*******
perasaan canggung yang mendominasi antara valerie dan axcel. Saat ini mereka berangkat bersama kekampus dengan mengendarai salah satu mobil kesayang axcel. Sejak penolakan valerie kemarin tentang nadia yang ngotot ingin diantar jemput oleh axcel. kini semua anggota keluarga tidak mempermasalahkan hal itu lagi meski membuat nadia uring uringan.
Valerie memandang keluar jendela dimana terlihat aktifitas pagi orang orang dijalan raya. Ada yang berjalan kaki ada yang mengendarai motor dan jangan lupakan polusi yang saling bertebaran diudara. Ini masih pagi namun, udara sudah cukup tercemar oleh asap kendaraan.
Valerie melihat ada anak kecil yang sedang duduk di trotoar jalan sambil menunggu ayahnya. Ada juga ibu ibu sedang menunggu giliran untuk menyebrang. Begitulah suasana kota yang jauh dari kata damai dan tentram.
"val!" panggil axcel namun tak mendapat sahutan lelaki itu menoleh ternyata valerie sedang melamun.
"val!"
"sayang!" lamunan valerie buyar kala ia mendengar panggilan dari axcel. Dan apa katanya? Sayang? Astaga lelaki itu sungguh pandai membuat hati valerie ketar ketir.
"jangan melamun kerasukan setan baru tau rasa" ejek axcel lelaki itu tetap fokus dengan jalanan didepannya sesekali ia melirik kearah gadis itu.
"apaan sih!" ucap valerie kembali membuang pandangannya kearah jendela mobil.
15 menit kemudian mereka sampai didepan gedung tempat mereka berkuliah. Valerie menatap gedung itu dengan pandangan rumit, segala yang pernah terjadi dimasa lalunya kini berputar dikepalanya seperti kaset yang diputar otomatis.
"ada apa" tanya axcel saat ia melihat valerie menggelengkan kepalanya.
"ah!" untuk kesekian kalinya axcel membuat valerie kaget. Gadis itu tidak menyadari kapan axcel keluar dari mobil dan sekarang axcel berada didepannya yang sudah membuka pintu mobil disampingnya. Sepayah itukah konsentrasi valerie? DIa juga bingung mengapa ia lebih sering melamun dan tak menyadari keadaan sekitar.
"ayo!" axcel menarik tangan valerie dengan lembut menuntun agar gadis itu keluar dari mobilnya. Melangkah bersama memasuki dan menjadi pusat perhatian bagi anak anak mahasiswa lainnya. Awalnya valerie tidak perduli namun, lama kelamaan ia mulai risih dari pandangan itu. Ada yang menatapnya dengan tatapan seperti mengejek ada juga menggosipinya dengan terang terangan.
"mau ikut?" tanya axcel saat mereka berada di depan lift.
"kemana?" tanya valerie sambil melirik tangannya yang masih digenggam erat oleh axcel. Ia tidak menolak bahkan, hatinya berbunga bunga hanya karena perlakuan kecil axcel itu.
"keruang BEM aku ada urusan disana" jawab axcel lalu ia kembali menarik tangan valerie masuk kedalam lift lalu nenekan tombol angka 5 dimana gedung mereka berada.
"nggak ah, mau kekelas aja" jawab valerie wanita itu mundur dan menyandarkan punggungnya didinding lift. Seingatnya ia satu jurusan dan satu ruang dengan wanita yang sangat menggilai kelvin. Mengingatnya saja membuat ulu hatinya mendadak mual. Entah kebodohan apa yang membuatnya menyukai kelvin sampai melupakan harga dirinya dimasa itu.
"kamu yakin" tanya axcel ia pun ikut menyandarkan punggungnya disana dan menoleh melihat wajah gadis itu.
"yakin emang kenapa?" tanya valerie ia juga menoleh kearah pemuda itu dan pendangan mereka saling mengunci untuk beberapa saat. Tiba tiba saja pikiran valerie berkelana kekejadian padi tadi dimana valerie kedapatan sedang mengagumi wajah tampan axcel muncul begitu saja.
Blushhhh wajah valerie seketika memanas dan sudah dipastikan jika wajahnya sudah memerah saat ini. Ia pun membuang pandangan kesembarang arah.
"entar kangen lagi" goda axcel dengan tawa renyahnya.
Saat valerie hendak protes pintu lift tiba tiba terbuka dan menampakkan beberapa mahasiswa lainnya yang sedang menunggu diluar.
'awal dari kemalangan' batin valerie menghela nafas pelan lalu mengikuti pangkah axcel yang menariknya meninggalkan lift.
Wajah datar dan arogan itu terus melangkah tanpa menghiraukan ucapan orang orang yang berada disana. Baginya semua itu tidaklah penting terserah orang dengan penilaiannya sendiri.
"ada apa?" tanya axcel saat ia meresakan valerie berhenti berjalan ia pun segera membalikkan badannya untuk melihat gadis itu.
"kaki gue pegal!" gerutu valerie.
"maaf" ucap axcel ia berjongkok lalu memegang kaki valerie.
"ih, kok jongkok. Bangun buruan malu ih!" gumam valerie ia menarik bahu lelaki itu agar ia berdiri.
"yakin gak mau ikut keruang bem? Nggak akan lama kok" ucap axcel lagi yang dijawab gelengan kepala oleh valerie. Untuk apa juga ia menunggui lelaki itu mereka tidak satu jurusan. Lelaki itu mengambil jurusan menejemen bisnis sedangkan valerie mengambil jurusan menejemen komputer dan informatika(IT) itu memiliki jarak antara kelas yang lumayan jauh.
untuk kesekian kalinya valerie merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya dimasa lalu. Bagaimana tidak? Ia memilih masuk kedalam jurusan IT hanya karena kelvin merekomendasikannya. Dan dengan bodohnya ia mengikuti saran itu tanpa berpikir panjang. Ia menentang orang tuanya yang menginginkan ia berkuliah di bagian bisnis. Karena cuman dirinya satu satunya penerus keluarga mereka namun, ia menentangnya dengan keras.
Dan sekarang ia harus bagaimana, sungguh ia ingin berpindah jurusan namun, terlanjur nyaman dijurusan itu. Mungkin yang tepat untuknya saat ini menjalaninya saja dulu.
"gak ah, ya udah gue kekelas dulu" valerie segera berlari meninggalkan axcel yang sedang menggelengkan kepalanya melihat tingkah valerie.
"gemesin banget sih" ucap axcel yang masih menatap punggung valerie yang semakin menjauh.
"siapa yang gemesin?" tanya seseorang yang baru datang dibelakang axcel.
"kepo.. Buruan ke ruang bem" ucap axcel kembali kemode dinginnya lalu meninggalkan temannya yang masih bingung melihat tingkah axcel.
"eh, bos tunggu. Lo belum bilang ya.. Siapa hayoo yang gemesin" ucap lagi teman axcel yang bernama raidan. sembari mengejar langkah axcel yang panjang dengan sedikit berlari.
*******
"astaga naga valerie akhirnya kita bertemu juga" ucap sahabat valerie yang sedang berlari sambil merentangkan tangan menuju arah valerie yang baru memasuki ruang kelas.
"kangen banget tau" ucap rania lagi yang sudah memeluk erat tubuh ramping valerie.
"elehhh.. Lebay banget sih, emang seberapa lama kita gak bertemu?" heran valerie seingatnya dulu mereka berteman begitu akrab.
"yee ngana lupa. Selama ini kan situ sibuk caper" gerutu rania melepaskan pelukannya dari tubuh valerie sambil mengerucutkan bibirnya.
"um. Maaf rania" jawab valerie yang merasa bersalah dikehidupan ini kesalahannya belum banyak namun, dimasa lalu sungguh kesalahannya terlalu banyak hingga ia tak mampu mengingat satu per satu.
"it's okey... Kita sahabat" jawab rania ia menggandeng tangan valerie sambil berjalan menuju tempat duduk mereka.
"mengapa berapa hari ini kamu gak masuk? Dosen killer itu nanyain lo mulu" ucap rania lagi.
"iya. ada hal yang gak bisa gue skip" jawab valerie.
"apa itu?" tanya rania antusias.
"bokap sama nyokap pindah keaussie" jawab valerei lesu ia jadi teringat oleh kedua orang tuanya. Apa sesibuk itu? Sehingga mereka belum memiliki waktu untuk mengabarinya.
"kapan?" tanya rania
"kemarin" jawab valerei sambil menerawang jauh kedalam masa lalu yang selalu membuatnya sesak dada. Andai saja ia mengikuti kemauan orang tuanya mungkin sedikit demi sedikit ia bisa membantu menangani masalah bisnis. namun, sekarang apa? Ia bisa apa dengan komputer itu untuk menolong sang ayah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Syukur Kur
seru🤗🤗🤗🤗
2024-09-03
1
Moh Rifti
/Determined//Determined//Kiss//Kiss/
2024-08-15
1