Hujan deras terus mengguyur, dan kilatan petir yang menyambar menciptakan suasana yang semakin mencekam di luar gudang tempat kami bersembunyi. Nazam berdiri di hadapan kami dengan senyum sinis, seolah-olah menikmati setiap detik dari penderitaan kami. Aku tahu bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya akan mengubah segalanya.
"Sudah saatnya kau membuat pilihan, Dokter," ulang Nazam dengan nada yang lebih mendesak.
Aku menatap Fanny yang lemah di sampingku. Dia adalah kunci untuk mengungkap semua ini, tetapi keluargaku juga terancam. Aku merasakan dilema yang menghancurkan di dalam diriku. Ternyata, ancaman Nazam nyata; Michelle memanipulasi ingatanku dengan suntikan yang dia berikan.
Namun, sebelum aku sempat merespons, pintu gudang tiba-tiba terbuka lebar. Lampu-lampu senter menyorot ke dalam, dan sekelompok petugas keamanan RSJ Kota Batara masuk dengan senjata terangkat. Dr. Irma dan Michelle berada di antara mereka. Cahaya senter membuat mataku sejenak terdistorsi dan membutakan pandanganku.
"Dr. Fikri, apa yang sedang kamu lakukan? Anda harus kembali ke rumah sakit sekarang!" kata Dr. Irma dengan suara tegas namun lembut.
"Dr. Fikri, kita di sini untuk membantu Anda," tambah Michelle, mencoba menenangkan situasi.
Aku menggelengkan kepala dengan keras, mataku masih mencari-cari bayangan Nazam di sekitar mereka. "Tidak, kalian tidak mengerti. Nazam... dia ada di sini. Dia mengancam keluargaku!" teriakku, suaraku bergetar.
Dr. Irma dan Michelle saling bertukar pandang bingung. "Dr. Fikri, tidak ada Nazam di sini. Kamu harus percaya pada kami," kata Michelle dengan nada lembut, penuh pengertian.
Kepanikan mulai merasuki diriku. Aku melihat sekeliling dengan gelisah, mencari sosok Nazam yang baru saja tampak begitu nyata. Namun, bayangan Nazam menghilang seperti kabut di tengah hujan. Aku merasa pusing, hampir kehilangan keseimbangan. Dr. Irma dan Michelle dengan cepat menahanku, mencoba menenangkan pikiranku yang kacau.
"Kalau kau ingin membahas semua ini, kita harus melakukannya di rumah sakit," kata Dr. Irma, suaranya lembut namun penuh tekad.
Fanny, yang tampak lemah, mencoba berbicara. "Dr. Fikri, aku sangat lelah."
Fanny tampak begitu lemah dan kehabisan tenaga, duduk di lantai dingin dengan mata tertutup. Aku merasa campur aduk antara rasa bersalah dan kemarahan. Aku harus melindunginya, tetapi ancaman yang kuterima terasa sangat nyata, dan ketidakpastian ini menyedot energi dari setiap sel di tubuhku.
"Dr. Fikri, kita harus segera kembali ke rumah sakit. Ini untuk keselamatanmu," kata Dr. Irma, suaranya tetap penuh perhatian. "Kita akan menangani semua ini dengan benar."
Michelle mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri, dan aku memandangnya dengan penuh rasa curiga. Ada sesuatu yang tak beres, tetapi aku harus mengesampingkan ketakutanku untuk sementara. Fanny membutuhkan bantuan, dan aku tidak bisa membiarkannya di sini lebih lama lagi.
Namun, saat aku mencoba berdiri, sebuah rasa sakit yang tajam menembus dadaku. Aku merasakan dingin yang menjalar ke seluruh tubuhku, dan pusing yang menyergap membuatku hampir jatuh. Michelle segera merangkulku, dan aku menatapnya dengan mata yang mulai kabur.
"Tenangkan dirimu, Dr. Fikri. Kami akan memastikan semuanya aman," katanya, suara yang meredakan sedikit kepanikan dalam diriku.
