Bab 19 : Foto

Kami terus berlari, menjauh dari rumah sakit yang kini tenggelam dalam kekacauan. Di sampingku, Fanny tampak bingung dan cemas. Setiap beberapa detik, dia menoleh padaku dengan tatapan penuh tanya, seolah mencari jawaban di wajahku.

"Fanny, kita harus terus maju. Ikuti saja aku dan Tondi," kataku, berusaha menenangkan rasa gelisahnya yang semakin jelas.

"Tondi?" tanya Fanny, suaranya penuh kebingungan. "Siapa Tondi?"

Aku berhenti sejenak dan memandang Fanny, merasakan getaran hati yang semakin mendalam. "Tondi, pria yang membantu kita melarikan diri. Dia ada di sini bersama kita."

Fanny mengerutkan dahi, tatapannya semakin bingung. "Aku tidak melihat siapa-siapa, Dr. Fikri. Kita hanya berdua."

Aku menoleh ke belakang, mencari Tondi. Wajahnya mencerminkan kekhawatiran yang sama. "Apa maksudmu, Fanny? Tondi ada di sini," kataku, merasakan kebingungan yang mulai menguasai pikiranku.

Tondi melangkah mendekat, matanya menunjukkan kepanikan. "Dia tidak bisa melihatku? Ini aneh. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Kita harus terus bergerak."

Aku mengangguk, berusaha menenangkan diri dan fokus pada tujuan kami. Kami bergerak cepat melewati halaman rumah sakit, mencari jalan keluar yang aman. Ketika kami tiba di pagar belakang, Tondi menunjukkan bagian pagar yang tampak lebih lemah dan mudah ditembus.

"Di sini. Kita bisa lewat," kata Tondi, mulai membuka jalan melalui pagar yang berkarat.

Aku ikut membantu, sementara Fanny berdiri di samping, tatapannya kosong, jelas menunjukkan semakin dalamnya kebingungan dan ketakutannya. "Dr. Fikri, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kita melarikan diri? Dan siapa yang kamu ajak bicara?"

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba merangkai kata-kata dengan hati-hati. "Fanny, aku tahu ini sangat membingungkan sekarang. Tapi kita harus keluar dari sini dulu. Nanti kita akan punya waktu untuk menjelaskan."

Akhirnya, kami berhasil membuka jalan melalui pagar dan berlari menuju hutan kecil di luar kompleks rumah sakit. Suara sirene dan teriakan semakin mendekat, menandakan bahwa kekacauan di dalam rumah sakit semakin memuncak.

"Kita harus segera mencari tempat untuk bersembunyi," kata Tondi, memimpin kami melalui hutan yang gelap.

Kami terus bergerak, melintasi hutan yang semakin gelap, hingga akhirnya menemukan sebuah gubuk tua yang tampaknya sudah lama tidak digunakan. Kami masuk ke dalam, berusaha menenangkan diri dan memikirkan langkah selanjutnya.

Fanny duduk di sudut gubuk, matanya penuh ketakutan dan kebingungan. "Dr. Fikri, aku masih tidak mengerti. Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Aku duduk di sebelahnya, mencoba merangkai kata-kata dengan hati-hati. "Fanny, ada banyak hal yang tidak seperti kelihatannya di rumah sakit itu. Tondi adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa kita percayai sekarang. Kita harus bekerja sama untuk keluar dari sini."

Fanny menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi aku tidak bisa melihat Tondi. Bagaimana aku bisa mempercayainya?"

Rasa bingung dan ketakutan mengisi dadaku. "Aku juga tidak tahu, Fanny. Tapi kita tidak punya banyak pilihan. Kita harus terus bergerak dan mencari cara untuk keluar dari kota ini."

Tondi, yang selama ini diam mendengarkan, mendekat dengan tatapan penuh tekad. "Kita harus menemukan tempat yang lebih aman dan menyelidiki lebih dalam tentang apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit. Ada sesuatu yang sangat salah di sana, dan kita harus mengungkapnya."

Aku mengangguk, merasakan tekad baru tumbuh dalam diri. "Baiklah. Kita akan mencari cara untuk keluar dari kota ini dan mencari bantuan. Kita tidak bisa melakukan ini sendirian."

Hujan tiba-tiba turun dengan deras, menambah kesuraman malam yang sudah penuh dengan ketakutan dan ketidakpastian. Waktu terasa berjalan lambat, setiap detik menjadi penantian penuh kecemasan. Kami duduk di gubuk tua, mencoba memikirkan langkah selanjutnya. Namun, saat sirene semakin mendekat, hati kami dipenuhi rasa panik yang tak tertahankan.

"Tondi, kita harus pergi sekarang!" aku berseru, berusaha mengatasi suara hujan yang menderu.

Tondi melihat ke arahku dengan wajah tegang. "Aku akan mencari jalan keluar. Tetap di sini sampai aku kembali," katanya sebelum berlari keluar gubuk, menghilang dalam gelap dan hujan.

Fanny menggenggam tanganku erat, matanya penuh ketakutan. "Dr. Fikri, aku takut."

Aku memeluknya erat, mencoba memberikan rasa aman. "Semua akan baik-baik saja, Fanny. Kita akan keluar dari sini."

Namun, suara sirene semakin mendekat dan lampu senter mulai menerangi sekitar gubuk. Dalam sekejap, pintu gubuk diterjang dengan keras dan petugas berseragam masuk, disusul oleh Michelle.

"Tangkap mereka!" perintah Michelle dengan suara tajam.

Fanny berteriak, mencoba melawan, tapi petugas dengan cepat mengendalikan situasi, memborgol kami berdua. Aku berusaha mencari Tondi dengan pandangan mataku, tapi dia sudah menghilang, meninggalkan kami berdua.

"Kamu tidak bisa lari lagi, Dr. Fikri," kata Michelle dengan nada tajam.

Kami dibawa kembali ke rumah sakit dan dikurung dalam ruangan isolasi. Ruangan itu dingin dan steril, penuh dengan peralatan medis yang membuat suasana semakin mengerikan. Michelle masuk, membawa sesuatu di tangannya. Sebuah foto.

"Apakah kamu tahu gadis ini, Fanny?" tanya Michelle dengan lembut, menunjukkan foto seorang anak kecil.

Fanny menatap foto itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Sasya," bisiknya, penuh rasa sakit.

Aku menatap foto itu dan seketika merasa jantungku berhenti. Itu adalah foto Yunita, anak perempuanku. Bagaimana bisa? Pikiran ini membanjiri otakku, membuatku semakin bingung dan marah. Namun, di balik kebingungan dan kemarahan, ada rasa sakit yang menusuk, seperti duri yang menembus hati.

Yunita, dengan senyum manisnya, rambut hitamnya yang ikal, dan mata bulatnya yang bersinar ceria, seakan menatapku dari foto itu. Aku teringat saat pertama kali menggendongnya, saat dia baru lahir. Rasanya seperti baru kemarin aku mendengar tangisan pertamanya yang memenuhi ruang operasi. Kebahagiaan yang kurasakan waktu itu, perasaan bahwa hidupku sempurna dengan kehadirannya, semuanya kembali dalam sekejap.

Kenangan-kenangan indah itu berputar dalam benakku. Suara tawanya saat kami bermain di taman, wajahnya yang penuh keceriaan saat dia berlari menyambutku pulang dari kerja, dan betapa hangatnya pelukan kecilnya yang selalu menenangkan hatiku. Semua itu sekarang terasa begitu jauh, seolah berada di dunia lain yang tak lagi bisa kugapai.

Namun, rasa takut menyelusup masuk. Bagaimana mungkin foto Yunita bisa ada di sini? Apa yang terjadi padanya? Apakah dia dalam bahaya? Pikiran-pikiran ini menghantamku seperti ombak besar, menenggelamkanku dalam lautan ketidakpastian dan kecemasan. Aku merasa seolah-olah dunia runtuh di sekitarku, meninggalkan kekosongan yang menyesakkan.

Mataku mulai memanas, air mata menggenang tanpa bisa ditahan. Aku menoleh ke arah Fanny yang juga menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca. Kami berbagi rasa sakit yang sama, kehilangan yang mendalam yang menghancurkan setiap harapan.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Michelle? Apa tujuanmu melakukan ini semua?" teriakku, mencoba melawan ketakutan dan kebingungan yang semakin besar.

Michelle tersenyum tipis. "Kamu masih belum mengerti, Dr. Fikri? Ada banyak hal yang kamu tidak tahu. Kamu harus sadar dan menemukan jawabannya sendiri."

Aku merasakan emosi yang membara di dalam diriku, tapi aku tahu kami harus bertahan. Aku meremas tangan Fanny, mencoba memberikan dukungan di tengah situasi yang tak menentu ini.

"Aku tidak akan berhenti sampai aku menemukan kebenaran," kataku dengan suara penuh tekad.

Michelle hanya tersenyum kecil dan berbalik, meninggalkan kami dalam kegelapan dan kebingungan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!