chapter 10

*****

    "kamu gak pulang?" tanya valerie dengan ragu ragu.

  "kamu mengusirku?" tanya axcel.

  "ng... Nggak bukan gitu..." astaga lidah valerie terasa susah hanya untuk berucap. Jantungnya? Jangan tanyakan lagi kondisi jantungnya saat ini sudah ditahap tidak normal.

   Hening valerie tak tahu harus mengatakan apa sekarang. Ia sangat gugup, bagaimana tidak gugup axcel terus saja menatapnya dengan intens.

   Drttt....

   Drttt...

   Drtttt...

   Ponsel yang ada di dalam genggaman axcel bergetar tanda ada panggilan masuk. Axcel hanya meliriknya saja tanpa niat untuk menerima telepon itu. Leher valerie gatal ia ingin sekali menoleh dan melihat siapa yang sedang menelpon itu.

  "kenapa gak diangkat?" tanya valerie.

  "gak penting" ucap axcel.

  Namun ponsel axcel terus saja bergetar tanpa kenal lelah. Valerie kembali melirik kearah ponsel axcel yang kini ia letakkan diatas meja.

  kirana is calling....

  Deg.... Apa axcel memiliki pacar yang tidak diketahui valerie. Gak valerie bahkan gak pernah tahu jika axcel sedang dekat dengan gadis mana pun. Matanya tak pernah lepas dari ponsel axcel dan itu semua tidak lepas dari pengawasan mata axcel.

  "kenapa gak dijawab?" tanya valerie lagi ia mengalihkan tatapannya dari ponsel kesembarang arah. Entah mengapa namun, itu sukses membuat hatinya ketar ketir. 'dia suami gue njirr!!! Awas aja yang nama kirana itu tidak akan pernah lolos dariku' jerit valerie membatin.

  "gak penting" hanya kata itu yang kembali keluar dari mulut axcel.

  "ya kali aja dia kangen" ucap valerie asal ia pun berpura pura sibuk dengan ponsel ditangannya.

 "hem" jawab axcel tanpa niat meraih ponselnya hingga panggilan itu mati dengan sendirinya.

  "pulang sana" usir valerie sejak melihat panggilan diponsel axcel moodnya menjadi hancur dengan tiba tiba.

  "kamu sedang mengusirku?" tanya axcel menelisik wajah valerie yang terlihat kurang bersahabat itu.

  "yaa.... Dan sekarang pulanglah aku ingin beristirahat" jawab valerie gadis itu beranjak ingin pergi dari sana namun, sayang gerakannya berhenti saat axcel menarik tangan gadis itu. Karena langkah valerie yang kurang seimbang ia pun terjatuh di atas pangkuan axcel.

 Dag.... Dig... Dug...

  Jantung valerie kembali meronta dengan hebat. Valerie sangat khawatir jika axcel menyadari degupan jantungnya yang sedang menggila.

  "le... Lepas" valerie mencoba membuka tangan axcel yang sedang membelit perutnya itu dengan erat.

   "kenapa?" tanya axcel tepat ditelinga valerie. Membuat buluk kuduk valerie seketika menegang, bagaiamana tidak deru nafas axcel menerpa kulit telinganya dan itu berhasil membuat tubuhnya panas dingin.

  "kamu bertanya kenapa? kalo dilihat bunda gimana?" tanya valerie dengan nada ketus.

  "bunda gak akan keberatan jadi diamlah" ucap axcel santai yang enggan melepaskan belitan tangannya diperut gadis itu.

  "berhentilah membuat ulah axcel dan lepaskan tanganmu dari sana.... pulanglah kerumahmu" gerutu valerie mengalihkan rasa gugupnya dan degupan jantungnya yang makin menjadi. Ia takut jika ia terus berada di pangkuan lelaki itu dia akan menyadari jika jantungnya sedari tadi terus meronta ronta.

  Axcel melirik jam dinding yang terus bergerak dan sudah menunjukkan pukul 11 malam. Jujur ia tak rela melepaskan bekapannya ditubuh gadis itu. Memdapatkan rasa nyaman dari tubuh valerie membuatnya ingin sedikit egois tak ingin melepaskannya. Ingin rasanya ia membawa dengan paksa gadis itu dan terus memeluknya sepanjang malam.

  "sudah larut ternyata" gumam axcel membuat valerie melirik jam dinding yang menempel cantik ditembok.

"kalo gitu aku pulang dulu, besok aku jemput kita kebandara bareng" ucap axcel sambil melepaskan belitannya diperut rata valerie.

"sekarang?" tanya valerie yang tidak rela lepas dari pelukan hangat lelaki itu.

"hm. Apa kamu ingin aku mengina disini? Aku tidak keberatan sama sekali" jawab axcel sambil menaik turunkan alisnya.

"ih.. Dasar pulang sana" valerie mendorong tubuh axcel yang telah berdiri itu menuju pintu utama kediaman maureen.

"sampai jumpa besok" pamit axcel lalu pergi meninggalkan valerie menuju mobilnya.

Melihat mobil axcel pergi meninggalkan halaman rumahnya valerie menutup pintu rumahnya. Ia masuk kedalam dengan senyam senyum tak henti hentinya.

"astaga bibik ngagetin saja!" pekik valerie sambil mengelus dadanya.

"maaf nona" ucap bibi rasti menunduk ia tak bermaksud untuk membuat kaget valerie.

"gak masalah. Emang bibi mau kemana?" tanya valerie ia heran melihat wanita paru baya itu masih terjaga di malam yang larut seperti sekarang.

"ini nona. Bibi hanya akan mengecek pintu dan jendela" jawab bibi rasti lagi masih menunduk.

"ditengah malam begini? Lagian ada pak satpam diluar yang menjaganya bik." ucap valerie.

"kebiasaan non. Dijam seperti ini wajib bagi bibi mengecek semua pintu non." jawab bibi rasti yang lagi lagi masih menunduk.

"ya sudah cek lah setelah itu kembali beristirahat. Dan bik jangan menunduk terus" ucap valerie membuat bibi rasti seketika mendongak ia melihat wajah majikan kecilnya itu. Senyum bibi rasti mengembang kala melihat senyuman manis terukir cantik dibibir valerie.

"baik nona" ucap bibi rasti.

Setelah pamit valerie melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamarnya.

******

Pagi pun tiba suara kicauan burung saling bersaut sautan dengan gembira menyambut sang mentari yang sedang tersenyum cerah.

Hoammm... Untuk kesekian kalinya valerie menguap dengan lebarnya. Semalam ia tidak langsung terlelap akibat ia terus memikirkan axcel. Dan ia terus merutuki kebodohannya yang tak menyimpan nomor axcel diponselnya sama sekali.

Jika tidak mengingat akan hari ini adalah jadwal orang tuanya kebandara. Mungkin ia akan kembali masuk kedalam dekapan hangat sang selimut. Dengan pelan ia menyingkirkan selimutnya dan bergegas masuk kedalam kamar mandi. Sebelum memulai ritual mandinya valerie terlebih dahulu menatap pantulan bayangan dirinya sendiri didalam cermin westafel didepannya.

Tersadar dari lamunannya valerie segera bergegas mandi dan mengganti pakaian ia tak ingin membuang banyak waktu lagi.

"bunda!!!" suara valerie menggelegar keseluruh ruangan ia sedang mencari bundanya itu.

"bundaaaaaaa" valerie kembali berteriak sambil menuruni tangga.

"apa sih valerie pagi pagi sudah berteriak?" bukan sang bunda yang menegurnya melainkan sang ayah, yang sedang melintas didepan valerie ia hendak menuju keruang makan untuk sarapan.

"bunda mana?" rengek valerie.

"ruang makan" jawab ayah kemal singkat.

"ayah. Valerie rindu" ucap valerie ia langsung berhambur masuk kedalam pelukan hangat sang ayah.

"ayah juga merindukan putri kecil ayah" sahut kemal ia terus mengelus pucuk kepala putrinya dan sesekali mengecupinya. Hati valerie menghangat karena ini tidak pernah terjadi dikehidupannya dulu.

"valerie udah gede loh, yah!." bantah valerie namun masih memeluk erat tubuh sang super heronya itu.

"bagi ayah kamu tetap putri kecil ayah" sekali lagi kemal mengecupi pucuk kepala valerie dengan sayang.

"sudah yah! Kita sarapan sekarang kasihan bunda sudah nunggu dimeja makan" bujuk kemal yang sudah menangkup wajah putrinya.

"iya ayah" jawab valerie dengan patuh.

Mereka pun berjalan bersama menuju ruang makan dan sarapan bersama yang diselingi dengan canda tawa mereka bertiga.

Terpopuler

Comments

Syukur Kur

Syukur Kur

lanjut tor

2024-08-23

0

Nur Hayati

Nur Hayati

lanjut thor

2024-08-18

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!