Dengan bantuan Dr. Irma dan Michelle, aku berhasil berdiri dan membantu Fanny berdiri. Kami bergerak keluar dari gudang menuju hujan deras yang masih terus mengguyur. Suara hujan yang membasahi kami seakan menambah tekanan dalam hatiku, dan setiap langkah terasa seperti melawan arus yang sangat kuat.
Ketika kami kembali ke rumah sakit, suasana di dalam tampak lebih tenang. Hujan yang mengamuk di luar membuat segala sesuatunya terasa lebih sunyi.
Petugas keamanan yang sebelumnya mengejar kami tampaknya sudah mulai menyusut, tetapi aku tahu harus tetap berhati-hati.
Di lorong rumah sakit, Dr. Irma dan Michelle mengarahkan kami menuju ruang perawatan. Aku merasa seperti terseret dalam mimpi buruk yang tak berujung. Setiap langkah terasa semakin berat, dan aku bisa merasakan keringat dingin di dahi.
"Ini ruang perawatanmu, Dr. Fikri. Kita akan membicarakan semua ini di sini," kata Dr. Irma sambil membuka pintu ke ruangan yang dikenal. Ruangan itu tampak biasa-biasa saja, dengan meja dan kursi, serta beberapa peralatan medis.
Kami masuk ke dalam ruangan dan Dr. Irma menutup pintu di belakang kami. Michelle segera menyiapkan beberapa kursi, dan aku duduk dengan Fanny di sampingku. Aku bisa merasakan ketegangan di udara, seolah-olah ada sesuatu yang sangat besar sedang menunggu untuk diungkap.
"Baiklah, Dr. Fikri. Sekarang ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi," kata Dr. Irma dengan nada yang penuh perhatian.
Aku merasa tertekan, tetapi aku tahu aku harus berbicara. "Nazam... Dia... Dia mengancam keluargaku."
Michelle mengangguk. "Kami tahu bahwa kamu mengalami banyak tekanan, Dr. Fikri. Tapi Nazam mungkin hanya produk dari keadaanmu saat ini."
Aku menatap mereka dengan penuh keraguan. "Kalian tidak melihatnya. Dia ada di sini, di gudang. Dia mengatakan bahwa aku harus membuat pilihan antara Fanny dan keluargaku. Tetapi, saat kalian datang, dia menghilang begitu saja."
"Dr. Fikri," kata Dr. Irma dengan lembut, "kami tidak melihat Nazam. Apa yang kamu alami bisa jadi akibat dari efek kelelahan secara fisik dan mental. Kami akan mencoba untuk membantu mengatasi masalah ini."
Perasaan bingung semakin menyelimutiku. Aku memandang Fanny, yang tampak lelah dan terbaring di kursi. Aku merasa bersalah karena membawanya ke dalam situasi ini, tetapi aku juga merasa tidak ada jalan keluar dari labirin ini.
"Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa aku merasa seperti dikhianati?" tanyaku dengan suara penuh emosi.
Dr. Irma duduk di kursi di sebelahku. "Kami akan mencari tahu semuanya, Dr. Fikri. Untuk sekarang, kamu harus beristirahat."
Aku masih tidak mempercayai mereka, tetapi demi keselamatan Fanny, ini adalah langkah paling tepat yang harus kuambil.
Aku merangkul Fanny dengan lembut. "Kita akan baik-baik saja," kataku padanya, mencoba memberikan sedikit rasa tenang di tengah segala kekacauan ini.
Aku berusaha menenangkan Fanny, tetapi kepalaku masih terasa berat dengan semua kekacauan ini. Dr. Irma dan Michelle keluar untuk memberikanku waktu menenangkan diri.
Namun, tiba-tiba, pintu ruang perawatan terbuka dengan keras. Seorang pria berpakaian hitam muncul dengan wajah tertutup oleh masker, matanya penuh determinasi.
"Dr. Fikri, ada sesuatu yang harus kau ketahui," katanya dengan nada mendesak.
Aku menatapnya, jantungku berdebar kencang. "Apa yang terjadi?"
Pria itu mengeluarkan sebuah dokumen dari saku jasnya dan meletakkannya di meja. "Ini adalah bukti yang akan mengubah segalanya. Tapi hati-hati, Nazam tidak akan tinggal diam."
Aku menatap dokumen itu dengan penuh kebingungan, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments