang tidak bisa masak sayuran-sayuran itu.

"Apa ya yang sebaiknya kulakukan? Oh iya aku akan membuat omlet. Aku pernah melihat Aletta memasaknya, dan tidak sulit juga sepertinya. Bahan-bahannya juga sangat mudah. Baiklah, yang pertama siapkan telurnya." Brian berjalan mendekati lemari lalu mengambil dua butir telur.

"Dua rasanya cukup saja, kalau satu pasti sangat kurang bagi perutku yang rakus ini. Sekarang tomat, daun bawang, cabenya satu. Apalagi ya? Oh iya bumbu penyedap di tambah garam secukupnya.Tapi rasanya masih kurang, uhm aku campur sama sosis saja deh." Brian mencampurkan semua bumbu yang sudah di irisnya beserta irisan sosis lalu dikocok bersamaan.

"Sekarang panaskan minyaknya menggunakan wajan. Mana wajannya?" Brian mencari sekelilingnya. "Ah ini dia, ternyata ada di depanku. Inilah akibatnya jika bekerja dengan perut yang kosong. Apa yang ada di depan mata malah tidak terlihat karena tidak fokus."

Brian menunggu sampai minyaknya benar-benar panas.

Brian lalu memasukkan telur ke dalam wajan, ia terkejut saat ada sedikit letusan kecil minyak panas yang keluar dari dalam wajan dan mengenai kulitnya. Karena panik Brian menutupnya menggunakan tutupan wajan. "Untung aku pintar." Puji nya pada diri sendiri. Ia menggosok tangannya yang sedikit melepuh terkena minyak tadi.

"Sekarang tinggal tunggu matang deh." Setelah beberapa saat Brian mencium aroma gosong dengan cepat ia mengangkat dan dipindahkan ke piring.

"Yah, gosong. Sudah capek-capek." Brian mencicipi omlet nya sedikit. Yang paling gosong bagian pinggirnya, yang bagian tengah tidak terlalu. "Tapi masih bisa di makan sih. Kalau aku buat yang baru, perutku ini nggak bisa menunggu lagi. Makan apa yang ada saja." Brian memisahkan bagian samping yang sudah sangat gosong itu. Untungnya dia buat dua butir telur kalau satu mungkin nggak ada satupun yang bisa ia makan. "Seenggaknya ini masih sisa separuh dari setengah yang gosong." Brian makan dengan lahapnya meskipun masih ada rasa pahit di dalam telurnya. Setelah selesai makan ia kembali ke kamar untuk tidur.

Keesokannya Aletta terbangun dari mimpinya. Ia melihat ke samping tempat tidur ternyata ada Brian di sampingnya. "Seingatku, aku menunggu Brian di bawah. Apa semalam Brian yang menggendong ku ke sini. Oh iya, aku lupa membuatkan Brian makan." Aletta membangunkan Brian perlahan karena takut suaminya itu tidur dengan perut kosong. "Sayang... Brian." Panggil Aletta dengan lembut sambil menggoyangkan tubuh Brian agar ia bangun. "Hmmm... Ada apa Aletta?" Brian bersuara meskipun matanya masih terpejam.

"Kamu semalam makan nggak?"

"Makannnn."

Aletta merasa lega mendengar perkataan Brian. Sedangkan Brian kembali menikmati tidur nyenyak nya. Aletta ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu ia turun ke bawah menuju dapur.

"Astaga!!" Ia terkejut saat mendapati kondisi dapur yang sungguh seperti tempat sampah. "Sebenarnya kekacauan seperti apa yang terjadi di dapurku. Apa ini perbuatan Brian. Ya Tuhan kompor ku penuh dengan noda minyak. Apalagi ini wajannya, pantatnya sangat hitam. Sebenarnya apa yang Brian masak sehingga membuat kekacauan seperti ini."

Aletta akhirnya membersihkan semuanya satu-persatu. Ia memulai dari mencuci piring, wajan serta peralatan lainnya yang digunakan Brian. Setelah selesai ia melanjutkan dengan membersihkan kompornya yang penuh dengan noda minyak. Setelah semuanya selesai dan ia mencuci tangan dengan bersih, ia mengambil sayur serta lauk yang akan ia olah dari dalam kulkas. Dengan sangat telaten ia memasak makanan yang akan disajikan pagi ini. Setelah semua selesai ia kembali ke kamar untuk mandi. Ia berencana membangun kan Brian setelah dirinya selesai mandi. Sekarang jam masih menunjukkan pukul 06 lewat 09 menit. Sedangkan Brian berangkat kerjanya jam 08 lewat 25 pagi.

Tes tes tes. ..

Suara air yang menetes dari shower membasahi seluruh tubuh Aletta. Ia melakukan sampo rutin pada rambutnya. Sungguh menggelitik saat air mengalir di selah-selah rambutnya.Kesegaran yang luar biasa apalagi setelah ia melakukan aktivitas di pagi hari tadi. Beberapa menit kemudian Aletta keluar dengan menggunakan handuk piyama serta handuk kecil yang membungkus rambutnya yang masih basah.

"Brian ayo bangun, waktunya untuk bersiap-siap."

"Uuum... Emangnya jam berapa sih?" Tanya Brian dengan mata yang masih tertutup.

" 6 lewat 30.."

"Ah masih pagi, setengah jam lagi ya."

"Pokoknya kamu harus bangun. Soalnya aku sudah masak takut keburu dingin." Kata Aletta sambil mengusap rambutnya dengan handuk.

"Aduh sayang, kan bisa dipanaskan lagi."

"Rasanya nggak enak kalau dipanaskan seperti itu. Yang enak itu makan selagi masih panas." Brian akhirnya bangun meskipun ia sangat malas untuk bangun pagi. Akan panjang jika ia berdebat dengan istrinya. Lebih baik mengalah. "Kamu mandi jam berapa?" Tanya Brian sambil memperhatikan istrinya yang lagi mengeringkan rambutnya di depan kaca rias.

"Aku mandi sekitar jam 6 lewat."

"Emangnya nggak dingin?"

"Justru sangat segar. Jadi aku sarankan kamu untuk mandi sekarang."

"Sebentar lagi saja. Sini aku bantu keringkan rambutmu."

Aletta berjalan mendekati suaminya dan duduk di atas ranjang membelakangi Brian. Brian memijat dengan pelan rambutnya, sambil sesekali mencium aroma shampoo milik istrinya itu.

"Baumu enak." Kata Brian sambil mencium leher Aletta yang mulus dan meninggalkan tanda di sana.

" Yang benar... Pagi-pagi udah mesum."

"Kalau sama istri sendiri ya gapapa."

"Sini handuknya, biar aku keringkan sendiri. Sebaiknya kamu mandi sekarang juga." Aletta mengambil handuk yang ada di tangan Brian lalu duduk di depan meja rias miliknya sambil menyiapkan alat hairdrayer untuk ia gunakan. Mendengar nada bicara Aletta yang berubah, Brian segera beranjak bangun menuju kamar mandi. 15 menit lamanya ia berada di kamar mandi. Setelah selesai ia keluar. Aletta sudah tidak ada di kamar. Tempat tidurnya juga sudah di rapikan Aletta. Bahkan Aletta telah menyiapkan pakaian kantornya. Brian melihat jam di handphone miliknya yang menunjukkan pukul 7 lewat 43 menit.

Setelah selesai berpakaian, ia segera turun dengan membawa tas kantor yang telah ia siapkan sebelumnya.

"Wah.... suamiku sudah sangat tampan dan begitu rapi. Ayo sini aku juga baru saja memanaskan kembali lauknya. Seperti nya aku akan mengubah jadwal Masakku mulai besok."

Meskipun Aletta berbicara dengan santai sambil tersenyum, tetapi ia tahu bahwa saat ini istrinya itu sedang marah pada dirinya.

"Maaf ya sayang," kata Brian yang duduk menghadap istrinya.

"Emangnya salahmu apa sampai harus minta maaf, " jawab Aletta sambil menyendokkan nasi untuk suaminya itu.

"Maaf karena aku tidak menghargai usahamu."

"Kamu nggak perlu minta maaf kok. Lagian aku yang salah masaknya kecepatan. Mulai besok aku akan mengubah jadwalku."

Brian tertunduk dan melanjutkan makannya. Keheningan dalam rumah itu sangat terasa, hanya gerakan kecil seperti piring, senduk, gelas dan bangku yang memecah kesunyian tersebut tanpa adanya pembicaraan.

Aletta memang sepertinya sedang marah pada Brian meskipun itu adalah hal sepele. Tapi itulah yang biasanya terjadi dalam sebuah hubungan, hal sepele apapun akan dianggap masalah besar jika kita menyepelekan nya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!